Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Ketahuan



Sofia salah tingkah. Sialan si Pam, sosor-sosoran live didepannya banget. Jiwa jandanya meronta-ronta.


"Anuuu, lanjutin... gue balik deh." Sofia hendak balik keluar lagi saat Rion menahannya.


"Tunggu Fia!"


Sofia menoleh lagi.


Rion meraih pinggang Pam, ia mengecup bibirnya sekilas lalu pamitan. "Aku pulang."


Ga ada akhlak, sumpah! Umpat Sofia dalam hati.


Pam mengangguk manis sambil dadah-dadah, lalu Rion berlalu keluar melewati Sofia tanpa basa-basi sama sekali.


"Jijik gue lihat muke lu!" jerit Sofia langsung didepan wajah Pam yang lenjeh banget menurutnya.


Pam tak bergeming, dia tetep mesem-mesem bahagia.


Anjay nggak tuh?


"Percuma ngomong sama dia, sini lo." Violin melambaikan tangannya menyuruh Sofia mendekat.


"Yang tadi beneran, Vi?" Tanya Sofia sambil mengulurkan bungkusan plastik ke Violin.


Violin mengedikkan bahunya cuek. Ia lebih tertarik dengan bungkusan plastik yang dibawa Sofia.


Isinya tentu saja Pecel. Violin sempet nitip pas tahu Sofia otw jalan kesini.


Wajah Violin berbinar-binar menatap pecel khas Madiun itu. Ia pindahkan pecel kedalam piring dengan hati-hati.


Tunggu...


Satu, dua, tiga, empat...


Violin menghitung jumlah bungkusan pecel yang dibawa Sofia.


"Yang satu punya siapa nih?" Selidik Violin.


Sofia menoleh, "Eh, itu buat Jeffry." Jawabnya sambil meneguk air putih.


Krik... kriiiikk...


Mereka terdiam. Pam menatap Sofia penuh curiga.


"Elu nggak lagi ada main sama tu bocah, kan?" Cecar Pamela. Entahlah, ia kurang sreg dengan Jeffry. Anak bau kencur itu terlalu bocil menurut Pam.


"Main bola kaliii..." tambah Vio sambil menyuapkan sesendok kenikmatan kedalam mulutnya.


Sofia duduk, lalu mesem-mesem sendiri.


"Sejauh ini sih kita berteman, nggak tau nanti..." Jawab Sofia ambigu.


"Ck..." Pam berdecak, ia tahu banget ujungnya nanti bakal gimana. Muka Sofia sudah menjawab semuanya.


"Lagian kenapa sih? Elo juga sama Om Rion kan? Gue fine fine aja." Kilah Sofia, ia tahu Pam tidak terlalu suka Jeffry.


"Rion itu beda, Fia!"


"Jeffry juga beda, lo belum kenal aja."


"Dih, jangan dibandingkan dong, kejauhan!"


"Elo kan yang bilang beda."


"Dih, batu deh!"


"Biarin!"


"STOP!" Jerit Violin, pecelnya masuk ke mulut Pam dan Sofia bergantian.


"Diem, gue pusing. Sekarang makan!" Ucap Vio galak. Pam dan Sofia langsung sibuk dengan pecelnya masing-masing.


***


Apakah siang ini hari terlalu indah? Matahari terasa sejuk dihati Sofia, ia melangkah ceria menuju rumah Jeffry.


Hatinya terasa ringan, seolah beban berat yang selama ini menghimpitnya sudah hilang.


Daniel sudah tidak ada lagi dihidupnya. Fia sudah menganggapnya mati.


Fia juga sudah berkumpul kembali dengan keluarganya. Dikelilingi sahabat-sahabat yang mendukungnya, menguatkannya, menyayanginya, betapa beruntung hidupnya.


Kali ini dia hanya ingin bahagia, itu saja.


Semalam Jeffry bilang jika hari ini dia off kerja. Semalaman anak itu ikut ronda sampai pagi.


Barusan Sofi kirim pesan cuma ceklist. Kemungkinan Jeffry masih tidur.


Jadi waktu Violin nitip pecel, Fia ingat Jeffry. Mungkin saja anak itu belum makan karena ketiduran.


Dasar laki-laki, kalau sudah tidur pasti lupa makan.


Sofia merapikan rambutnya saat sampai di depan pintu rumah Jeffry.


Tangannya terulur untuk mengetuk pintu.


Tok... tok... tookk...


Hening.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan didalam rumah.


Kemana anak ini? Ceroboh sekali meninggalkan rumah sembarangan.


"Jeffry..." Panggil Sofia sambil melangkah masuk kedalam rumah.


Tidak ada sahutan.


Tapi kran air kamar mandi menyala. Sofia lega, kemungkinan Jeffry sedang mandi. Jadi ia putuskan duduk tenang dikursi makan yang kebetulan dekat dengan pintu kamar mandi.


Karena rumah Jeffry kecil, jadi semua serasa dekat. Meja makan dekat kamar mandi pun tidak masalah.


Agak lama juga Jeffry mandi, Sofia sampai ngantuk nungguin. Apa saja sih yang dikasih sabun sampai lama banget gini, gerutu Sofia dalam hati.


