Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Uang Suap



"Jeff..." Ali melempar lap kotor penuh oli ke arah Jeffry. Bocah itu bengong dari tadi, alhasil lap sukses nangkring ke mukanya.


"Sialan!" Maki Jeffry.


"Cuci muka Lo! Bengang bengong mulu dari tadi. Kerjaan banyak nih, kagak beres Roni ngomel, kita yang kena."


Jeffry beringsut ke kamar mandi. Mau mandi? Ya nggak lah. Cuci muka doang pake sunlilita biar makin bersih bersinar sun... (bukan endorse gaiss, lanjutin sendiri yak)


"Mobil putih yang di ujung, service biasa maunya kamu yang pegang ya, Jeff."


Jeffry menatap Roni dengan pandangan lelah.


"Bang, udah jam pulang lho ini." Protes Jeffry. Jujur ia pingin sendiri dulu. Menepi di pantai atau ke gunung. Atau dari gunung lari ke pantai. Huff capeeekk deehhh...


"Ck, beresin satu itu dulu. Orangnya maksa banget. Bawel pol, pusing gue. Mayan buat beli bakso elu, kan?"


"Sekalian aja tidur sini, nggak usah pulang gue." Gerutu Jeffry kesal.


"Itu lebih bagus lagi. Biar kelar semua pekerjaan ini. Hahaha..." Balas Roni menanggapi omelan Jeffry sambil masuk ke bilik toilet.


Jeffry ngeloyor sambil ngomel, lalu teringat sesuatu. Ia berbalik lagi menghampiri Roni.


"Bang..." Teriak Jeffry dari luar.


"Hmm..." Geram Roni sambil menikmati pipisnya terbuang sempurna ke dalam kloset.


"Abang ngomong apa aja sama Pak Hendra?"


Roni menegang. Ia buru-buru menutup resleting celananya.


"Pak Hendra yang mana sih?" Sahutnya pura-pura amnesia.


"Yang orang kaya itu." jawab Jeffry, masih enggan mengakui bapaknya.


"Pelanggan gue kaya semua, suee lo!" Maki Roni. Ia keluar dan mencuci tangannya. Jeffry ngintilin di belakang.


"Yang suka pake mobil xxx keluaran terbaru warna maroon, nggak mungkin Abang nggak tahu. Mencolok banget gitu." Jeffry mencoba membuka memori otak Roni.


Ia ingat akhir-akhir ini bapaknya suka pakai mobil yang itu. Mungkin karena baru kali ya, tau ah, punya duit mah bebas.


Roni menoleh menatap Jeffry, kali ini dengan pandangan kepo maksimal.


"Bentar, gue butuh klarifikasi ke elu."


Duh, berasa artis nggak sih pake klarifikasi segala.


Giliran Jeffry yang was-was.


"Ada hubungan apa elu sama Pak Hendra? Hm?"


Jeffry pucet.


"Elu punya utang ya?"


Sialan. Ganteng-ganteng begini dikira terlilit utang.


"Itu, Pak Hendra itu..."


"Ah, jangan-jangan elu pernah nyolong di rumahnya?"


Buset, yang bener aja si Roni. Sumpah pingin nimpuk jidat boru satu ini.


"Dia sering banget tanya-tanya soal elu. Sampai detail, kayak elu pipisnya suka langsung apa pake jeda. Jadi ritmenya teratur apa kagak. Lah mana gue ngarti? Emang gua bapak lu?"


"Ck, serius nih Bang. Apa Pak Hendra pernah tanya soal balapan?" Selidik Jeffry. Selain Roni dan teman bengkelnya, nggak ada yang tahu Jeffry ikut olahraga ini.


Dan kandidat terkuat yang mulutnya gampang bocor cuma Roni. Apalagi kalau di sogok pakai duit, nggak cuma bocor tuh mulut, malah langsung di obral sekalian.


"Terakhir kesini sih nanya soal kegiatan elu. Lah tak suruh ke Bu Isa langsung katanya Bu Isa nya lagi kerja. Jadinya kesini. Kurang baik gimana coba gue? Dengan sukarela mewakili ibu lu menjawab pertanyaan-pertanyaan nggak penting itu?"


"Trus Abang cerita?"


"Eh, nggak papa kan? Kan nggak boleh ceritanya cuma ama emak lu, kan?"


Jeffry menepuk jidatnya. Susah emang ngomong ama Roni.


"Abang dapat duit berapa bisa ember begitu?" Jeffry kesal.


"Duit apaan sih?" kelitnya.


"Duit suap, nggak mungkin pak Hendra nggak kasih duit." tembak Jeffry langsung.


Roni pura-pura budek.


"Awas ya bang, separo duit suap punya gue!" Ancam Jeffry.


"Nggak ada Tong, habis duitnya."


"Beli apa Abang pake tu duit?"


"Buat buka cabang bengkel di Sentul."


