
"Jeff... Ada telfon." Dion menyodorkan ponselnya.
Jeffry menjeda pekerjaannya. Ia meraih ponsel Dion dan menempelkan di telinga.
"Yes, Jeffry here..."
Duileee, bahasa Jeffry dah mulai ketularan Dion.
"Ini Papa nak..."
Jeffry mengrenyitkan jidat, bukan suara Mahendra. Laki-laki mana lagi ini yang ngaku-ngaku jadi bapaknya?
Jeffry menatap Dion meminta jawaban. Dion memberi kode dengan gerakan mulut.
A n t o n i o.
Begitulah kira-kira mulut Dion mengeja.
"Eh, Om Anton, gimana Om?"
"Astaga, Papa mau minta maaf, Nak. Soal Sofia..."
Jeffry langsung tanggap.
"It's oke Om... Mungkin memang harus begini. Lagian waktu sebulan nggak lama kok. Sebulan doang, nggak lebih kan Om?" Tanya Jeffry was was. Jangan-jangan Antonio menghubunginya untuk ngomongin soal perpanjangan masa minggatnya Sofia.
Duuhh, gawat...
Terdengar kekehan dari sebrang sana.
"Om tahu kan rindu itu berat? Om juga nggak akan kuat kalau diginiin." Jeffry mulai serius.
Antonio malah semakin terkekeh.
"Tidak, tidaaakk... dengar dulu, Nak. Pertama, mulai sekarang jangan panggil aku Om, panggil aku Papa."
Jeffry diam, apa maksud Antonio? Ini terdengar seperti seorang bapak yang sudah mengikhlaskan anaknya dikawinin kan?
"Sofia pulang hari ini..."
"Hah?" Jeffry kaget campur seneng, dia sampai terlonjak dari duduknya.
Dion ikutan kepo.
"Sejam lagi anak itu landing. Kamu jemput dia ya. Ini sebagai permintaan maaf Papa ke kamu sudah memisahkan kalian selama ini. Pergilah Jeff..."
"Eh, oke Om. Eh, Pa..."
Antonio mematikan panggilannya. Jeffry mengembalikan ponsel Dion, sekalian menyambar kunci mobil Dion.
"Pinjam bentar Mas, urgent!" Seru Jeffry sambil berlari.
"Hati-hati nggak usah pecicilan!" Teriak Dion.
Terlambat, Jeffry sudah menubruk Tiana dan tumpukan berkasnya.
"JUPRIIII...!" Tiana meluapkan emosinya. Suaranya naik lima oktaf, sampai satu ruangan melongok kearahnya.
"GILA KAMU, JALAN NGGAK PAKE MATA!" Hardiknya galak. Semua bawaannya berhamburan dilantai. Ia harus menyusun ulang kertas-kertas yang teronggok menggenaskan itu.
Astaga, pekerjaannya masih banyak. Dan ini nggak akan selesai hanya dalam waktu satu jam.
"Aduuuhhh, Tante aku jalan pake kaki bukan pake mata. Sorry nih ya, buru-buru banget ini. Nanti tak bantuin. Cabut dulu..."
"Heiii... "
Terlambat, Jeffry sudah berlalu meninggalkan Tiana yang berkacak pinggang menahan amarah sampai nafasnya naik turun.
***
Sudah seminggu Violin tidur tak nyenyak, makan tak enak. Dah mirip lagu dangdut deh.
Perasaannya was-was, berangkat kerja seperti ada orang yang selalu mengawasi. Mau mandi aja harus ditemani, kalau bukan Sofia, ya Pamela. Tergantung mana yang stay dirumah.
Sialnya, kadang keduanya kompak ninggalin Vio demi ngedate bareng pacar.
Kalau sudah begitu, terpaksa Vio nggak mandi.
Bukannya jorok ya, Vio nggak mampu jika harus te lan jang tanpa ada orang disekitarnya. Setidaknya menemani diluar kamar mandi.
Seperti ada seseorang yang siap menerkamnya kapan saja. Wujudnya tak ada, tapi kehadirannya terasa, mirip-mirip setan. Separah ini efek Damar dihidup Vio.
Padahal pria itu masih di Swiss seminggu ini.
Dari yang Vio mencoba menghindari Damar, sampai akhirnya ia rasa harus menghadapi pria itu secepatnya.
Ini nggak bisa dibiarkan terus menerus. Violin bisa gila.
Kalau dipikir-pikir apa yang perlu ditakutkan? Vio bukan wanita lemah, ia pasti akan lawan sekuat tenaga. Huffftt... tapi tetap saja Violin takut.
Damar pria yang punya aura tersendiri, sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tapi Vio mengakui dalam hati jika Damar memang istimewa.
Apa ini tanda Vio mulai menyukai Damar?
Tidak, tidak... bukan seperti itu. Mengakui bukan berarti suka, kan? Kadang deterjen negara kita ini suka salah mengartikan.
