Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Please, Be My...



Rion menepikan mobilnya di bahu jalan. Tempat ini cukup sepi meski ada di sebelah taman kota yang luas.


Jelas lah siang bolong begini orang-orang masih sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Jika ada yang nongkrong santuy ditaman, mungkin mereka pengangguran, crazy rich yang lagi gabut atau para jobseeker yang sudah mulai putus asa.


Atau mungkin orang-orang seperti dirinya.


Rion turun dari mobil, sebentar ia sibuk menelpon seseorang. Pam nggak begitu paham apa yang mereka bicarakan.


Pam memilih memejamkan mata. Pusing dengan semua ini.


Ia senang Rion datang di saat yang tepat dan cukup terharu ternyata Rion diam-diam berusaha mencarinya.


Atau mungkin ada GPS yang dipasang di tasnya? Ah tapi tas Pam banyak dan ia suka gonta-ganti.


Mungkin di mobilnya?


Lalu kalau iya, kenapa nggak dari semalam Rion nyamperin ke hotel? Kenapa baru siang ini?


Lalu tentang si breng sek Panji...


Huuff...


Ternyata hanya dengan bercerai tak menjadikan Panji berhenti mengganggunya.


Cih, siapa lagi yang bakal di ganggu kalau bukan Pam?


Panji cukup pintar dengan tak mau berurusan dengan anteknya Atmanegara.


Dulu atas persetujuan Merry perkara Panji nggak jadi naik ke pengadilan. Alasan Merry adalah ia bakal malu kalau perkara ini sampai di perpanjang.


Pam masih oke karena saat itu yang dirugikan adalah Merry. Ia hanya menggugat cerai Panji dan gugatanya sedang diurus pengadilan. Seharusnya masih seminggu lagi ia bertemu Panji saat jadwal mediasi.


Ia tidak takut dengan Panji, tapi Pam paling nggak bisa mentalnya di usik. Susah payah ia mencoba bangkit dari masa lalu kelamnya. Membangun kembali kepercayaan dirinya yang pernah hancur di titik terendah hidupnya.


Pam memejamkan matanya lagi. Pikirannya kini campur aduk. Pam tahu Rion sudah kembali duduk disampingnya dan kini sedang menatapnya.


"Sekarang kamu tahu kalau aku mantan ja lang, kan?" Ucap Pam masih dengan mata terpejam. Ia takut melihat reaksi Rion.


Meski tadi saat sebelum menghajar Panji Rion bilang akan menerima Pam, tapi bisa jadi itu sengaja di ucapkan Rion agar Panji tak terus menerus mengganggu Pam.


Pam belum siap.


"Maaf..." Rion berujar lirih.


Hati Pam mencelos. Ia memalingkan muka menghadap jendela mobil. Di gigitannya bibir bawah kuat-kuat.


"Maaf kalau aku terlambat menemukanmu." Rion menepuk jidatnya. Kata-kata darimana coba ini? kenapa lancang sekali keluar begitu saja dari mulutnya.


Pam menoleh, ia menatap Rion dengan pandangan bertanya.


"Umm, maksudkuuu... anu... kamu mau jadi jal angku selamanya?" Sialan, ia salah ngomong.


Apa maksud pria ini? Alih-alih menawarkan hatinya, ia malah pingin menjadikan Pam ja langnya selamanya? Maksudnya sugar baby, gitu?


Pam masih menunggu kata-kata Rion selanjutnya. Ia terlalu takut menerka-nerka.


"Sorry, Pam. Aku nggak pandai mengungkapkan perasaan. Yang aku tahu aku mulai bingung kalau kamu marah, aku gelisah saat kita nggak ketemu, aku juga nggak bisa lihat kamu disakiti. Aku nggak bisa dengan wanita selain kamu..."


Pam masih menunggu Rion ngomong. Ia begitu menikmati raut wajah tampan yang kini kebingungan itu. Kok jadi tambah ganteng, sih?


Pam tahu Rion kesulitan menyusun kata-kata, tapi ia akan diam sedikit lagi. Ia ingin menikmati ekspresi Rion yang mungkin cuma Pam yang baru melihatnya hari ini.


Rion yang dingin, judes dan terlihat arogan ternyata semanis ini. Ya Tuhan... pingin peluuukkk!


"Please be my Bee..." ucap Rion akhirnya. Ia sudah kehabisan kata-kata. Keringat mulai muncul di pelipisnya, padahal AC mobil stay on dari tadi.


