Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Ganteng-Ganteng Gila



Tempat pemakaman umum ini lumayan luas, walaupun agak masuk kedalam dari jalan utama. Tidak banyak rumah warga di sekitar pemakaman. Diujung barat pintu masuk pun hanya ada satu pedagang bunga yang mangkal.


Jeffry terlihat mengulungkan selembar uang berwarna biru pada ibu penjual bunga, sekalian nitip motor biar aman. Lalu berjalan memasuki area pemakaman.


Masih pagi, sengaja ia menyempatkan mampir sekalian berangkat kerja.


Pusara ayahnya nampak masih bersih, hanya ada satu dua rumput liar yang tumbuh. Jeffry memang rutin dua Minggu sekali kesini.


Diatas bagian atas tidak ada batu nisan yang bertuliskan nama si ayah, hanya ada batu kali hitam berukuran cukup besar. Itu saja ia ambil dari pekarangan kosong samping pemakaman. Sebagai penanda saja, toh kita memang dilarang memberi tanda yang berlebihan di atas makam seseorang, kan?


Jeffry berdoa sebentar lalu menabur bunga dan terpekur sendirian disamping pusara.


Selalu begini, saat Jeffry ziarah ke makam ini seolah hatinya tidak pernah tergetar sedikitpun. Ia tetep merasa hampa, tidak ada kerinduan yang terobati seperti selayaknya anak yang berdoa untuk ayahnya.


Tidak ada kepuasan yang ia rasakan di hatinya.


Hanya awal-awal saja saat ibu membawanya kesini. Ia merasa senang mengetahui ada jasad ayahnya yang bersemayam di dalam tanah ini. Ia jadi bisa cerita ke teman-temannya dan meneguhkan hati bahwa ia hanya punya seorang ibu. Ia bisa tumbuh dengan baik tanpa ayah.


Ia pikir mungkin karena tidak pernah tahu seperti apa wajah ayahnya. Meski kata ibu mirip sekali dengannya.


Mirip yang seperti apa? Hidungnya? Matanya? Sifatnya? Jeffry pun tak tahu.


Tiba-tiba bayangan pak Mahendra melintas di benaknya. Mengapa rasanya ada sesuatu di diri orang tua itu? Jeffry merasa sudah pernah mengenal pak Hendra sebelumnya.


Ia mencobanya mengingat-ingat apakah ada kemungkinan sebelumnya mereka pernah bertemu?


Sejak kedatangan pak Hendra ke bengkel bang Roni, hati Jeffry tidak tenang. Ia penasaran dengan orang itu, tapi saat teringat makam ini, ia kembali meredam ke-kepo-annya.


Ibu bilang bapak sudah meninggal, kan? Pantaskah jika ia masih saja bertanya dimana bapaknya? Bukankah sama saja ia menyakiti hati ibu?


Tapi tidak ada salahnya kan mencari tahu? Mungkin saja pak Hendra saudara jauh bapak. Toh memang selama ini Jeffry tidak mengenal satu pun keluarga bapaknya.


Jika benar saudara, mungkinkah bapaknya orang kaya juga? Lalu kenapa ia dan ibu di biarkan tetap miskin? Apa ibunya di usir?


Jeffry semakin galau.


Angin semilir menerpa wajah Jeffry. Ia mengedarkan pandangannya, sepi. Di TPU yang luas ini hanya ada tiga orang yang terlihat sedang berziarah termasuk dirinya.


Lalu pandangan Jeffry terpaku ke sosok laki-laki yang terlihat berjalan mendekat ke arahnya.


Jeffry memicingkan mata, bak melihat model berjalan di catwalk, ia terpana.


Pria asing ini mengenakan suit hitam yang terlihat parlente di mata Jeffry. Misal ada laler lewat pun mungkin bisa tergelincir saking licinnya. Sepatunya pun terlihat sayang dipakai menginjak tanah kuburan ini.


Jika nanti hidupnya sudah mapan, gaya berpakaian pria di depannya inilah yang akan ia tiru. Tidak berlebihan, tapi terlihat mewah dan berwibawa. Pasti ibu akan bangga melihatnya.


"Bisa kita bicara sebentar..."


Jeffry tersadar dari lamunannya.


"... Jeffry?" lanjut pria itu, menyebut namanya.


