Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Bantu Aku, Mas!



"Minumlah." Juno mengulungkan susu hangat untuk Lina.


Setengah heran Lina menerimanya.


"Meski nggak suka tetap harus diminum, susu bagus untuk tulang. Dan lagi kakimu baru sakit."


"Keseleo itu salah otot Mas, bukan salah tulang." Jelas Lina. Ia meminum sedikit susu itu. Amis, Lina kurang suka minum susu. Tapi kalau susu olahan dia suka, yoghurt misal.


"Ck, jangan suka menyalahkan otot. Kasihan dia sudah sakit." Gurau Juno. Lina nyengir garing, joke bapak-bapak.


Sepulang dari berobat, Juno mengajak Lina kerumahnya. Kaki Lina harus dikompres es dan dibalut perban elastis beberapa waktu lagi.


"Nggak usah pulang lagi kerumah Violin." Desis Juno.


"Aku masih terikat kontrak sama Mbak Vio lho, Mas." Protes Lina. Ia harus profesional, kan?


"Nanti aku yang ngomong sama dia."


Lina melengos, sejujurnya ia nyaman bekerja dengan Violin. Wanita yang baik juga teman-teman baru yang menyenangkan. Ia merasa mempunyai keluarga baru.


Dirumah itu setiap harinya terasa hidup, apalagi tambah Pamela disana. Pasti seru sekali.


Kalau harus tinggal dirumah ini tanpa kesibukan, pasti akan membosankan. Ia terbiasa bekerja.


Ia sangat menikmati profesinya dulu saat menjadi chef. Itu like dream come true baginya.


Lalu saat menjadi asisten rumah tangga, awalnya ia tertekan namun seiring berjalannya waktu, ia mulai mencintai pekerjaannya.


Selain ia bisa lari dari Panji, ia juga mendapat uang untuk bertahan hidup. Untungnya ia selalu mendapat majikan yang baik.


Ia memalingkan pandangannya keluar pintu kaca besar di samping pantry.


Matanya menangkap taman kecil disamping rumah ini. Dengan tertatih Lina membuka pintu kaca geser itu.


"Waahh... Ada taman anggrek. Cantik sekali, Mas!" Pekiknya senang. Ia menyentuh anggrek-anggrek yang tertempel di media dan tertata dengan indah ini.


Bunga anggrek warna-warni dengan berbagai jenis. Sebagian sudah berbunga, sebagai lain masih terlihat baru.


Juno menghampiri Lina dan memeluknya dari belakang, ia ikut tersenyum diceruk leher Lina.


"Aku ingat impianmu tentang taman anggrek. Jadi benar taman ini adalah untukmu. Juga rumah ini, semua aku upayakan seperti yang kamu impikan." Bisik Juno. Ia mengecup leher jenjang Lina.


Wanita itu berkaca-kaca menahan haru. Juno membalikkan badan Lina menghadapnya. Ia menahan pinggul Lina dengan tangan kokohnya.


"Besok kita akan menikah, aku sudah memasukan berkas-berkasnya ke KUA." ucap Juno. Matanya jelas berbinar bahagia.


"Tidak bisa secepat itu Mas, ada prosesnya." Sahut Lina.


Juno menyeringai, "Bisa sayang. Aku sudah pastikan." Yakin Juno.


"Lagian aku belum kasih foto kopian berkas-berkas." Lina masih ngeyel.


"Aku sudah dapat. Aku temukan di tas yang kamu bawa waktu itu."


"Yak ampuuuunnnn!" Lina memukul lengan Juno. Juno hanya terkekeh. Ia menempelkan dahinya ke dahi Lina sampai hidung mereka bersentuhan. Tangannya erat memeluk pinggang Lina.


"Jadi berhentilah bekerja dan hiduplah denganku. Menghabiskan sisa hidup bersamaku, ya. Sampai kita tua dan mati nanti." Pinta Juno lirih tapi merasuk ke kalbu Lina. Wanita itu memejamkan mata meresapi suara Juno yang terdengar seperti nyanyian surga di telinganya.


Untuk kesekian kali Juno melamarnya menjadi teman hidupnya.


"Mas yakin dengan keadaanku yang seperti sekarang ini?" Lina kembali ragu mengingat kondisinya yang begini karena Panji. Ia merasa ini tidak adil untuk Juno.


