Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
No More



"Siapa, Vi?" Tanya Pamela, ia memanjangkan lehernya menatap layar ponsel Violin.


"Juno didepan, katanya."


"Ett dah, nggak sabaran amat. Baru jam 5 pagi juga." Gerutu Pamela, ia bersiap melangkah menuju pintu, siap kultum khusus untuk Juno.


"Mbak..." Panggil Merry. " Biar aku aja yang buka."


Pam mengurungkan langkahnya, ia membiarkan Merry berjalan tertatih-tatih merambat di tembok menuju pintu depan. Toh bukan Pam yang dicari Juno.


Sebenarnya Merry takut Juno melihat lingerie saringan tahu yang dipakai Pam. Yak ampun, terlihat sexy sekaleee...


"Mas..." Desis Merry saat Juno muncul di depan pintu dan langsung memeluk Merry.


Juno mendekap Merry erat, ia membenamkan wajahnya di leher Merry. Menghirup aroma tubuh Merry kuat-kuat.


Malam ini percuma dia pulang, toh di rumah malah semakin kepikiran wanita ini.


Rasa bersalah menghantui Juno. Ia juga rindu pelukan Merry. Tapi bahkan sepatah kata pun belum sempat ia ucapkan.


Jadi jam 3 pagi Juno memutuskan untuk mandi, ia langsung memacu mobilnya kembali ke rumah Vio.


Merry mendorong dada Juno perlahan agar pelukannya terurai, lalu menggandeng tangan kokoh itu, dan membimbingnya masuk kedalam.


Sudah ada Violin, Pamela dan Sofia duduk mengitari meja makan sambil menikmati breakfast masing-masing. Fixs ini sarapan terpagi yang mereka nikmati selama hidupnya, jam setengah enam kurang dong.


Merry bernafas lega karena Pam sudah memakai jubahnya dengan benar. Meskipun tetap saja belahan dadanya masih terlihat kemana-mana.


"Haii Juno, dikau disini?!" Sapa Sofia ceria. Ia melambaikan tangannya menyambut Juno.


Juno tersenyum, ia membalas lambaian Sofia sekilas.


"Nggak ada makanan sisa, ya!" cibir Pam sambil memasukkan potongan telur rebus kedalam mulutnya.


Juno nyengir, ia kesini bukan ingin numpang makan, ia juga nggak lapar. Dan lagi untuk saat ini ia hanya ingin makan wanita yang tangannya ia genggam ini.


"Vi..." Panggil Juno, Violin meletakkan pisaunya dan menoleh menatap Juno.


"Lo tahu gue bisa gila..."Juno menatap Violin dengan pandangan mengiba. Vio tahu Juno menahannya sejak lama. Ia juga saksi hidup bagaimana perjuangan Juno dan Lina.


Dan pagi-pagi buta dah nongol ngeganggu banget ni anak.


Violin menghela nafas dan mengedikkan dagunya, "nggak pake lama. Inget, only talk heart to heart, no more!"


"Ssiipp... thanks!" Jawab Juno kegirangan. Ia langsung menarik tangan Merry.


"Mas, kakiku sakit jangan ditarik." Protes Merry. Juno langsung menggendong Merry dan membawanya menjauh dari grombolan para janda. Lama kalau nunggu Merry jalan sendiri.


"Kamarmu yang mana?" tanya Juno.


"Diujung itu." Tunjuk Merry. "Eeh, Mas jangan dikamar, nggak enak sama Mbak Vio."


"Udah dikasih ijin."


"Hah?"


"Sstt..."


Juno membuka pintu kamar Merry dengan kakinya yang panjang. Lalu mendudukan Merry di ranjang dengan hati-hati.


Juno berjongkok didepan Merry, ia meraih tangan itu dan menggenggamnya dengan hangat. Ia sedikit mendongak menatap mata Merry, wanita yang dicintainya.


Duuhh, kenapa gugup sih? Merry deg-degan.


"Kamu marah?" Tanya Juno. Merry menggeleng pelan.


"Aku minta maaf." Lanjut Juno. Merry menggeleng lagi.


Tiba-tiba matanya memanas. Tidak ada kata yang bisa keluar dari mulut Merry. Tenggorokannya tercekat.


"Aku akan terima apapun keadaan kamu. Aku nggak peduli, yang aku tahu, aku nggak bisa lagi kehilangan kamu." ucap Juno sungguh-sungguh.


"Tapi Mas, aku..."


"Sssttt... pulanglah. Ayo pulang ke rumah kita." Pinta Juno, mukanya mengiba penuh harap.


Setetes air mata turun ke pipi Merry. Semalam ia sempat membesarkan hatinya untuk melepas pria ini, tapi sekarang ia hadir dihadapannya memintanya kembali.


Ia tahu Juno terluka. Sama, ia juga terluka. Tapi lebih baik ia yang terluka daripada Juno lebih terluka lagi nantinya.


"Beri aku waktu Mas. Aku ndak mau melukai hati mas Juno lagi. Mas akan kecewa." Bisik Merry.


Merry melongo.


******


Didepan rumah sakit Marina Medika yang berdiri kokoh menjulang tinggi, Jeffry mengantarkan ibunya berangkat kerja.


