
Teng! Teng! Teng!
Bel masuk sekolah berbunyi. Semua murid yang ada diluar kelas pun berhamburan memasuki kelas. Tak seperti kelas lain yang langsung belajar, kelas 3 MIPA B terlihat sangat free class. Ya, entah doa dari siapa, guru matematika tak datang untuk mengajar hari ini.
Dan kesempatan emas seperti inilah yang dipakai Sam untuk mendekati Angel.
"Besok 'kan hari minggu, mau tidak kencan denganku?" tanya Sam yang entah sejak kapan sudah duduk disamping Angel.
Angel menggeser duduknya agar menjauh dari Sam, "Kencan saja sana dengan kerbau!"
"Ya 'kan kau kerbaunya! Hahaha..."
"Apa kau bilang?!" kesal Angel.
Sam tertawa terbahak-bahak, "Kau ini 'kan sudah jadi pacarku, Ngel. Tak usah malu-malu seperti itu."
"Sejak kapan kita pacaran? Kau gila, apa?"
"Sejak 4 menit yang lalu, 'kan? Sesuai perkataanku, jika kau meninju pipiku untuk yang ke-3 kalinya, kau resmi jadi pacarku mulai hari ini," jawab Sam sambil tersenyum lebar.
Angel mendengus kesal, "Terserah kau saja! Aku malas berdebat dengan orang idiot sepertimu."
Sam tertawa gemas melihat wajah Angel yang semakin terlihat kesal padanya. Ia pun secepat kilat mencubit pipi perempuan itu pelan.
"Ih! Apa-apaan sih?!" seru Angel seraya mengelap pipinya yang tadi dicubit oleh Sam.
"Kau menggemaskan, aku jadi tambah sayang," kata Sam gombal sambil tersenyum manis.
"Hueeek! Jangan kau kira aku akan bawa perasaan dengan gombalan busukmu itu!"
Ara yang sedari tadi memang memperhatikan Sam dan Angel dibelakang hanya tertawa kecil-melihat perdebatan lucu dua temannya itu. Sambil terus tertawa kecil, Ara tak sengaja menoleh ke arah Ryuu yang duduk di sebrang tempat duduknya. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Ryuu.
Ara pun menaikkan alisnya seolah bertanya 'Ada apa?' pada Ryuu. Namun, ternyata sahabatnya itu malah membuang muka saja tanpa bicara apa-apa. Oh, sungguh kelakuan Ryuu yang sudah tak aneh lagi menurut Ara.
"Ra, nanti istirahat ku tunggu di atap sekolah. Aku ingin bicara sesuatu," kata Revina yang tiba-tiba menghampiri Ara. Ara pun mengangguk mengiyakan meski heran ada angin apa hingga Revina mau bicara padanya.
"Oh, iya. Kata Rangga, dia minta nomor ponselmu," sambung Revina.
"Eh? Untuk apa?"
"Dia 'kan menyukaimu. Jadi wajar dia ingin dekat denganmu."
Ara membulatkan matanya kaget, "Eh?!"
"Kalau kau tak mau memberikan nomor ponselmu, ya sudah. Lagipula hari Senin nanti Rangga memang akan sekolah disini, tepatnya di kelas ini."
"B-benarkah? Bagaimana kau bisa tahu?"
Revina berdecak, "Aku 'kan sudah bilang kemarin saat ekskul Band, dia itu sepupuku. Dan kami serumah saat ini, ya untuk sementara waktu."
Ara mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, "Lalu, apa yang mau kau bicarakan padaku di atap sekolah nanti? Apakah ini tentang Rangga?"
Revina diam sebentar. Gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Detik selanjutnya, ia pun tersenyum sambil melirik Ryuu yang duduk di sebrang Ara. Melihat Revina tersenyum tanpa sebab, Ara jadi semakin bingung.
"Ini tentangku dan Ryuu," jawab Revina pada akhirnya.
Ara menelan ludahnya kasar. Matanya menatap tajam pada Revina. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan Revina padanya.
Kira-kira, apakah itu?
***
"Ra, kau mau kemana? Ayo kita ke kantin!" teriak Angel yang melihat Ara keluar kelas duluan.
Ara menggeleng, "Aku tak bisa ke kantin! Aku ada keperluan! Dah, Ngel! Kau ke kantin dengan pacarmu saja!"
Ara pun berlari pergi meninggalkan Angel yang berdiri mematung. Demi apapun, andai Ara masih ada disitu, Angel pasti akan mencekik sahabatnya itu sekarang juga.
"Kenapa Ara mengakui Sam adalah pacarku, sih? Yang tadi pagi 'kan aku hanya refleks meninju Sam untuk yang ke-3 kalinya! Huh!" batin Angel kesal seraya berjalan menuju kantin sendirian.
