STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 60 - Tak Akan Bisa



🖤🖤🖤


Menaruh harap pada manusia adalah seni paling sederhana untuk menderita.


🖤🖤🖤


"Aku pilih..."


Ara dan Santia sama-sama menelan ludahnya. Tentu saja, sepasang Anak dan Ibu itu sangat penasaran dengan jawaban yang akan Ryuu berikan. Namun, baru saja Ryuu akan melanjutkan ucapannya, tiba-tiba suara Yui terdengar memecah keheningan.


"Ryuu! Ryuu!" seru Yui memanggil nama anaknya.


"Aku disini, Bun. Di dapur. Ada Tante Santia dan Al juga," kata Ryuu yang hanya bisa mendengar langkah kaki Bundanya di ruang tamu.


Tak lama setelah itu, Yui pun datang一menghampiri Ryuu, Ara, dan Santia yang sedang berdiri di dapur.


"Yui, kau kenapa? Kenapa matamu sembab?" tanya Santia kaget sekaligus khawatir karena melihat mata dan ekspresi Yui yang sangat menyedihkan sekarang.


Ara dan Ryuu juga tak kalah kagetnya. Dua anak muda itu saling berpandangan tak mengerti. Eh? Ada apa dengan Yui? Seingat Ryuu, Bundanya itu baik-baik saja saat Ryuu berpamitan akan ke rumah Ara. Tapi, kenapa sekarang Yui terlihat sangat sedih bahkan menghampirinya ke rumah Ara dengan mata sembab?


"Santia, suamimu sudah berangkat kerja bersama Vino?" tanya Yui mengabaikan pertanyaan khawatir dari Santia tadi.


"Iya, suamiku baru saja berangkat bersama suamimu. Ehm, s..sebenarnya ada apa? Kenapa matamu一"


"Vino memiliki fans fanatik," potong Yui dengan cepat. Membuat semua yang ada disitu membelalakkan mata kaget setengah mati.


DEG!!!


"V.. Vino? Memiliki fans fanatik?" tanya Santia gelagapan, jantungnya terlalu terkejut sekaligus heran mendengar hal itu.


"Eh? Memangnya ada yang salah dengan fans fanatik? Kenapa Bunda terlihat begitu sedih?" batin Ara tak kalah herannya dengan Sang Mommy.


Yui mengangguk lemah, lalu menundukkan kepalanya.


"Bun, apa salahnya memiliki fans fanatik? Lagipula, kenapa kau menangisi hal bodoh seperti itu?" tanya Ryuu cukup sebal karena pemikiran Bundanya yang tak bisa ia mengerti.


Memilik fans fanatik? Apa salahnya?


"Tadi ada perempuan datang ke rumah, dia menitipkan hadiah untuk Vino, Ayahmu. Dia bahkan memperlihatkan pada Bunda foto-fotonya bersama Ayah," jelas Yui pada Ryuu sambil menangis layaknya bocah yang kehilangan balonnya.


Ryuu memejamkan matanya. Ia tak percaya sekaligus heran kenapa Bundanya itu bisa menangisi hal yang cukup kekanakkan. Kini, Ryuu yakin perasaan Ara dan Santia juga sama sepertinya.


"Ehm, begini. Bagaimana kalau nanti kita bicarakan baik-baik masalah ini? Sepulang suamiku dan suamimu dari kantor. Bagaimana?" tanya Santia sambil mengusap-usap pundak Yui, berusaha menenangkan pikiran sahabatnya yang kalut karena hal sepele.


Yui mengangguk sambil menyeka air matanya. Melihat itu, tentu saja Ara prihatin sekaligus aneh pada Yui hingga tak bisa berkata apa-apa.


"Hmm, sepertinya Bunda Yui terlalu cemburu dengan fans fanatiknya Om Vino. Dia benar-benar memiliki hati yang rapuh ya, sama sepertiku," batin Ara dalam hati.


"Kalian berdua kenapa belum berangkat? Ini sudah jam 10. Perpustakaan Kota hanya buka sampai jam 4 sore saja," kata Yui sambil menatap Ara dan Ryuu bergantian.


Ara dan Ryuu tersentak kaget untuk beberapa detik. Mereka saling berpandangan, lalu memandang Yui secara bersamaan.


"Kenapa? Bukankah kau bilang mau belajar untuk UN di Perpustakaan Kota?" tanya Yui merasa heran karena melihat gelagat Ryuu dan Ara yang aneh.


