
Pagi hari yang dingin, saat Sentul city masih diselimuti kabut tebal kota Bogor. Pagi yang indah karena hari ini pertama kalinya Jeffry akan memacu kuda besinya diatas lintasan, disaksikan seluruh keluarganya.
Iya, keluarganya.
Bapak, Ibu, Mas Dion dan Sofia, kekasihnya.
Jadi pagi ini sebelum persiapan dimulai, ia menyempatkan diri jogging tipis-tipis menyusuri lintasan balap, sambil mengamati struktur aspal yang akan ia lewati nanti. Merabanya, merasakannya, menyentuhnya, menghirup aroma aspalnya...
Jeffry bahagia...
Akhirnya ia bisa lulus kuliah, belajar dengan baik bareng Dion dan tetap bisa menekuni hobinya.
Rasa di dadanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ini terlalu indah untuk Jeffry.
Apalagi saat ia keluar dengan gagah memakai wearpack yang terbuat khusus dari kulit kangguru dengan meneteng helm di tangan kirinya.
Senyum bahagia tak lepas dari wajahnya.
Sofia melambaikan tangan dari atas tribun. Jeffry membalas dengan mengangkat helmnya.
Kini Jeffry sudah duduk diatas motornya. Perlahan ia mengelus lembut body motor itu, seolah merayu untuk kerja sama yang baik nanti saat berlari.
Motor berwana biru dengan kapasitas engine 1000cc dengan empat silinder. Tampak eksklusif karena jokinya adalah Jeffry.
Meski sebelumnya sudah sempat latihan dengan motor ini, entah mengapa rasanya seperti saat jumpa pertama, jatuh cinta tak ada habisnya.
Lalu perlahan seorang umbrella girl menghampiri Jeffry dan berbisik.
"Bangun Jeff..."
Jeffry mengrenyit, masak umbrella girl suaranya berat gini, sih?
"Jeffry... Bangun..."
Jeffry menoleh dan terjengkang kaget saat mendapati sang umbrella girl ternyata berwajah laki-laki.
"Mas Dion!" Seru Jeffry. Ia beneran kaget sampai tubuhnya oleng dan jatuh tertimpa motor.
Dion geleng-geleng kepala mendapati Jeffry masih enak-enak ngorok saat dirinya sudah siap berangkat kerja.
"Bangun pemalas! Waktunya kuliah! Jam berapa ini?!" Omel Dion sambil menyeret selimut Jeffry.
Jeffry terduduk dilantai sambil memeluk guling yang menimpanya. Astaga, ini cuma mimpi.
***
"Pagi ganteng... Anak baru ya?"
Seorang cewek cantik dengan pakaian provokatif mencolek lengan Jeffry saat ia tengah berjalan menyusuri koridor kampus.
Jeffry melirik sekilas, etdah ke kampus cuma pakai sobekan kain lap. Nggak ada malunya nih cewek.
Yang begini bisa lolos dari security?
"Iiihh, cool banget sih. Boleh kenalan?" cewek itu tidak pantang menyerah.
Jeffry tetap lanjut jalan.
"Ya ampun Mel, ganteng-ganteng budek loh." Cibir teman disebelahnya.
"Yah, orang ganteng mah gitu, jual mahal. Lihat aja bentar lagi bakal gue bikin merangkak diatas gue."
"Duuuhhh, langsung keatas loh, dari kaki dulu kaliii..."
"Kelamaan dong. Hahaha..."
Dikampus bergengsi gini kok omongannya nggak diayak. Mahasiswa model begini ini sebenarnya yang bikin jelek nama kampus.
Jeffry tak menggubris ocehan lampir dua itu. Ia tetap berjalan menuju ruang administrasi. Ia butuh melengkapi berkas-berkasnya.
Seorang pegawai wanita setengah baya menyambut Jeffry dengan tatapan heran. Ia melorotkan kacamatanya mengamati Jeffry.
"Kamu anak Pak Hendra?" Tanyanya penuh selidik.
"Hmm, yaaa begitulah." Jawab Jeffry malas.
"Kamu mirip sekali." ucapnya takjub.
"Oh ya? Gantengan mana Bu?"
Si Ibu tersipu.
"Kamu nih, berapa cewek yang sering kamu gombalin?"
Yah si ibu baper, kan cuma nanya gantengan mana, dikira gombal. Repotnya jadi orang ganteng.
