Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Love At The First Sight



Lima cangkir kopi yang sudah kosong diatas meja kerja Juno. Dan nyawanya serasa belum kembali.


"Sialan!" Makinya.


Yusuf yang sedang menyapu didekat Juno menoleh kaget. Ini jam terakhirnya, setelah menyapu dan mengepel ruangan ini, Yusuf bersiap pulang, shift nya habis. Sekarang malah ia mendapat makian. Apa salahnya coba?


"Sebentar saya bereskan cangkirnya Mas, sekalian kelarin nyapu." Ucap Yusuf takut-takut. Ia mempercepat pekerjaannya.


"Astaga Ucuuuppp... Kamu masih disini?" Juno mengerang kaget. "Sejak kapan?"


"Sejak Mas Juno memaki Bu Violin." sahut Yusuf. Ia meraih nampan dan mengangkut cangkir-cangkir bekas ke pantry.


Juno menghela nafas. Sebenarnya pekerjaannya sudah selesai. Ia tidak ada kepentingan lainnya di kantor.


Entahlah, akhir-akhir ini ia malas sekali pulang. Raganya memang di kantor, tapi jiwanya seakan berkelana entah kemana.


Violin sempat mengeluh tentang mukanya yang kucel. Jambang dan kumisnya juga ia biarkan tumbuh menghiasi wajah tampan khas timur tengahnya.


Tapi menurut Malik, Juno jadi tambah sexy dengan jambang itu. Lebih 'lakik' katanya. Hadeehh, ia tidak terlalu senang jika Malik yang memuji.


Juno memang kurang tidur, ia pulang larut malam dari kantor. Padahal di kantor cuma ngopi dan bengong doang.


Kadang-kadang Vio malah sengaja menyelipkan cemilan di laci meja kerja Juno. Dari kacang bawang, keripik pisang, kuaci, sampai gorengan. Yusuf saja takut masuk ruangan kalau masih ada Juno di dalam.


Saat perjalanan pulang pun Juno berputar melewati rute yang paling jauh. Matanya awas menatap orang-orang yang masih berlalu lalang di jalanan malam. Berharap menemukan secerah harapan tentang keberadaan seseorang.


Orang yang pernah mengisi hari-harinya yang hambar. Lama sekali Juno mencari-carinya. Saat ia mencoba ikhlas dan berdamai dengan keadaan, orang itu muncul lagi. Juno melihatnya sekilas di mini market saat ia akan membeli air mineral.


Juno mengejarnya, tapi terlambat. Wanita itu sudah berlalu menggunakan ojek online. Menjauh lagi dari hidup Juno. Padahal tinggal sejengkal lagi Juno dapat memeluk wanitanya kembali.


Sejak saat itu ia mencari-cari Lina seperti orang gila. Kesana kemari sampai mengabaikan pekerjaannya. Ia begitu yakin Lina ada di sekitar daerah ini.


Violin protes saat Juno mengajukan cuti mendadak. Ia meminta dua minggu, tentu saja Vio menolak. Saat itu proyek Barbara sedang kelimpungan karena keterbatasan persediaan kain sutra menipis. Padahal permintaan pasar sedang tinggi.


Penyebabnya adalah petani ulat sutra yang gagal panen karena ulatnya yang tidak menghasilkan serat benang (kokon), sebab ketersediaan daun murbei sebagai makanan utama sang ulat mengalami kerusakan akibat cuaca buruk yang tidak menentu. Dan tentu saja ini berimbas ke produksi Barbara.


Juno frustasi. Di kantor ia bekerja bagai robot. Lebih banyak diam, hanya mengerjakan apa tugasnya. Semuanya beres, tapi Juno layaknya mayat hidup, pandangannya kosong. Violin jatuh iba, lalu dengan berat hati meng-ACC form cuti dua minggunya Juno.


Tapi ternyata selama cuti pun ia tetap tidak menemukan Lina kembali. Jadilah sekarang ia hidup segan, mati jangan.


Juno beranjak berdiri, lalu melenggang meninggalkan ruangannya. Mungkin ia butuh menghirup angin malam sejenak diluar.


Kantor sudah sepi, hanya beberapa OB yang masih berlalu lalang menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa menyapa Juno, ia hanya membalas dengan mengangkat sebelah tangannya.


Sepeninggalan Juno, Yusuf mengendap-endap membawa kain pel masuk kedalam ruangan.


"Beginilah cinta, deritanya tiada akhir." gumam Yusuf seorang diri sambil ngepel lantai.


