
Inilah harinya, hari H nya Jeffry.
Dari sore ia berubah jadi pendiam, jidatnya berkerut dan beneran nggak connect diajakin ngobrol. Dion sih udah paham, stress tugas kuliah aja Jeffry jadi planga plongo, apalagi ini.
Pagi-pagi juga tanpa dikomando perut Jeffry mules, sarapan nggak masuk, kepala kliyengan.
Semalam benar-benar nggak bisa tidur, terbayang senyuman Sofia.
Apa ini yang dinamakan nyidam? Merana sekali Ya Tuhanku... Kira-kira seperti itulah ratapan Jeffry.
Disaat genting begini malah wajah lembut Sofia yang ada di kepalanya. Semua isi proposal untuk presentasi ambyar.
Duuhhhh, Jeffry pingin pup lagi. Ia ngacir ke kamar mandi. Dion memperhatikan adiknya itu sambil geleng-geleng kepala.
Ini yang kesekian kalinya di pagi ini Jeffry bolak balik pup.
Dion mengaduk sesuatu untuk diminum Jeffry. Anak itu nervous, ini kurang baik kalau sampai berkelanjutan. Hari ini Jeffry harus all out.
"Nggak usah gugup, santai aja." Ucap Dion sambil meletakkan secangkir minuman hangat di hadapan Jeffry. Berharap ini bisa sedikit membantu menenangkan kepanikan Jeffry.
Jeffry meminum dark chocolate buatan Dion, enak. Ia meminumnya lagi sampai habis.
"Pakai suit mu Jeff, aku tunggu di bawah." Dion melirik Jeffry yang masih pakai celana boxer dan kaos oblong. Sedang Dion sudah lengkap tinggal berangkat.
Jeffry meringis, "tungguin bentaran, setor sekali lagi." sahut Jeffry sambil berlarian menuju kamar mandi.
"Cepetan, keburu telat!" Seru Dion, Jeffry sudah nggak menyahut.
"Jeff... nggak pingsan kan?" Dion agak cemas.
Preeettt...
"Sialan!" umpat Dion.
***
"Perkenalkan ini adik saya, Jeffry Mahesa. Dia yang akan presentasi nanti."
Dion mengenalkan Jeffry ke Dirut PT Brilian Anggunjaya. Seorang wanita cantik & matang yang sedang menyambut rombongan Dion di kantornya yang megah.
Mereka saling menyapa sebelum presentasi dimulai.
Wanita ini bernama Anggun Berlian Sanjaya.
Sesuai namanya, wanita ini sangat anggun dan percaya diri, seperti berlian mahal yang cantik.
"Wah, ternyata rumor itu benar, Pak Hendra mempunyai anak bungsu." Anggun tertawa kecil. "Dan juga tampan." lanjutnya.
Jeffry nyengir garing. Dipuji tante tante emang beda. Vibesnya lebih berasa. Hehehe...
"Kamu mengatakan hal yang sama saat pertama kali bertemu denganku. Ingat?" Dion menjeda senyuman Anggun.
"Tentu saja aku ingat, pria tampan sepertimu susah untuk dilupakan." Anggun mencoba berkelakar. "Andai tahu bakal jadi duda, kamu nggak akan aku lepas." Bisik Anggun, ia sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Dion dengan elegan.
Dion hanya tersenyum kecut, sepertinya dia salah ngomong.
Anggun ini dulu pernah mengejar cinta Dion. Jika Dion memilih Violin, bukan karena wanita ini tidak menarik. Tapi bagi Dion, Anggun terlalu frontal. Wanita ini sejenis dengan Pamela, Dion kurang suka.
"Mas..." Jeffry mepet ke Dion saat Anggun berjalan didepan untuk membawa mereka ke meeting room.
"Nepotisme dikit boleh kan? Sepertinya Tante didepan menyukaimu." Lanjut Jeffry.
Dion mendelik, "awas macem-macem." ancam Dion.
Jeffry bukanya takut malah cengengesan, sepertinya ia tahu caranya memenangkan tender ini.
"Anggun sudah punya suami." Bisik Dion nggak kalah lirih.
Senyum Jeffry menghilang, "yaahh, gagal." Gerutunya. Sepertinya Tuhan memang sengaja meluruskan jalannya.
***
Malamnya Dion dan Jeffry makan malam dirumah Mahendra.
Ibu sudah heboh dari subuh. Bella tahu anaknya akan berjuang siang nanti. Ia sudah pasrahkan semua kepada Tuhan. Apapun hasilnya nanti, rasa sayangnya untuk Jeffry tidak akan berubah.
Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke pasar, belanja bahan-bahan yang diperlukan.
