Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Yes or No



"Cantik bangeeettt." Gumam Mahendra gemas, ia tak berhenti tersenyum dibalik masker. Tak bosan-bosannya ia menatap Isabella yang sedang sibuk melayani pasien.


Ia seperti ABG yang sedang kasmaran. Senyum-senyum sendiri lalu malu sendiri. Untung masker hitam ini menyelamatkannya. Kalau tidak mungkin ia sudah menjadi bahan tontonan pasien lain dikira salah rumah sakit.


Urusan Mahendra dengan Dokter Robert kelar dari tadi. Ia sengaja duduk di tempat dimana bisa memandang Bella dengan leluasa.


Wanita itu tidak menyadari kehadiran Mahendra awalnya. Sampai ia merasa risih seperti ada yang memperhatikan, barulah ia sadar, Mahendra dipojokan itu sedang menatapnya intens.


Meski separuh wajahnya tertutup masker hitam, tapi Bella hafal betul postur tubuh Mahendra.


Bella sampai salah tingkah. Perlahan saat pasiennya mengendur, ia bersembunyi dibalik alat-alat medis.


Dadanya bergemuruh, perutnya mendadak mulas, sepertinya banyak kupu-kupu menari di sana.


"Ke toilet dulu, ya." Pamit Bella pada rekan perawatnya. Ia butuh menenangkan gemuruh di dadanya sejenak.


Bella sendiri tak habis pikir, ia seperti anak gadis, salah tingkah hanya dengan ditatap lawan jenis.


Malu-maluin banget nggak sih? Di umur yang sudah nggak muda ini?


Bella berjalan cepat menuju toilet melalui pintu belakang. Ia takut lewat depan, takut Mahendra mengejarnya.


Ia belum siap jika berhadapan terlalu lama dengan pria itu. Takut nggak mampu menahan gejolak jiwanya sendiri. Apalagi jelas-jelas Mahendra menunjukkan keinginan kepadanya.


Meski Bella pun begitu, tapi lagi-lagi ia teringat Jeffry. Mati-matian ia berusaha menahan rasa ini.


Jeffry belum tentu setuju dengan hubungan ini. Biasa saja ia marah, kecewa bahkan menyalahkan Bella. Dan Bella belum siap.


"Dua yang ujung rusak ya Mbak, sudah tak kasih tanda." Suara office girl mengagetkan Bella yang sedang membasuh wajahnya dengan air kran di wastafel.


Bella menoleh menatap Nova, OG yang lumayan akrab dengannya. Sedang mendorong trolley kecil berisi alat-alat kebersihan.


"Kenapa, Va? Perasaan tadi pagi masih aman tuh tak pakai." Sahut Bella.


"Kurang tahu Mbak, kata Pak Wahyo disuruh kasih tanda yang dua itu." tunjuk Nova dengan dagunya.


"Oh, oke. Makasih, yaa..." Bella tersenyum.


Nova segera berlalu keluar toilet meninggalkan Bella. Sepertinya hanya ada Bella di dalam sini. Tumben sih, biasanya antre panjang melebihi antrian periksa pasien umum.


Bella celingak-celinguk lalu berjalan menuju salah satu bilik terdekat. Belum sempat ia meraih handle pintu, seseorang membekap mulutnya.


Bella yang terkejut berusaha melepaskan diri. Sigap orang itu berbisik di telinganya pelan, sebelum Bella berteriak menarik perhatian orang.


"Sssttt... ini aku." Suara yang Bella kenal. Seketika ia membeku.


Mahendra menggiringnya masuk ke dalam toilet yang baru saja dikasih tanda rusak oleh Nova, lalu menguncinya dari dalam.


Bella mundur sampai punggungnya mentok di tembok. Ia bukannya takut, tapi berusaha menjauh dari Mahendra agar bunyi jantungnya yang bergemuruh tidak terdengar pria itu.


Mahendra menghidupkan kran kuat-kuat. Setidaknya suaranya akan tersamarkan bunyi air.


"Akhirnya..." bisik Mahendra. Raut wajahnya tergambar kelegaan luar biasa. Ia mendekati Bella yang mematung di ujung toilet.


"Mas?" Cicit Bella.


Mahendra mengukung Bella dengan kedua tangannya. Mata mereka bertemu satu sama lain.


Bella memejamkan matanya saat hidung mereka bertemu. Gemuruh di dadanya semakin menjadi-jadi. Badannya sampai lemas saking deg-degannya.


"Maaf Bella, tapi aku kangen banget. Aku tidak bisa menahannya untuk tidak menyentuhmu, setelah sekian lama." Bisik Mahendra. Ia mencoba berbicara selirih mungkin karena terdengar orang masuk di bilik lain.


