
Teng! Teng! Teng!
Bel istirahat sekolah berbunyi. Semua murid pun berhamburan keluar dari kelas. Ada yang langsung pergi ke kantin, ke taman belakang sekolah, ataupun toilet. Terkecuali Ara dan Angel yang memutuskan untuk tak ke kantin dulu hari ini.
"Hmm, rasanya hari ini mood-ku sedang tidak baik," ujar Angel sambil mengambil kursinya lalu duduk disamping Ara.
"Sama," timpal Ara.
"Ra, Angel! Mau ke kantin, tidak?" tanya Sam di dekat jendela kelas. Ara menggeleng, sedangkan Angel hanya melotot pada Sam.
"Oke, baiklah!" seru Sam sambil tertawa kecil dan pergi.
Angel memeluk Ara dari samping, "Ra! Mood-ku akhir-akhir ini tidak baik karna Sam!"
"Sam? Kenapa?" tanya Ara tak mengerti.
"Ih! Dia itu akhir-akhir ini mendekatiku terus! Setiap kau tak bersamaku, pasti Sam datang mendekatiku. Bahkan, dia berani menggandeng tanganku!"
"Eh, benarkah? Kok aku tak tahu?"
"Ya, tadinya aku tak mau menceritakan ini padamu. Karna sebenarnya, menceritakan Sam padamu juga tidak begitu penting bagiku," kata Angel mendengus kesal.
Ara menggeleng, "Jangan menutupi apapun dariku, Ngel. Aku saja setiap hari menceritakan Ryuu padamu. Kau juga harus berbagi ceritamu padaku."
"Tapi aku berbeda darimu! Kau menceritakan Ryuu setiap hari padaku, karna memang kau menyukai Ryuu! Kalau aku 'kan membenci Sam. Untuk apa aku menceritakannya padamu?" tanya Angel menggebu-gebu.
"Suaramu kecilkan dong, nanti ada yang dengar kalau aku menyukai Ryuu," ucap Ara setengah berbisik sambil menutup mulut Angel dengan tangannya.
"Al, ada pesan dari Bunda."
DEG!!
Ternyata, sedari tadi masih ada Ryuu di dalam kelas. Sialnya, Ara dan Angel benar-benar tak menyadari keberadaan Ryuu. Mereka terlalu fokus mengobrol. Dan gawat! Bagaimanapun, suara Angel tadi sangat kencang. Bisa saja 'kan Ryuu mendengar suara Angel yang mengatakan bahwa Ara menyukai Ryuu?
"I-iya. Pesan apa, Ryuu?" tanya Ara tersenyum canggung.
"Katanya, pulang sekolah nanti kau harus datang ke rumahku."
"Eh? Untuk apa?"
"Entahlah," jawab Ryuu datar sambil berjalan keluar kelas.
Ara hanya bengong melihat kepergian Ryuu. Dalam hati, ia bersyukur. Sepertinya Ryuu tak mendengar ucapan Angel. Ya, Ara sangat yakin sekali.
"Maaf ya Ra, lain kali aku akan mengecilkan volume suaraku, deh!" kata Angel merasa bersalah.
Ara mengangguk seraya tersenyum, "Iya, lain kali hati-hati, ya!"
***
"Permisi, Bundaaa?"
Ara membuka pintu rumah Ryuu perlahan. Layaknya pencuri, Ara berjalan mengendap-ngendap ke ruangan rumah Ryuu yang paling ujung-tepatnya di kamar sahabatnya itu. Setelah sampai di depan kamar Ryuu, Ara pun mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok! Tok! Tok!
Tak lama menunggu, pintu kamar Ryuu terbuka.
"Konnichiwa, Ryuu!" seru Ara sambil tersenyum manis.
Ryuu diam seraya memutar bola matanya kesal. Sepertinya, kedatangan Ara mengganggu ketenangan Ryuu.
"Nilai bahasa jepangmu jelek, jadi jangan terlalu percaya diri berbicara bahasa jepang."
"Hehe, maaf," kata Ara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bunda mana?" Sambungnya.
