
Pamela menggenggam erat telapak tangan Rion yang besar dan hangat. Astaga Pam baru tahu ada tangan sebesar ini. Meski kasar tapi terasa nyaman dan melindungi.
"Kita nggak perlu konfirmasi apa-apa, Bee." Gerutu Rion sambil menutup pintu kamar Pamela.
"Ini harus Bear, sekalian minta maaf, aku dah jahat banget ke Vio."
"Ayolah... Violin akan mengerti."
Rion masih mencoba melepaskan diri, saat Pam melotot galak, Rion baru nurut diseret menuruni anak tangga, menemui Violin yang lagi asyik main game sambil minum jus tomat.
Pam dan Rion langsung duduk didepan Vio dengan tangan masih terpaut erat.
Violin melirik sekilas lalu mencibir, "Pameeerrrr..."
"Vio, gue minta maaf..." Ucap Pam membuka pembicaraan.
Violin menghentikan permainan game nya, lalu menatap Pamela, kali ini mukanya serius.
"For what?" Jawab Vio.
"Gue udah jahat banget mengira kalian yang bukan-bukan."
"Memangnya lo pikir gue ngapain sama Om Rion?"
Pam melirik Rion sebelum menjawab pertanyaan Vio, "Gue takut kalian..." jawaban Pam gantung.
"Ah sudahlah, yang jelas lo sekarang tahu kan gue dan Bear, yah begitulah..."
Violin melipat tangannya di depan dada, "Iya gue tahu, jeritan lo menjawab semuanya. Cih... Bear." Violin mencibir, sumpah pingin muntah dengar nama panggilan sayang Pam untuk Rion. Kita lihat, apa panggilan sayang Rion untuk Pam.
Pam nyengir tak enak, "Sorry Vi, kelepasan. Gue janji setelah menikah nanti..."
"Menikah?!" Vio menjeda ucapan Pamela. Ia langsung menatap lurus ke mata Rion.
"Hmm..." Rion hanya bergumam tak jelas. Ia merinding mendengar kata 'menikah'. Bulu-bulu tubuhnya otomatis langsung meremang, wanita ini benar-benar deh, kekeuh banget.
Violin yang tahu betul bagaimana Rion jika dengan wanita-wanitanya diluar sana, merasa Pam ngomong halu kali ini.
"Apa yang Om rencankan sebenarnya?" Violin menuntut konfirmasi langsung dari si empunya. Ia langsung negatif thinking sepenuhnya.
"Ada yang salah?" Rion mengangkat bahu.
"Jawab aja! Kenapa Pamela? Om tahu kan dia sahabatku?" Vio agak nge gas. Ia nggak akan rela Pam dijadikan selingan semata.
Rion sempurna di mata Vio, ia laki-laki sejati dengan segala kelebihannya, satu yang Vio tak suka, tentang bagaimana Rion senang 'jajan' diluaran sana daripada berkomitmen dengan satu wanita.
Rion tidak punya pacar, tapi wanitanya banyak.
Meski tidak sembarang wanita, harus dengan seleksi ketat bak daftar CPNS. Tetap saja sebagai wanita, Vio tidak suka.
"Maksudnya apa Vio? Kita saling mencintai? Apa maksudnya selingan?" Pamela mulai nggak paham arah pembicaraan ini.
Violin memijat pangakal hidungnya.
"Om Rion ini..." Violin menjeda ucapannya. Ia merasa ini bukan lagi ranahnya, ikut campur urusan orang. Pada dasarnya akan susah ngomong sama orang yang sedang dimabuk asmara.
"Ah, sudahlah..." Vio mengibaskan tangan sambil ngeloyor pergi membawa serta jus tomatnya yang masih separuh lebih.
Salah-salah ngomong hubungan diantara mereka bisa runyam. Mending nyari aman deh, masuk kamar lanjutin main game.
Pam menatap Rion intens. Muka Rion tetap lempeng.
"Apa aku cuma selingan, Bear?" tanya Pam, ia jadi kekompor ucapan Violin kan?
"Apa aku terlihat main-main denganmu?"
"Apa ini jawaban kenapa kamu berat nikahin aku?"
