
"Apa lo? Pagi-pagi dah nongol aja!" Sofia yang baru keluar dari kamarnya mencibir Pam. Sahabatnya itu lagi asyik mengoles lembaran roti dengan selai.
Pam melirik, "elu juga, anak gadis jam segini baru keluar kamar, malu tuh ama ayam." tunjuk Pam pakai pisau yang ia gunakan untuk mencolek selai.
"Dih, ayaaammm... kukuruyuuukkk... Ayamnya nggak ada yang meluuukkk..."
Pam terkekeh melihat Sofi menirukan gaya ayam berkokok.
Sofi mendekati Pam, lalu menjimpit ujung rambut Pam dan menghempaskannya.
"Dah kramas ajaaaa! Keringin noh pake hair dryer! Nggak usah pamer, disini janda semua!" bibir Sofi monyong mencibir rambut Pam yang masih terlihat basah.
"Sengaja, weeekkk!" Pam menggigit rotinya.
"Merry mana sih?" Sofia celingukan mencari-cari sosok Merry yang biasa seliweran di dapur.
"Ke pasar, tadi gue papasan pas didepan." sahut Pam.
"Wah, lupa kan gue, ditinggal deh ama dia!" Keluh Sofi.
"Apa lo? Mau ngikut Merry ke pasar?" Pam melotot, ia mengentikan kunyahannya.
"Cih, biasa aja kalik. Sering gue kepasar ama dia." Ucap Sofia bangga, seolah pergi ke pasar adalah pencapaian tertingginya.
"Elo nggak bikin pasar heboh, kan? Secara lo artis gilak! Nggak usah nyari sensasi dong!" Wah, Pam ngegas.
"Nggak usah berlebihan, gue pake masker, kacamata, pake topi juga!" Sofia membela diri.
"Lagian kepasar bareng Merry mah pasti bakal aman. Yang ada senggol bacok ama dia." sahut Sofia, ia mengisi gelasnya dengan air dan membawanya duduk dekat Pam.
Lalu terdengar suara pintu dibuka, Merry masuk dengan wajah pucat dan masih meneteng tas belanjanya yang kosong. Ia terlihat kikuk melihat Pam dan Sofia.
"Loh Merr, katanya ke pasar? Belanjaan lo mana?" Tanya Pam heran.
"Anu Mbak, nggak jadi..."
Sofia mendekati Merry. Nggak seperti biasanya, Merry terlihat salah tingkah dan mundur beberapa langkah.
"Kamu sakit? Pucet banget loh. Mending buat istirahat dulu gih." Saran Sofia. Tangannya urung memegang lengan Merry, keburu Merry mengangguk dengan cepat dan berlalu ke kamarnya.
Sofia terlihat heran, tapi kemudian ia hanya mengedikkan bahunya dan kembali duduk.
"Kenapa sih, tu anak? Aneh banget, perasaan tadi fine-fine aja." Bisik Pam.
"Paling nggak enak badan, nanti biar periksa ke klinik. Oh iya, btw laki lo kemana? Tumben pagi-pagi dah nongkrong disini? Nggak kena hukum lo?"
"Udah gue kasih sajen semalem. Dinas luar kota dia, semingguan mungkin. Oiya, gue nginep sini, kangen banget berantem sama kalian."
"Hmm... Bentar lagi gue ada janji ketemu Bang Hotmarito." Sofi menyebut nama pengacaranya. Ada yang ingin ia diskusikan dengan pengacara kondang itu.
"Ikut, gue temenin ya?" Pam me-lap mulutnya dengan tisyu, lalu berjalan menuju kamar Merry. Rencananya ia ingin pamit selagi Sofi masih mengambil tasnya di kamar.
Tumben kamarnya tertutup? Batin Pam heran.
"Meeerr... you oke?!" Pam mengetuk pintu kamar Merry pelan.
Tidak ada jawaban.
"Mer? Merry?!" Panggil Pam lagi. Ia mengetuk pintu agak keras.
Merry muncul dengan muka pucat. Ia hanya membuka pintunya sedikit.
"Iya Mbak?"
Fixs nih anak sakit beneran. Biasanya Merry selalu ceria, bahkan saat datang bulan, saat dimana magernya para cewek-cewek di dunia yang lebih memilih rebahan pas istirahat kerja daripada sibuk ngelarin kerjaan.
Pam terlihat iba, ia memegang tangan Merry.
"Ayok gue anterin berobat."
"Anu Mbak, cuma butuh istirahat sebentar nanti pasti langsung baikan. Wes minum obat kok." Tolak Merry halus. Ia terlihat bingung dan asal bicara. Pandangan matanya juga nggak fokus.
Pam menghela nafas. Mungkin benar jika Merry hanya sedang butuh istirahat.
