
Bu Isa meluruskan kakinya yang pegal di atas kasur. Ia baru saja menyuruh Jeffry ikut mengantar Merry pulang. Sekalian Jeffry bilang akan ikut ronda sebentar.
Meski tampang Juno bukan seperti pembohong, tapi Bu Isa pikir perlu mengirim Jeffry untuk berjaga-jaga. Bukankah pembohong sekarang banyak yang ganteng-ganteng? Hmmm...
Ia menghela nafas, akhir-akhir ini ia merasa cepat sekali lelah. Ia tidak lagi cekatan seperti dulu. Beruntung ia perawat senior di rumah sakit itu. Meski jabatan itu tidak membuatnya istimewa, setidaknya banyak perawat lain yang masih muda yang membantunya. Entah karena sukarela atau karena segan dengannya. Terlalu banyak kemunafikan dimana-mana.
Lalu dengan kedatangan Merry tadi di rumahnya, mau tak mau ia kembali terkenang masa mudanya yang kelam dulu.
Saat ia terpuruk karena keadaan dan hanya air mata yang menemaninya.
Bu Isa menghela nafas lagi. Ia sudah tidak ingin mengingatnya. Itu masa-masa terberat dihidupnya. Sampai ia hanya ingin mati saja. Lalu hadirlah Jeffry yang mengobati semua luka hatinya. Jeffry pelipur lara jiwanya.
Sekarang ia hanya ingin hidup bahagia dengan putra satu-satunya, yang ia rawat dan cintai dengan seluruh jiwa raganya.
Tapi semakin besar anak itu semakin mirip bapaknya. Kadang Bu Isa kesal sekali melihat wajah Jeffry, ia sering mengomel ini itu untuk menuntaskan kekesalannya. Bukan kepada Jeffry, tapi kepada pria yang mirip dengan anaknya itu.
Beruntung Jeffry anak yang baik, saat ibunya ngomel ia akan menunggu sampai emaknya lelah. Lalu dengan manja memeluk dan mencium ibunya agar tenang.
Bagi Jeffry, omelan emaknya adalah nyanyian terindah dimuka bumi ini. Lebih baik ibunya ngomel didepan Jeffry daripada ikut gibah dengan ibu-ibu kompleks depan sana. Nambah-nambahin dosa.
"Bu... Sssstt... sssstt..." Terdengar ketukan di jendela kamar Bu Isa.
"Ibuuu..."
Bergegas Bu Isa membuka jendela kamarnya, wajah Jeffry nongol begitu saja.
"Woo bocah ra genah, lewat pintu depan sana, jangan kayak maling!"
"Tapi ibu kunci dari dalam, gimana Jeffry bisa masuk?" Protes Jeffry.
Bu Isa menepuk jidatnya, "Oalaaahhh leee... lali aku. Sek sek..."
Bergegas Bu Isa menuju pintu depan, tapi tangannya ditahan Jeffry. Ia jadi urung.
"Lewat sini aja Bu, dah tanggung." ucap Jeffry. Ia langsung naik memanjat jendela dengan lincah.
Bu Isa mengulurkan tangannya menjewer kuping Jeffry saat anak itu sudah sampai didepannya.
"Kayak maling kamu, hiiihhh..."
Jeffry meringis menahan kupingnya biar nggak lepas.
"Biar cepet Bu."
Bu Isa melepas jeweranya.
"Sana tidur sudah malam!"
"Mau tidur sama ibu aja."
"Sudah bujang kamu lho le, masih aja tidur sama ibu. Nggak malu sama kumis?"
"Sssttt, ibu diem aja, sini tak pijitin biar enakan." Jeffry meraih kaki ibunya. Lalu memijit dengan perlahan.
Bu Isa nurut. Kebetulan memang kakinya pegal sekali hari ini.
"Jam piro to iki, le?" (Jam berapa sekarang, nak?)
"Sudah jam due pagi Bu."
"Hmmm... pantes wes berat banget mataku." Sahut Bu Isa sambil terkantuk-kantuk. Ia memposisikan bantalnya biar lebih enak.
Jeffry menatap ibunya dengan iba, seharusnya saat ini ia sudah bisa mempensiunkan ibunya ini. Tapi mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi membuka usaha, modal darimana?
Gajinya di bengkel tidak seberapa. Hanya mampu membantu ibu bayar listrik, air dan iyuran lain-lain. Sisanya untuk bensin dan jajan Jeffry.
Melihat Violin yang mandiri meski ia perempuan cukup membuat Jeffry malu. Ia seharusnya bisa lebih maju lagi. Dan dengan pedenya ia berani mencintai janda kaya itu. Auto di kick duluan dah.
Andai ayahnya masih hidup, tentu ibu tidak akan semerana ini. Ada tempat berkeluh kesah dan membagi suka dukanya. Dengan Jeffry mungkin ibu enggan bercerita, takut membebani pikiran Jeffry.
Jeffry menyelimuti kaki ibunya. Malam menjelang pagi ini udara semakin dingin. Bu Isabella sudah terlelap jauh ke alam mimpi. Jeffry meringkuk di ketiak ibunya. Ia suka sekali wangi ketiak ibu. Menurutnya wangi inilah yang mampu menenangkan hatinya. Sebentar saja sudah terdengar dengkuran halus dari bibirnya.
