Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Ibuku Sayang



Jeffry menatap tiga orang yang saat ini duduk dihadapannya. Tatapan setengah menerawang yang sulit diartikan, seperti pertanyaan di otaknya, bagaimana bisa?


Dion tetap tenang menunggu respon adik barunya itu. Sengaja ia menunggu saat yang tepat, saat Bella ada di rumah Papanya. Khusus untuk Jeffry ia pastikan sendiri untuk membawanya kehadapan dua orang tua ini.


Dion merasa kurang bijak jika terlalu lama menyembunyikan ini semua dari bocah ini. Papanya terlalu lama mengulur waktu. Jika menunggu Bella yang bicara sampai kapanpun tidak akan sanggup mengungkap kebenarannya.


Dion butuh Jeffry. Butuh cepat mengirim Jeffry kuliah sambil belajar bisnis, ia pastikan akan turun tangan sendiri mendidik anak ini.


Tujuannya sih lebih cepat Jeffry belajar, lebih cepat Dion membagi tanggung jawabnya.


Sebahagia itu ia mendapatkan jackpot, seorang adik baru.


"Ehem..." Dion berdehem memecah kecanggungan. Dia harus sampai kantor setelah jam makan siang berakhir. Membereskan urusan sebentar lalu mengejar pesawat sore ini ke Jogja.


Diujung meja Jeffry menghela nafas, entah untuk yang keberapa kalinya.


Dari awal Bella bercerita, ditambah cerita versi Mahendra, Jeffry diam menyimak tanpa interupsi. Namun raut wajahnya membuat Bella khawatir.


Bella sibuk memilin ujung baju, wajahnya terlihat cemas, tentu saja karena anaknya itu tidak kunjung memberi respon.


Mahendra sendiri lebih bisa menguasai keadaan, wajahnya tetap lempeng seperti biasanya. Ia sudah terlatih terlihat baik-baik saja dalam keadaan apapun, padahal hatinya waswas setengah mati.


Melihat kedatangan Jeffry dan Dion tadi, tiba-tiba saja ada rasa takut di benaknya. Pikiran-pikiran buruk tentang apa yang akan terjadi setelah ini. Bagaimana jika ia harus kehilangan Bella lagi?


Jeffry kembali mendengus melihat Pak Hendra menggenggam lembut tangan ibunya. Mereka saling bertatapan, wajah ibunya tampak lebih tenang saat Pak Hendra melempar senyum ke arahnya.


Oh yak ampun, Jeffry bisa apa?


"Om Dion, aku ke bengkel dulu. Banyak kerjaan." Pamit Jeffry sambil beranjak berdiri. Jujur ia sendiri bingung harus berkata apa. Ia butuh sendiri.


Dion tersenyum, "Oke, aku juga harus ke kantor. Pa, kami bisa pergi?"


Mahendra berjalan mendekati Jeffry, tangannya menepuk bahu pemuda itu.


"Papa tunggu, sekarang kalian pergilah. Hati-hati."


Hati Jeffry berdesir. Beginilah rasanya punya ayah? Kenapa rasanya jadi pingin nangis sih?


Ia menatap Mahendra sekilas, lalu menyalami ibunya dan pergi menyusul Dion yang sudah menunggu di dalam mobil.


Hatinya galau. Pikirannya kalut. Di dalam mobil Jeffry bengong.


"By the way, kamu bisa panggil aku Mas, kakak, atau Abang loh alih-alih Om." Dion terkekeh mengingat dengan polosnya Jeffry memanggilnya Om. Setua itukah wajahnya?


Jeffry diam saja.


"Ambil motor ke bengkel langsung pulang. Aku sudah bilang ke Roni kamu ijin hari ini."


Jeffry masih diam.


Dion makhlum akan kegalauan Jeffry, dia pun nggak akan semudah itu menerima kenyataan ini setelah sepanjang hidupnya tidak mengenal sosok ayah. Lalu tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan ada seorang pria yang datang dan mengaku sebagai ayah.


Bedanya ia lebih dewasa menghadapi ini. Bapaknya butuh seorang pendamping. Dan Sus Bell orang yang tepat, Dion mengenalnya sejak kecil.


Sedang di usia Jeffry saat ini, pasti butuh waktu untuk menelaah semua ini. Anak itu masih labil.


Sampai mobil Dion berhenti di depan bengkel, Jeffry masih tetap diam. Ia membuka pintu dan bersiap pergi saat Dion berkata, "Setidaknya lihatlah mata ibumu, boy."