"Bunda mengantarkan berkas kantor Ayah yang tertinggal disini."
"Eh? Berkas kantor Ayahmu tertinggal? Jadi sekarang Bundamu tak ada di rumah, dong?"
Ryuu mengangguk, "Pulang sana, aku mau belajar."
Baru saja Ryuu akan menutup pintu kamarnya, tangan Ara menahan knop pintu. Sambil cengengesan, gadis itu menatap Ryuu dengan tatapan memohon.
"Apa?" tanya Ryuu ketus.
"Biarkan aku sedikit lama disini, hehe. Lagipula 'kan aku sudah bilang ke Mommy bahwa aku mau kesini. Jadi, Mommy tak akan cemas mencariku."
"Kalau Bunda sudah datang, kau harus keluar dari kamarku."
"Siap, Bos!"
Ryuu pun akhirnya membiarkan Ara masuk ke kamarnya. Dengan santainya, Ara duduk di kursi dekat meja belajar-tepatnya disamping Ryuu.
"Kau tidak lihat aku sedang belajar?" tanya Ryuu kesal karna Ara sangat menempel disampingnya.
Ara menjauhkan diri dari Ryuu sambil tertawa, "Hehehe, maaf. Lagipula waktu di rumah itu dipakai untuk istirahat, bukan belajar, Ryuu."
Ryuu menatap tajam Ara yang hanya cengengesan ditatap seperti itu olehnya.
Suasana hening pun tercipta. Tak ada satupun yang berbicara. Merasa diabaikan Ryuu, pandangan Ara jadi memperhatikan seisi ruangan kamar Ryuu. Dari dindingnya, jendelanya, bahkan sampai ke sprei kasurnya.
DEG !!!
Pandangan Ara terfokus pada satu boneka beruang yang ada diatas bantal kasur Ryuu. Dengan senyuman merekah, ia mengambil boneka beruang tersebut dan membawanya ke meja belajar Ryuu.
"Hei! Kau masih menyimpan boneka ini, Ryuu?" tanya Ara yang masih mempertahankan senyuman senangnya.
Ryuu terlihat terkejut dan langsung mengambil boneka beruang itu dari tangan Ara.
"Memangnya kenapa?" tanya Ryuu berusaha menyembunyikan wajah terkejutnya.
Ara berdehem, "Itu 'kan boneka yang kuberi padamu saat kau berulang tahun yang ke-15 ya?"
Ryuu mengangguk, tapi kini matanya berfokus pada buku kimia yang sedang dibacanya.
"Saat itu, kau bilang kau benci dengan boneka beruang ini dan kau berniat membuangnya."
"Tapi, tak ku sangka kau masih saja menyimpannya sampai saat ini. Hihihi," ucap Ara tersenyum-senyum.
Ryuu menutup buku kimianya. Bukannya menatap Ara, dia malah menatap boneka beruang tersebut dengan tajam. Ara yang melihat itu tentu saja kebingungan.
"Aku menamakan dia Baka," kata Ryuu dingin, tapi matanya tetap menatap boneka beruang itu.
"Baka? Bukankah itu bahasa jepang yang artinya-"
"Bodoh. Sama sepertimu."
"Kau selalu juara di 20 besar. Apa itu bisa disebut prestasi?"
Ara menutup mulutnya rapat-rapat. Walau ia selalu sebal jika direndahkan Ryuu, tapi dalam hatinya ia sangat senang. Karna hanya pada Ara-lah, Ryuu menunjukkan sifat aslinya.
Ya, Ryuu senang merendahkan orang lain yang lebih payah darinya.
"Wah, namamu Baka ya? Mulai hari ini aku akan memanggilmu Baka-chan ya hehe," kata Ara ikut menatap boneka beruang itu.
Ryuu tiba-tiba tersenyum. Namun dimata Ara, senyuman itu menakutkan sekaligus memabukkan. Hampir saja ia lupa berkedip melihat fenomena senyuman Ryuu yang jarang sekali terjadi.
