Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Come Back



Sofia fokus menatap layar laptop. Ia baru saja selesai mengedit video terbarunya dan kini sedang mengunggah di laman Yutum. Kali ini ia mereview cushion terbaru keluaran brand ternama tanah air.


Sofia seorang Beauty Vlogger dan ini adalah video perdana yang ia buat pasca KDRT yang dilakukan suaminya, Daniel.


Fisiknya sudah mulai kembali, bekas lebam di wajahnya juga sudah menghilang. Tentu saja dengan kekuatan alat kecantikan canggih masa kini. Lagi-lagi the power of money.


Tapi lebam ditubuhnya ia biarkan saja. Ini akan menjadi penguat keputusannya meninggalkan Daniel. Bahwa ia pernah berjuang namun disia-siakan.


Terkadang kasih yang tulus hanya dijadikan mainan bagi sebagian orang yang tidak mengerti makna dari sebuah ketulusan.


Butuh waktu untuk memulihkan mental dan fisiknya. Meski fisiknya berangsur-angsur pulih, namun mental Sofia belum sepenuhnya sembuh.


Ia masih sering ketakutan ketika mendengar suara keras. Otomatis dadanya berdegup kencang dan seluruh badanya tremor, lalu lemas dan pingsan.


Atau saat tengah malam ia terbangun dengan keringat dingin disekujur tubuhnya karena mimpi buruk yang sering datang.


Beruntung ia tinggal bersama Violin. Meski sahabatnya itu sibuk, tapi dirumah ini ada Merry, asisten rumah tangga Vio. Seringnya ia menyeret Merry untuk menemaninya tidur.


Sofia yang introvert, pada dasarnya sulit berteman. Tapi pembawaan Merry yang nyablak dan ceria, sedikit banyak berpengaruh pada suasana hati Sofi. Apalagi Merry rajin mengajaknya yoga bareng dirumah. Sedikit demi sedikit batinnya berangsur tenang. Terkadang Sofi merasa Merry malah lebih dewasa darinya.


Jadi intinya disini Sofi mendapatkan sahabat baru bernama Merry.


"Mbak, aku tak ke pengajian dulu, ya? Jangan lupa makan malam." Terdengar suara cempreng Merry dari balik pintu kamar Sofia.


"Iyaa, cepetan pulang ya Merr." Balas Sofi dari dalam kamar.


Sekilas terdengar gerutuan Merry. "Piye to kih? (gimana sih?) belum juga berangkat dah disuruh pulang aja."


Sofia terkikik, lalu telinganya mendengar deru mobil memasuki halaman depan. Ia mengintip sedikit dari balik jendela kamarnya.


Merry yang ingin berangkat ke pengajian nampak membuka gerbang lalu berlalu pergi setelah ngobrol sebentar dengan seorang pria tinggi besar. Sofi sering melihat pria itu disekitar rumah ini.


Lalu keningnya mengerut saat pria itu membukakan pintu dan Violin muncul dari dalam mobil.


Sofia keluar dari kamarnya, pas saat Vio melangkah memasuki dapur mengambil gelas.


"Baru pulang, Bu?" Sapa Sofi, ia duduk di meja makan memperhatikan Vio.


"Hmm.." terdengar gumaman nggak jelas dari mulut Vio. Ia mengisi penuh gelasnya dan membawanya duduk disebelah Sofi. Violin meneguk air sampai tandas.


"Bajumu unik, ini fashion baru?" Sofi menelisik outfit yang dikenakan Vio malam ini.


"Nggak usah nyindir deh." Violin meraih piring di depannya lalu membuka tudung saji.


"Waw... ini rendang yang tadi pagi, ya?" Violin menyendok sedikit nasi merah dan rendahnya, komplit dengan rebusan daun singkong, sambel ijo khas Padang dan kerupuk kulit tentunya.


"Jangan kalap, dah malem nih. Tambah gembul ntar." Sofi mengingatkan Vio tentang diet. Tapi siapa yang tahan melihat makanan surga macem ini, sih? Menggoda banget gilak!


"Hmm... laper banget gue, berasa setahun nggak makan." Sahut Vio disela-sela kunyahannya. Lalu ia melirik Sofi.


"Emang ye, Noni mah beda, makan beginian pake sendok garpu, table manner tetep jalan." Cibir Violin. Ia melanjutkan suapannya, tentu saja dengan tangan.


Sofia terkikik, "Biar ada effort nya say!" ia memotong daging rendang dengan anggun. Lalu perlahan memasukkan potongannya ke dalam mulut.