Drama apa lagi ini? Rion mengutuk dalam hati. Seharusnya ia siap ribet jika sudah yakin mengejar satu wanita saja.
Selama ini wanita yang selalu melayaninya, sekarang ia harus tunduk dihadapan wanita.
Yang membuat Rion heran dengan dirinya sendiri adalah kenapa seolah ia rela melakukan apa saja asal wanita ini tetap disampingnya.
Termasuk susah payah memberikan alasan diluar logikanya. Yang ini Rion kesulitan merangkai kata-kata. Pada dasarnya ia suka bertindak tanpa banyak kata.
Jadi ia putuskan kali ini mencontek ilmu bos-nya, Atmanegara jika sedang merayu almarhum istrinya dulu.
Ia berlutut dihadapan Pam, diraihnya kedua tangan Pam dan menggenggamnya. Rion menatap lurus ke dalam mata Pamela.
"Kamu percaya aku, kan?" Bisik Rion lirih, wajahnya sudah serius seperti saat menghadiri rapat dewan komisaris.
Pamela terdiam, ia mencari kebohongan di mata Rion. Tapi nihil. Entah mengapa hatinya langsung luluh seketika.
"Aku... Entahlah..." Pam menunduk. "Aku tahu aku bukan wanita baik-baik, aku tak masalah jika pun masa lalumu kurang baik. Bukankah wanita baik hanya untuk lelaki baik?" lirih Pam sendu.
"Apa kamu akan sakit jika mendengar cerita tentangku?" Pancing Rion. Ia merasa jika Pam tahu tabiatnya, wanita ini akan menjauh darinya.
Pam memiringkan kepalanya, "Sebaliknya, apakah kamu akan meninggalkanku jika tahu kenapa si breng sek Panji menyebutku ja lang?"
Rion tersenyum manis, senyum yang mungkin baru Pam sendiri yang melihatnya. Rion tahu semua tentang Pam, siapa dirinya, bagaimana orang tuanya. Latar belakang pendidikannya, kehidupannya sebelum ini, semuanya.
"Bukankah kita ini impas? Kita sama-sama buruk, apa lagi yang mau diungkit?" Rion mengeratkan genggaman tangannya.
"Bisakah mulai sekarang kita belajar menjadi lebih baik bersama-sama? Kita tidak harus lebih baik dari orang lain, yang penting kita belajar lebih baik dari diri kita yang kemarin." Rion kaget sendiri mendengar kata-katanya.
Berguna juga ternyata saat dia menjadi nyamuknya Pak Atma dalam segala situasi, termasuk saat merayu Bu Rani pas lagi ngambek.
Pam berkaca-kaca, ia mengangguk-anggukan kepalanya cepat-cepat.
"Bear, apa barusan kamu melamarku?"
Rion terdiam, ia mencerna kata-katanya tadi. Sepertinya tidak ada kata melamar atau Merry me, atau sejenisnya. Kenapa Pam bisa mendefinisikan ini lamaran?
Serumit ini kah wanita?
Duh, Rion pusing.
"Emm... untuk menikah, bisa kasih aku waktu sedikit lagi? Bee, bukan aku nggak yakin atau hanya main-main denganmu, tapi..."
Pam menempelkan telunjuknya dibibir Rion.
"It's OKE, aku akan tunggu." Pam tak ingin memberikan beban untuk pria ini. Biarlah ini mengalir seperti air.
Pam tahu Rion masih mencari jawaban tantang apa itu pernikahan. Biarlah nanti Rion sendiri yang dengan suka rela datang padanya tanpa paksaan.
Sedikit lagi, Rion pasti paham. Ia akan sabar menunggu saat itu tiba.
Pam meraih kepala Rion lalu menempelkan bibirnya ke bibir hangat milik Rion. Kali ini mereka berciuman dengan lembut, saling menyesap tanpa nafsu. Yang ada hanya rasa sayang yang semakin membuncah.
"HELOOO... PRINCESS SOFIA COME BACK HOME..."
Teriakan Sofia menggema didalam rumah Violin. Dari depan ia sudah berlari pecicilan tak sabar bertemu sahabat-sahabatnya.
Tapi pemandangan didepannya menghentikan langkah kakinya.
Ia salah tingkah sendiri.
***