"Tapi ini di toilet, Mas!"


"Lalu kamu maunya dimana?"


Pipi Bella langsung memerah. Benar juga, maunya dimana coba? Pas di rumah Mahendra saja Bella sudah mencoba terus menghindari sentuhan pria ini. Yak ampun dia salah ngomong.


"Jangan menjauh sampai aku bisa mendapat restu dari Jeffry. Kita bisa backstreet dulu sementara."


Yak ampun bahasanya anak jaman old bener dah.


"Aku takut..." jawab Bella. Benar ia memang tidak menolak Mahendra, tapi dia jelas takut Jeffry menghakiminya.


"Aku pastikan Jeffry menerima hubungan kita."


"Jangan terlalu yakin, tidak mudah memberi pengertian sebesar ini kepadanya. Apalagi sudah separah ini aku berbohong."


"Itu jadi urusanku, Bell. Aku akan menebus semuanya. Semua-mua-muanya, aku janji."


"Kebanyakan lelaki suka mengobral janji tanpa bukti. " Sindir Bella. Ia menolehkan kepalanya kesamping, menghindari nafas Mahendra yang mulai panas.


Ujung hidung Mahendra menyentuh pipi mulus milik Bella. Ia memejamkan matanya sejenak lalu menarik wajahnya menjauh dari wajah Bella.


"Aku mengerti, kamu bahkan belum mendapatkan bukti apapun dariku." ucap Mahendra sambil melangkah mundur perlahan. Sekali lagi ia menatap Bella.


"Tapi setidaknya jangan buat aku semakin gila karena menahan rinduku ini sejak lama..."


Mahendra menghembuskan nafasnya berat. Dadanya hampir meledak menahan rasa ini, tapi nyatanya Bella tidak merespon apapun.


"...kamu pergi begitu saja bertahun-tahun membawa anakku. Tanpa memberiku kesempatan untuk menjadi sosok ayah bagi Jeffry. Dalam hal ini aku sajakah yang bersalah?" Mahendra mulai emosional.


Ia tidak pernah mengusir Bella, ia juga memastikan akan bertanggung jawab atas anak dalam kandungan Bella saat itu. Tapi Bella pergi begitu saja karena rasa bersalahnya kepada Arum.


Lalu sekarang masih saja Bella menolak pelukannya. Padahal jelas-jelas ia ingin memperjelas hubungan ini.


"Setidaknya sedikit pelukanmu akan menguatkanku, atau mungkin aku saja yang berharap terlalu tinggi?"


Pandangan mata Mahendra mulai nanar. Bella menggigit bibir bawahnya. Hatinya mulai bimbang.


Keinginannya adalah memeluk pria tinggi di hadapannya ini, tapi egonya menunggu konfirmasi dari Jeffry.


Astaga...


"Aku akan berusaha menjadi ayah selayaknya untuk Jeffry. Akan ku ganti semuanya jika aku bisa. Waktu, tenaga, kasih sayang, semuanya."


Mahendra mengangkat bahunya, menyedihkan. Ia seperti punggguk merindukan bulan saat ini.


"Kamu tahu aku tidak suka basa-basi. Jika kamu mau menerimaku maka genggamanlah tanganku mulai sekarang, tapi jika harapan ini hanya palsu, silahkan tegaskan juga dari sekarang. Biar aku lebih siap untuk kedepannya."


Bella masih diam mematung. Pikirannya masih menimbang-nimbang antara hasrat seorang wanita dan hati seorang ibu.


Kenapa harus sesulit ini pilihannya. Ini terlalu berat untuk Bella. Kalau bisa ia memilih tidak bertemu lagi dengan Mahendra.


Biarlah ia hidup berdua Jeffry, itu sudah cukup. Tapi nyatanya saat Mahendra ada di hadapannya lagi, menawarkan sejuta harapan tentang hari tua yang indah berdua, Bella mulai gamang.


Ia sadari, ia membutuhkan sosok laki-laki dihidupnya. Berjuang selama ini sendirian ternyata cukup melelahkan, salahkan jika ia ingin bersandar di bahu seseorang?


"Kali ini aku butuh kepastian darimu, Bell. Jawablah."


Bella hanya menunduk.


Sampai akhirnya Mahendra tersenyum masam.


"Baiklah, jika keberadaanku membuatmu tidak nyaman, aku akan pergi."


Mahendra menarik handle pintu saat dirasakannya lengan kurus Bella memeluk pinggangnya. Wajah Bella menempel di punggungnya.


Laki-laki itu memejamkan mata, menikmati hangat nafas Bella yang menyapu punggungnya.


Dadanya menghangat, ia tersenyum lega.


*****