
Violin Prawira Atmanegara...
Duduk menyilangkan kaki didalam sebuah restoran mewah bergaya glamor dengan sentuhan nuansa jepang yang kental. Tempat berkelas dengan harga menu yang tentu saja nggak murah.
Restoran yang memanjakan kaum kapitalis, termasuk dirinya.
Ia menatap wajah Atmanegara yang sedang asyik ngobrol dengan seorang pria. Tinggi gagah dengan kulit agak kecoklatan. Agaknya pria ini dekat dengan alam, kulit coklatnya bukan alami, tapi karena sering terbakar matahari.
Meski tampan, Vio sama sekali nggak tertarik.
Ini yang kesekian kalinya, bapaknya iseng begini. Alasannya ngajakin ketemu klien, ujung-ujungnya mlipir juga. Vio masih diam-diam saja sampai saat ini.
Tunggu... Kita hitung. Total sudah ada tiga ya, empat sama si Damar ini.
Kita lihat, sampai mana kesabaran Atmanegara yang setipis tisyu ini mencomblangkan anaknya.
Pria ini, entah dari mana, keturunan siapa, bagaimana latar belakangnya, Vio tidak tahu.
Meski rekomendasi bapaknya pasti bukan pria sembarangan. Sudah pasti melalui tes uji kelayakan, tapi ini masalah hati loh. Bukan kantor Samsat.
Vio nggak milih Rob ataupun kembali ke Dion bukan karena dia ingin mencari yang lain. Ia hanya ingin menikmati masa-masa jandanya dengan bahagia.
Setidaknya untuk saat ini, ia ingin sendiri dulu. Nggak terlalu buruk kok jadi janda. Malah Vio mulai asyik sendiri dengan title barunya ini.
Ia single dan available. Hatinya terjaga baik, pikirannya tidak bercabang kemana-mana.
Masalahnya cuma satu, saat kebutuhan biologisnya nggak terpenuhi. Ia akan uring-uringan nggak karuan. Imbasnya tentu saja kewarasan karyawannya dipertaruhkan.
Untuk kedepannya, entah pria mana yang nyangkut dihati, itu urusan nanti. Mungkin saat ini Tuhan masih mempersiapkan yang terbaik untuknya.
Tapi bapaknya ini... childish bangeeettt...
Ponsel Violin berdering.
Juno calling...
Violin sumringah.
Baru kali ini panggilan Juno laksanakan air di gurun pasir, nolong banget!
Vio ijin mengakat telfonnya sebentar.
"Buruan balik kantor!"
Violin menjauhkan ponselnya. Etdah, gini amat punya asisten.
"Iya!"
Tuuuutt!
Langsung dimatikan doooonggg, bener-bener nih Junet.
Violin memasukkan ponselnya kembali kedalam tas.
"Oke, begitu saja ya Mar. Kalian bisa ngobrol dulu, aku harus balik kantor soalnya." Akhirnya Violin ada alasan untuk cabut dari sini.
Atmanegara mengrenyit.
Vio beranjak dari duduknya, mencium pipi Papa dan menjabat tangan Damar.
"Nice to meet you, Vio..." ucap Damar, terlihat tulus.
Sebenarnya secara attitude Damar termasuk pria sopan. Ia tidak menggebu-gebu seperti lainnya yang sudah-sudah. Yang terang-terangan tertarik banget ke Vio.
Selama kurang lebih setengah jam duduk dan makan bareng, Damar selalu menatap Atmanegara. Ke Vio hanya sesekali, itupun saat mereka terlibat obrolan langsung.
Meskipun kalau untuk urusan ngobrol mereka nyambung.
Nilai plus baginya adalah, jika yang lain terang-terangan, Damar malah terkesan hanya menghormati Atmanegara saja. Ini masalahnya, kok bisa ada pria yang menolak pesona seorang Violin?
Pria ini mencium punggung tangan Vio sekilas. Khas bangsawan yang menghormati tuan putri dari kastanya.
Entah mengapa tindakan ini nggak bikin Violin muak, sepertinya pria ini luwes sekali memperlakukan wanita.
"Mee too..." Balas Vio. Lalu buru-buru menarik tangannya.
"Emm, tunggu Vio." Atmanegara beranjak dari duduknya. Damar juga jadi ikutan berdiri.