Pria ini mengenalnya? Otak Jeffry langsung buffer.


"Kita belum pernah kertemu dan kenal sebelumnya." jelas Dion.


"Jadi?" Jeffry menaikkan alisnya heran. Apa urusannya pria ini mencarinya?


"Aku Kakamu."


****


"Eh buset capek bangeeettt..." Sofia meluruskan kakinya di sofa kamar. Sekujur badannya sakit kelamaan duduk di dalam mobil, meski mobil yang di pakai Violin tipe yang nggak bakal goyang heboh meski melewati speed bump alias polisi tidur.


Sofia tipe orang yang akan pusing jika rebahan di dalam kendaraan. Ujung-ujungnya perut mual dan muntah. Iyuuhhhh...


Beda dengan Pam dan Vio, mereka bisa ngorok dengan indah dan selamat sampai Jogja.


"Fiiaaaa beresin koper lo, nih!" Pam masuk kamar sambil misuh-misuh. Ia menyeret koper soft pink milik Sofia.


"Hmmm, taroh situ aja!" jawab Sofia, setengah matanya sudah terpejam.


"Gedein AC nya doooonngg..." rengek Sofia.


"Bener-bener nih anak, liburan apa molor nih judulnya?" omel Pam, tapi tangannya meraih remot AC juga.


"Gila, gue aja nggak sempet bawa apa-apa." pekik Pam melihat bawaan Violin yang hampir sekoper besar.


"Nggak usah ngomel." Sahut Violin. "Dapet berondong mana lo semalem, cerah banget tuh muka?"


Violin menyelidik Pamela, bibirnya sih ngomel, tapi matanya nggak bisa bo'ong.


Pam menyeringai, "Kepo deh, berondong mah lewat, yang ini lebih 'hot'." Kerlingnya nakal.


Violin mencibir, "serah lo dah." Ia masuk ke kamar mandi, badannya lengket banget. Nggak tahan pingin diguyur.


Bener-bener bapaknya serius ke Jogja pake mobil. Lamanya itu loh berkali-kali lipat, capeknya juga.


Pam melirik Sofia yang sudah terlelap dengan mulut mangap. Ia berencana keluar sebentar nyari baju ganti sebenernya. Mau bangunin Sofi, nggak tega juga. Akhirnya ia meraih tas dan melenggang keluar kamar.


Di koridor rumah ia berpapasan dengan beberapa asisten rumah tangga. Mereka tersenyum ramah sambil membungkukkan badan serendah mungkin.


Benar-benar mirip Keraton suasananya.


Rumah ini memang benar-benar di design dengan nuansa Jawa yang kental. 70% bangunan terbuat dari kayu jati.


Paling depan terdapat pendopo yang terpisah dari bangunan utama, ruang tamu terbuka dengan kain sutra putih di setiap pilarnya.


Kamar-kamar berjejer di kiri kanan dengan koridor masing-masing yang saling terhubung. Ditengahnya terdapat kolam ikan dan berbagai tanaman hias yang ditata rapi dan terawat.


Dibelakang bangunan ini ada paviliun tempat para asisten istirahat.


Meski hawa disini cukup sejuk, tapi Atmanegara tetap memasang AC di setiap kamar. Kecuali kamar si Mbah yang bisa-bisa masuk angin kalau kena AC.


Terhitung sudah dua kali Pam ikut Violin ke sini, tepatnya kapan ia lupa. Karena waktu itu hanya mampir sebentar dan dalam kondisi terburu-buru.


Pam menyusuri koridor sambil celingak celinguk, ia berbelok di ujung koridor saat tangan besar itu meraih tangannya.


Gerakannya begitu cepat dan tahu-tahu Pam sudah berada di dalam kamar.


Ia sempat memekik kaget, tapi mulutnya langsung dibungkam bibir lembut milik Rion.


Saat tahu pemilik tangan itu adalah Rion, Pam bernafas lega. Ia malah melingkarkan tangannya ke leher Rion dan memilih memejamkan mata, menikmati sapuan lidah Rion yang semakin masuk kedalam, mengobrak abrik mulut Pamela.


Astaga, semanis ini rasa pria ini. Atau ia saja yang selama ini terlalu memuja Panji, sampai lupa ada makhluk yang lebih indah selain Panji.


***