Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Sop Buntut



"Nggak di angkat lagi!" Seru Sofia dari ujung dapur, dia mengusap ponselnya dengan gemas. Ini sudah kesekian kali ia mencoba menghubungi Merry. Meski tersambung, tapi tetap nggak diangkat.


"Kemana sih." Gerutunya.


Pamela berkacak pinggang sambil menatap onggokan ekor sapi potong di meja.


Ia dari market membeli sabun. Saat tiba-tiba melihat potongan buntut sapi yang menggiurkan. Tiba-tiba ia pingin sop buntut.


Tanpa pikir panjang gimana ngolahnya, ia langsung memasukkan buntut ke dalam troli. Dan sekarang ia dan Sofia dalam masalah. Mereka sama sekali tidak tahu harus diapakan dulu dagingnya.


"Coba buka google." Perintah Pam sambil membolak-balikkan daging dengan ujung telunjuk.


Sofia menscrol ponsel. Ia membaca dengan serius.


"Pertama didihkan air lalu masukkan buntut sapi, rebus hingga setengah mendidih..."


"Bagaimana ceritanya setengah mendidih doang? Nggak Mateng dong?" Sela Pam sambil mengisi panci dengan air.


"Dengerin duluuu..." protes Sofia.


"Angkat lalu tiriskan. Agar kuah sopnya jernih, sebaiknya buntut mentah tidak dicuci." lanjut Sofi.


"Wah, nggak bener nih." Pam makin nggak yakin. "Ini kotor loh, masa nggak dicuci? Hellooo... jijik gue!" Ia bergidik.


"Lah, gue mah baca di embah gugel doang." Sofia nggak mau kalah.


"Sini ponsel lo." Pam meraih ponsel ditangan Sofia, ia menscrol aplikasi. Sofia yang kepo ikut melongokkan kepala.


"Nyari apa?" Tanya Sofia.


"GoFood aja kita, ribet amat mau makan." Sahut Pam. Jarinya bergerak lincah mencari menu sop buntut.


"Terus itu nasip si buntut gimana? Sayang loh, udah dibeli." Sofia menunjuk ekor sapi yang teronggok merana di atas meja.


"Kan bisa di simpen, Non. Mayan kan buat isi-isi freezer? Daripada kosong begitu?"


Sofia manggut-manggut, "gue mau buntut bakar cabe ijo aja. Nggak mau sop." Akhirnya Sofia ngikut Pam.


Emang paling bener pencet doang langsung kenyang. Ngapain coba repot-repot di dapur?


"Permisi..." Suara dari luar.


Sofia menatap Pam, "Lo dah pesen? Cepet banget nyampenya?"


Pam mengedikkan bahunya, "gue baru pilih menu. Bukain gih, mana tahu pak RT."


"Suaranya bukan si RT, deh." gumam Sofia sambil melenggang ke depan.


"Hapal benerr..." Cibir Pam.


"Secara gue cenayang ni rumah. Apa-apa lewat gue, bukan Vio."


"Hahah..."


"Cari siapa, Mas?" Sapa Sofia begitu pintu terbuka. Seorang remaja pria tampan berdiri sambil membawa panci kecil didepan dadanya.


"Oh, haloo Tanteee, saya Jeffry tetangga sebelah. Tante Vio-nya ada?" Sapa pemuda itu kelewat ramah.


Sofia mengrenyit, "Violin belum pulang, ada yang bisa di bantu?" sahutnya agak ketus. Dia belum terbiasa berhadapan dengan orang asing, apalagi pria.


"Ya udah nitip aja." Jeffry menyodorkan panci ke hadapan Sofia. Panci milik Vio, Sofia hafal karena panci kecil berwarna pink ini yang sering mereka gunakan saat masak ind*mie.


Sofia kaget dan refleks menerima panci itu.


"Thanks ya, Tan. Bye!" Pamit Jeffry. Ia menyugar rambutnya dengan cool. Lalu melambaikan tangan dan berbalik pergi.


"Tunggu..." Ragu-ragu Sofia memanggil Jeffry.


"Ya?" Jeffry menghentikan langkahnya dan menatap Sofia heran.


"Kamu bisa masak?" Tanya Sofi ragu-ragu. Ia masih teringat ekor sapi yang malang itu. Meski disimpan dalam freezer pun pasti nggak bakal dimasak juga kalau nggak ada Merry.


Untung-untungan aja sih, mana tau ni bocah bisa masak.


"Eemm... Bisa sih, tergantung apa dulu yang di masak."