Sorenya langsung sibuk di dapur, masak menu kesukaan Jeffry. Sayur asem, ikan asin, sambal terasi, tempe goreng.
Untuk Dion, ibu membuatkan spaghetti bolognese dengan saus pasta tomat dan daging sapi cincang dengan taburan keju diatasnya.
Yah seperti selayaknya bapak-bapak yang lain yaaa... Makan atau tidur diluar? Hehehe...
Bapak-bapak yang suka bohong pas ditanya, "enak nggak?" Jawabannya hanya boleh milih satu, kalau milih yang lain dijamin besoknya nggak dimasakin lagi.
Mau enak, mau kagak, mau asin, mau gurih, mau manis, atau nano-nano, jawaban cuma ENAK. Udah nggak boleh yang lain. Demi menjaga stabilitas rumah tangga masing-masing.
Lanjut...
Jeffry tentu makan dengan lahap. Baginya masakan ibu adalah makanan paling enak di dunia. Makanan yang akan selalu ia rindukan kapanpun, dimanapun.
Apalagi bisulnya sudah pecah tadi siang. Sekarang berasa lega banget. Makan pun nikmatnya terasa berkali-kali lipat.
Pasti begini nih pasti rasanya orang abis lahiran.
Dion juga menikmati makan malam kali ini. Sesekali menatap bapaknya yang semakin hari semakin terlihat segar. Syukurlah, ibu merawatnya dengan baik. Dion bernafas lega.
"Selamat Jeff, kamu berhasil di proyek perdanamu, pround of you." Mahendra menatap Jeffry tulus.
Mahendra masih belum percaya anak bungsunya itu benar-benar berhasil. Dengan wajah mencurigakan seperti Jeffry, bagaimana cara anak itu presentasi kira-kira?
Jeffry meminum air putihnya.
"Thanks, Pak." Balas Jeffry, ia melirik Dion.
"Pastikan kamu belajar dengan benar untuk membereskan proyek ini. Ketika sudah jalan, sepenuhnya tanggung jawabmu."
"Beres Pak, kan ada Mas Dion." Sahut Jeffry enteng.
"Jangan mengandalkan Dion terus." Tegur Mahendra." Kamu pasti punya kemampuanmu sendiri."
Jeffry mengangkat bahunya, " Kan masih belajar, Pak."
Mahendra terkekeh, pasti sulit bagi Dion menghandle Jeffry. Kelihatan dari mukanya yang sejak tadi ditekuk.
"Aku kebelakang dulu, Pak. Mau ngobrol bentar sama ibu." Pamit Jeffry.
Mahendra mengangguk.
Jeffry melipir kebelakang nyamperin ibu. Ia merasa harus sungkem sebagai bentuk terima kasihnya. Berkat doa ibu juga semua berjalan sesuai rencana.
"Bu..." Jeffry mencolek bahu ibu.
Ibu menoleh sambil mengacungkan pisaunya, "Jangan ngagetin, ibu pegang pisau nih!"
"Iya, maaf..." Jeffry mengambil kursi dan duduk dekat ibu. Ia menyangga kepalanya sambil menatap ibu.
"Nggak usah melotot gitu, ibu jadi takut." Ujar ibu sambil mengupas kulit melon lalu memotongnya menjadi beberapa bagian, menatanya diatas piring saji dan terakhir memasukkan potongan besar daging melon ke mulut Jeffry.
Jeffry menguyahnya dengan patuh meski ukuran si melon over size di mulutnya.
Ibu terlihat menyeka matanya dengan lap tangan. Jeffry tahu ibu menangis meski wanita ini membelakanginya. Bahu ibu bergetar.
Jeffry berdiri, lalu membalikkan badan ibu. Ia memegangi kedua bahu Ibu.
Isakan ibu makin kenceng. Ia menghambur kepelukan Jeffry.
"Bocah nakal. Huhuhu..."
Jeffry mengelus punggung ibu perlahan.
"Makasih ya Bu, doa ibu jadi kenyataan." Lirih Jeffry. Entah mengapa, seperti ada kepuasan sendiri saat ibu menangisinya karena bangga.
"Kamu yang hebat." Ibu menciumi wajah Jeffry.
"Terima kasih sudah jadi anak baik, ya." Isak ibu.
Jeffry memeluk ibunya lagi, kali ini lebih erat.
Diujung dapur mbok Mirah yang sedang melap piring ikutan terharu.
Betapa beruntung tuannya mempunyai istri dan anak seperti Bella dan Jeffry.
Astaga, Mbok Mirah ikut menangis, air mata rembes dikedua matanya. Tanpa sadar lap piring pun beralih fungsi.
***
"