Ara masih berlari, kali ini gadis itu berlari menuju tangga ke atap sekolah. Ya, dia berniat mengejar Revina yang sudah jauh didepannya. Suasana disekitar tangga menuju atap sekolah memang sepi, sangat sepi. Sambil berlari, hati Ara sudah berdebar dan menebak hal apa yang akan dibicarakan Revina padanya nanti.
***TEP**!
BRUGGH*!
"Awww!"
Tubuh kecil Ara terpental ke belakang karna tangan seseorang-dari arah samping menyentuh dahinya tiba-tiba. Bukan, bukan menyentuh. Lebih tepatnya mendorong pelan kepala Ara agar ia tak lagi berlari.
"Dasar! Apa-apaan sih-"
Ara membelalakkan matanya kaget, "...Ryuu?!"
Ryuu diam sambil menatap Ara tajam. Dibalik tatapannya itu, Ara bisa mengerti apa yang Ryuu tanyakan padanya.
"A-aku mau ke atap sekolah. Sepertinya disana suasanya tenang dan sejuk, hehehe."
Ryuu masih diam. Sedangkan Ara yang kini sedang duduk-akibat jatuh tadi memanyunkan bibirnya sebal.
"Hei, bantu aku berdiri! Aku 'kan jatuh karnamu!" seru Ara seraya menyodorkan tangannya pada Ryuu.
"Berdiri saja sendiri, dasar manja," ujar Ryuu ketus sambil membuang muka.
Ara pun terpaksa berdiri dengan susah payah. Sambil terus meringis, Ara menatap Ryuu kesal. Ia merasa Ryuu sangat berbeda dengan Rangga yang sangat baik padanya. Rangga saja yang hanya sebatas teman sudah sangat baik, tapi kenapa Ryuu sebagai sahabat tidak pernah bisa bersikap baik ataupun manis padanya?
"Eh? Iya hehe, ternyata kau tahu," kata Ara malu karna tak jujur tadi.
Ryuu memandang Ara dengan matanya yang setajam pedang, "Jangan pergi kesana. Jangan biarkan Revina bicara macam-macam padamu."
Ara mengernyitkan dahinya tak mengerti, "M-memangnya kenapa? Mungkin Revina memiliki suatu hal yang penting untuk kami bicarakan."
Tatapan Ryuu semakin tajam, kali ini laki-laki itu lebih menekankan suaranya pada Ara.
"Ku bilang jangan kesana, ya jangan. Mengerti?"
"Tidak, tidak mau!" seru Ara bersikeras seraya mencoba berjalan melewati Ryuu didepannya.
Ryuu tidak diam. Ia menahan tangan Ara agar tak pergi darinya. Merasa kesal karna sikap aneh Ryuu, tentu saja Ara menepis tangan Ryuu agar tak menahan tangannya.
"Kau ini kenapa, sih? Kenapa aku tak boleh bertemu dengan Revina? Apa urusannya denganmu?" tanya Ara mulai kesal.
"Itu..karna.."
"Karna apa? Katakan padaku! Karna apa, hah?!"
"Kau akan merasa sakit hati jika mendengarnya dari Revina. Jadi, biarkan aku sendiri yang mengatakannya padamu, nanti."
"Nanti? Nanti kapan? Kau mau membuatku mati penasaran, Ryuu?"
Ryuu membuang mukanya, "Aku akan mengatakannya padamu nanti saat kita sudah lulus SMA."
"Tentang apa? Tentang hubungan diam-diam mu bersama Revina tanpa sepengetahuanku sebagai sahabatmu?!" Ujar Ara yang nada bicaranya semakin tinggi.
"Aku tak pernah punya hubungan apapun dengan Revina. Aku membencinya, untuk apa aku punya hubungan dengannya?"
Ara semakin tak mengerti apa yang dikatakan Ryuu, "Kau bicara apa, sih? Bukankah kau memang berpacaran dengannya? Angel bilang, kemarin sore dia melihatmu dan Revina berpelukan di taman sekolah! Kalian ini sebenarnya berpacaran, kan? Ayo mengaku saja!"
"Aku tak pernah membohongimu selama kita bersahabat, al. Kau tahu itu," kata Ryuu tegas namun nada bicaranya tetap saja dingin.
"Tidak, aku tidak percaya padamu! Kalau kau membenci Revina, untuk apa kau bersedia mengajar dia les? Tanpa dibayar sedikitpun?"
"Itu karna ada sesuatu hal yang terpaksa harus aku turuti kemauan Revina, karna kalau tidak-"
"Karna kalau tidak, rahasiamu yang berpacaran dengan Revina akan dia bongkar padaku, begitu?"
