
Pagi harinya, Violin merasa baikan. Badannya terasa segar. Sepertinya semalam tidurnya sangat berkualitas. Sangat sangat nyenyak dan tanpa gangguan.
Badannya kelelahan, juga pikirannya. Itu yang menyebabkan ia tumbang. Seminggu terakhir memang ia jarang tidur. Sekalinya bisa tidur, selalu terbangun tengah malam dan nggak bisa tidur lagi.
Asupan makanan yang masuk ke tubuhnya juga tidak terkontrol, ia makan kalau ingin saja. Padahal aktifitasnya full. Badannya terforsir, otaknya dihajar habis-habisan. Tapi nggak ada sumber tenaga yang masuk.
Akibatnya trombositnya turun, badannya kelelahan dan akhirnya nggak mampu lagi. Ia harus bedrest.
Ya ampun malunyaaa... Jahat sekali Vio tega menyakiti dirinya sendiri.
Ia single saat ini, siapa yang mau memperhatikan jika bukan dirinya sendiri. Tapi ia dengan sengaja malah membuat kacau.
Damar pergi pagi-pagi sekali, saat Vio masih setengah sadar dari tidurnya.
Pria itu tidak mengatakan apapun setelah bertanya pingin sarapan apa, ia hanya membelai kepala Vio dan mengecup keningnya lalu pergi.
Eh, tunggu...
Vio meraba jidatnya. Tadi beneran nyium jidat kan? Ia mencoba mengingat-ingat. Apa di bibir sih? Duh, lupa!
"Vioooo..."
Sofia datang menghambur kearah Violin, juga Pamela yang menyusul dibelakang.
"Gue kira elo pulang kerumah bokap lo. Sumpah kita nggak tahu kalau nggak Damar yang kasih kabar subuh tadi." Sofia nyerocos sambil menarik kursi mendekat ke ranjang Violin.
"Nggak papa, udah enakan kok." Jawab Vio mencoba duduk, Pamela membantunya menaikkan sedikit kepala ranjang.
"Masih pusing ya?" Tanya Pam lembut, ia memegang kening Vio dengan punggung tangannya.
"Nggak. Beneran gue udah nggak kenapa-kenapa. Bantu gue beberes, kita pulang yuk."
"Enak aja, elo bedrest tiga hari ya, nggak ada pulang-pulang." Pam berubah galak.
"Ck, berlebihan deh." Vio kembali rebahan, males banget tiga hari disini, tidur, makan doang, kerjaan dikantor lagi banyak. Kesian Juno deh.
"Eh, Vi... kok lo bisa sama Damar, gimana ceritanya? Bukannya Damar kemarin masih di Swiss ya?" Sofia membuka sarapan jatah Vio.
Violin meringis, duh gawat, mereka nggak tahu dia dan Damar sudah tunangan. Ngamuk nggak nih kalau dikasih tau?
"Sorry guys..." lirihnya.
Pam mendekatkan wajahnya ke wajah Vio yang menunduk.
"Apa terjadi sesuatu?" Selidik Pam.
Vio mengangkat tangannya, menunjukkan jari manis tangan kirinya yang sudah tersemat cincin cantik nan sederhana.
Sofia menutup mulutnya kaget, sedang Pam memejamkan matanya tak percaya.
Bukan karena speechless dengan si cincin ya, yang meski bentukannya sederhana tapi harganya hmmm...
Tapi karena nggak percaya, Damar benar-benar membuktikan ucapannya.
Wajah Vio sudah memerah, matanya mulai panas.
Tanpa kata-kata, Sofia memeluk Vio, begitu juga dengan Pam. Sumpah mereka nggak percaya akan secepat ini, pantas Vio tumbang.
Sepuluh menit mereka berpelukan, menenangkan Violin. Membiarkan Vio menumpahkan sakitnya dalam tangisan. Tidak banyak kata, hanya belaian lembut yang Pam dan Sofia berikan, berharap ini bisa menjadi penguat untuk Violin.
"Sudah, makanlah. Buka mulutmu." Sofia menyuapi Violin sarapannya.
Pam memberikan tisyu agar Vio menghapus air matanya.
Vio makan dengan enggan.