"Kau tahu? Setiap kali aku kesal dengan kelakuan keras kepala dan cerobohmu, aku selalu mencekik si Baka," ujar Ryuu tersenyum sinis sambil melirik Ara sekilas.
Ara membulatkan matanya kaget, "Ehhh?!"
"Ya, alasanku menyimpan dia selama bertahun-tahun, karna aku menjadikan dia sebagai pelampiasan kekesalanku padamu."
"Hahaha, candaanmu tidak lucu, Ryuu-"
"Aku serius," potong Ryuu cepat.
Ara menelan ludahnya kasar. Lalu detik selanjutnya, ia kembali memanyunkan bibirnya sebal.
"Ryuu, kau jahat! Hmph!" seru Ara dengan mata berkaca-kaca. Ia pun segera mengambil boneka beruang tersebut dari Ryuu.
"Hei, kembalikan! Itu punyaku!"
"Tidak, tidak mau!"
Ryuu berdiri dan berusaha mengambil boneka itu dari tangan Ara. Tanpa mereka sadari, mereka pun jadi berlari-lari disekitaran kamar Ryuu. Cukup lama mereka berlari saling kejar-kejaran kesana dan kemari. Namun karna terlalu lelah, Ara memutuskan untuk duduk di kasur milik Ryuu.
DEG !!!
Naas, karna dibelakang Ara ada Ryuu yang masih berlari, terdoronglah tubuh kecil Ara hingga terjatuh di kasur Ryuu. Bukan hanya itu saja, Ryuu juga ikut terjatuh! Tepatnya diatas tubuh Ara.
Oh tidak, jantung Ara berdebar kencang saat dirinya berkontak mata dengan Ryuu. Situasi seperti ini tidak cocok untuk jantung Ara! Apa yang harus gadis itu lakukan?
"Ehm, Ryuu-"
TING! NONG!
"Ryuu sayang, Bunda pulaaanggg!"
Ara tanpa aba-aba langsung mendorong tubuh Ryuu diatasnya. Dengan secepat kilat, ia pergi keluar dari kamar Ryuu. Ya, masih dengan jantung berdebar tak karuan, Ara pun menghampiri Bunda Ryuu-Yui yang ada di ruang tamu.
"Eh? Ara? Kok ada disini?" tanya Yui agak terkejut.
Ara tertawa canggung, "Kata Ryuu di sekolah tadi, Bunda mengundangku kesini-"
"Oh iya! Hahaha, Bunda baru ingat. Maaf ya Ra!" seru Yui seraya tersenyum malu.
Mereka berdua pun akhirnya duduk di sofa ruang tamu. Karna gelagat Yui yang begitu aneh, Ara jadi semakin penasaran apa yang akan dibicarakan Yui.
"Bunda ingin membahas ulang tahun Ryuu."
Ara terkejut seraya membelalakkan matanya, "Eh?!"
"Hahaha, Ra. Jangan bilang kau melupakan ulang tahun Ryuu yang seminggu lagi," jelas Yui sambil tertawa kecil.
Ara diam dan termenung beberapa saat. Benar juga kata Yui, kenapa dia bisa melupakan ulang tahun Ryuu yang sebentar lagi? Aneh. Padahal setiap tahun, pasti Ara-lah yang paling duluan semangat merayakan ultah Ryuu dibanding Orangtua Ryuu sendiri. Tapi kenapa di tahun ini, ia bisa lupa? Apa yang sebenarnya membuat Ara melupakan ultah sahabat yang disukainya itu?
"Jadi, rencananya Bunda akan merayakan ulang tahun Ryuu yang ke 18 tahun di Puncak."
"Eh? Puncak? Berarti pada saat kita Camping dong Bun?" tanya Ara bingung.
Yui tersenyum, "Yup! Benar sekali sayang."
Ara mengangguk-anggukan kepalanya sambil ikut tersenyum. Namun, detik selanjutnya senyuman itu memudar saat mendengar Yui mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Karna kita Camping sekaligus merayakan ultah Ryuu, jadi kamu dan Ryuu boleh kok mengundang teman ikut Camping bersama kita," kata Yui.
