
Pamela mondar-mandir gelisah. Hatinya panas. Berkali-kali ia mengintip lewat jendela, menunggu Violin pulang.
Apa yang Rion lakukan di GOR berdua Vio? Olahraga bareng? Kenapa harus dengan Vio? Empat jam sebelumnya mereka masih bersama. Apa susahnya minta Pam yang nemenin?
Wah wah waaah...
Pikiran buruk menghiasi otak Pamela, ia cemburu.
***
Violin menatap Rion yang sedang mengaduk mie ayam goreng rica-rica yang sudah di tambahkan saos, kecap dan lada (lagi) dengan sumpit. Pria itu menunduk lalu sibuk menyuapkan mie kedalam mulut.
Begitu sampai akhir.
Rion tipe yang makan mie tanpa menjeda ritualnya. Sebelum mie di mangkok habis, ia tidak akan mendongak untuk bicara.
Violin kebalikannya, ia makan pelan sambil mengunyah tiga puluh tiga kali kunyahan, hehehe... nggak juga sih. Kelamaan keburu dingin nggak sih?
Oke, sekarang ia bertanya-tanya, ada hubungan apa sebenarnya si Om ganteng ini dengan Pamela?
Mencurigakan.
Violin mengaduk es jeruknya dengan sedotan. Ia menunggu Rion dengan sedikit tak sabar sebenarnya. Apalah daya, Rion memang susah susah gampang diajakin ngomong.
Pria ini tergolong irit bicara, apalagi dengan orang baru. Tapi begitu ngomong, nylekitnya sampai sumsum tulang belakang.
Vio sih dah kebal. Ia mengenal Rion sejak kecil, saat Vio masuk Sekolah Dasar. Diantar jemput sekolah, diajakin jajan pinggir jalan, digendong sana sini karena kelamaan nunggu kaki kecil Vio melangkah.
Jam kerjanya padat, sepadat bulu di dadanya, tidak ada hari libur di agenda Rion.
Juga yang Violin masih heran sampai saat ini adalah, bagaimana bisa pria ini mendedikasikan seluruh hidupnya kepada Atmanegara?
Tentang keluarga dan latar belakang pendidikannya, Vio sama sekali tidak tahu.
Pria ini... misterius. Yang pasti tidak terdaftar di BPJS kesehatan manapun.
Rion meletakkan sumpit, lalu meneguk es jeruknya. Ia melirik Violin yang asik bengong sambil mengerutkan jidat.
"Makan, itu amunisi sebelum dengerin omelan orang."
Violin memiringkan kepalanya, penuh pertanyaan.
"Siapa yang ngomel?"
"Ck..." Rion memasang muka malas.
"Sejak kapan Om dekat dengan Pam?"
"Hmm, udah kan? Ayo pulang." Rion beranjak dari duduknya.
"Tunggu!" Vio menahan tangan Rion. "Belum kelar makan juga."
"Cepat makan, jangan banyak bicara."
Violin cemberut, "iya iyaaaa..."
***
Violin sampai rumah, Pam tahu dari suara mobil yang berhenti didepan. Ia mengintip dari jendela kamarnya di lantai dua.
Terlihat Rion lebih dulu masuk kedalam rumah, dibelakangnya Violin berjalan dengan muka kesal.
"Permisi dulu kaliii..." Cibir Violin saat Rion menaiki tangga menuju lantai dua.
Berasa rumah sendiri, hapal banget tiap sudutnya. Padahal Rion belum pernah sekalipun masuk ke dalam rumah ini.
Rion tak mengindahkan, ia melanjutkan langkahnya menuju kamar sesuai instingnya.
Pam itu wanita supel, terlalu percaya diri dan blak-blakan, ia nggak mungkin milih kamar di pojokan.
Yang pojok pasti kamar Sofia. Kamar Violin tentu saja yang view keluarnya taman, itu kamar samping kanan.
Yang Rion tuju dengan yakin ini tentu saja kamar Pamela.
Dengan sekali hentakan, tanpa permisi Rion membuka pintu itu dan langsung menguncinya lagi begitu ia masuk kedalam.
Pamela tentu saja kaget. Ia yang sedang mondar-mandir jadi mematung ditempat.
Secepat kilat Rion sudah meraih pinggang Pam dan melu mat bibirnya. Meski tangannya meremas dada Pam agak kasar, tapi lidah Rion menyusuri rongga mulut Pam dengan lembut.
Pam kelabakan, ia belum siap diserang seperti ini. Mulutnya ngap-ngapan menggapai udara.
"Aaawww..." Rion melepas ciumannya. Pam baru saja menggigit ujung lidahnya.
