
Jeffry dan Sofia sama-sama terdiam, mereka duduk bersila diatas rumput, sibuk dengan pikiran masing masing.
Hari sudah sore saat mereka meninggalkan Sentul city dengan perasaan canggung.
Sengaja Jeffry singgah di bukit yang katanya ini indah saat malam hari.
Ini baru lepas magrib, dari atas bukit ini mulai terlihat kelip-kelip lampu di bawah sana. Laksana ribuan kunang-kunang yang terbentang luas menghiasi gelapnya malam.
Bukit ini cukup ramai, banyak muda-mudi yang duduk berdua menikmati keindahan ini. Termasuk Jeffry dan Sofia.
Ada beberapa pedagang yang menggelar dagangannya juga.
Mie gacoan, seblak, kopi, jagung bakar, Indomie, cilok, batagor, siomay...
Apalagi? Jeffry tak sempat memperhatikan, ia sibuk menata hatinya yang kini tak menentu setelah Sofia menciumnya tadi.
Bibir Sofia masih terasa sampai kini. Rasanya beda, manis dan bikin candu.
"Tante, mau jagung bakar?" tawar Jeffry.
Sofia menatapnya, "Jeffry... maaf untuk yang tadi. Aku rasa setelah ini mereka pasti tidak akan mengganggumu lagi."
Jeffry tersenyum, "Seharusnya aku yang minta maaf. Gara-gara tadi, Tante jadi terpaksa menciumku. Seharusnya nggak perlu begitu."
"Aku tidak terpaksa." Sahut Sofia.
Jeffry terdiam.
"Entahlah Jeff, sejak mengenalmu aku selalu rindu. Kamu baik, kamu punya banyak nilai plus di mataku dan yang terpenting, kamu membuat aku nyaman. Aku selalu ingin tahu kabarmu, kamu lagi ngapain, kamu sama siapa. Aku ingin tahu..."
Sofia menjeda ucapannya, Jeffry juga masih menunggu kelanjutannya.
"Anggap aku konyol, aku tidak peduli. Usiamu mungkin jauh lebih muda dariku, tapi soal perasaan bukankah tidak mengenal usia?"
Sofia mengambil tangan Jeffry lalu menggenggamnya. Kini mereka duduk berhadapan.
"Aku hanya bicara soal hatiku saat ini, jangan jadikan beban jika ini tidak sesuai keinginanmu. Aku cukup tahu diri. Kamu tampan, kamu masih muda dan kamu..."
"Sssttt..." Jeffry mengangkat kedua tangan Sofia yang menggenggamnya lalu mengecup punggung tangan itu penuh perasaan.
"Seharusnya aku yang bilang begitu Tante. Aku tidak cukup keberanian mengungkapkan ini. Bisa saja Tante menganggapku gila."
Sofia memiringkan kepalanya, "maksudnya?" tanyanya.
"Mimpiku setiap malam mungkin terlalu tinggi untuk terealisasi. Bagaimana mungkin aku menggapai bidadari seindah dirimu? Terlalu jauh anganku ini. Tante... salahkan jika aku sudah jatuh cinta padamu?"
Senyum Sofia mengembang diantara remangnya kelap-kelip lampu.
"Jeffry... Bisa kamu ulang..." Pinta Sofia.
Jeffry menatap kedua mata Sofia, lalu berbisik, "Tante, I love you."
Sofia menghambur kepelukan Jeffry. Ia begitu tersentuh.
Jeffry menghela nafas lega. Akhirnya ia bisa mengungkapkan perasaannya ini. Awalnya ia ragu, takut akan ditolak seperti saat menyukai Violin dulu. Sakitnya sampai berhari-hari.
Tapi mungkin Tuhan sudah memilihkan yang terbaik untuk Jeffry. Dan ia bersyukur itu Sofia. Wanita cantik yang kini ada dalam pelukannya. Wanita yang ingin Jeffry lindungi dari kejamnya dunia.
"Terima kasih Jeff..." ucap Sofia tulus.
"Seharusnya aku yang bilang begitu Tante, terima kasih sudah memilihku." Balas Jeffry. Sofia bergelayut manja di dadanya.
"Umm, Tante... boleh cium sedikit." pinta Jeffry takut-takut.
Tanpa diduga Sofia langsung memajukan bibirnya sambil merem. Cepet banget pasrahnya deh.
Jeffry mengecup kening Sofia penuh penghayatan, lamaaaa sekali.
Sofia mengerjapkan matanya heran.