Ara menggeleng cepat. Baru saja ia akan mengutarakan pemikirannya, tiba-tiba Ryuu datang menghampiri Bundanya dan Ara yang ada di ruang tamu.
"Sini, kembalikan si Baka," ujar Ryuu ketus sambil merebut boneka beruangnya yang sedari tadi dipegang Ara.
Yui tertawa terbahak-bahak, "Lho? Bunda baru sadar daritadi kau sedang memegang boneka ya?"
"Hehehe, iya Bun," ucap Ara ikut tertawa.
Ryuu memutar bola matanya lalu pergi ke kamarnya lagi. Tak lupa si Baka di genggamnya erat-erat agar Ara tak bisa mengambil lagi dari tangannya. Setelah Ryuu benar-benar masuk kamar, Yui menatap Ara cemas sekaligus khawatir.
"Ra, hubunganmu dengan Ryuu sedang tidak baik ya?"
Ara menggeleng dengan cepat, "Tidak kok, Bun. Hubungan persahabatan kita masih terjalin dengan baik."
"Bohong. Bunda bisa tahu dengan melihat sikap Ryuu yang seperti itu."
"Eh? Sifat Ryuu 'kan begitu ke semua orang Bun. Di sekolah juga, dia selalu seperti itu kepada laki-laki ataupun perempuan. Jadi, tak aneh rasanya jika aku diperlakukan seperti itu juga," ujar Ara sambil tersenyun simpul.
"Tidak bisa begitu dong, Ra! Kau ini beda! Kau ini bukan temannya, tapi sahabatnya! Bunda jadi jengkel melihat sikap Ryuu yang menyamakanmu dengan teman-teman sekolahnya. Huh.." keluh Yui sebal.
Ara terdiam. Entah angin dari mana, Ara mengingat suatu hal. Tapi, dalam hatinya, dia bingung. Haruskah dia membicarakan hal ini pada Bundanya Ryuu? Atau, dia tutupi saja dari Bundanya Ryuu?
"Kenapa kau diam, Ra?" tanya Yui heran.
"Bun, sebenarnya selama ini Ryuu itu.."
"Ryuu kenapa, Ra?"
"..dia mengajar les di rumah teman kelas kami. Revina, namanya," ucap Ara setengah berbisik. Takut jika Ryuu mendengar ucapannya itu.
Diluar dugaan, Yui hanya tersenyum mendengar ucapan Ara.
"Kok Bunda malah senyum-senyum? Tahu tidak Bun? Ryuu mengajar les tapi tidak dibayar oleh Revina ataupun Orangtuanya!" seru Ara bingung sekaligus aneh dengan sikap Yui.
"Bunda sudah tahu, kok," kata Yui yang tentu saja mengejutkan Ara.
"Ehhh? T-tapi, kenapa Bunda membiarkan anak Bunda sendiri mengajar les tanpa dibayar sepeser pun? 'Kan kasihan Ryuu. Dia selalu ke rumah Revina dulu setiap pulang sekolah. Pasti dia sangat capek, Bun," kali ini Ara yang bergantian mengeluh.
"Ryuu mengajar les di rumah Revina karna ada alasannya, Ra."
"Alasan? Alasan apa, Bun?"
Yui menggeleng sambil tertawa kecil, "Kalau Bunda membocorkannya padamu, nanti jadi tidak seru, ah. Pokoknya, nanti juga kau tahu sendiri, sayang."
Ara mengernyitkan dahinya bingung. Namun, ia memutuskan untuk menutup mulutnya dan tak mau bertanya lebih lanjut. Dalam pikirannya, ia masih bingung dengan sikap Yui. Alasan? Bundanya Ryuu tahu alasan anaknya mengajar les di rumah Revina tanpa dibayar? Kalau Bundanya saja tahu, kenapa dia sebagai sahabat tidak tahu sama sekali? Apa yang sebenarnya terjadi hingga Ryuu harus rela mengajar les tanpa dibayar oleh Revina?