Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Sejengkal tanah



Sejengkal tanah yang ku genggam


Ini bukan tentang kehidupan


Ini tentang akhir dari sebuah perjalanan


Mengapa harus ada kematian, Tuhan?


Atau inikah pertanda Engkau ada?


Masih jelas bagaimana kita bersama


Senyum, canda dan tawa


Dan berakhir di sebuah gundukan


Aku ingin marah


Tapi pada siapa?


Aku ingin mengadu


Namun tak ada yang mampu


Sungguh, Engkau telah menciptakan kehendak yang begitu nyata


Bahkan aku saja tak mampu menghindarinya


(Sejengkal Tanah. By Jenk Kelin)


Violin menatap nanar gundukan tanah basah didepannya. Ia bersimpuh di pusara sang Mama.


Hari ini, tidak pernah ia sesedih dan semerana hari ini. Tubuh dan pikirannya terasa mengambang.


Benarkah di dalam tanah sana terpendam jasad kaku Maharani?


Ingin sekali ia memaksa Mamanya bangun, membuka mata dan menggenggam erat tangannya.


Meski sedikit sekali kenangan yang terukir bersama sang Mama yang terekam di hati Violin. Namun perasaan sedih ini sulit sekali dibendung.


Mengapa rasanya sesakit ini ditinggalkan seorang ibu? Melebihi sakit saat Dion menceraikannya. Ini sungguh perasaan yang berbeda.


Ujung matanya berkedut karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Disamping Vio terlihat Dion berjongkok dengan bertumpu pada satu lututnya.


Bahkan Vio tidak sadar akan keberadaan mantan suaminya itu.


Tepat dibelakangnya, Pam dan Sofia, Juno dan Merry juga Robert masih setia menunggunya.


Juga Atmanegara, di dampingi Mahendra dan Rion, berdiri dengan menyimpan tangan disaku celana hitam panjangnya.


Sedang pelayat lain sudah pamit undur diri.


Mahendra menepuk pundak sahabatnya itu. Atmanegara hanya menunduk menatap ujung sepatunya.


Mahendra tahu yang paling terpukul disini adalah Atmanegara. Pria ini hanya terlihat luwes menyimpan lukanya.


Bagaimanapun Mahendra adalah saksi cinta sucinya Maharani dan Atmanegara. Saksi bagaimana bucinnya mereka berdua.


Perlahan Mahendra membimbing Atmanegara meninggalkan pemakaman. Diikuti Rion kemudian menyusul yang lainnya.


Tinggal Vio dan Dion yang masih saja terpekur menelaah apa yang sedang terjadi saat ini. Mencoba meyakinkan bahwa ini bukan hanya mimpi.


Dion memeluk pundak Vio perlahan saat gerimis mulai datang. Lihatlah, seolah semesta ikut mengiringi kepergian Maharani.


Violin mendongak menatap Dion dari balik kaca mata hitamnya. Meski begitu Dion tahu mata Vio bengkak seperti hidungnya yang sudah berwarna merah semerah tomat.


Lagi-lagi Violin menangis di dalam dekapan Dion. Kali ini lebih keras. Ia meraung sambil sesekali memukul punggung Dion. Meluapkan semua kesedihannya dibahu Dion.


"Menangislah, setelah itu ikhlaskan." Bisik Dion lirih. Suaranya hampir hilang ditelan gemricik air hujan. Ia membelai kepala Violin.


Dion membimbing Violin menjauh dari makam. Vio bisa masuk angin jika terlalu lama diguyur hujan.


Dion masih diam, dia menunggu Violin puas melihat pusara ibunya dari jauh. Lalu hari mulai gelap, perlahan Dion mengemudikan mobilnya menjauh dari TPU.


****


Rob termenung di bathtub nya, ia sengaja berendam lebih lama. Ia mendongakkan kepalanya sambil memejamkan mata menikmati alunan musik yang sengaja ia stell pelan dan mendayu mengikuti suasana hatinya saat ini.


Sedih, kecewa, terpukul, berbaur menjadi satu. Entahlah, ia bingung mendeskripsikan perasaannya saat ini.