"Aku juga pamit ya, Mar. Salam untuk bapakmu."
Damar meraih tangan Atmanegara.
Atmanegara terkekeh, "Bisa saja kamu, yah mudah-mudahan kita berjodoh." Ucap Atmanegara ambigu.
Damar tertawa, giginya putih banget. Kira-kira itu veneer apa asli ya?
"Mudah-mudahan lancar kerja sama kita. Hati-hati di jalan Om... Vio..."
Violin sedikit melambaikan tangannya, lalu melangkah keluar restoran beriringan dengan Atmanegara.
"Damar itu anaknya Om Rudolf." ucap Atmanegara setelah mereka hampir sampai di ambang pintu keluar.
"Iya, tadi sudah cerita, kan?" Sahut Vio.
"Ibunya bernama Tari, Sri Lestari." lanjut Atmanegara lagi.
Violin tersenyum kecil, terjawab sudah darimana wajah lokal yang menghiasi fisik Damar.
"Pantas anaknya dikasih nama Damar, bukan William." Gumam Violin.
"Damar itu gay."
Langkah Vio langsung terhenti, ia menatap bapaknya penuh tanda tanya.
"Yang bener aja?" Desis Vio tak percaya, bapaknya ini kenapa sebenarnya? Tahu anak itu gay, tapi disodorkan ke Vio?
Astaga... rencana apa lagi ini? Pantas aja Damar terlihat nggak tertarik dengan Vio. Sampai bikin Violin sempat sedikit insecure. Karena sejauh ini nggak ada pria yang bisa menolak pesonanya.
Apa mungkin menjadi janda bisa mengurangi sepuluh persen auranya?
Atmanegara tidak mengindahkan pertanyaan anaknya. Ia tetap berjalan lurus, masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya dan duduk dengan tenang menunggu Violin masuk menyusulnya.
"Jangan salah, Damar itu cerdas, inovatif dan juga kreatif. Tiga hal yang seorang pemimpin harus miliki. Ditangannya usaha Rudolf berkembang pesat." ujar Atmanegara saat Violin sudah duduk dikursi penumpang disampingnya.
"Ya tapi orientasinya menyimpang loh, Pa." Violin masih tak habis pikir. Bagaimana bisa bapaknya ini memilih Damar yang jelas-jelas gay untuk Vio?
Hanya karena anak itu pintar mengelola kerajaan bisnis ayahnya?
Oke sorry, bukan Violin anti pati dengan kaum ini, jika hanya berteman atau sekedar relasi, ia tak masalah. Satu dua kaum serupa yang berteman baik dengannya. Tapi untuk dekat dan lebih jauh...
Violin memijit keningnya. Apa jadinya coba?
"Papa mulai gila?" Desisnya lirih, tapi penuh penekanan.
Atmanegara terkekeh, Violin semakin jengkel.
"Papa butuh mantu yang mumpuni, selain Dion, kandidat lain yang kemarin Papa bawa ke kamu, Damar salah satunya. Semua papa suka, semua kompeten. Tapi jika ditanya mana diantara semuanya, Papa pilih Damar."
Kepala Vio tambah pening.
"Kenapa nggak Papa aja yang sama Damar? Mana tahu Damar tertarik sama aki-aki." ujar Violin sarkas.
"Hahahahaha...." Atmanegara terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata saking gelinya.
Sepertinya sudah lama sekali dia nggak tertawa selepas ini.
"Kenapa Damar, kamu mau tahu?" Atmanegara menaikkan alisnya sebelah.
"Nggaaakkk, Papa gila!" Pekik Vio.
"Hahaha..."
"Kalau kurang kerjaan jangan gini dong, Pa. Mending Vio sama Malik deh." Violin cemberut.
"Hush, amit amiiiittt Papa punya mantu si Malik." Atmanegara bergidik mengingat gaya kemayu Malik, salah satu karyawan Vio di Barbara.
"Hmm... nanti kamu akan tahu. Saran Papa, jangan jauhi Damar jika ia mendekat."
"Ini serius, Pa?"
"Dua rius malah. Jangan menilai orang berdasarkan 'katanya', Vio."
"Papa rela aku sama dia?"
"Why not?"
Violin tambah pusing.
***