
🖤🖤🖤
Dia tahu, dia sadar.
Hanya saja, dia tidak peduli.
🖤🖤🖤
"Selamat pagi, semuanya!" sapa Ara ceria pada semua teman di kelasnya yang juga membalas sapaannya dengan senyuman.
Ara pun bergegas duduk di tempat duduknya. Ia menoleh ke kanan-kiri, mencari keberadaan Angel, Sam, ataupun Ryuu. Nihil, tak ada satupun diantara mereka yang berada di kelas. Hanya ada beberapa temannya dan Revina saja yang duduk santai di kursi miliknya.
"Rev, yang lain belum datang ya?" tanya Ara seraya menghampiri Revina.
Revina menggeleng sambil menatap Ara sinis, "Kenapa kau bertanya padaku?"
"Ya, kan, kau juga bagian dari teman dekatku. Mungkin saja kau tahu dimana keberadaan mereka," jawab Ara sekenanya sambil tersenyum polos.
"Hei, kemarin aku ikut ke Puncak itu bukan karena ingin berteman denganmu, tahu. Jadi, aku tak sedikitpun menganggapmu sebagai temanku."
Ara mengangguk-anggukan kepalanya, "Oh? Begitukah? Baiklah jika kau beranggapan begitu. Tapi, bagiku, anggota Band semuanya adalah teman dekatku. Hehehe," ujarnya tak menghiraukan ucapan pedas Revina.
"Ku kira dia akan marah karena aku berkata begitu," batin Revina merasa gagal membuat Ara sakit hati oleh ucapannya.
"By the way, Ra. Kenapa kau tak berangkat bersama Ryuu? Bukankah sekarang kau itu pacarnya?" sambung Revina yang baru sadar akan hal itu.
DEG!!!
Ara tersentak kaget mendengar Revina bertanya seperti itu. Sial, itu adalah pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin Ara hindari hari ini. Karena pasalnya, ia sengaja berangkat duluan dan tidak bersama Ryuu pagi ini. Ya, sebenarnya sih, akhir-akhir ini mereka berdua memang sudah jarang berangkat ataupun pulang sekolah bersama.
"Ehm.. Itu.. Rev.. "
"Ah, jangan-jangan Ryuu sudah memutuskan hubungan kalian yang baru kemarin itu, ya?"
"E.. Eh? T-tidak, kok! Enak saja, huh!" seru Ara gelagapan. Ia sendiri bingung mau menjawab apa.
Revina memicingkan matanya. Gadis berkuncir kuda itu menyadari Ara yang kikuk menjawab pertanyaannya.
"Jujur padaku, sampai detik ini hubunganmu dengan Ryuu tak lebih dari sebatas teman masa kecil saja, kan?" tanya Revina mulai menginterogasi Ara.
"Eh? Tidak, kok. Kami benar-benar berpacaran. Dan kemarin adalah tanggal jadian kita," jawab Ara bersusah payah membuat ekspresi serius di wajahnya.
Revina tertawa terbahak-bahak, detik selanjutnya ia bangkit dari duduknya seraya berdiri di samping Ara.
"Hei, teman-teman, dengar deh! Ara dan Ryuu kan sudah berpacaran!" teriak Revina agar seluruh isi kelas mendengar. Ara pun membelalakkan matanya kaget karena tak menyangka Revina akan berteriak seperti itu.
Keadaan hening tercipta. Namun, tak lama kemudian, seluruh teman-teman Ara dan Revina yang sudah datang di kelas itu berteriak kaget setengah mati.
"Ehhh? Serius?!" teriak mereka semua dengan raut wajah sangat shock, terutama wajah para gadis di kelas itu.
Ara mengangguk sambil tertawa canggung.
"Ah, tidak, tidak mungkin!"
"Iya, walaupun Ryuu itu sahabatmu dan juga dekat denganmu, kau tak bisa membohongi kami seperti ini!"
Ejekan demi ejekan diterima oleh Ara di telinganya. Ara menatap satu persatu teman-temannya itu. Sudah ia duga, pasti ucapan teman-temannya itu akan seperti ini. Kesannya, Ara seperti tak akan bisa lepas dan terbebas dari statusnya yang terjebak 'Friendzone' dengan Ryuu. Dan jujur saja, itu membuat hati Ara terasa sakit.
"Kami sudah resmi berpacaran kemarin. Kenapa? Ada masalah?"
DEG!!!
Ara, Revina, dan semua teman-temannya refleks menatap seorang laki-laki berbadan tinggi dan berwajah tampan berdiri di dekat pintu kelas. Laki-laki itu memasang tampang dingin seperti biasanya seraya berjalan menghampiri Ara yang berdiri di samping Revina.
