
Jam sepuluh pagi dan Pam masih saja memeluk selimutnya.
Semalam dia sengaja nggak pulang ke rumah Violin. Dari restoran langsung check in di hotel terdekat. Ponselnya ia matikan.
Meski setelah ini ia harus siap mendengarkan ceramah Sofia yang panjang dan lebar, atau Violin yang bakal ngambek berhari-hari.
Biarlah. Untuk saat ini ia hanya ingin sendiri.
Pikirannya kacau. Alih-alih marah ia malah menangis sejadi-jadinya.
Apa ini? Kenapa dadanya sakit sekali?
Rasanya berbeda dengan saat Panji menghianatinya. Saat itu Pam hanya ingin marah, teriak, mencakar-cakar muka bang sat satu itu. Sampai tak sempat meneteskan air mata yang ia anggap berharga ini.
Tapi disakiti Rion...
Ia malah lemah gini.
Air mata Pam kembali meleleh. Dibenamkan mukanya ke bantal.
Ia lelah sekali dan kepalanya pusing efek kebanyakan nangis. Tapi tetap saja jika teringat Rion matanya kembali basah.
Salahkan ia begini? Sekuat-kuat dirinya, toh ia juga hanya seorang wanita.
Setengah jam kemudian ia masih saja plonga plongo di atas ranjang.
Dihirupnya nafas dalam-dalam lalu beranjak meraih rokok dan berjalan menuju balkon.
Dibukanya pintu balkon lebar-lebar.
Hari ini cerah, seharusnya ia sedang berjemur menikmati matahari di pinggir pantai yang indah. Bukannya terdampar di kamar hotel ini. Meratapi nasib percintaannya yang malang.
Pam mematik Zippo, menyulut ujung rokok dan mengisapnya. Pandangannya menerawang jauh. Sesekali dibuangnya nafas kasar.
Lalu bunyi gaduh di pintu membuyarkan lamunannya.
Ia memicingkan mata waspada.
Seorang pegawai hotel wanita masuk sampai batas pintu.
Ada apa ini? Mengapa seenaknya mereka masuk saat Pam masih di dalam? Bagaimana kebijakan hotel ini sebenarnya. Pam hampir naik pitam. Tapi ia tetap diam dan menunggu.
"Silahkan, Pak."
Ia menunduk hormat kepada seseorang yang ada di luar kamar, lalu pamit undur diri.
Perlahan Pam mendekati ujung ranjangnya lalu duduk santai sambil menghirup rokok.
Ia cukup penasaran, ba jing an mana lagi ini? Nyari perkara aja, beraninya nyuruh buka kamar sembarangan.
Sepertinya orang yang cukup berpengaruh. Terlihat dari cara pegawai hotel tadi menunduk dalam-dalam.
Atau mungkin Rion?
Pam deg degan. Ia tak ingin berharap tapi juga nggak munafik. Hatinya ingin Rion mencarinya. Ingin Rion mengejarnya, ingin Rion menemukannya di sini. Please Rion...
"Hi honey... long time no see."
Laki-laki itu menyeringai dan Pam menegang di ujung ranjang.
***
Rion memperhatikan GPS di ponselnya. Dari semalam titik biru bergambar wajah Pamela tetap pada posisinya, masih stay di King Hotel.
Hotel yang tak begitu jauh dari restoran jepang semalam yang ia datangi bersama Pamela.
Mungkin Pam memilih random hotel ini. Asal masuk yang penting dekat.
Ia menghela nafas. Kali ini ia ingin mencoba. Jika sedikit negosiasi tidak Pam terima, mungkin sedikit komitmen akan coba ia tawarkan. Ia merasa harus melakukan ini demi tetap menjaga kewarasannya.
Sedikiiiitt saja.
Hufff...
Tidak pernah ada dalam daftar hidup Rion tentang komitmen.
Apa itu?
Dia bukan pria bodoh yang mau di perbudak cinta.
Tapi saat ini ia sepertinya kena karma. Hari ini ia mengemis di hadapan cinta.
Rion tersenyum getir.
Sialaaaannn...
Berkali-kali ia mengumpat sumpah serapah. Berkali-kali pula ia memukul kepalanya, berharap segera sadar dari mimpi buruk ini.
Tapi bayangan Pamela semakin kuat. Pamela yang menari indah tanpa busana terpatri jelas di otaknya.