Jeffry menjentikkan jarinya, "Nah itu... emmm... ind*mie aja gimana? Yang rasa sop buntut kayaknya ada."


Sofia merenggut, nggak lucu sumpah.


"Jupriii, buruan balik!" Suara cempreng si emak Jeffry membahana dari balik tembok rumah Violin.


"Otewe buuu..." Jerit Jeffry nggak kalah cempreng.


"Eh, tak panggilin the real master chef aja, Tan." Tiba-tiba Jeffry mendapat ide.


"Ibuuu, tolong buuuu..." Belum sempat Sofia menolak, Jeffry keburu teriak kenceng.


Bu Isa datang tergopoh-gopoh, masih meneteng sapu dengan wajah panik.


"Ada apa? Kenapa kamu?" Tanya Bu Isa, ia membolak-balikkan badan Jeffry, memastikan apakah ada yang terluka.


"Sssstt... ibu tenang... tenaaangggg... tenaaangggg... tarik nafas dalam..."


"Semprul! Ngerjain orang tua aja!" gagang sapu melayang ke pantat Jeffry.


"Aaww... sakit buuuu!" Jeffry meringis.


"Ayo pulang! Disuruh anter bubur kacang ijo malah bikin ulah!" Bu Isa menyeret Jeffry.


"Tunggu, Bu. Jeffry nggak bohong, itu si Tante cantik yang minta tolong." Jeffry menahan langkah Bu Isa.


Wanita setengah baya itu mengrenyit menatap Sofia. Yang di tatap sampai salah tingkah.


"Something wrong, Neng." tanya Bu Isa. Cakep sih pake bahasa Inggris, tapi ujung-ujungnya 'Neng' juga panggilannya. Hadeeeehh emak...


Jeffry menepuk jidat, "si Tante bisa bahasa Indonesia bu, nggak usah sok-sokan Inggris."


"La dalaaahh, mukanya Londo pol gitu lho Le, ayu tenan, nggak ada bures-buresnya." (Et dah, cantik beud si Eneng, tanpa noda sedikitpun).


Sofia tersenyum, "ibu bisa bantu saya masak sop buntut? Kalau tidak merepotkan." ujar Sofi sopan. Kepalang tanggung, sekalian aja.


"Wah yo gampang itu, Neng. Cuma sop kan? Hari-hari ibu masaknya sop juga, tinggal cemplung-cemplung-cemplung beres, hemat waktu. Bedanya ibu nggak kuat beli buntutnya. Hehehe..."


"Nggak usah curhat Bu, buruan sono!" Jeffry memotong ocehan ibunya sebelum jadi semakin panjang. Nggak enak juga ditungguin Sofia sampai pegal berdiri neteng panci.


"Eem Le..." Bu Isa berbisik pelan dikuping Jeffry sebelum Jeffry pergi. "Masak sop paling penak nggak iso lho." Bu Isa mulai julid.


"Bu, nggak usah di depan orangnya juga kaliiikk..." tegur Jeffry nggak kalah pelan. Ia mendorong pelan punggung ibunya agar mendekat ke Sofia.


"Mari Bu..." Ajak Sofi. Ia berjalan masuk diikuti bu Isa.


Jeffry nggak usah ditanya, udah ngacir entah kemana.


"Lama bangeeettt... ngapain didepan, ini mau buntut yang di resto mana? ehh..." Pam yang sudah bersiap merepet jadi urung saat melihat Bu Isa berjalan di belakang Sofia.


Ia mengkode Sofi dengan ujung matanya, minta penjelasan.


"Belum pesen kan? Ini ibunya Jeffry mau bantu kita masak." Sofia meletakkan panci burjo di meja.


"Ini belum dicuci kan, neng?" Bu Isa menunjuk potongan daging.


Sofia dan Pam saling pandang. "Eh, belum Bu, kami ragu mau dicuci atau enggaknya." jawab Pam.


Bu Isa mengisi panci dengan air lalu meletakkan di atas kompor listrik, mengatur api sebentar lalu mengupas kentang.


"Daging segar sebaiknya jangan dicuci dulu, nanti di masukkan ke dalam air mendidih sampai setengah matang." jelas Bu Isa. Pam sudah mangap pingin protes tapi keburu di sahut Sofia.


"Memangnya higienis ya Bu?" Sofia mendekati Bu Isa, ia membantu mengupas wortel meski hasil kupasannya nggak karu-karuan.


"Nanti setelah setengah matang baru kita angkat, cuci dan bersihkan buntut itu dengan air mengalir."


Sofia manggut-manggut mengerti. Pam bernafas lega di ujung ruangan.


Jadi gituuuu....


****