"Honey, kenapa kau berangkat sekolah duluan? Kau tidak menunggu pacarmu ini?" tanya Ryuu pada Ara seraya mengusap lembut pipi putih Ara dengan kedua tangannya. Mendapat perlakuan yang cukup tiba-tiba seperti itu, membuat Ara jadi salah tingkah sendiri.
"EHHH?! RYUU?! SE.. SERIUS KAU?!" teriak semua teman-temannya yang kaget melihat pemandangan langka tersebut di hadapan mereka.
"Iya, aku serius. Aku mencintai Al sedari kami masih kecil. Cintaku padanya sudah 10 tahun berlalu. Dan tak ku sangka, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan padanya. Dia juga ternyata selama ini mencintaiku. Ya, kami saling mencintai sedari dulu," jelas Ryuu sambil tersenyum tipis. Ia melirik Ara yang terlihat kaget dengan ucapannya tadi.
"Tak ku sangka! Ternyata Ryuu yang dingin itu menaruh hati juga pada Ara!"
"Ku kira, selama ini Ryuu hanya menganggap Ara teman sekaligus sahabat masa kecilnya saja!"
"Benar-benar mengagetkan sekali!"
"Iya, benar! Aku juga sangat kaget!"
"Ah, kalian sepertinya memang sudah ditakdirkan mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan masa kecil saja!"
"Selamat ya, Ra, Ryuu. Atas perkembangan hubungan kalian!"
"Iya, iya, selamat ya!"
Teriakan histeris dari semua teman-teman Ryuu, Ara, dan Revina terdengar saling sahut-menyahut. Ya, karena hubungan Ryuu dan Ara yang terlalu tiba-tiba, membuat seisi kelas menjadi ricuh. Rencana Revina yang tadinya berniat menyudutkan Ara malah jadi hancur seketika.
Di saat suasana kelas masih gempar dengan hubungan Ryuu dan Ara, tiba-tiba Rangga datang. Beberapa detik kemudian, datang Angel dan Sam juga. Mereka bertiga pun masuk ke dalam kelas bersamaan. Ya, ke-tiga remaja SMA itu memang berpapasan saat di jalan menuju sekolah.
"Wah, pagi-pagi ada apa ini ribut-ribut?" tanya Sam dengan senyuman lebarnya, sedangkan Angel dan Rangga kaget sekali melihat Ara dan Ryuu yang menjadi pusat perhatian seisi kelasnya.
"Ara..." panggil Rangga pelan hingga membuat Ara menoleh ke belakang, tepat ke arah Rangga.
"Ra, apa teman-teman kita semua sudah tahu bahwa kau pacaran dengan Ryuu?" tanya Angel menatap Ara penasaran.
Baru saja Ara akan menjawab, Ryuu dengan sigap menempelkan jari telunjuknya tepat di depan bibir pink Ara. Oh tidak, Ara merasa perlakuan Ryuu padanya makin menjadi-jadi di depan teman-temannya.
"Biar aku saja yang menjawab semua pertanyaan yang ditujukan untukmu. Kau diam saja ya, honey," kata Ryuu sembari mengedipkan sebelah matanya lengkap dengan senyuman manisnya一membuat seisi kelas lagi-lagi histeris melihatnya. Sebenarnya, ingin Ara juga berteriak histeris karna perlakuan Ryuu yang sangat mendebarkan hatinya ini. Tapi, ia harus menahan diri untuk tetap stay cool di hadapan semua teman-temannya agar hubungannya dengan Ryuu terlihat alami.
Angel dan Sam saling berpandangan kaget, "Honey?" tanya mereka bersamaan.
"Iya, Honey adalah panggilan sayangku untuk Al mulai detik ini. Kenapa? Ada yang keberatan?" Ryuu balik bertanya dengan dingin.
Angel dan Sam sama-sama menggelengkan kepalanya.
Ryuu pun tersenyum miring, "Oh iya, satu hal lagi. Jangan ada yang berani mendekati apalagi berniat menghancurkan hubunganku dengan Al. Awas saja, jika hal itu terjadi," ujar Ryuu seraya melirik Rangga dan Revina. Ucapan itu memang ditujukan pada mereka berdua. Mendengar hal itu dari Ryuu, seisi kelas pun kembali heboh dan ricuh.
"Ya tuhan, kenapa sepertinya Ryuu sangat serius dengan hubungan pura-pura ini? Jika begini terus, harapanku padanya akan semakin tinggi," batin Ara dalam hati sambil menundukkan kepalanya.