Jeffry buru-buru pamit, takut nggak kuat. Kelemahannya kan tergoda wanita yang lebih tua.
Mungkin jika bukan anak Mahendra yang sekarang disandangnya, ia nggak akan mampu bahkan untuk sekedar bermimpi menginjakkan kaki di kampus ini.
Sekarang ia harus bersyukur atau sedih?
"Wih, bro. Anak baru lo? Kereeennn jam tangan lo, limited edition nih, cuma dibuat 6 di dunia."
Seorang laki-laki bergaya hip hop lengkap dengan kalung rantai di lehernya menyapa Jeffry sok akrab.
Jelas dia anak orang kaya, barang yang di pakainya branded semua. Yang begitu aja masih mengagumi jam tangan Jeffry. Padahal harga sepatunya dong, bisa buat DP rumah.
Sebenernya jam ini asal comot doang di walk in closetnya Dion. Soal merk dan harga, Jeffry mana tahu.
Kata Mas-nya itu, Jeffry bisa pakai yang mana saja. Dari baju, celana, sepatu, perhiasan semuanya lengkap disitu.
Pakaian Jeffry dirumah aja nggak ada seperempatnya. Bisa gitu ya? Lo lo loh, nggak bahaya tah?
Nggak lah!
Oke skip.
"Gue Jeffry." Kata Jeffry menyambut teman barunya itu.
"Gue Zain, bro." Balas pemuda itu sambil menepuk pundak Jeffry.
"Oiya, pindahan dari mana lo?"
"Gue baru."
"Owh, orang dalam pasti. Siapa bekingan lo?"
"Nggak pake."
"Kagak mungkiiinnn..." Cibir Zain. "Gue apal muka-muka berotak standard macem kita, nggak mungkin kagak ada bekingan."
Jeffry tersenyum kecut. Sial, jatuh deh harga dirinya.
"Fakultas apa lo?" Untung Zain nggak mengungkit bekingan lebih lanjut.
"MBA."
"Waahh, keren! Calon CEO lo? Siapa bapak lo?"
Jeffry garuk-garuk kepala. Apa pula CEO?
"Ngggg... nggak usah dibahas deh. Lo sendiri jurusan apa?"
"Gue fleksibel bro, kadang nimbrung masuk seni, kadang di sastra, lebih sering sih di Hukum."
"Lah, yang bener yang mana nih?" Banyak bener jurusan yang diambil.
Zain terkekeh.
"Bokap maunya di hukum, jiwa gue tertinggal di seni. Yaah, daripada ribut-ribut terus, yang penting berangkat kuliah kan? Yang punya duit bokap ini. Hahaha..."
Jeffry menatap teman barunya ini, Zain tertawa begitu lepas seolah menjalani apa yang ia nggak suka itu hal yang mudah.
"Membuat bahagia orang tua itu nggak harus bikin mereka bangga. Cukup jalani apa yang mereka mau, pasti mereka bahagia. Hasil akhir bisa diusahakan, kan? Banyak jalan menuju sidang skripsi bro." Lanjut Zain.
Jeffry ikut terkekeh. Zain bener...
Begitu banyak jalan, kenapa ia hanya fokus ke jalan yang susah aja? Bodohnya...
"Oke, gue cabut duluan bro." Pamit Zain.
Jeffry membalas lambaian tangan Zain.
Entah mengapa hatinya lebih lega sekarang setelah ngobrol dengan Zain. Sepertinya Jeffry memang butuh teman curhat.
Yak ampuun, dia langsung ingat Sofia.
"Nah kan jodoh, ketemu lagi disini." Cewek yang menggoda Jeffry tadi pagi tiba-tiba muncul lagi.
"Ini tempat umum, Mbak." sela Jeffry ketus.
"Ya tapi kalau nggak jodoh kan nggak bakalan ketemu lagi." Desah wanita itu, ia sedikit menunduk memperlihatkan belahan dadanya yang meleber kemana-mana. Jelas-jelas menggoda Jeffry.
Jeffry langsung risih. Bukannya sexy, malah kelihatan murahan.
Spontan Jeffry melepas jaketnya lalu melempanya ke dada wanita itu.
"Astaga, kasar banget sih." Pekik teman si wanita disebelahnya.
"Aku suka, aku makin suka!" ujar wanita itu sambil merapatkan jaket Jeffry kedadanya, ia menggigit bibir bawahnya gemes.
***