Ia putuskan mengambil piring dan menyiapkan makanan untuk Jeffry. Nanti begitu Jeffry selesai mandi bisa langsung makan, begitu pikir Sofia.


Tepat saat ia membuka bungkus pecel, suara erangan Jeffry jelas terdengar di telinga Sofia.


"Sofiaaaaa... aaarrrggghhh...."


Jantung Sofia berpacu dalam melodi nada-nada indah lengkingan suara Jeffry. Mukanya memerah, ia tersipu malu.


Ya ampun, apa sih yang Jeffry lakukan didalam sana. Pingin masuk deh. Eh...


Sebentar kemudian terdengar kran air dimatikan. Jeffry keluar dengan hanya memakai boxer dan handuk di lehernya.


Rambutnya basah, masih ada sisa air yang menetes di ujung-ujung rambut, mengalir turun di badan Jeffry.


Sepertinya Jeffry belum sadar kehadiran Sofia di rumahnya, wanita itu sedang asyik mengamati pemandangan indah didepannya.


Jeffry bersiul kecil, ia mengucek rambutnya dengan handuk sambil berjalan santai mengambil air minum, saat itu matanya melotot melihat Sofia duduk manis disana.


Diatas kursi plastik nan sederhana.


Bidadari itu disana.


Ia mengucek matanya. Astaga, baru saja ia membayangkan wanita ini, kenapa sudah ada di sini? Ini nyata kan? Atau hanya dirinya yang halu?


Sofia tersenyum manis, wanita itu menyibakkan rambutnya yang terurai indah.


Sekali lagi Jeffry mengucek matanya. Sofia masih disana, ini nyata. Refleks Jeffry menutupi tubuhnya pake handuk.


Malunyaaa...


Perlahan Jeffry melangkah untuk mengambil air minum, ia salah tingkah.


"Tante? Bagaimana bisa?" Tanyanya mencoba santai. Tapi tetap saja Jeffry panik. Bagaimana kalau tadi Sofia mendengarnya saat di kamar mandi. Duuhh, mati gue! Sesal Jeffry.


"Kamu ceroboh Jeff, pintunya nggak dikunci. Gimana kalau maling yang masuk?"


Jeffry duduk dikursi bersebrangan dengan Sofia, agak jauh dikit biar nggak khilaf.


"Lupa Tan." Cengirnya garing. "Untungnya yang masuk bidadari, kan? Hehehe..." canda Jeffry mencoba mencairkan suasana.


Sofia tersipu. Kenapa dipuji Jeffry rasanya berbeda? Ribuan kupu-kupu langsung memenuhi perutnya.


Sofia menyodorkan piring kedepan Jeffry.


"Makanlah, kamu belum makan, kan?"


"Kok Tante tahu sih?" Jeffry meraih piring itu dan menambahkan nasi diatasnya.


Apalah daya, ia hanya punya nasi. Niatnya setelah bangun tidur, mandi lalu nyeplok telor buat makan. Eh, ada yang ngasih pecel. Dasar rejeki mah kagak kemane.


Jeffry makan dengan lahap.


Sofia mengedarkan pandangannya, "Rumah kamu nyaman Jeff." Pujinya. Untuk ukuran bujang sendirian yang tinggal, rumah ini kelewat bersih.


Belum tau aja Fia, Jeffry kan selalu kena sidak tiba-tiba.


"Rumahku kecil, Tan." Sahut Jeffry merendah. Ia ingat rumah Sofia yang sebelas duabelas dengan rumah bapaknya. Jauh banget kalau dibanding dengan rumah ini.


"Untuk ukuran sebuah rumah, tidak perlu besar. Kalau kecil bisa membuat nyaman, kenapa tidak? Tidak melulu kemewahan membuat orang bahagia loh."


"Itu quote orang yang sudah kaya. Kalau seperti aku ini..." Jeffry menggigit peyeknya.


"Hmm, kenapa kamu tidak tinggal saja dengan Om Hendra?"


Sofia lumayan kepo dengan alasan Jeffry yang memilih tetap tinggal sendirian.


"Tinggal bersama atau tidak, suatu saat aku juga harus mandiri kan?"


Sofia manggut-manggut.


"Habis ini aku mau ke Sentul, Tante mau ikut?" Tawar Jeffry sekalian mengalihkan pembicaraan soal pilihan hidupnya. Ia malas membahas Mahendra.


"Bolehkah?" Tanya Sofia antusias.


"Sebentar aku ganti baju ya." Jeffry meneguk air putihnya lalu beranjak ke wastafel, cuci tangan sekalian mencuci piring dan gelas kotor habis pakai tadi.


Sofia terkesima, fiks no debat, Jeffry termasuk spesies laki-laki langka. Otomatis kegantengan Jeffry naik seribu persen.


"Oiya Jeff..." Tiba-tiba Sofia ingat sesuatu. "Tadi pas nungguin kamu mandi, sepertinya kamu menyebut namaku, apa kamu..."


Jeffry kelimpungan, buru-buru ia memotong pertanyaan Sofia.


"Anuu, Tan.. aku pake baju dulu ya. Tunggu sebentar."


Jeffry langsung lari ke kamarnya.


***