Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Lee Min-Ho Lokal



Sebulan kemudian...


"Bagaimana perkembangan Jeffry?" Mahendra tampak mengunjungi Dion diruang kerjanya.


Ia memandang jauh keluar gedung kantor. Pemandangan kota tampak jelas dari ruangan ini.


"So far so good..." Jawab Dion santai. Ia masih sibuk dengan berkasnya.


"Kamu tidak sedang membelanya, kan?" tuding Mahendra.


"Ck, curigaan mulu nih aki-aki. Apresiasi dong kerja kerasku." Gerutu Dion.


"Iya nanti kalau Jeffry sudah kasih bukti."


Dion menutup berkasnya, lalu berjalan menghampiri Mahendra.


"Masih lama lagi, baru juga sebulan. Membimbing Jeffry nggak semudah membalikkan telapak tangan, Pa. Anak itu agak bandel, juga ngeyel, tapi lucu." Dion tersenyum mengingat tingkah absurd adiknya itu.


Menurut Dion, Jeffry cukup 'manis'.


Anak itu suka banget bersih-bersih rumah, alasannya karena kebiasaan. Cukup menghemat pengeluaran untuk bayar home care juga sih kalau dipikir-pikir.


Jeffry yang suka ngantuk kalau otaknya over load.


Yang suka ngerjain tugas kampus dirumah daripada di cafe seperti anak-anak lainnya. Yang ini nyusahin Dion banget, alasannya minta diajarin, tapi ujung-ujungnya Dion yang ngerjain, Jeffrynya asyik ngorok di sofa.


Jeffry kurang suka masakan western, hari-harinya full masakan lokal. Pecel, gado-gado, seblak, rawon, soto.


Sekalinya Dion order makanan jepang, yang diambil cuma ikan shisamo, itu aja ngulek sambel bawang sendiri. Dikira bandeng presto kali ah.


"Hmmm... sepertinya kalian sudah akrab." Gumam Mahendra.


"Yah, lumayan..." Dion duduk di sofa samping Mahendra. Bagi Dion kehadiran Jeffry memberikan hiburan tersendiri untuknya.


"Tetap teliti Dion, ini bukan hanya demi kamu..."


"Tenang aja, Pa. Memang anak itu masih labil, tapi dia cukup mewarisi jiwa pemimpin." Dion melirik bapaknya. "Yang pasti dia pernah hidup susah, jadi bisa menghargai apapun yang dia punya sekarang. Bersyukurlah dia nggak punya sifat OKB."


"Syukurlah." Ucap Mahendra tulus. Lalu ia teringat sesuatu.


"Oiya, Papa cek card yang di pegangnya kenapa isinya masih banyak? Apa anak itu nggak pernah jajan?"


Dion berdecak.


"Jeffry jajannya lontong sayur ... Duit segitu banyak bisa buat beli lontong sayur sekalian gerobaknya."


"Nggak nongkrong di cafe juga?" Cecar Mahendra.


"Jeffry nongkrongnya di bengkel yang ada wifi gratisan."


"Astaga anak itu..."


"Makanya Papa jangan terlalu keras, bibitnya udah baik tinggal ngarahin pelan-pelan. Takutnya kalau dipaksa malah berontak."


"Hmm... Sebenernya Papa kurang setuju anak itu balapan." Pandangan Mahendra menerawang.


"Itu hobi, Pa."


"Resikonya terlalu besar. Papa takut..."


"Sekali-kali cobalah lihat dia saat berlaga. Expresinya itu... entahlah, antara puas, bahagia dan penuh energi. Jeffry terlihat 'hidup' di lintasan balap."


"Papa nggak akan kuat, apalagi ibumu kalau tahu..."


Dion beranjak dari duduknya, ia melihat jam tangannya sekilas.


"Nanti kita atur ngomongnya ke ibu baiknya gimana. Dion ada janji ketemu seseorang. Papa masih mau disini?"


Mahendra menelisik Dion, "Janjian sama perempuan kan?"


"Ck, kenapa sih?" Dion pasang tampang malas. Akhir-akhir ini bapaknya suka kelewat kepo dengan kehidupan pribadinya. Segala ini ono dicurigai.


"Papa harap sih cepetan move on, biar cepet nikah lagi. Papa butuh cucu nih."


Dion melengos, "berasa bikin cilok kaleee..."


"Hehehe..." Mahendra terkekeh. "Pergilah, Papa masih ingin disini."


***


Jeffry berlari menyusuri terminal kedatangan pesawat yang membawa pulang Sofia dari Amsterdam.


Hari ini tepat sebulan mereka beneran nggak ketemu. Beneran nggak contact sama sekali. Baik nyata ataupun virtual.


Hampir gila karena rindu berat.


Kata Mas Dion yang seneng banget ngecengin Jeffry kalau galaunya kumat : susul aja ke Amsterdam. Duit di card kamu itu lebih dari cukup untuk tolak balik plus nginep dan makan sekalian liburan disana.


Jawaban Jeffry : anteriiiinnn...


