STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 63 - Akan Pergi



🖤🖤🖤


Jika kau pergi...


Lalu bagaimana dengan aku disini yang masih terjebak dengan perasaanku sendiri?


🖤🖤🖤


Di rumah Ara...


Malam ini, seperti biasa keluarga Ryuu dan Ara mengadakan acara makan malam bersama yang rutin setiap satu bulan sekali. Namun, entah kenapa suasana makan malam kali ini berbeda. Ya, buktinya, dua keluarga tersebut kini hanya sibuk menyantap makan malam tanpa ada satupun yang berbicara.


Tak ingin berlarut-larut dalam suasana seperti itu, Ara pun mencari cara agar bisa mencairkan suasana.


"Ehm, Ryuu, kapan turnamen untuk ekskul basketmu dimulai?" tanya Ara memulai percakapan.


Ryuu tak menjawab. Mulutnya malah sibuk mengunyah dan matanya itu menatap ke arah makanan saja.


Vino, Yui, Santia, dan Bram pun menatap Ryuu secara bersamaan. Namun, rupanya Ryuu terlalu fokus makan hingga tak sadar ditatap seperti itu oleh orangtuanya dan orangtua Ara.


"Ryuu, Ara bertanya tuh padamu," tegur Vino, ayahnya Ryuu.


Ryuu tertegun sebentar. Lalu ia menatap Ara yang duduk di sampingnya. Namun hal itu tak berlangsung lama karena pandangan Ryuu beralih lagi pada makanannya.


"Iya, turnamen diadakan tiga hari lagi," jawab Ryuu dingin.


"Turnamennya diadakan dimana?"


"Di SMA Kencana."


"Wah, benarkah? Apakah aku boleh menonton turnamen-mu?"


Ryuu berhenti mengunyah. Ia dengan cepat menatap Ara dengan tatapan sinis.


"Kau mau menonton? Untuk apa?"


"Ya untuk menyemangatimu, lah!"


"Menyemangatiku? Hei, aku tak ikut turnamen itu, tahu. Lagipula, aku sudah tak jadi kapten basket lagi. Untuk apa kau datang ke turnamen itu jika bukan aku yang main?" jelas Ryuu yang sukses membuat Ara kaget.


"Eh? Kau sudah tak menjadi kapten basket lagi? Kenapa?"


"Al, kita sudah kelas 12. Sudah seharusnya kita fokus belajar untuk ujian nanti. Masa itu saja kau tak tahu?"


"Lalu, kenapa dari kemarin kau sibuk latihan basket jika bukan kau yang ikut turnamen?" tanya Ara masih heran.


"Sebagai mantan kapten basket, ku pikir tak ada salahnya kalau aku melatih anggota ekskul basketku untuk terakhir kalinya."


"Hmm, begitu ya. Lalu kenapa一"


"Habiskan makananmu. Jangan bertanya apa-apa lagi," potong Ryuu ketus membuat Ara bungkam seribu bahasa.


"Ryuu! Kenapa bicaramu ketus sekali pada Ara?" tanya Yui memprotes ucapan Ryuu pada Ara.


Ryuu mengernyitkan dahinya heran, "Bun, nada bicaraku memang seperti ini. Memangnya aku harus bagaimana lagi?"


"Ah, kau ini sama seperti ayahmu! Tak ada manis-manisnya dalam berbicara. Ketus, dingin, sungguh menyebalkan!" seru Yui tersulut emosi sambil menggebrak meja makan.


Semua yang ada disitu pun saling berpandangan kaget dengan apa yang Yui lakukan.


"S.. Sayang, tenanglah. Ryuu tidak bermaksud bicara ketus seperti itu pada Ara. Kau kan tahu anak kita seperti apa. Mau dia senang, sedih, atau marah, nada bicaranya memang seperti itu, " ujar Vino mencoba membela Ryuu.


Santia pun mengangguk, membenarkan perkataan Vino.


Yui menggelengkan kepala, "Kalau bukan turunan sifat dari ayahnya, Ryuu mungkin tak akan memiliki sifat seperti ini, San!"


Suasana yang tadinya hening kini berubah menjadi panas. Aneh. Yui yang biasanya cerewet dan ceria tiba-tiba saja jadi emosional hanya karena melihat Ryuu berbicara ketus pada Ara. Bahkan, Ara saja sampai heran karena hal itu. Jelas-jelas semua yang ada disitu sudah tahu sifat Ryuu bagaimana. Tapi kenapa Yui baru protes sekarang? Kenapa tak dari dulu saja?


"Yui, tenanglah. Kita semua sedang makan malam. Jika ada masalah, kita bicarakan baik-baik setelah makan malam selesai. Bagaimana?" tanya Bram meminta pendapat Yui.


