
Sejak saat itu, Jeffry jadi idola baru di kantor. Idolanya para wanita yang pasti yaaa...
Dan para OB.
Kenapa? Ya karena anak ini kelewat rajin. Urusan bersih-bersih, Jeffry nggak bisa kompromi. Apapun itu jika kotor dan mengganggu pandangan matanya, jangan harap bakal terlewat.
Selain sifatnya yang kelewat ramah, Jeffry juga orangnya nggak tegaan.
Saking baiknya, security Niko yang dulu nampol kepala Jeffry pun sudah dimaafkan. Mereka berdamai dengan segelas es doger.
Awal mulanya...
Siang hari sekitar pukul setengah dua, saat matahari sedang condong-condongnya, sedang silau-silaunya, Jeffry datang kekantor. Dia baru pulang kuliah, langsung cuzz meluncur kesini.
Di lobi, Jeffry melihat Niko sedang piket hari ini. Sebagai anak baru, ia melambaikan tangannya menyapa Niko.
"Siang Pak Niko." Sapanya.
Niko nyengir nggak enak, ia berjalan menghampiri Jeffry.
"Mas, bisa bicara sebentar?" Bisiknya.
Jeffry menghentikan langkahnya, "soal apa?"
"Maaf waktu itu sempet nabok kepala Mas Jeffry."
Jeffry merengut, "Sakit nih, Pak." Protesnya sambil garuk-garuk kepala bagian belakang.
"Iya, maaf ya. Waktu itu saya kira penjahat." lanjut Niko tak enak hati.
Jeffry terkekeh, ia meraih bahu Niko dan berbisik, "traktir es Doger depan tapi yak?"
Niko mengacungkan jempolnya sambil tertawa lebar.
Semudah itu minta maaf ke Jeffry, kan? Hanya berbekal segelas es Doger, hati langsung adem. Sama mudahnya saat minta tolong ke dia.
"Bos, copy kan dulu berkasku ini laahh..." Suara mengiba khas Batak, Melda mengipasi wajahnya pakai kertas. Panas banget hari ini, padahal AC nyala full.
Ia malas banget jalan jauh ke mesin fotokopi diujung sana. Mumpung Jeffry lewat, mana tahu bisa bantu, kan? Lagian kerjaannya masih numpuk banyak.
Jeffry mendekat, "mana?" ia menengadahkan tangan kanannya, padahal tangan kirinya memegang nampan berisi kopi panas lima cangkir.
Muka Melda langsung cerah, ia meraup tumpukan kertas dan menyerahkannya ke Jeffry.
"Rangkap tiga semua ya ganteeenggg..."
"Iya." Jeffry mengangguk.
"Eh, tunggu." Melda menahan langkah Jeffry. Mumpung tangan Jeffry mode sibuk, kesempatan colek dikit. Melda mencubit pipi Jeffry.
"Iiihh... gemes deeehh..."
Jeffry pasrah. Nasib jadi kacung.
Eh, kacung?
Lalu apakah Jeffry merasa serendah itu?
Jawabannya tentu saja tidak.
Bagi Jeffry ini mengasyikan, ia bahkan tidak menyalahkan Dion yang 'mengkacungkan' dirinya ini. Sebaliknya, Jeffry malah salut dengan kakaknya itu.
Benar kata orang, belajar itu tidak harus duduk diatas kursi, menghadap meja dan kertas. Belajar juga tidak hanya soal teori. Justru pada prakteknyalah hasilnya akan terlihat.
Coba bayangkan, jika Dion mengajari Jeffry cara memakai mesin fotokopi dengan teori, belum tentu Jeffry paham. Maka ditendangnya langsung Jeffry kedepan mesin fotokopi.
Jeffry yang dulu saat sekolah cuma bisa membayar jasa dan kertas untuk meng-copy, sekarang jadi tahu caranya.
Itu contoh kecilnya.
Lalu yang lebih berat yaitu mengenal karakter karyawan, bagaimana menyikapi setiap kepala, membaca keinginan mereka, mengelola pendapat, dan banyak lagi.
Bagaimanapun seorang pemimpin itu adalah yang paham dengan keadaan bawahannya, bukan yang hanya asal main perintah tapi kapasitas dibawahnya tidak sanggup menampung.
Baiklaaahhh...
Jeffry melangkah ringan menuju mesin fotokopi setelah mengantarkan kopi ke karyawan yang pesan.
