
Sudah dua malam Violin beneran susah tidur. Perasaannya campur aduk. Resah, gelisah, semua jadi satu. Hari menuju seminggu semakin dekat.
Langkah apalagi yang harus diambilnya kali ini. Harapan satu-satunya pupus sudah.
Ia duduk lesu menatap bintang yang berkerlip indah di langit. Pamela pergi, Sofia juga. Ia sendirian di rumah.
Akhir-akhir ini Vio malas kelayapan malam. Paling kalau lembur, pulangnya mampir bentar nyari makan. Setelah itu langsung pulang. Kadang-kadang malah malas makan karena sudah terlalu larut.
Vio juga malas pegang ponsel. Takut tiba-tiba Damar telfon lalu tiba-tiba nongol didepannya lagi. Walaupun tahu Damar sedang di Swiss, tapi siapa tahu ada titisannya kan?
Lah, baru saja Vio mikirin titisan, seorang laki-laki dengan pakaian kurir memasuki pekarangan rumahnya. Vio diam saja di balkon.
"Pakeett..." Teriak si kurir.
Yang hobi pesan online disini cuma Sofia, sampai si kurir hapal jalan kerumah ini.
Kalau rumah sepi juga sudah hapal taruh paket dimana. Misal paket COD, ntar Sofia taruh duit dimana. Pokoknya kurir sudah mengerti Sofia banget deh.
Tapi kurir yang ini, kenapa masih diam menunggu disitu ya? Mungkinkah kurir baru?
Violin menyipitkan mata, wah beneran baru nih. Baju kurirnya masih kelihatan kinclong. Terpaksa deh Vio turun.
"Atas nama siapa, Mas?" tanya Violin begitu membuka pintu.
Mas mas kurir diam saja, ia malah menyodorkan ponselnya ke Violin.
"Vio, kenapa ponsel kamu mati?"
Hampir saja ponsel si mas kurir lompat dari tangan Violin. Etdah, wajah Damar udah nongol aja di layar.
Mas Kurir ketar-ketir melihat ponselnya.
"Lah, emang ada kewajiban harus nyala tiap saat?" Violin balik bertanya. Ia sedikit menaikan dagunya.
"Iya, aku jadi susah hubungi kamu." sahut Damar.
"Yaudah, nggak ada yang nyuruh harus telfon kok. Repot amat."
"Membiasakan diri, biar calon istri nggak khawatir."
"Ck." Vio pasang tampang malas. "Kerja sana, ngapain jam segini telfon?"
"Ini masih di kantor." Damar mengedarkan kameranya ke setiap sudut ruangan. Di Swiss masih jam empat sore waktu setempat. Sedang di rumah Vio sudah jam sembilan malam.
"Nggak nanya..."
"Biar calon istri percaya..."
"Aku bukan calon istrimu." pekik Vio.
"Oh, oke kalau mau langsung jadi istri. Ya sudah istri, suami kerja dulu ya." Goda Damar.
"Sinting!" desis Violin. Ia buru-buru mengembalikan ponsel si Mas kurir.
"Nih Mas."
"Oke Mbak." Mas kurir memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. Aman dah, untung nggak jadi jatuh.
"Oiya, tadi pesan Pak Damar, tolong ponselnya diaktifkan ya. Kalau nggak aktif, terpaksa saya masuk buat memastikan ponselnya Mbak Vio sudah aktif."
Eh sumpah, gila ya itu orang.
"Mas mending pulang deh, saya capek mau tidur." usir Vio sambil mengacungkan jari telunjuknya kearah gerbang.
"Baik Mbak, permisi." Pamit mas kurir sambil melangkah pergi.
"Mbak, jangan lupa diaktifkan yaaa..." Teriak si Mas ketika sampai di ambang pintu.
Violin sudah melepas sendal bulunya, siap nimpuk jidat mas kurir, Mas Mas-nya langsung gaaas, kabur duluan.
***
"Udah gini doang, sayang? Ujian kamu cetek banget sih?" Sofia mencibir Jeffry.
Jeffry menatap Sofia tak percaya. "Sebulan aku jungkir balik loh demi bisa ketemu kamu lagi, masa begini kamu bilang cetek?" Jeffry cemberut.
Kali ini mereka sedang makan malam di warung tenda pinggir jalan. Menu favorit Jeffry tentu saja lele kremes sambel mentah.