"Aku takut saat kita selisih paham nanti, Mas akan mengungkitnya. Itu pasti menyakiti hatiku." Mata Lina berkaca-kaca.


Juno mengecup bibir Lina dengan penuh penghayatan seolah sudah lama sekali ia merindukan rasa ini. Disapunya bibir itu perlahan, manis. Rasa yang selalu ia rindukan beberapa tahun terakhir ini.


Rasanya luar biasa lega. Wanita ini kini didekapannya. Sebentar lagi... sedikit lagi... Aahh Juno sudah tidak sabar memiliki Lina seutuhnya.


Ia mengecup seluruh wajah Lina. Dahinya, matanya, hidungnya, pipinya, dagunya, semuanya tidak ada yang luput dari kecupannya.


"Aku akan menghapus semua jejak Panji. Katakan, bagian mana yang ia sentuh? Hmm...?" Suara Juno parau. Ia sedang asyik berkutat di leher Lina.


"Mmmm..." Lina melenguh. Tangannya meremas rambut Juno.


"Apa bagian ini? Atau yang ini?" Juno menangkup dada Lina lalu bok*ngnya.


"Ma-Maass..." Lina protes. Ia memukul bahu Juno pelan. "Kakiku masih sakit, ya!" Ia berniat berjalan menuju kursi yang ada di dekat pot bunga.


Belum juga sampai Juno sudah memeluknya lagi dari belakang.


"Aku mau kamu..." Desah Juno tepat dibelakang telinga Lina.


Dengan gesit ia menggendong Lina kedalam rumah menuju kamar.


Tidak sabar ia membuka pintu dengan kakinya. Lina memekik sambil mengeratkan pegangan tangannya di leher Juno.


Perlahan Juno meletakkan Lina di atas ranjang. Wajahnya tepat berada diatas Lina. Ia menikmati setiap inci wajah cantik ini. Dibelainya rambut hitam Lina. Wanita ini yang dia inginkan. Hanya Lina.


Mata Lina membalas tatapan mendamba Juno. Ia mengalungkan lengannya di leher Juno seolah memberi ijin Juno untuk bertindak lebih jauh.


"Bantu aku, Mas." Ucap Lina penuh harap.


"Sayang..." Bisik Juno. Lina memejamkan matanya meresapi setiap sentuhan Juno. Ia meyakinkan dirinya bahwa ini bukan Panji, tapi Juno. Pria yang ia cintai.


Juno menelusuri selangka Lina, lalu turun ke dadanya. Dengan lincah tangannya menelusup kedalam membuka pengait bra dengan sekali pegang.


Kini ia sudah sibuk memainkan ujung dada Lina dengan lidahnya.


"Aakkhh..." Lina menjerit. Refleks ia menutup kembali bajunya yang sudah setengah terbuka. Nafasnya memburu, ia tidak berani menatap Juno.


Ia masih saja teringat Panji. Bayang-bayang wajah mesum Panji menghantui pikirannya. Panji tidak memperlakukan Lina dengan kasar, tapi selembut apapun Panji, Lina tidak mencintainya. Dan ia dalam keadaan dipaksa.


Juno tersenyum, ia menangkup kepala Lina dengan lembut, wanitanya ini sedang bertarung melawan trauma.


"Hei, sayang... buka matamu. Ini aku..." Bisik Juno.


Perlahan Lina membuka matanya yang terpejam rapat. Ia melihat wajah Juno tepat diatasnya, melihat senyum Juno, mendengar suara Juno.


Lina tersenyum lega, ia meraih kepala Juno agar mendekat dan mencium bibirnya dalam-dalam.


Ia tidak ingin memejamkan mata lagi, hanya wajah Juno yang akan ia simpan di dalam ingatannya.


Pandangan mata Juno semakin berkabut. Kali ini ia tidak akan menahannya lagi, ia sudah tidak sabar menikmati main course nya ini.


Ia memposisikan tubuh Lina dengan hati-hati. Mengingat kakinya yang masih sakit.


"Jangan pejamkan mata lagi. Lihatlah aku..." Desah Juno.


Ia membelai lembut setiap bagian tubuh Lina. Seolah menghapus semua jejak Panji dengan lidahnya.


Ia akan buat Lina melayang dan menghilangkan rasa Panji di hidupnya. Selamanya Lina adalah miliknya.


****