Ara tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "B.. Bun, aku memang akan pergi belajar hari ini. Tapi bukan bersama Ryuu."


"Eh, benarkah?"


Santia menganggukkan kepala, "Dia akan pergi belajar bersama Rangga, teman sekelasnya," jawab Santia mewakili Ara.


"Bukan teman, Tante. Rangga itu pacarnya Ara," timpal Ryuu dingin yang sukses membuat Ara melotot pada laki-laki itu.


"Ah, bukan, bukan. Rangga bukan pacarku. Dia benar-benar teman sekelasku, Bun, Mom!" seru Ara sambil tersenyum terpaksa.


Tanpa Ara sadari, Ryuu yang berada di sampingnya tersenyum miring.


"K.. Kalau begitu, aku berangkat dulu ya Mom, Bun. Dadah!" seru Ara seraya pergi berlari dari dapur. Tak lama setelah itu, Ryuu pun ikut berpamitan pada Santia dan Yui一berjalan menyusul Ara.


"Hmm, Ryuu belum menjawab apapun tadi. Kira-kira siapa ya calon jodoh yang akan dia pilih? Gadis yang berada di jepang? Atau Ara, anakku?" batin Santia gelisah dalam hatinya.


***


Ara kira, Ryuu tak akan berjalan mengikutinya sampai ke Halte Bus. Namun, dugaannya itu salah. Ryuu malah sudah duduk dibangku panjang Halte一tepat di samping Ara一sambil menatap gadis itu dingin.


Merasa di tatap, Ara pun berdecak kesal.


"Kau mau ke Perpustakaan Kota kan? Kenapa kau malah disini? Ini Halte Bus, tahu!" seru Ara dengan ketus.


"Hei, kau ini bodoh atau bagaimana? Jelas-jelas aku ke Halte Bus untuk naik Bus menuju Perpustakaan Kota. Kau pikir aku akan terbang menuju kesana?" Ryuu bertanya tak kalah ketusnya dengan Ara.


"Lagipula, katanya kau akan belajar dengan Rangga. Dimana? Apa di Perpustakaan Kota juga?" sambung Ryuu yang kini nada bicaranya melembut sedikit.


Ara menggelengkan kepalanya sambil membuang muka, "Aku tak akan mengganggumu belajar di Perpustakaan Kota. Aku akan belajar di rumah Rangga. "



"Seru? Seru apanya?"


"Ya, rasanya memang seru mengajarkan gadis ehm, bodoh sepertimu," jawab Ryuu sengaja menekan kata bodoh meski dengan suara cukup kecil.


"Kau tadi bilang apa? Bodoh?" tanya Ara menatap tajam Ryuu. Namun, yang ditatap tajam malah diam sambil tersenyum miring pada Ara.


Ara pun membuang muka. Ia baru saja ingat bahwa hari ini yang ikut belajar dengan Ryuu ke Perpustakaan Kota bukan hanya Sam dan Angel saja, tapi juga Revina. Entah kenapa, mengingat hal itu, membuat hati Ara cukup gelisah dan gundah.


"Kau kenapa? Masih ingat pertengkaran kita yang tadi malam?" tanya Ryuu heran dengan Ara yang tiba-tiba saja diam.



"Bukankah tadi malam sudah jelas? Kau tak boleh menjauh dariku. Bagaimanapun, yang boleh memutuskan hubungan pura-pura ini hanyalah aku. A-K-U. Kau masih ingat bukan dengan perjanjian kita?" sambung Ryuu ikut membuang muka.


Ara mengangguk pelan, tapi tatapannya masih terlihat gelisah.


"Apa Revina ikut belajar bersamamu?"


Ryuu tersentak kaget sambil melirik Ara sekilas.



"Hei, kau pikir aku akan mengajak Rubah Licik itu setelah tahu apa yang ia lakukan pada kita berdua? Kau lupa dengan Cupcake一"


"B.. Benarkah? Kau tak mengajak dia?" Ara memotong ucapan Ryuu dengan wajah sumringah.


Ryuu berdehem seraya menganggukkan kepalanya. Lalu, detik selanjutnya, laki-laki itu memajukan kepalanya sedikit. Mendekat pada wajah Ara hingga Ara pun tanpa sadar memundurkan wajahnya.


"K.. Kenapa?" tanya Ara gugup. Pikirannya tak jernih jika Ryuu memajukan kepalanya mendekat seperti ini.