Diluar sikapnya yang nyeleneh, Damar itu berbeda.
Sore ini, sepulang kerja, Vio sengaja berjalan kaki sendiri menyusuri taman kota. Ia butuh menghirup udara segar demi kewarasannya.
Senja di kota ini tidak terlalu indah, udaranya juga tidak bersih. Tapi dengan keluar melihat hal menarik diluar seperti ini membuat Vio kembali bersemangat.
Ia memesan siomay yang kebetulan mangkal diujung taman. Penjualnya seorang bapak-bapak yang lumayan tua. Tangan si bapak bergetar saat menuang bumbu kacang.
"Mangga, Neng." Kata si bapak sambil menyerahkan mangkok siomay.
Violin menerimanya dengan bersemangat. Ia hanya memesan setengah porsi, takut nggak habis kalau seporsi penuh. Sayang kalau dibuang, kan?
Ia menyendok sesuap makanannya, enak. Bumbunya nggak neg, siomaynya juga lembut. Ini beneran enak untuk level jajanan pinggir jalan seperti ini.
Violin melirik gerobak si bapak, dagangannya masih banyak. Padahal hari mulai malam. Kira-kira sampai jam berapa bapak ini mangkal? Sedang dari tadi tidak ada pembeli yang mendekat.
Gerobak ini kalah menarik dengan gerobak siomay sebelah yang lebih inovatif dan kekinian. Berwarna pink dengan lampu kelap-kelip dan tempat duduk yang manis.
Kontras sekali dengan gerobak bapak ini. Hanya gerobak usang seadanya, lampu kecil berwarna kuning dan cat yang sudah mengelupas disana sini. Meski begitu gerobak ini bersih, penjualnya juga terlihat bersih.
Juga bangku yang tersedia hanya dua buah bangku plastik yang ujungnya penyok.
Violin menatap si bapak, iba.
"Pak, beli semua boleh?"
Suara laki-laki yang tiba-tiba menghampiri si bapak penjual siomay.
Mata si bapak berbinar, "beneran ini?" sahut si bapak antara percaya nggak percaya.
"Iya, tolong dibagikan ya..." Pria itu membuka dompetnya lalu menyerahkan lembaran uang berwarna merah.
"Aduh, Den... ini mah kebanyakan atuh."
"Ambil aja, ini rejeki bapak."
"Alhamdulillah... nuhun Den. Mudah-mudahan Allah ganti sama yang lebih banyak ya, Aamiin." Doa si bapak tulus. Matanya berkaca-kaca saking terharunya. Damar ikut mengaminkan doa si bapak.
Malam ini si bapak auto pulang lebih cepat, dagangannya habis. Tidak seperti kemarin-kemarinnya yang selalu sisa banyak.
Cekatan si bapak membungkus dagangannya, entah darimana orang-orang tahu ada siomay gratisan, berbondong-bondong datang menghampiri gerobak siomay itu.
Giliran ada yang gratis aja pada grecep. Khas warga plus enam dua.
"Sok pahlawan." Cibir Violin sambil melirik Damar. Pria ini memakai kaos putih dan celana jeans hitam lengkap dengan sepatu sneaker. Terlihat seperti remaja ABG.
Damar mengambil mangkok siomay dari tangan Vio, lalu memakan sisanya sampai habis.
"Tambah Pak." Ucap Damar meminta si bapak mengisi lagi mangkoknya.
"Siap, Den." Dengan senang hati si bapak melayani Damar. Senyuman tak lepas dari bibir pria tua itu.
"Pantas kurusan, makannya dikit banget. Baru juga seminggu ditinggal, pipi udah peyot gitu." Damar menusuk pipi Violin pakai jarinya.
Vio menghindar, "nggak usah colek-colek deh." Ia menghalau tangan Damar.
"Makan yang banyak, setelah ini masih banyak hal yang harus kamu lakukan."
"Dah kenyang." Vio menghalau sendok yang Damar sodorkan di depan mulutnya. "Lagian habis ini mau pulang, tidur."
Damar mengakat sebelah alisnya, "sepertinya sebelum ke Swiss aku sudah bilang setelah pulang langsung melamar kamu, kan? Malam ini loh."
Violin melotot, "jangan gila, Damar!" desisnya gemas. "Nggak lucu, tauu!"
"Loh, aku serius Vio. Jam segini kamu masih kelayapan, padahal dirumah sudah siap semuanya. Makanannya aku susulin. Aku nggak mau nunggu lama."
Damar mengucapkan itu tanpa beban sama sekali. Seolah lamaran itu seperti pergi membeli gula di warung.
"Atau masih ada makanan lain lagi yang pingin kamu makan?" Tawar Damar.
"Iya, pingin makan kamu." Jawab Vio judes.
"Wow, aku suka itu! Kamu agresif juga ya ternyata..."
***