"Oke, gue sama Fia keluar bentar ya, nggak papa kan?"
Merry mengangguk cepat.
"Daaah, Merr..." Pam berlalu sambil melambaikan tangannya. Merry hanya mengangguk sekilas lalu buru-buru menutup pintu kamarnya.
Jantung Merry berdegup kencang, ia sampai lemas lalu tubuhnya yang ia sandarkan di pintu merosot, Merry menangis.
Pamela begitu baik, tapi ia merasa seperti penghianat.
Suara Pam dan Sofia terdengar menjauh. Merry buru-buru mengambil tas jinjingnya dan memasukkan baju-bajunya kedalam tas.
Buru-buru ia mengambil barang-barangnya yang tidak seberapa. Karena ia belum lama disini jadi belum banyak membeli barang-barang. Ini memudahkan Merry berkemas.
Ia harus cepat, Panji sudah mengetahui keberadaannya. Ia tidak bisa lebih lama lagi disini. Panji pasti akan mencarinya sampai dapat. Tidak, ini tidak boleh terjadi lagi. Merry takut.
Selama ini ia sudah berusaha sebisa mungkin menghindari Panji. Sampai bekerja jauh ke negara-negara tetangga dilakukannya.
Dan sekarang saat ia mulai nyaman bekerja dengan Vio, Panji muncul. Sialnya ia kenal baik dengan Pamela.
Dengan tekad kuat, ia menggenggam tas jinjing lalu berjalan melipir keluar dari rumah itu.
*******
Sementara itu Juno mengendarai mobilnya dengan santai menuju rumah Violin. Ia begitu bersemangat kali ini.
Sambil bersiul kecil, ia menyisir rambutnya dengan tangan. Sejenak melirik kaca spion.
Hmm... benar kata Malik, jambang dan kumis yang ia biarkan tumbuh membuat wajahnya semakin terlihat berwibawa. Ia berencana akan merapikannya saja nanti.
Ponselnya berdering dari tadi. Sengaja ia abaikan karena yakin Violin yang menelponnya. Sekali ini saja ia ingin egois, demi cintanya.
Dulu ia mengenal Lina sebagai chef disebuah restoran bintang lima yang mengusung tema Gueridon. Ini merupakan teknik pelayanan di mana hidangan dimasak setengah jadi diarea dapur dan dilanjutkan dihadapan para tamu menggunakan troli dan alat pemasak.
Jenis pelayanan ini membutuhkan keterampilan khusus, seperti menggunakan teknik flambe atau aksi memasak untuk menghibur tamu.
Pertama kali melihat aksi Lina, ia begitu terpesona. Bukan hanya terpesona dengan rasa makanan yang dibuat, tapi juga kepada sang chef.
Juno yang memiliki card khusus di restoran itu, tentu saja mendapat pelayanan prioritas. Chef mana yang dikehendaki, itulah yang akan memasak dihadapannya. (Tau lah yaa card-nya hasil ngepet darimae? Nepotisme dikit sama anak pemilik hotel, hehehe)
Hampir setiap hari Juno makan di restoran itu, menyesuaikan jadwal kerja chef Lina.
Selain pintar dan ceria, Lina juga polos dan baik hatinya. Yang membuat Juno jatuh cinta tentu saja mata bulatnya yang selalu bersemangat dan jenaka membuat Juno gemas.
Hanya melihat matanya saja bisa membuat Juno ikut tersenyum.
Hari-harinya terasa bersemangat semenjak mengenal Lina.
Gayung pun bersambut, singkat cerita Lina juga menyukai Juno. Ia begitu tersentuh saat Juno dengan bersungguh-sungguh melamarnya untuk menikah dihadapan seluruh pengunjung restoran. Juno meminta Lina menjadi istrinya, bukan hanya pacarnya.
Lalu beberapa hari setelah kejadian itu, Lina menghilang. Juno mencarinya seperti orang gila.
Dan hari ini, setelah sekian lama, Lina muncul dan mengaku bekerja sebagai pembantu di rumah Violin. Kenapa rasanya logika Juno nggak nyambung ya?
Lina seorang excecutive chef. Lalu menjadi asisten rumah tangga, sebenarnya apa yang ia cari?
Executive chef adalah posisi eksekutif dalam group restoran skala besar. Excecutive chef mengelola semua dapur dan melakukan sedikit persiapan makanan. Di restoran yang lebih kecil, gelar executive chef biasanya disebut chef de cuisine.
Lalu mendadak Juno menghentikan mobilnya, tangannya mengepal erat menggenggam stang kemudi. Mukanya merah padam menahan amarah, badannya terasa panas melihat pemandangan di depannya.
"Brengs*k!!!" Desisnya, bibirnya menipis menahan geram.
****