"Revina tak ikut, kenapa kau terlihat sangat senang?" tanya Ryuu sambil memicingkan matanya, menambah rasa kegugupan Ara.


Hening. Ryuu dan Ara saling bertatapan tanpa sedikitpun berkata apa-apa. Demi apapun, Ara paling benci situasi seperti ini. Saking kencang detak jantung Ara, ia bahkan takut Ryuu bisa menyadari hal itu.


Ara pun tertawa canggung demi memecah keheningan. Ia dengan cepat mendorong bahu Ryuu agar posisi wajah sahabatnya itu tak begitu dekat dengannya.


"Kau yakin bisa melupakanku dan menjauhiku? Kelihatannya, tidak semudah itu ya? Bahkan pipimu saja masih memerah saat ku dekatkan wajahku tadi ke arahmu," kata Ryuu dingin sambil tersenyum miring.


Ara tersentak kaget sambil menyentuh kedua pipinya dengan tangannya.


"Memerah? T... Tidak mungkin!" elak Ara cukup malu.


Ryuu pun tertawa meledek, "Kau itu tak akan bisa melupakanku."


"Apa maksudmu berkata begitu? Kita lihat saja, nanti. Aku akan sengaja membuat nilai UN-ku lebih kecil darimu agar aku bisa menyerah terhadapmu!" seru Ara kesal sambil memanyunkan bibirnya.


1 detik..


5 detik..


10 detik..


Ara membelalakkan matanya bersamaan dengan mulutnya yang menganga lebar. Detik selanjutnya, ia pun menutup mulutnya itu dengan kedua tangannya. Sedangkan Ryuu diam, menatap Ara lurus dan setajam pedang.


"Oh, jadi begitu ya?"


"Bodoh! Aku berencana membuat nilai UN-ku lebih kecil dari Ryuu agar aku bisa kalah dan menyerah terhadap perasaanku padanya. Tapi, kenapa aku bilang hal itu pada Ryuu? Ah, dasar bodoh kau, Altheara!" umpat Ara dalam hati mengutuki dirinya sendiri.


Ryuu tersenyum miring sambil membuang muka. Bersamaan dengan itu, ia bangkit dari duduknya. Menatap Ara yang posisinya lebih rendah darinya.


Karena lama Ryuu tak bersuara, Ara pun terpaksa mendongakkan kepalanya. Menatap kepala Ryuu yang lebih tinggi dari posisinya duduk.


"Kalau begitu, ku ganti saja peraturannya."


"Eh?" Ara membelalakkan matanya, tak mengerti maksud dari ucapan Ryuu.


"Iya, peraturan dari tantangan ke-2 untukmu akan ku ganti. Karena jika peraturannya seperti peraturan sebelumnya, kau akan dengan sengaja tak belajar agar nilai UN-mu lebih kecil dariku. Dan berkat itu kau bisa bebas menjauhiku. Bukankah begitu, nona Al?"


Ara menelan ludahnya kasar. Tak salah jika Ryuu terus mengatainya bodoh. Karena memang Ara sendiri juga merasa bahwa dirinya sangat bodoh. Bisa-bisanya Ara keceplosan dan bilang rencananya itu pada Ryuu. Oh, gadis itu sungguh menyesal sekarang.


"Jika nilai UN-mu lebih besar dariku, kau baru boleh menyerah terhadap perasaanmu padaku. Kau bebas menjauhiku, bahkan kau bebas berpacaran dengan siapapun itu," jelas Ryuu dingin.


Ara mengerucutkan bibirnya, ia tak mampu membuka suara karena takut Ryuu menambah peraturannya.


"Tapi, jika nilai UN-mu lebih kecil dariku, kau tidak boleh sedikitpun menjauhiku ataupun menyerah terhadapku. Akan kubuat kau terus berharap padaku, dengan begitu kau tak akan bisa melupakanku seumur hidupmu. Hahaha," kata Ryuu tertawa lepas. Membuat bulu kuduk Ara seketika berdiri.


"Hei, kenapa peran Ryuu jadi seperti ini? Bukankah peran dia hanya seorang laki-laki jenius berdarah dingin dan bermulut pedas? Kenapa author mengubah perannya menjadi iblis?" batin Ara kebingungan, tak tahu harus mengelak apa pada Ryuu.


***


Nantikan Chapter selanjutnya hari ini jam 20:00 yaa!


Dadah, author mau kabur takut di tampol Ara dan readers huahahahaha😹