Jeffry baru pulang ngantor, suit mahalnya sudah teronggok menggenaskan di jok motor, dasinya juga.
Tinggal kemeja biru laut yang ia gulung sampai siku dan celana panjang yang nempel di badan.
"Kuliah kamu gimana?" tanya Sofia sambil menggigiti lalapannya kecil-kecil. Hmm... ternyata kol goreng semanis ini.
"Lancar."
"Masa??"
"Hehehe, untung ada Mas Dion sih." Jujur Jeffry.
"Dih, manja! Kasihan amat si Dion."
"Dia lebih berpengalaman. Aku kan tinggal mengcopy ilmunya doang."
"Yakiiinnn?" Goda Sofia.
"Nggak. Hehehe..." Jeffry nyengir.
Tangan kiri Sofia menyentuh tangan Jeffry, "aku tahu ini berat. Seandainya nggak kuat jangan dipaksa."
Jeffry mengambil tangan Sofia dan menggenggamnya lembut. Sekilas ia mencium punggung tangan itu.
"Aku bisa. Tenang aja. Asal ada kamu, aku yakin pasti bisa."
Sofia mencubit pipi Jeffry. "Manisnyaaaa..."
"Lagian Jeff, gimana kalau kita memulai semua dari awal. Aku ada sedikit tabungan untuk memulai usaha. Kamu suka otomotif, kan? Kita bisa usaha bengkel dulu kecil-kecilan."
Jeffry menggelengkan kepalanya. Ya kali ia mengiyakan. Meskipun buka bengkel kecil-kecilan, Jeffry tahu biayanya nggak murah. Alat-alat perbengkelan semua mahal.
"Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkanku, nanti jadi manja. Biarkan dulu aku berjuang, kamu cukup mendukungku. Apapun hasilnya nanti."
Mata Sofia meredup. Ia manusia paling nggak bisa melihat orang yang disayanginya kesusahan. Mungkin sifat inilah yang dimanfaatkan Daniel untuk membodohinya selama ini.
"Oiya, nanti mau pulang kerumah Tante Vio atau ke Papa?" Jeffry mengalihkan pembicaraan. Ia cuma ingin ngobrol santai dengan kekasihnya ini. Bukannya bahas hal yang berat-berat, takutnya malah ambyar acara kangen-kangenannya.
Sofia senyum-senyum mendengar Jeffry menyebut bapaknya Papa. Ia akui, Jeffry pinter banget ngambil hati Antonio.
"Ke rumah Vio dulu deh kayaknya, dia lagi butuh ditemani. Tadi udah ijin Papa kok." Sofia menyuapkan nasi ke mulut Jeffry. Yang disuapin senyum-senyum aja kesenengan.
Untuk bisa nyuapin Jeffry gini aja, Sofia butuh perjuangan besar loh. Harus merelakan kuku cantiknya dipangkas habis. Huhuhuhu...
Demi Jeffry yang suka makan pakai tangan.
Kan nggak lucu pas habis makan pecel lele, eh si sambel terasi nyangkut di kuku. Mana susah ilang baunya. Tapi enak, bikin nagih.
"Tante Vio sakit?" Tanya Jeffry dengan mulut penuh.
Sofia terkikik teringat wajah Vio yang acak adut nggak karuan.
"Tante Viomuuuu ituuu, lagi galau beraaattt." Sahut Sofia sambil cengengesan. Ia kasihan ke Vio, tapi entah kenapa lucu aja kalau di ingat-ingat. Gemes gemes pingin nendang.
Jeffry manggut-manggut, "Mas Dion tuh kelihatannya masih belum bisa move on dari Tante Vio. Kadang suka melamun depan komputer, kirain kerja nggak tahunya melototin foto Tante Vio."
Sofia mengibaskan tangannya.
"Udah nggak usah ikutan ngurusin hati orang, sekarang bilang sayang besoknya dicerai, kita mana tahu kan?"
"Curhat buuukk..."
"Ck, buruan buka mulutnya, tinggal satu suap nih."
"Lah, kamu makan lalapan doang, sayang?"
"Nggak dong, kan sama sambel."
"Dih mana kenyang?"
"Lagi diet. Jam segini jam-jam terlarang buat makan."
"Ck, sekarang bilang diet, besoknya makan juga."
"Ya laper dong kalau nggak makan?"
"Ya udah makan, nggak usah diet. Kan perut orang mana tahu..."
"Sayang!" Sofia melotot.
"Hehehe...."
***