Apa yang baru saja terjadi sebenarnya? Ia tidak pernah se down ini saat pasiennya meninggal. Itu hal yang wajar, ia bukan Tuhan.


Tapi tiba-tiba saat Bu Maharani meregang nyawanya, disaat itu Rob merasa seperti seorang dokter yang tidak berguna. Seolah deretan prestasi yang diraihnya sia-sia.


Apa karena Bu Maharani adalah ibu dari wanita yang disukainya?


Tidak, bukan! Rob menyangkalnya dalam hati.


Maharani termasuk belum lama menjadi pasiennya. Wanita itu selalu ceria, seolah tak merasakan sakit yang berarti. Senang sekali menceritakan anak perempuan yang cantik.


Bahkan disaat terakhir, keinginannya hanya ingin melihat Violin.


Masih jelas di ingatan Rob, saat Vio masuk kedalam kamar ibunya dengan panik, nyawa Maharani sudah di tenggorokan. Saat itu Rob yang seharusnya sudah mengangkat tangannya pasrah, namun ia masih berusaha mengupayakan yang terbaik. Berharap keajaiban itu datang.


Vio langsung memeluk ibunya erat. Dengan berurai air mata, ia minta maaf atas segala salah yang di buatnya. Maharani masih bisa mengangguk lemah meski susah payah. Lalu ia tersenyum menggenggam tangan Violin dan Atmanegara. Dan menutup mata untuk selamanya, diiringi lafadz yang Atmanegara bisikan di telinga istrinya.


Ya Tuhan...


Rob mengguyur kepalanya dengan air shower. Lalu bayangan seorang lelaki tinggi tegap dan tampan berdiri mendampingi Violin mengganggu pikirannya.


Ya, dia adalah Dion Mahendra. Mantan suami Violin.


Paras Dion yang rupawan, pembawaannya yang tenang dan berwibawa.


Mengapa mereka terlihat amat sangat serasi. Seolah semua di diri mereka sangatlah pas jika disandingkan.


Rob tambah insecure. Perlahan ia membenamkan kepalanya kedalam bathtub.


*****


Juno membuka kemeja hitamnya lalu melemparnya asal ke atas ranjang. Menampilkan otot perut dan dadanya yang terbentuk sempurna. Ia menghampiri Lina yang terpekur di depan meja rias. Wajah Lina terlihat sedih.


Sejak pulang dari pemakaman ia hanya diam. Lina yang biasanya nggak berhenti ngoceh, kini hanya terpekur menetap pantulan wajannya di cermin meja rias. Pandangan matanya menerawang.


Juno memeluk wanita itu dari belakang.


"Hei, masih ada hari esok, sayang. Jangan bersedih." Bisik Juno lembut. Ia mengecup pelipis Lina.


Lina melirik Juno lewat kaca, "Maksute opo Mas? Ibunya Mbak Vio bisa hidup lagi besok?" tanyanya polos.


Juno meringis menahan gemas, "Pernikahan kita."


"Owh, aku kan nggak mikirin itu. Aku kasihan sama mbak Vio." Mata Lina bergerak-gerak jenaka. Katanya kasihan tapi bikin gemes banget mimik mukanya.


"Bisa nggak jangan menggoda gitu?" Juno mencubit pipi Lina.


"Aku nggak menggoda lho Mas." Lina protes.


"Sudahlah, mandi yuk." Juno meloloskan blouse Lina ke atas melewati kepala.


"Mas!" Refleks Lina menutupi dadanya dengan tangan. Matanya melotot, membuat Juno terkekeh.


"Ngapain ditutupin? Sudah ku tengok semua sampai kedalam-dalam." Goda Juno. Muka Lina memerah. Ia nampak kikuk.


Juno melepaskan celana panjangnya asal, lalu menggendong Lina masuk ke kamar mandi.


Terdengar pekikan Lina dan suaranya yang cempreng ngomel-ngomel nggak jelas. Lalu sebentar kemudian hening, hanya tersisa suara cecapan dan d3sah4n mengalahkan bunyi gemericik suara air shower yang jatuh ke lantai.


****