Yui tak menjawab apa-apa. Wanita umur 40 tahun itu diam dengan wajah memerah menahan emosi. Sungguh, Ara berani bersumpah selama 10 tahun ini ia baru pertama kali melihat wajah Bunda-nya Ryuu semarah itu. Ternyata melihat Yui marah lebih menyeramkan ketimbang melihat marahnya Ryuu.


Suasana pun kembali hening. Mereka semua yang ada disitu kembali memakan santapan makan malam yang belum habis. Ya, tanpa ada satupun yang berani berbicara karena takut membuat Yui tersulut emosi lagi.


"Kira-kira ada apa dengan Bunda Yui, ya? Ada masalah apa sebenarnya hingga Bunda sangat sensitif sekarang?" batin Ara bertanya-tanya sambil menatap khawatir Yui.


***


SKIP


Selesai makan malam, di ruang tamu...


"Jadi begini, aku tak akan bicara bertele-tele. Intinya, bulan depan aku akan pergi ke Jepang. Ke negara asalku," jelas Yui saat dia dengan yang lainnya baru saja duduk di sofa ruang tamu.


DEG!!!


Semua yang ada disitu pun membelalakkan mata. Cukup shock mendengar penuturan to the point dari Yui.


"B.. Benarkah, Bun? Kau akan pergi ke Jepang?" tanya Ara masih tak percaya.


Yui menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Berapa lama?" Kali ini Ryuu ikut bertanya.


"Selamanya," jawab Yui dengan cepat tanpa berpikir panjang.


Ara segera menoleh ke samping, dimana Ryuu duduk di sebelahnya. Bisa Ara lihat dengan jelas, mata Ryuu kini memancarkan kesedihan juga penuh tanda tanya. Ya, Ara sangat paham. Wajar saja Ryuu sedih, karena Ara pun sama sedihnya dengan sahabatnya itu.


Vino menatap istrinya itu dalam-dalam, "Sayang, kau belum bicara padaku tentang hal ini. Kenapa tiba-tiba kau ingin ke Jepang?"


"Memangnya penting ya aku minta pendapatmu?" tanya Yui ketus.


"Ehm, Yui. Benar kata Vino. Sebaiknya kau bicarakan dulu baik-baik dengan suamimu. Tentang apa alasanmu ingin pergi dan menetap selamanya di Jepang," saran Bram lalu diikuti anggukan setuju oleh Santia.


Yui membuang muka. Mencoba tak menghiraukan saran dari kedua sahabatnya itu.


"Alasanmu ingin pergi ke Jepang apa karena fans wanita Ayah yang datang tempo hari, Bun? Apa hanya karena hal itu?" tanya Ryuu lirih.


Yui menggeleng seraya menatap objek lain. Sebenarnya, Yui juga tak tega dengan ekspresi Ryuu yang sangat sedih. Maka dari itu ia tak ingin melihat wajah anaknya.


"Ini lebih dari sekedar tentang fans wanita Ayahmu, Ryuu," ucap Yui menekan kata 'fans wanita' dengan jelas.


Ryuu menundukkan kepalanya. Tak sanggup bertanya apa-apa lagi, sama halnya seperti Vino一Sang Ayah.


Santia, Bram, dan Ara pun saling berpandangan. Bingung dengan situasi seperti ini. Ya, walaupun dua keluarga tersebut sudah bersahabat dari 10 tahun yang lalu, tapi ini pertama kalinya Yui menampakkan masalah keluarganya pada keluarga Ara.


"Yui, sebaiknya kau pikirkan lagi matang-matang soal keputusanmu itu. Jika kau pergi ke Jepang, lalu disini Ryuu bagaimana? Kau tak kasihan pada anakmu? Dia sebentar lagi lulus SMA bersama Ara. Setelah lulus, ia akan kuliah, kerja, lalu menikah. Di saat-saat Ryuu akan melangkah menuju kedewasaan, kau tega akan meninggalkannya? Sebagai sesama Ibu, jujur saja aku tak akan bisa melakukan hal itu pada Ara. Lalu, apakah kau tetap tega?" tanya Santia mencoba meraba perasaan Ryuu dan Yui.


Yui kali ini menundukkan kepala. Tak bisa menjawab sedikitpun pertanyaan sahabatnya itu.


Ryuu yang sedari tadi menunduk一menyembunyikan ekspresi sedihnya pun kini menatap semua yang ada disitu satu-persatu.


"Kalau Bunda pergi dan akan menetap di Jepang, aku dan Ayah juga pasti akan pergi. Kami akan sama-sama pindah dari sini ke Jepang sana," ujar Ryuu yang sukses membuat Ara, Santia, dan Bram terkejut setengah mati. Termasuk juga Vino, sebagai Ayahnya Ryuu yang sedari tadi diam tak bicara apa-apa lagi.


"KAU SERIUS, RYUU?!" teriak Ara dengan perasaan kaget dan sedih yang bercampur aduk dalam hatinya sekarang.