"Cih, nggak gitu konsepnya cantiquee. Ini tentang kenikmatan."


"Dih bahasanyaaaa... Otak gue jadi traveling." sahut Sovia geli.


"Oh iya Vi, laki-laki yang tadi, yang nganter kamu pulang, rasanya aku sering lihat dia seliweran di sekitar sini. Apa dia..."


Sofia manggut-manggut.


"Tapi ya kamu hati-hati aja, siapa tahu orang gila beneran. Soalnya beneran nggak bisa bedain." Vio menyendok lagi daging rendangnya.


"Laper apa doyan?!"


"Habis ini udah." Vio nyengir. "Beneran lagi pingin makan banyak gue, berasa lapeeeerrr banget."


"Oiya, kasusnya Daniel gimana?" Tiba-tiba Violin menanyakan tentang Daniel. Ia melirik Sofia sedikit. Wajahnya tampak biasa. Violin lega, setidaknya sedikit demi sedikit Sofia dalam proses penyembuhan.


"On process, tuntutan sepuluh tahun penjara dan denda tiga puluh juta sedang diusahakan. Pengacara bapak lo emang the best." Sofia mengacungkan dua jempolnya.


"Setelah kasus ini kelar, kayaknya aku harus sungkem langsung sama Pak Atma." lanjut Sofia tulus.


"Sungkem bisa diwakilkan, nih anaknya dimari." sahut Vio. Sofia mencibir.


"Kamu sendiri, gimana?" Vio menatap wajah Sofia sambil menggigit kerupuk kulit.


"Seperti yang kamu lihat." Sofia mengangkat bahunya. "Aku juga sekalian mengajukan tuntutan perceraian." Sofia meletakkan sendok garpunya, lalu meminum air digelasnya.


"Gue selalu dukung apapun keputusan yang kamu ambil. Apalagi bercerai dari pria brengs*k itu. Nggak rela banget kamu dianiaya terus. Kamu cantik, Fia. Kamu bisa dapetin yang lebih baik dari Daniel. Dia laki-laki paling nggak ada bagus-bagusnya di dunia ini." Violin merepet panjang lebar.


"Saran aku sih, sayangi diri kamu sendiri dulu." Tambah Vio.


"Kadang fisik orang itu menipu. Diluar terlihat baik-baik saja, nyatanya dalemnya hancur berantakan." Tangan kiri Vio menyentuh lengan Sofia.


"Curhat, Buk?" lirik Sofia.


Violin terkekeh, "Fi, kamu tau kan aku jarang di rumah, bukan berarti aku nyuekin kamu. Pliss kalau butuh curhat, aku selalu siap." lanjut Vio lagi. Mukanya sih serius, tapi mulutnya tetep aja nggak berhenti ngunyah.


Sofia tersenyum, "kamu juga, kalau butuh curhat tuh sama kita-kita, bukannya nyari solusi sendiri." Sinis Sofi.


"Si Juno masih single, mana ngerti urusan janda macam kamu." Imbuh Sofia.


"Cih, nasehat calon janda." cibir Violin.


"Jangan salah, dia bahkan hafal ukuran bra wanita hanya dengan melihat tanpa menyentuh, loh." Violin meraih gelas dan piring kosongnya. Lalu beranjak menuju wastafel.


"Itu pengecualian ya, mana mungkin ada di Barbara kalau masalah gitu aja dia nggak ngerti." ucap Sofia.


"Sayang aja masih jomblo." lanjutnya. "Anyway, gaji di Barbara berapa digit, sih? Dilihat-lihat Juno ganteng juga." Sofia menarik turunkan alisnya.


Violin melirik galak, "kelarin dulu si Daniel!" hardiknya.


"Yaa sebelumnya nyari pandangan dulu, boleh laaahhh."


"Mending jangan Juno deh, dia bucin parah sama makhluk tak dikenal."


"Maksud lo, dia sukanya sama makhluk astral apa gimana?" Sofia kepo.


"Hmmm... semacam itulah." Violin tertawa geli. Kalau Juno tahu lagi jadi bahan gibah, pasti bakal ada adegan bantex melayang tak beraturan.


Sedangkan ditengah jalan saat dalam perjalanannya pulang ke rumah, telinga kiri Juno berdenging nyaring.


"Sialan nih, bos tengil. Ganggu aja!" umpat Juno sambil meniup genggaman tangannya lalu menempelkan ke telinga.