Rion meringis.
Bagaimana lagi? Satu-satunya cara menghentikan Rion cuma dengan cara ini. Keburu paru-paru Pam kehabisan oksigen.
Pamela terduduk di ranjang, ia menghirup udara banyak-banyak. Gila Rion, dia hampir mati kehabisan nafas.
"Hah-haahh-Halah..." Pam terengah-engah, ia memegangi dadanya.
Belum juga stabil nafas Pam, Rion sudah merebahkan tubuh Pamela ke ranjang, ia melebarkan kaki mulus Pam, merobek panty Pam yang tipis dan langsung asyik bermain dibawah sana.
Pamela tentu saja tak ingin melakukan perlawanan. Lidah Rion terlalu nikmat untuk diabaikan.
Dan lagi dua hari kemarin saat mereka bersama, hanya Rion yang puas. Mungkin ini sebabnya Pam gampang cemburu melihat Rion dan Vio bersama. Karena hormon endorfin nya belum keluar.
Ia memang melarang Rion memasuki dirinya, tapi akibatnya dia sendiri yang kelimpungan.
"Aaarrrggghhh..." Pamela menjerit saat sela kang annya berdenyut hebat. Ia seperti terbang ke nirwana. Ini pelepasan ternikmat selama hidupnya. Ranjangnya sampai basah.
Rion menjilati bibirnya, ia tidak berhenti begitu saja. Sekarang gantian jarinya yang siap menggantikan peran sang lidah.
Tak lama kemudian Pam sudah menjerit lagi, kali ini lebih keras. Tubuhnya langsung lunglai setelah pelepasannya yang ke dua.
Pam menggeleng lemah, matanya sayu meminta Rion berhenti.
Rion menjilati jari-jarinya sambil menyeringai puas, ia merebahkan tubuhnya disamping Pamela.
Pam menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Rion. Ia memeluk pria itu.
"Jangan dekat Violin, aku nggak suka." Ujar Pam sambil terpejam menikmati aroma tubuh Rion. Bau sabun yang segar dan menenangkan.
"Dari dulu aku dekat dengan Vio." kilah Rion. Baginya nggak masuk akal jika Pam cemburu melihatnya akrab dengan Vio.
"Jangan terlalu dekat saja."
"Nggak bisa, Vio sudah seperti adikku." Rion mengecup kening Pamela.
"Tapi aku sakit melihatnya."
"Violin akan lebih sakit lagi kalau tahu kamu cemburu begini."
"Aku nggak cemburu!"
"Iyaa..."
"Kok kamu lebih peduli perasaan Vio sih?"
"Menjaga perasaan Vio sama dengan menjaga ketentraman negara ini, Bee. Kamu tahu kan kalau bapaknya marah gimana? Violin tergores sedikit saja, nyawaku taruhannya."
Pamela terdiam, Rion benar. Dan lagi kalau dipikir-pikir kenapa ia harus cemburu? Kan memang pekerjaan Rion termasuk menjaga Violin.
Astaga, Pamela malu sendiri. Vio juga sudah berbaik hati memberinya tumpangan. Dia saja yang nggak tahu diri. Setelah ini ia pikir perlu minta maaf ke Vio. Hatinya sudah jahat mengira yang tidak-tidak.
"Sudahlah, kita jalani hubungan ini dengan nyaman. Aku nggak suka ribet." Bisik Rion.
"Hmm, maaf..." gumam Pamela lirih, ujung jarinya memainkan bulu dada Rion.
"Bee... aku nggak akan menahan diri lagi kalau kamu menggodaku seperti ini." Ancam Rion, ia menangkap tangan Pamela yang mulai membelai turun ke area sensitifnya.
"Nikahi aku dulu." Cebik Pam.
"Bisa nggak nyicil kawin dulu?"
"Nehi..." Pam membalikkan badan memunggungi Rion.
Rion terkekeh, "baiklah kalau itu maumu, aku akan buat kamu minta ampun sekali lagi."
Pamela melotot saat Rion membalikkan tubuhnya dengan sekali hentakan.
Kedua tangan Pamela tertahan tangan kiri Rion diatas kepala. Ia hanya bisa pasrah saat lidah itu mencecap setiap inci tubuhnya dan meninggalkan warna merah di beberapa bagian.
Terakhir Pam kembali menjerit, kali ini lebih panjang karena level nikmatnya lidah Rion naik berkali-kali lipat.
Violin termenung didepan pintu kamar Pamela. Ia ngomel sambil berkacak pinggang saat mendengar jeritan Pamela yang ketiga kalinya.
"Woy, jangan keras-keras. Ada janda disini!"
***