"Anu, itu nggak cuma buka cabang doang, itu udah lengkap sama isi-isinya."


"HAH?" Muka Jeffry merah padam.


"Mayan kan cuma modal mulut doang lho. Lagian kalau mau, kamu bisa pindah yang di Sentul aja biar deket latihannya. Nggak makan waktu di jalan." Roni agak keder lihat muka Jeffry. Bagaimanapun yang ia jual adalah cerita tentang si Jeffry.


Jeffry diam saja. Ia memilih meninggalkan Roni. Dadanya panas, bisa-bisa satu hantaman nyasar ke wajah Roni jika ia tetap di situ.


Sialan Mahendra.


Anaknya sendiri di suruh kuliah, kerja kantoran yang bukan basic nya. Sedang orang lain di kasih modal usaha.


Jelas-jelas seharusnya Mahendra tahu, Punya bengkel adalah impian Jeffry. Nggak mungkin Roni nggak cerita perihal ini. Masalah kencing aja diceritain.


"Woy bro, kemane lu?" Teriak Ali sambil mengacungkan palu karet ke arah Jeffry.


Jeffry tak menggubris, ia mestater motor langsung tancap gas minggat dari bengkel Roni.


Dan disinilah ia sekarang.


Mudah saja menemukan Jeffry saat galau. Kalau nggak di gunung ya di pantai. Fasilitas alam dari Tuhan yang murah meriah dan menenangkan.


Tapi karena ke gunung agak jauh, jadi ia lebih sering ke pantai, resikonya lebih kecil.


Ke gunung dalam keadaan pikiran kalut, bisa-bisa di culik Kunti. Hiiiyyyy...


Jeffry mencari spot sepi. Ia membiarkan air laut menjilati kakinya. Berhenti sebentar lalu berteriak sepuasnya. Memaki Semaunya. Sampai tenggorokannya kering dan ia pun terduduk lesu di pinggir pantai.


"Jeffry?" Suara lembut wanita menyapa Jeffry yang tertunduk. Sontak ia mendongak. Silau, pandangannya terhalang sinar matahari.


Ia menghalau dengan tangannya dan terpaku.


Mengapa ada bidadari di pantai jam segini? Batinnya keheranan. Apakah ini aprodite yang turun dari kayangan? Bajunya putih bersih, rambutnya panjang, cantik sekali.


"Tante Fia?" Gumamnya tanpa sadar.


"Syukurlah itu beneran kamu." Seru Sofia kegirangan. Ia duduk di samping Jeffry, beralaskan pasir pantai yang kontras sekali dengan warna kulitnya.


Jeffry menunduk lagi.


"Aku lihat kamu jalan dari sana, awalnya ku amati saja sampai kamu berhenti dan teriak disini. Wah, sepertinya lega ya bisa mengeluarkan unek-unek seperti itu?" Cerocos Sofia.


"Tante ngapain disini?" Jeffry mengalihkan pembicaraan, ia enggan ditanya-tanya lebih jauh.


Giliran Sofia yang terdiam.


"Aku bosan dirumah. Mau pergi sendirian, takut." Sofia nyengir.


"Lalu kesini sama siapa?"


"Numpang Bu RT sampai simpang terus nyari ojek yang cewek."


"Jeffry tersenyum, good girl." Pujinya sambil mengelus puncak kepala Sofia tanpa sadar.


Saat ngeh, tangannya masih nangkring di kepala Sofia. Buru-buru Jeffry menarik tangannya yang lancang itu.


"Maaf Tan, refleks." Ucap Jeffry.


"It's OKE." sahut Sofia kikuk.


Keduanya sama-sama terdiam dan terpekur mengamati deburan ombak.


"Jadi selama ini kalau lagi galau ngapain?" tanya Jeffry mencoba mencairkan suasana.


"Paling nangis di kamar sampe puas, sih."


"Terus enakan?"


"Lumayan, sedikit lega."


"Mau coba teriak sebentar?" Tawar Jeffry.


Sofia celingak-celinguk, "emang boleh? Kita bisa kena marah kalau orang itu tahu kan?" Bisik Sofia sambil menunjuk penjaga pantai yang lagi ngobrol dengan rekannya.


"Makanya jangan sampai ketahuan. Nanti dikiranya kita tenggelam. Makanya aku agak jauh jalan kesini tadi." Jelas Jeffry, Sofia manggut-manggut.


"Yuk!" Jeffry mengulurkan tangannya. Sofia menyambutnya dengan ceria.


Mereka menyusuri pantai sepanjang sore, sambil tertawa-tawa seperti orang gila. Berlarian bersama ombak. Sampai senja berubah kemerahan, memamerkan lembayungnya yang indah.


Sofia terpaku sejenak, ia duduk berdua Jeffry menikmati keindahan ini. Sambil menangis dalam diam.


Papa...


Mama...


Fia rindu...


***