****


"Aaahh... basah lagiii!" pekik Violin, ia berlindung di belakang tubuh Jeffry.


Jeffry membawanya berteduh didepan ruko yang sudah tutup. Sekarang hampir jam delapan malam dan mereka belum sampai rumah.


Tadi selepas basah-basahan, mereka langsung membeli baju ganti di toko dekat pantai. Untung banyak yang jualan cinderamata kaos khas pantai itu.


Jeffry menggeser Violin dibelakangnya agar terlindung dari cipratan air hujan. Posisi yang pas agar ia tidak bertatapan mata langsung dengan Vio. Setelah insiden di pantai tadi, Jeffry jadi agak canggung.


"Ini aku ngomong sama punggung apa gimana sih?" gerutu Vio setelah agak lama Jeffry membelakanginya.


Jeffry sedikit menggeser badannya, lalu menyender di pintu rolling door. Ia belum berani menatap mata Vio langsung.


"Maaf ya Tan, jadi basah lagi." Ucap Jeffry disela-sela suara hujan.


Violin tersenyum, "aku suka hujan. Tapi takut kalau ada petir." Ia meringis.


Violin merapatkan jaketnya, ia menatap Jeffry.


"Jeffry, jujur aku nggak suka suasan canggung begini. Kamu teman yang asyik. Kamu juga baik. Aku suka." Violin to the poin.


Jeffry menoleh, membalas tatapan Vio. Ia mengerjapkan mata, menunggu apa yang sebenarnya ingin Vio sampaikan.


"Kamu berhak menyukai siapa saja, aku tidak bisa mencegah hatimu. Tapi maaf jangan rusak pertemanan kita dengan urusan cinta cintaan. Kamu tahu posisiku sekarang, kan?"


Jeffry mengerjapkan lagi matanya, lalu perlahan menangkup kedua tangan Violin. Terasa dingin seperti es. Jeffry menggosoknya dengan lembut agar sedikit hangat. Kini mereka bertatapan.


"Kamu percaya cinta pada pandangan pertama, kan?" ucap Jeffry, tapi ia tidak mengharap jawaban Vio. "Itu yang aku rasakan saat ini." lanjut Jeffry yakin.


"Aku sadar belum pantas mengharapkanmu, tapi mohon jangan buru-buru menolakku." Kini panggilan Jeffry sudah ber-aku kamu.


Violin menelisik mata Jeffry. Lalu ia teringat lagi dengan Dion. Benar-benar sialan Dion. Kenapa mata mereka hampir sama? Violin menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Jeffry menangkap gelengan kepala Vio sebagai tanda penolakan terakhir wanita itu. Lalu Jeffry tersenyum masam.


"Apa ini rasanya ditolak, bahkan saat aku belum sempat bertindak?" lirih Jeffry. Kenapa sakit ya, dadanya seperti berdenyut nyeri.


Violin melengos, "maaf." ucapnya singkat. Ia sadar sedang menyakiti hati seorang anak manusia.


"Jalanmu masih panjang Jeff, kamu masih muda. Anggap saja rasa sukamu padaku hanya euforia."


Jeffry melepaskan tangkupan tangannya. Semudah itu Vio mengucapkan 'anggap saja hanya euforia'. Sedang setengah mati Jeffry menahan rasa membuncah di dadanya sampai hampir gila.


Ia tidak pernah seperti ini kepada wanita manapun.


"Kamu akan aku anggap sebagai adikku yang baik. Atau maukah kamu menjadi temanku saja?" Violin menatap Jeffry lekat. Ia memastikan tidak ada luka di mata bocah ini. Namun nihil, Jeffry benar-benar terlihat terluka, matanya mengatakan itu.


Hati-hati Violin menepuk bahu Jeffry. Meski harus agak berjinjit sedikit, ia mencoba mengacak rambut ikal anak ini.


"Terima kasih untuk hari ini, anak baik." Violin tersenyum manis, tapi terasa menyakitkan bagi Jeffry.


Lalu dari kejauhan seorang pria tinggi besar memakai payung menghampiri mereka. Ia menyerahkan mantol kepada Violin. Dengan hati-hati Vio meletakkan mantol hitam itu diatas jok motor Jeffry.


"Maafkan aku. Pulanglah dengan selamat Aku duluan." Bisik Violin. Ia menyentuh sekilas lengan Jeffry sebelum berlalu masuk kedalam mobil diikuti laki-laki tadi.


Jeffry masih terdiam. Lalu seiring berlalunya mobil yang ditumpangi Vio, Jeffry berjongkok.


Ia kalah!


*****