"Marina Medika emang beda, sarapannya dong... nasi pecel." Julid Pamela. Heran aja, dimana-mana rumah sakit sarapannya bubur, atau nggak nasi lembek dan rebusan telur.
"Gue yang mau." Sahut Vio. "Nggak bisa gue makan bubur yang dari rumah sakit." lanjutnya.
"Lah terus siapa yang beli ini?"
"Damar tadi sebelum pergi, tapi sepertinya di titipin suster, makannya ditaruh piring ini."
Sofia dan Pam saling lirik, kemudian Pam berdehem.
"Mulai deh kayak bapak gue, lo." Violin kembali murung.
"Pam bener Vi, tadi pagi aja Damar langsung yang kerumah, kirim mobil buat jemput kita. Lah kita syok, kan tahunya elo dirumah Om Atma."
"Wajahnya panik banget tauu... kayaknya istirahat siang nanti bakal bolos deh tuh anak kesini, taruhan deh." Lanjut Sofia.
"Kita lihat nanti, kita semua tahu sekelas Damar sibuknya gimana, kalau dia bela-belain kesini siang nanti buat lihat keadaan lo, fiks gue langsung serahin elo seutuhnya ke dia. Ikhlas gue!"
Violin melirik Pam sebel. Tega-teganya mereka begitu padanya. Kompak banget deh.
***
Siangnya...
Pam saling lirik dengan Sofia, ini masih jam sebelas siang, tapi Damar sudah berlari tunggang langgang nyamperin Violin.
Setelahnya mereka saling terkikik senang.
"Aduh, gue keluar bentar ya Vi. Asem banget mulut belum kena nikotin nih." Pam meraih tasnya.
"Gue juga, kayaknya butuh banget es boba nih, tenggorokan gue kering." Sofia ikut-ikutan.
"Jagain ya, Mar. Kalau udah selesai call aja, kita stand by dibawah." Pam pamit ke Damar.
"Ehem, aku bakal disini sampai besok. Kalau kalian ada urusan, silahkan. Oiya, terima kasih sudah menjaga Violin. Mungkin besok akan merepotkan kalian lagi."
Pam berpandangan lagi dengan Sofia. Lalu tersenyum lebar banget. Kayak yang girang gitu.
"Oke, kita free kok. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan. Yuk, Pam..." Sofia menyeret Pam sambil menutup pintu. Sofia tahu, nih anak mulutnya udah gatel pingin komen nyleneh.
"Kamu pasti beruntung punya teman seperti mereka." Damar melepas suitnya, melemparkannya di sofa, lalu menggulung kemejanya sampai siku.
Cekatan sekali ia menuang makanan yang dibawanya tadi.
"Aku belum lapar." Ucap Vio malas.
"Sedikit saja mumpung masih hangat." Damar menyuapkan sup abalone ke mulut Violin.
Vio melirik sup itu, Damar seolah tahu ia lagi pingin makan apa. Baru tadi ia ngobrolin sup abalone enak yang lagi viral dengan Pam dan Sofia. Eh, Damar datang-datang bawa sup ini.
Vio mengunyahnya perlahan. Hmm... enak.
"Ini sup yang sedang viral itu kan?" Tebak Vio.
Damar tersenyum, "Iya, kamu bilang pingin makan ini."
Vio mengerutkan keningnya, sepertinya tadi dia nggak ngomong apa-apa deh.
"Tadi pagi kamu bilang pas minta nasi pecel." Damar menjawab keheranan Vio.
"Masa sih?" Vio masih nggak percaya. Apa dia yang pelupa. Sepertinya abalone baru tercetus saat ada Pam dan Sofia deh.
"Sudahlah, ayo makan lagi." Damar kembali menyuapi Vio.
"Aku mau makan sendiri."
"Biar aku suapi."
"Aku bukannya lumpuh ya. Sini!" Vio meraih mangkok dari tangan Damar.
Damar memberikan mangkok itu, juga mengambilkan meja kecil agar memudahkan Vio makan.
Dia mengamati Violin makan.
Tanpa terasa satu porsi sup abolone tandas. Damar tersenyum.
"Astaga, aku langsung sehat. Ayo pulang." Vio menyerahkan kembali mangkok ke Damar.
"Istirahatlah, aku temani." Tolak Damar.
Violin kembali tak bersemangat, ia memainkan selang infusnya lagi.
***