"Nanti pulang WA aja Bu, aku langsung jemput kesini." Ujar Jeffry.


"Kamu kan kerja to le, wes gampang nanti ibu naik angkot bisa."


"Nggak papa, bolos bentar Bu." Jeffry tetap ngeyel.


"Wong kerja kok bolos terus, diomeli bang Roni kamu. Nyari kerja susah, jangan main-main terus." Omel Bu Isa.


"Jeffry dah biasa diomelin Bu, kan ibu mentornya. Hehehe..."


"Wes sana balik, ibu masuk dulu."


Jeffry mencium punggung tangan ibunya sebelum berlalu. Bu Isa masuk ke lobi setelah motor Jeffry hilang dari pandangannya.


Hari ini ia jaga pagi, bagi wanita seumuran Isabella yang masih bekerja, masuk kerja pagi adalah anugerah karena pola hidupnya jadi teratur.


Badannya sudah banyak protes, tidak bisa jauh dari minyak gosok karena cepat pegal. Kadang tak enak dengan rekan kerja karena sering istirahat. Namun demi tetap bisa makan ia harus kuat, kan?


Teruntuk wanita-wanita kuat diluar sana, semoga setiap keringat yang menetes adalah ladang pahala kita menuju surga-Nya. Semangat!


Meski bekerja disini tidak membuat Isabella kaya, tapi ia bersyukur karena dari tempat inilah ia bisa hidup.


Ia berjalan menuju ruangannya, sesekali menyapa rekan kerja dan berbincang sebentar.


"Bu Isa..." Sebuah suara menghentikan langkahnya, ia menoleh. Dokter Robert berjalan ke arahnya. Terlihat dokter spesialis bedah thorax dan kardiovaskuler itu juga baru datang. Jas putihnya masih tersampir ditangan.


"Ya, Dok?" Jawab Bu Isa.


"Boleh minta tolong? Kebetulan perawat yang biasa sedang cuti, yang satu kebetulan ijin agak siang, saya hanya butuh bantuan sebentar untuk mencek pasien VVIP, bisa bu?


"Oh, tentu dok, sebentar saya taruh tas dulu." Pamit Bu Isa.


"Silahkan, saya duluan ya. Oh iya, karena pasien sudah didalam, mohon agak cepat ya Bu."


"Siap Dok." Sahut Bu Isa. Ia masuk keruangan meletakkan tas, mengganti sendal dengan sepatu kerja, merapikan hijabnya sebentar lalu keluar menyusul Dokter Robert.


"Kemana?" Sapa Narmi tiba-tiba, Narmi adalah rekan perawat Isabella, mereka sama-sama senior disini.


"Ke ruangan Dokter Robert, ada VVIP sudah menunggu. Perawatnya lagi cuti." Jelas Bu Isa singkat. Narmi mengerucutkan bibirnya menyerupai huruf O.


"Lumayan ih pagi-pagi dapet bonus Dokter ganteng." kelakar Narmi.


"Inget suami dirumah, woy!" sahut Isabella.


"Maunya sih gue tuker tambah sama Dokter Robert." Cengir Narmi.


"Dokternya yang kagak maooo!" cibir Isa sambil tertawa. Ia berbelok ke arah lift sambil melambaikan tangan ke Narmi.


Entah ada angin apa, didalam lift tiba-tiba Isabella gugup, jantungnya berdetak tidak beraturan. Apa mungkin tadi salah makan, ya? Pikirnya.


Sekarang tangannya yang dingin. Wah, fixs ia masuk angin. Setelah ini mungkin ia bisa minta tolong Narmi ngerokin punggungnya.


Ia merogoh kantong bajunya mencari masker dan baru ingat ia belum mengambilnya di ruangan tadi. Mungkin nanti ia ambil saja di ruangan dokter Rob, kepalang tanggung sudah sampai sini juga. Kelamaan kalau mau balik lagi.


Isa mengetuk pintu ruang kerja Dokter Robert yang tidak tertutup rapat, Ia langsung masuk kedalam.


Dokter Rob sedang berbincang dengan pasiennya. Dari belakang pasien laki-laki itu terlihat belum terlalu tua. Tubuhnya masih terlihat gagah meski sedikit ringkih.


"Sepertinya saya terlalu pagi, Dok?" Kelakar pasien itu.


"Mungkin lain kali kita bisa sarapan bareng sekalian lho, Pak." Sahut dokter Rob sambil tertawa.


"Wah, boleh juga tuh. Hahaha..."


Isabella ikut tersenyum, ia mengedarkan pandangannya mencari masker. Ada di belakang dokter Robert. Ia segan melewati pasien, jadi ia putuskan untuk mengambil alat tensi dulu di meja perawat.


Isabella memasang sarung tangannya dan berjalan membawa alat tensi.


"Permisi Pak, maaf saya cek tekanan darahnya sebentar, ya?" Ucapnya ramah, tak lupa senyuman terukir di wajah cantiknya.


"B-Be-Bella..." Desis pasien itu. Refleks Isabella menegakkan wajahnya yang langsung berubah pucat melihat Mahendra menatap sendu ke arahnya.


******