"Aku paling benci dengan orang yang memotong pembicaraan orang lain, kau tahu itu, 'kan?"
Ara menunduk. Ia kehabisan kata-kata sekarang. Tanpa sadar, air matanya mengalir. Rasa sedih dan kesal bercampur aduk dalam hatinya. Ia ingin sekali mempercayai ucapan Ryuu, tapi hatinya itu selalu bertolak belakang dengan pemikirannya.
"Jangan bersikap seolah aku mengkhianatimu. Ingat, selama ini kita bersahabat. Bukan berpacaran. Dan selamanya, kau akan tetap jadi sahabatku," kata Ryuu yang membuat hati Ara semakin teriris.
"Ya! Kau benar! Kita ini cuma bersahabat! Selamanya kita akan jadi sahabat! Tapi, seorang sahabat tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya yang lain!"
"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu, al."
"Jika kau tak menyembunyikan apapun, biarkan aku pergi ke atap sekolah untuk bertemu Revina disana!" seru Ara seraya membalikkan tubuhnya, bersiap untuk meninggalkan Ryuu. Namun, baru dua langkah, tangannya lagi-lagi ditarik Ryuu dari belakang.
SRETTT!
Ara membelalakkan matanya kaget. Jantungnya seakan tersetrum aliran listrik beribu-ribu volt. Aliran darahnya juga berdesir sangat kencang. Ya, entah sengaja atau tidak, Ryuu mencium bibir Ara saat ini!
Saat Ryuu menarik tangan Ara tadi, dengan cepat ia juga menarik tengkuk leher Ara agar mendekat dengannya. Tidak, ini tidak mungkin terjadi lagi. Ara yakin ini hanya mimpi. Ya, ini hanya mimpi!
Ryuu pun melepaskan ciumannya pada Ara. Kini, mata Ara tak sanggup menatap Ryuu. Dia terlalu bingung apa yang sebenarnya Ryuu pikirkan hingga sahabatnya itu menciumnya untuk yang ketiga kalinya.
"Seorang sahabat tidak pernah mencium sahabatnya sendiri," ujar Ara lirih sambil pergi berjalan meninggalkan Ryuu. Ara sudah tak berniat untuk menghampiri Revina di atap sekolah, ia lebih memilih pergi ke kelas untuk menenangkan pikirannya.
Sedangkan Ryuu, laki-laki itu masih diam membeku ditempatnya. Dalam hati, ia mengutuki dirinya sendiri. Sebenarnya dari awal Ryuu tak ada niat untuk mencium Ara. Tapi, kenapa bisa jadi begini? Kenapa Ryuu bisa refleks mencium sahabatnya itu?
"Apa yang kulakukan, sih?" batin Ryuu yang merasa sangat bersalah sambil menunduk.
***
"Kapten! Awas, di depanmu!"
BRUGGHH!!!
Ryuu terpental cukup jauh ke belakang akibat terkena bola basket dari arah depannya. Para anggota ekskul basket pun menghampiri dan menolong sang kapten. Untuk beberapa saat, Ryuu diam sambil memejamkan matanya. Ia merasa kepalanya sangat pusing berputar-putar.
"Kapten, kau tidak apa-apa?"
"Bawa tandu kesini!"
"Kita harus bawa kapten ke UKS!"
Semua anggota ekskul basket panik karna Ryuu tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, beberapa anggota ekskul basket pun membawa Ryuu ke UKS menggunakan tandu. Selama dibawa menuju UKS, Ryuu melewati Angel yang ada di lapangan badminton. Melihat temannya dibawa menggunakan tandu, tentu saja Angel sangat panik.
"Angel!" panggil Sam seraya berlari menghampiri Angel.
"Hei, Ryuu kenapa? Dia seperti orang yang pingsan. Ada apa dengannya?" tanya Angel khawatir.
Sam mengatur napasnya yang tersengal-sengal, "Kepalanya terkena bola basket olehku pada saat kita latihan tadi. Dia jatuh dan kepalanya terbentur ke belakang."
"Bodoh! Kau mau membuat Ara khawatir, hah?" kesal Angel seraya mencubit tangan Sam.
"Aku tidak sengaja melakukannya! Aku berniat memberikan bola basketku pada Ryuu, tapi dia hanya diam sambil melamun. Makanya dia malah jadi terkena bola dikepalanya," jelas Sam.
Angel mengangguk mengerti, "Kita harus hubungi Ara. Dia pasti sudah sampai rumahnya sekarang," kata Angel seraya diikuti anggukan oleh Sam.