
"Pagi pacar..." Sapa Jeffry yang pagi-pagi sudah nempel di pintu gerbang rumah Violin.
Semalam suntuk ia nggak bisa tidur, malah sampai subuh asyik video call an bareng Sofia.
"Dingin banget loh Jeff, ngajak ketemuan jam segini, kamu beneran nggak tidur?" Sofia merapatkan sweaternya.
"Nanti kalau bengkel sepi, bisa tidur bentar."
Jeffry mengulurkan tangan, Sofia menyambutnya.
"Keburu kangen, ini isi baterai cinta dulu biar full." gombal Jeffry.
Sofia senyum-senyum. Ia jadi ketularan alay kayak Jeffry.
"Hmm... ngapaiinnn subuh-subuh disini?" Telinga Jeffry diseret pak RT yang kebetulan lewat sepulang dari masjid.
"Aaaww... Sakit paaakk..." Jeffry memegangi telinganya yang panas.
"Balik sekarang, tak laporin Bu Isa kapok kamu."
"Dih, Pak RT, kaya nggak pernah muda aja."
"Kamunya muda, bapak yang udah tua juga maunya gitu."
"Nah, tak laporin Bu RT aaahhh..." Jeffry melambaikan tangannya kearah Sofia. Jeweran Pak RT semakin pedes.
***
"Gimana?" Mahendra menunggu jawaban Antonio.
"Hmm... apa nggak terlalu berlebihan? Jujur saja aku mulai suka dengan anak bungsumu itu." Antonio agak ragu menerima kerja sama ini.
"Ayolah, demi kebaikannya juga." desak Mahendra.
Antonio mengetukkan jarinya di paha, ia tengah menimbang.
"Syaratnya satu, aku nggak mau bohong ke Sofia. Kamu tahu kan anak itu baru saja sadar dari kesurupan."
Mahendra tersenyum, ia mengulurkan tangannya, "deal?!"
Antonio menyambut tangan Mahendra, "oke deal."
***
Jeffry memacu motornya secepat mungkin, semaksimal motor maticnya ini berlari. Meliuk-liuk menerobos padatnya lalu lintas jalanan ibu kota.
Segala rasa bercampur aduk di dadanya. Marah, sakit, kecewa.
Beberapa kali ia menerobos lampu merah, Jeffry tak peduli sirine polisi yang meraung-raung mengejarnya.
Hanya satu tempat yang ia tuju, kantor Mahendra.
Ia tahu Mahendra sedang ngantor hari ini dari ibu. Awalnya Jeffry langsung ingin ke rumah. Ia menelfon ibunya lebih dulu, kata ibu bapak di kantor. Jadi ia putar balik.
"Ada apa Jeff?" Selidik ibu yang curiga tiba-tiba Jeffry menanyakan Mahendra. Suara Jeffry juga terdengar berat, seolah sedang sudah payah menahan emosinya.
"Hmm, tidak Bu. Sudah dulu ya." Jeffry langsung mematikan sambungan telfonnya.
Disinilah ia sekarang.
Jeffry meninggalkan motornya sembarangan di depan gerbang. Ia langsung memanjat pagar tinggi itu dengan lincah dan melompat turun dengan selamat, tidak kesulitan sama sekali.
Security langsung waspada, mereka mengejar Jeffry yang langsung berlari masuk ke kantor tanpa basa basi.
Lobi kantor langsung heboh, mereka kira ada penjahat yang menerobos karena semua security terlihat panik.
Tertangkap.
Tiga security berhasil menangkap Jeffry, tapi Jeffry lebih lincah. Ia berontak sekuat tenaga hingga terlepas.
Mata Jeffry fokus menuju tangga di samping kiri. Akan sangat lama jika menunggu lift berjalan. Ia butuh bertemu Mahendra secepatnya.
Ia berlari menuju tangga, melewati tiga sampai lima tangga sekali lompat.
Security siaga diatas tangga, menyongsong Jeffry datang.
Jeffry lolos lagi, tapi kemudian langkahnya terhenti saat berpapasan dengan sekretaris Mahendra. Satu-satunya orang di gedung ini yang tahu jika Jeffry adalah anak Mahendra.
"Kembali bekerja, dia anak Pak Hendra."