Mana berani Jeffry nekat begitu. Jangankan ke Amsterdam, ke Tanah Abang aja nggak ingat jalan keluar kalau nggak sama ibu.


Dan sekarang buru-buru melesat secepat yang mobil Dion bisa, menuju bandara setelah Antonio mendadak mengirimkan pesan singkat. Bener-bener niat banget ngerjain Jeffry nih bapak-bapak, sukanya dadakan.


Kalau dari kemarin ngomongnya kan Jeffry bisa siap-siap.


Bisa mandi kembang tujuh rupa dulu biar wangi semerbak pas ketemu. Untung aja ada alternatif lain, mandi parfum.


Pertama kalinya Jeffry ke bandara, seumur-umur baru hari ini. Sekelas Jeffry mah paling mentok naik tras doang.


Nekat minjem mobil Dion karena nggak mau nanti Sofia kepanasan di jalan.


Itu dia di sana, Jeffry langsung berlari lagi. Kalau tepat waktu, harusnya sejak tadi Sofia sudah landing.


Kalau tepat waktu juga, harusnya Jeffry sampai bandara dari tadi. Yah, tau lah... lalu lintas kota ini, huffftt... capek duluan jelasinnya.


Jeffry muter-muter di lantai satu. Kata petugas yang tadi Jeffry sempat nanya, terminal kedatangan internasional ada di terminal tiga lantai satu.


Dan gila...


Ini luas banget, sumpah. Gimana nyarinya?


Di dekat Jeffry berdiri saat ini rame banget orang antri foto. Sepertinya ada artis yang datang.


"Siapa Mbak?" Tanya Jeffry iseng sama cewek yang berdiri antusias didekat Jeffry.


"Aaaaaa Lee Min-Ho Oppaaaa..." Jerit cewek itu langsung ngacir ikut menggerombol cewek-cewek lainnya.


Jeffry tau siapa artis ini, ibu suka banget nonton dramanya.


Tunggu...


Jeffry sempat melirik sekilas sang artis, ampun dah, macho-an gue kemana-mana kaliii... Cibir Jeffry dalam hati.


Ia meninggalkan rombongan itu, berjalan lurus mengamati lalu lalang orang lewat.


Lalu ponselnya berbunyi, Jeffry merogoh sakunya.


Sofia calling...


Hati Jeffry langsung adem, akhirnya aktif lagi nomor yang dirindukannya sebulan terakhir ini.


"Where are you?" Sapa Jeffry langsung.


"In your heart..." Bisik Sofia diujung sana.


Jeffry menunduk menyembunyikan senyum bahagianya.


"Im really miss you so much."


"Me too..."


Jeffry mengedarkan pandangannya, tepat di depan sana dengan jarak yang cukup jauh, meski memakai masker dan topi, Jeffry tahu itu Sofia.


"Astaga..." Jeffry tersenyum, dia memegang keningnya tak percaya. Lalu perlahan menghampiri Sofia, ponselnya masih tertempel di telinga.


Dari ujung lain, Sofia juga berjalan pelan mendekati Jeffry. Ia hampir menangis. Sungguh ia amat merindukan pria ini.


"Kamu cantik..." Gombal Jeffry, masih berjalan pelan menuju Sofia. Pandangan mereka lurus.


"Cih, gombal. Aku kan pakai masker."


"Mau pakai niqob juga tetep cantik."


"Kalau nggak pakai apa-apa?"


"Jangan, aku nggak akan kuat."


"Hmm, sudah pintar ya sekarang."


"Gimana dong? Pacarku janda soalnya. Hehehe..."


Sofia ikut terkekeh.


"Buka dong maskernya." Pinta Jeffry saat mereka hampir bertemu disatu titik. Ia ingin melihat wajah cantik Sofia. Pengobat rindu hatinya.


"Bisa nanti di mobil aja nggak? Disini terlalu riskan." Tolak Sofia sambil celingukan.


"Aku kangen kamu."


"Eemm..."


"Please..."


Sofia tak tega menolak permintaan Jeffry, perlahan ia membuka masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.


Jeffry mematikan sambungan telpon.


"Kamu cantik." Puji Jeffry lagi saat wajah Sofia hanya tinggal sejengkal telapak tangannya.


Sofia terkekeh kecil sambil menangis haru, ia merangkulkan kedua tangannya di leher Jeffry.


Jeffry membalas memeluk pinggang wanita ini.


Melegakan sangat bisa seperti ini lagi. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam di ceruk leher Sofia. Menyesap harum tubuh yang di rindukannya ini.


"SOFIA ANNA!!!"


Pelukan Jeffry refleks terlepas saat mendengar ribut-ribut orang memekikkan nama Sofia.


Keras banget loh, bikin kaget deh.


Segerombolan wanita mendekat. Mereka sigap mengaktifkan kamera ponsel, minta foto bareng Sofia.


"Mas fotoin dong, yang bagus ya..." Seorang wanita memberikan ponselnya ke Jeffry dengan keadaan kamera ponsel sudah on.


Sofia meringis menatap Jeffry.


Jeffry terpaku, ia lupa pacarnya ini seorang artis.


***