"Jeff, dipanggil Pak Dion sekarang diruangannya." Tiana menatap Jeffry, pandangannya lelah.
Telfon ke semua divisi, nggak ada yang tahu. Telfon ke ponsel Jeffry, nggak tahunya Pak Dion yang angkat. Ponsel Jeffry ketinggalan dimeja.
Langkah tercepat Tiana adalah ke ruang CCTV. Minta petugas mencari Jeffry segera.
Nggak tahunya cuma ada diruangan sebelahnya berdiri saat ini. Bener-bener minta ditampol bocah, untung Bos.
Jeffry menoleh, "sebentar Tan, nanggung mau copy ini dulu." Jeffry menunjukkan bundelan kertas ditangannya.
"Ck, Meldaaa... urus sendiri kerjaanmu!" Pekik Tiana. Semua staf melongok dari kubikel masing-masing, mencari sumber suara.
Melda datang dari ujung ruangan dengan muka ditekuk.
"Tak bisa pula rupanya kau tengok aku ini mudah sikit? Bukan kau pula yang aku suruh mengcopy, kan?"
"Tinggal pencet, apa susahnya?"
"Ya mudah, asal kau kurangi lah kerjaanku ini."
"Dih, giliran kerjaan aja minta dikurangi, nggak malu sama gaji?"
"Ck..."
Melda merebut kertas dari tangan Jeffry lalu berjalan sambil menghentakkan kakinya.
Tiana buru-buru menggiring Jeffry keluar.
"Kamu jangan terlalu baik, nggak semua karyawan itu benar-benar butuh bantuanmu. Kadang mereka hanya memanfaatkan. Tiap tahun minta kenaikan gaji, giliran kerjaan ditambah ngeluhnya tiap hari." Omel Tiana.
Jeffry hanya menyeringai.
Lalu soal jam kerja Dion yang tidak menentu, kadang sampai lembur di kantor larut malam. Yang lebih parah sampai nggak pulang.
Kadang Jeffry pura-pura ketiduran di sofa. Walau akhirnya tidur beneran.
Niatnya sih emang sengaja mau nemenin Dion dikantor. Daripada di apartemen juga Jeffry cuma sendiri, mau ngelayap bareng temen, tapi badan lagi capek-capeknya.
Mau ngelayap bareng pacar, apalagi...
Pacarnya sekarang lagi diungsikan nun jauh di sana. Musti nunggu sebulan lagi. Huffftt...
Pas lewat tengah malam, Jeffry kebelet pipis. Yak ampuun... nih kran aer nggak bisa diajak kompromi banget deh. Tidur lagi nyenyak-nyenyaknya juga.
Terpaksa Jeffry bangun untuk menuntaskan hajatnya.
Ia celingukan mencari Dion. Komputer di meja kerjanya masih menyala. Disampingnya ada dua kotak makanan. Dion masih setia didepan komputer.
Diam-diam Jeffry mengendap-endap menuju toilet. Karena letak toilet di ujung belakang Dion, mau tak mau Jeffry melewati Dion juga.
Buset deh itu muka serius amat, ampe Jeffry lewat juga Dion tak bergeming.
Iseng Jeffry melirik komputer Dion, lalu tertegun.
Terpampang nyata gambar Violin full screen, yang diambil diam-diam, wanita itu tampak tersenyum sambil minum sesuatu pakai sedotan. Jeffry yakin itu jus buah naga. Warnanya merah keunguan.
Yang bikin galfok adalah, wanita itu tampak cantik sekali, sama seperti aslinya. Jeffry jadi bertanya-tanya, kira-kira pake kamera apa ya Mas Dion saat itu?
Jeffry berdehem.
Dion melengos, dia menggeser gambar layar komputer. Kini foto Violin sudah berganti menjadi gambar pandangan kaki gunung.
Jeffry menarik kursi di dekat Dion.
"Makanlah, kamu tidur apa pingsan sih? Dibangunin nggak ada respon sama sekali." Dion menggeser kotak makanan yang masih utuh.
Jeffry membuka kotak itu, lalu menutupnya lagi. Sushi... Jeffry nggak suka ikan mentah.
"Kenapa?" Tanya Dion.
"Nggak jadi laper."
Dion mengambil kotak didepan Jeffry, lalu mengganti dengan kotak satunya. Meski bentukannya lebih sederhana, tapi Jeffry membukanya dengan antusias.
Matanya langsung cerah, siapa yang bisa menolak pesona Nasi Padang coba?
Pipis dulu aaaahhh...
***