Pamela menghambur ke pelukan Rion. Ia menangis dalam diam di dada bidang pria ini.


Nyaman sekali...


Pam merasa beban berat terangkat dari dadanya. Kepalanya mendadak nggak jadi pusing. Ia merasa aman dalam dekapan Rion.


Rion bernafas lega, ia seperti sudah melunasi pe er nya. Mengerjakan apa yang seharusnya di lakukan dari dulu.


Yang membuat sama adalah sama-sama lega. Pelukan Pam membuat bebannya terangkat. Pelukan wanita lain membuat sp3rm4nya muncrat. Ups!


"Thanks bear and yes I will be..." Isak Pamela lirih.


Rion mengusap rambut Pamela, kali ini dengan penuh perasaan.


"Lanjut ke hotel yuk." Bisik Rion di telinga Pam.


Refleks Pam melepaskan pelukannya lalu melotot dan memukul dada Rion kuat-kuat.


"Dasar piip piippp, pip piiipp piiipppp $(@($;;)✓\=€{|>@6!?$_-//#..."


Sumpah serapah meluncur lancar dari mulut Pam, Rion hanya terkekeh geli sambil menghidar dari pukulan dan cubitan Pamela.


***


Atmanegara melangkah masuk kedalam restoran dengan gaya arogannya. Kedua tangannya ia simpan ke dalam saku celana.


Dari pintu masuk ia langsung bisa melihat siluet Antonio, sedang asyik menggigit lalapan. Atmanegara langsung tahu yang baru saja masuk mulut Antoni adalah timun.


Hadeeeehh...


Dasar londho satu ini, tiada hari tanpa makan nasi uduk dan printilannya. Sejak Antonio mengenal menu ini, sejak saat itulah nasi uduk menjadi makanan favoritnya.


Antonio melambaikan tangannya saat melihat Atmanegara dari kejauhan.


"Hai bro..." Sapa Antonio saat Atmanegara sampai di mejanya.


Seperti biasa, si bapak kita hanya menanggapi dengan geraman kecil.


"Apa ini?" Atmanegara mengrenyit menatap makanan yang dipesankan Antonio untuknya.


"Nasi uduk, broo... Yang di restoran ini paling enak."


"Restoran semewah ini masih aja nasi uduk yang di pesan. Kamu mulai miskin?" ucapan sadis Atmanegara membuat seorang waiters yang kebetulan lewat menoleh.


Antonio mengangguk tak enak, membalas tatapan pelayan itu. Benar-benar mulut Atmanegara nggak punya filter sama sekali.


Atmanegara mana peduli.


"Kolesterolku bisa naik kalau setiap ketemu kamu kasih nasi uduk." Cibir Atmanegara lagi.


"Hahaha... yang ini beda. Coba lah!"


"Dimana-mana nasi uduk sama, dimasaknya pakai santan." Atmanegara sama sekali tidak tertarik mencicipi nasi uduk di depannya ini.


Lagian menurutnya, nasi uduk yang di tenda pinggir jalan lebih enak.


Alih-alih makan, ia malah menyulut rokoknya.


"Apa kabar tanaman murbei-mu?" Atmanegara mengepulkan asap rokoknya.


"Yang di Cina-India masih di upayakan petani, kalau kali ini masih gagal mungkin sementara pakai kokon dari Gunung Kidul yang daun singkong."


"Ck, meski terlihat sama tapi yang makan murbei seratnya lebih halus, lebih bagus. Kamu usahakan dooongg..."


"Hmm, ini sedang di usahakan bro. Kita mana bisa melawan alam?"


"Kalau alam nggak bisa di lawan, ya kamu bikin yang buatan. Pengusaha kok nggak inovatif." Nyinyiran khas Atmanegara.


"Hmm, sudahlah urusan kain sutra biar jadi urusanku. Yang penting pasokan ke Barbara sejauh ini masih aman, kan?" Antonio mulai jengah.


Sekali Barbara kelimpungan karena pasokan sutranya tak terpenuhi, sampai mati Atmanegara akan mengungkit hal ini.


"Bagaimana kabar Sofia?" Antonio me-lap mulutnya dengan serbet. Ia kini fokus menatap Atmanegara.


"Kamu kan bapaknya, kok malah nanya?"


"Ayolah, broo..."


Atmanegara melirik sekilas, lalu menghisap lagi ujung rokoknya, kali ini lebih dalam.


***