Jeffry tertegun. Lalu memandang Dion. Laki-laki ini sama sepertinya, mereka di posisi yang sama. Tapi kenapa Dion lebih santai menerima kenyataan ini? Bahkan terkesan excited menerima ia dan ibunya.


Jeffry berjalan lunglai ke dalam bengkel. Ia pikir anak yang terbuang itu hanya ada di sinetron doang. Kenapa sekarang ia yang mengalaminya?


"Woy, Jupri! Dicariin Dinda noh di dalem." teriak Soni teman seprofesi Jeffry.


Sontak Jeffry pasang radar bahaya mendengar nama anak pak DPR fans garis kerasnya disebut. Secepat mungkin ambil motor langsung gass ngacir pergi.


"Apa ibu bahagia?"


Satu pertanyaan yang Jeffry lontarkan saat malam harinya ia dan ibunya duduk berhadapan di meja makan.


Butuh waktu seharian merenung, berfikir, menelaah semua ini. Jeffry sampai ketiduran di pinggir pantai di bawah pohon cemara, tempat ia menjernihkan pikirannya.


Kenapa di pantai? Selain tenang, tempat ini juga cocok untuk pemuda berdompet tipis sepertinya.


Bu Isa terlihat kikuk menanggapi pertanyaan Jeffry.


"Bu, aku nggak masalah asal ibu bahagia. Apapun alasannya Jeffry terima, asal ibu bahagia."


Bu Isa menatap mata Jeffry, binar kesungguhan yang ia temukan.


Lalu dengan terisak Bu Isa menghampiri dan memeluk anak laki-lakinya itu. Ia menangis di dada Jeffry.


"Maafkan ibu, Le. Huhuhu..." Isak Bu Isa.


"Sudahlah Bu, semua sudah terjadi. Aku bisa apa?" Jeffry mencium ubun-ubun ibunya lembut sambil mengelus jilbab biru itu. Ibunya terlihat cantik, sangat cantik.


"Ibu salah bohong ke kamu selama ini. Huhuhu..."


"Ibu berhak bahagia, aku lihat Pak Hendra sungguh-sungguh."


"Kalau kamu keberatan, ibu akan mundur. Kamu juga harus bahagia, bukan hanya ibu."


Jeffry nggak ingin nangis, tapi mendengar kata-kata ibunya barusan membuat matanya berkaca-kaca.


"Jeffry janji akan bahagia, tapi ibu berhak memilih kebahagiaan ibu sendiri." Mati-matian Jeffry nahan biar nggak nangis, sampai suaranya bergetar.


"Lagian Pak Hendra kaya loh Bu, ibu nggak harus susah payah bekerja untuk beli beras lagi. Hehehe...." Jeffry mencoba berkelakar meski terkesan maksa.


Bu Isa memukul dada Jeffry, tangisannya malah tambah kenceng. Jeffry mengeratkan lagi pelukannya. Ia begitu menyayangi ibunya, apapun asal ibu bahagia.


Kruk kruuukk...


Perut Jeffry berbunyi, ibu sampai menghentikan isakanya dan mendongak menatap Jeffry.


Jeffry nyengir, "laper Bu, seharian nggak makan." ia garuk-garuk kepala.


Bu Isa mengelap ingusnya dengan ujung baju Jeffry.


"Yak ampun ibu lupa belum masak buat makan. Sebentar yo."


Secepat kilat ibu memegang wajan, menuang minyak jelantah sisa goreng tempe kemarin dan mengatur api di kompor. Beruntung masih punya stok marinasi ikan lele di kulkas. Tinggal goreng, bikin sambel, kelar.


Begitulah seorang ibu, seolah lupa akan segala hal jika sudah menyangkut anak. Melihat anaknya kelaparan pun ia berusaha memberikan makan apapun keadaannya.


Diam-diam Jeffry menatap ibunya di pojokan dengan mata basah.


Cita-citanya adalah membahagiakan ibu, mempensiunkan ibu secepatnya biar nggak harus capek-capek bekerja lagi.


Sakit rasanya jika melihat ibu tertidur kecapekan di sofa setelah seharian bekerja, belum urusan rumah yang nggak kelar-kelar.


Atau saat ia pulang sekolah melihat ibunya membawa beras dari berhutang di warung sembako sebelah agar ia masih bisa sarapan saat berangkat sekolah.


Saat ia lulus sekolah pun masih susah mencari pekerjaan yang layak. Apalagi untuk lulusan menengah sepertinya.


Mungkin Tuhan mengirimkan Dion dan Mahendra sebagai jawaban dipercepatnya doa Jeffry selama ini.


Harapannya ia bisa melihat ibu tersenyum bahagia di sisa umurnya.


***