*****
Violin menggeliat malas saat bau masakan menyapa hidungnya. Ia melirik jam, masih jam 4 subuh.
Siapa yang bangun jam segini? Diantara ia, Sofia dan Pam hanya ia yang lumayan rajin bangun pagi. Tapi untuk masak? Dan lagi ini weekend.
Paling Merry, pikir Violin. Lalu ia teringat semalam belum bertemu Merry sama sekali. Begitu mengirim pesan singkat ke ponsel Juno, Violin langsung masuk ke kamar, mandi sebentar langsung tidur.
Bagaimana keadaan anak itu, Vio belum tahu. Sedikit malas ia menyeret kakinya menuju pantry.
Terdengar suara cekikikan dari arah dapur. Violin menajamkan pendengarannya.
Lalu terlihat Merry sedang asyik mengaduk sesuatu dengan Pam menontonnya sambil duduk santuy menggenggam apel merah.
"Ini margarine Mbak." Tolak Merry.
"Sama aja kan? Nih sama." Pam membandingkan kedua bahan itu.
"Jelas beda to Mbak, yang ini butter warnanya lebih soft. Kalau margarine kan lebih pekat." Jelas Merry. Pam hanya manggut-manggut, entah paham atau malah masa bodoh.
"Pam?" Desis Violin. "Ngapain lo berdua pagi-pagi buta begini? Arisan?" Sindir Vio. Ia mengambil minum di dispenser dekat lemari pendingin.
"Si Merry susah tidur, jadi gue suruh bikin camilan aja." Jawab Pam sambil menggigit apel.
"Mbak Pam ini yang nggak bisa tidur, nyusulin saya ke kamar." Sahut Merry.
Ia teringat saat sedang terlelap di kamarnya, Pam nyelonong masuk, karena pintu kamar Merry memang jarang dikunci. Wanita itu lalu rebahan disamping Merry.
"Merr..." Bisik Pam.
"Hmmm..."
"Lo diapain sama si br3ngsek? Kepo gue!" Tanya Pam dengan arogannya.
Merry meringis, ia tidak menjawab. Hanya merapatkan lagi selimutnya sampai kepala. Ia takut dijambak Pam.
"Ck, gue mau nanya ini sampai besok, tapi nggak tahan gue, ganggu pikiran gue banget."
Tuh kan omongannya nggak pake di ayak dulu. Jam satu dini hari loh ini.
Akhirnya Merry membuka selimut, memang seharusnya ia menceritakan semuanya kepada Pam secepatnya, kan?
Ia mulai mengambil nafas, lalu menerawang melihat plafon kamarnya. Ia bercerita dari awal pertemuannya dengan Panji sampai kejadian tadi siang.
Pam sampai kepanasan, berkali-kali ia mengutuk Panji. Melontarkan sumpah serapahnya.
Pam tidak menyimpan dendam untuk Merry, ia malah iba. Mengingat bagaimana selama ini Merry berjuang menghindari Panji sampai mengorbankan Juno.
Hanya satu bagian cerita yang membuat Pam girang, akhirnya ia tahu darimana asal masakan Merry yang enaknya ngalahin warteg itu.
Dan jadilah mereka nggak bisa tidur sama sekali. Berdebat ini itu, bercanda, cerita nggak penting dan terakhir...
"Masakin gue dong Merr. Dari kemarin pingin banget makan toast with butter and jam. Ntar buat breakfast sama fruit juice."
"Lah kan cuma roti bakar dikasih selai to Mbak?"
"Yang ala American style, dong! Rasanya beda kalau dibikin sendiri butter jam ala chef."
"Tapi kakiku masih sakit lho Mbak."
"Elo tinggal eksekusi, gue yang siapin." Pam menepuk dadanya.
Tapi kenyataannya Merry harus bekerja ekstra karena kerjaan Pam nggak ada yang beres.
Dan disinilah mereka, jam 4 subuh nguprek di dapur Vio.
"Kalian baik-baik saja kan?" selidik Violin. Ia tidak mencium bau permusuhan atau dendam dan sejenisnya.
"Bukan anak kecil keleeesss, toh disini kita sama-sama korban." Jawab Pam. Ia menggigit lagi apel merahnya.
Violin manggut-manggut, "bagus deh." Desis Vio. Ia duduk di kursi tinggi sebelah Pam.
Merry tampak berjalan tertatih-tatih mengambil spatula. Pam sigap berdiri meraihnya lebih dulu.
"Udah lo anteng aja ngadon, biar gue yang ambil." Gerutu Pam.
"Ntar salah lagi." Cibir Merry.
Violin mengrenyitkan dahi, "wah, udah besti-an aja nih berdua." cibirnya.
"Kakinya sakit itu, bengkak. Makannya nanti mau ke klinik buat periksa." kata Pam. Merry hanya diam sambil cengar-cengir, nahan nyeri.
"Gue yang anter." Lanjut Pam lagi.
"Eehh, ndak usah mbak. Lagian nanti dah janjian sama Mas Juno sekalian mau ngobrol." Tolak Merry.
"Halah Juno lagi, yang ada lo disuruh balik lagi jalan kaki." Cibir Pam sarkas.
Violin tersenyum, ia cukup lega. Diraihnya ponsel di atas meja.
Satu pesan dari Juno.
Buka pintunya. Aku didepan.
*******