"Sudah?" tanya Sofia saat Jeffry menarik bibir dari keningnya.
"Sudah." jawab Jeffry. Baginya mencium kening Sofia sudah cukup menunjukkan rasa sayangnya untuk wanita ini. Ia tidak ingin terburu-buru. Masih banyak waktu untuk menikmati hubungan ini.
Sofia mengelus rambut ikal Jeffry, "Jeff, boleh aku tanya?"
"Hmm..." Gumam Jeffry.
"Aku mendengarmu memanggil namaku saat mandi tadi siang di rumah. Apa yang kamu lakukan didalam?"
Jeffry menelan ludahnya teringat ritual terlarangnya tadi saat mandi. Nggak nyangka Sofia beneran dengar.
"Anuu, ituu... " Ia kesusahan mencari alasan.
"Itu apa?" Goda Sofia.
"Semalaman aku nggak bisa tidur. Keingetnya kamu terus. Kamu yang pakai lingerie laknat itu."
Sofia mengingat-ingat kapan ia pakai lingerie didepan Jeffry.
"Waktu video call..." jelas Jeffry.
Sofia menutup mulutnya dengan tangan, "Astaga Jeffry..." Pekiknya.
"Aku laki-laki normal, Tante..."
"Banyak setan dirumahku..."
"Tapi kamu tetep ritual pas mandi."
"Aku nggak tahan lagi." Wajah Jeffry memelas.
Sofia memasukkan jari-jarinya kedalam rambut Jeffry. Yak ampun lucunya pacar barunya ini.
"Tante nggak marah?"
Sofia terkikik.
"Setidaknya aku yang jadi fantasi kamu, bukan wanita lain. Kenapa harus marah? Kamu kan pacarku."
Jeffry tersipu, ia kini punya pacar.
"Jeff, boleh cium sedikit?" Tanya Sofia.
Jeffry mengangguk.
Sofia meraih tengkuk Jeffry dan mencium bibirnya lamaaaa sekali...
***
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Sofia memeluk erat tubuh Jeffry. Ia kini tak malu lagi menunjukkan rasa sayangnya.
Jeffry membawa Fia pulang ke rumah Violin, sesuai permintaa Fia.
Sampai didepan pintu, Jeffry mengambil gambar Sofia dan mengirimkan ke bapak Antonio yang terhormat. Sebagai tanda putrinya sudah ia antar pulang ke rumah dengan selamat.
Untung nggak kelihatan difoto kalau Jeffry sudah menciumnya tadi.
Antonio membalas dengan emoticon hati. Duh, bapak satu ini.
Sofia melambaikan tangan saat Jeffry berlalu kembali kerumahnya. Ia masuk kedalam rumah dengan wajah cerah secerah mentari pagi.
"Senyum trooooozzzzz..." Cibir Pam sambil melempar bantal sofa ke muka Sofia.
"Diiihh, sirik."
"Pada bahagia, gue apa kabar?" Gerutu Violin.
"Lah, bukannya lo balik sama Dion?" Tanya Sofia.
"Nggak, mau nyari yang lain gue."
"Gue setuju!" Dukung Pam sambil mengepalkan tangannya ke atas.
"Sama si pak dokter itu?" lanjut Fia.
"Nggak bisaaa... gimana dong?"
"Yaudah sih Vi... kan ada kita-kita. Ya kan Pam?"
"Dih, males gue jadi nyamuk." Sahut Violin.
"Lo nggak usah bingung Vi, ngomong ama bapak lo pingin jodoh yang kayak gimana. Pasti dicariin, pasti dapet!" Usul Pam.
"Beli rujak kali aaaahh..."
"Hahahaha..."
"Ngomong-ngomong, lo jadian ama si Kuya?" Tanya Pam ke Sofi.
Sofia manggut-manggut semangat.
"Nggak nyangka Jeffry semanis ini." pujinya.
"Ya jelas, berondong kalau nggak manis berarti jagungnya Pioneer." Cibir Vio.
"Ini ngomongin berondong, bukan pakan ayam..."
"Hahaha..."
***
Seperti inilah hidup, ada suka, ada duka. Ada tertawa juga menangis.
Tidak selamanya bersedih, juga tidak melulu selalu bahagia.
Semua itu pilihan.
Pesan otor...
Sesulit apapun kita saat ini, jangan sekali-kali menyakiti diri sendiri, karena itu tugas orang lain.
Hehehe... Nggak nyambung.
Thanks reader...
Tetep kasih like, vote and gift yaahh...