"Ganggu banget sih!" Umpat Rion. Sekali lagi ia mengecek GPSnya.
"King Hotel..." Gumamnya.
Tunggu.
Dan
Ya Tuhan...
Pikiran buruk berkelebat di benaknya. Sekuat tenaga Rion memacu kuda besi menuju King Hotel.
***
"Hi honey... long time no see."
Sejenak Pam terpaku menatap Panji lalu terkekeh kecil. Ia masih saja asyik menikmati rokoknya.
"Wow, coba lihat siapa yang datang? Aku terkejut." Ucap Pam dengan mimik muka datar. Blak-blakan ia menyindir Panji.
Panji berjalan perlahan mendekati Pamela.
"Stop. Berdiri disitu! Aku alergi dekat-dekat penghianat."
Panji berhenti, dia menuruti kata-kata Pamela. Ekspresi wajahnya sulit di gambarkan. Kelihatannya selama tak bersama Pam, dia cukup tersiksa.
Entahlah, Pam kurang yakin mengingat Panji tergolong cukup manipulatif.
Yang pasti muka itu masih membuat Pam jijik sampai detik ini.
"Sudah cukup kamu menyiksaku. Tolong kembali."
Sepersekian detik Pamela terdiam, lalu detik berikutnya dia tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Geli sekali mendengar penuturan Panji.
Padahal jelas-jelas surat dari pengadilan agama sudah Pam layangkan ke muka laki-laki tak tahu diri ini.
Masih berani-beraninya dia meminta Pam kembali.
"Sampai mati aku nggak akan sudi! Pergi dan jangan temui aku!"
"Aku janji akan berubah, lagian aku sudah tak menginginkan Lina lagi."
"Bukan kamu tak menginginkan Lina, tapi Lina yang sekarang nggak mungkin kamu ganggu lagi. Cih, sadar diri juga kamu nggak bakal menang lawan Om Atma."
Kuping Panji berdenging mendengar nama keramat itu. Dengan mudahnya Pam membaca pikirannya.
"Sudahlah, aku hanya ingin membuka lembaran baru lagi denganmu. Ayo pulang..."
"Jangan terlalu percaya diri, sudah ku bilang, sampai mati aku nggak akan sudi ikut kamu lagi."
Pam mengepulkan asap rokok hisapan terakhirnya.
"Lagian begitu banyak yang baru kenapa aku harus memungut sampah." Sambil bergumam Pamela mencari tasnya.
Ia sudah muak dengan drama ini.
Waktu santainya terganggu dengan kedatangan Panji. unfaedah banget.
Ia hampir melewati Panji saat pria itu dengan sengaja mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Pamela.
"Dulu saat aku menemukanmu, kamu juga hanya seonggok barang bekas..."
Plaakkk...
Refleks Pam berbalik dan menampar pipi Panji sekuat tenaga.
Nafasnya terengah. Ia tak menghiraukan perih telapak tangannya yang berdenyut. Matanya memerah menahan amarah.
Panji menyeringai meremehkan Pamela.
"Kamu marah saat aku menyinggung masa lalumu, tapi seenaknya kamu mengatai perbuatanku. Lucu sekali, ja lang teriak ja lang. Hahaha..."
Nafas Pam naik turun.
"Kita lihat, pria mana yang sudi hidup dengan mantan ja lang sepertimu."
"CUKUP!" Teriak Pam.
"Aku yang akan sudi hidup dengan mantan ja lang ini, bang sat!"
Kedatangan Rion yang tiba-tiba mengejutkan Panji, ia dalam keadaan belum siap saat pukulan Rion mengenai wajahnya.
Panji oleng, ia marah dan ingin membalas. Tapi lagi-lagi Rion lebih cepat, kali ini tinjunya mengenai ulu hati Panji.
Panji langsung roboh, serangan Rion begitu cepat. Ia sudah menerjang lagi sebelum Panji sempat jatuh ke lantai.
Tampak jelas siapa disini Sang Singa.
Rion yang selalu rutin berlatih bela diri, selalu mengolah raganya dengan baik, berbeda dengan Panji yang hanya rutin berolahraga di atas ranjang.
Panji KO telak.
Pam diam saja menonton pertunjukan ini. Semua pukulan Rion benar-benar mewakili amarahnya.
Mam pus kamu Panji, pergilah ke neraka! Bisikan iblis yang kuat di kepala Pam, sampai ia tak ingat untuk melerai keduanya.
****