Security saling berpandangan, meski bingung mereka nurut juga.
"Jeffry, apa yang kamu lakukan?" Tanya Tiana dengan wajah cemas.
"Dimana bapak?" Jeffry tak menghiraukan pertanyaan Tiana. Nafasnya sudah memburu tak sabar.
"Kamu berlarian kesetanan, tapi nggak tahu ruangan bapak?" Cibir Tiana.
"Ayolah, Tante!" Jeffry tak sabar.
"Tenanglah, atur emosimu, baru aku antar ke bapak."
Jeffry menenangkan dirinya. Mau tak mau ia harus menuruti apa kata Tiana. Nggak mungkin juga mengobrak-abrik gedung sebesar ini kan?
Lima menit kemudian Jeffry sudah berdiri di depan pintu kerja Mahendra. Tiana membukakan pintu itu dan mengantar Jeffry sampai dihadapan Mahendra.
Mahendra seperti sudah siap dengan kedatangan Jeffry. Ia duduk santai di kursinya dan menatap lurus ke mata Jeffry.
"Bikin keributan, seperti tidak tahu tata Krama, apa ini pelajaran yang kamu dapat di jalanan?" Suara Mahendra menggema di dalam ruangan yang luas ini. Wajahnya dingin dan serius.
"Apa maumu?" Tanya Jeffry langsung, ia tak mengindahkan ejekan Mahendra.
Ia sudah cukup bersabar untuk orang tua ini. Tidak menuntut apapun setelah semua kepahitan yang Jeffry lalui bersama ibu. Tidak meminta sedikitpun harta orang tua ini. Bahkan mengiklaskan ibu untuknya.
Tapi kenapa Mahendra mengusik hidupnya?
Secara tiba-tiba bang Roni memutus kontrak kerja dengannya. Secara otomatis juga Jeffry sudah tidak bisa lagi ikut balapan, begitu kata Roni.
Lalu saat pulang ke rumah, ia melihat rumahnya tinggal puing-puing.
Para tetangga menatapnya iba. Kata damkar akibat konsleting listrik.
Jeffry bergegas mencari Sofia ke rumah Violin, ia ingat tadi pagi wanita itu bilang kemungkinan di rumah Vio sampai lusa.
Tapi nihil.
Rumah itu kosong. Tidak ada siapa-siapa di dalam.
Ponsel Sofia juga tidak bisa di hubungi.
Semua yang terjadi hari ini terasa aneh, ini mencurigakan. Satu nama yang punya kuasa atas semua ini, siapa lagi kalau bukan Mahendra.
Jeffry marah, ia emosi, ia tak suka hidupnya yang tenang ini diusik. Secepatnya ia ingin tahu apa mau orang tua ini.
Mahendra menautkan kedua tangannya.
"Berhenti bermain-main Jeffry, mulailah bersikap dewasa."
"Apalagi yang mau kau ambil? Ibuku kau ambil, rumahku, pekerjaanku, hobiku, pacarku, apa lagi? Hah?"
"Khas anak muda..." cibir Mahendra.
"Mengenai ibu dan pacarmu, aku sama sekali tidak mengambil. Kamu bebas bertemu mereka kapan saja, silahkan. Lalu rumah dan pekerjaan, aku akan ganti semua dengan yang lebih baik. Soal hobi, terserah padamu. Hobimu bisa tetap jalan kalau saja kamu sedikit menurut."
"Kapan aku bisa bertemu Sofia?"
Mahendra melengos, anak ini benar-benar tidak tertarik dengan tawarnya.
"Sebulan setelah kamu masuk kuliah dan mulai belajar dengan kakakmu." Putus Mahendra.
"Apa itu cukup?" kali ini Jeffry akan ikuti kemauan bapaknya.
"Kita lihat nanti..." Mahendra berdiri dan menghampiri Jeffry, ia menepuk bahu anak bungsunya itu.
"Kelak kau akan mengerti Jeff, Papa meeting dulu."
Lalu Mahendra berlalu meninggalkan Jeffry seorang diri di kantornya yang mewah dan luas ini. Jomplang banget dengan pakaian Jeffry yang compang camping mirip gembel.
Jeffry menunduk, ia tahu sekuat apapun melawan, ia nggak akan pernah menang.
***