
Jalanan malam lumayan sepi kali ini, Jeffry mengendarai motor maticnya santai saja, atau lebih tepatnya sambil melamun.
Jalanan bak punya sendiri, yang lain ngontrak.
Memasuki komplek rumahnya, terlihat Pak RT dan beberapa warga sedang ronda malam. Jeffry membunyikan klakson, mereka melambaikan tangan membalas sapaan Jeffry.
Ia sedang malas basa-basi malam ini. Jadi ia putuskan masuk kedalam rumah, bersih-bersih badan sebentar lalu duduk melamun lagi ditemani secangkir kopi.
Seharian belum sempat membuka ponsel, banyak notif masuk saat ia mengaktifkan benda pipih yang sudah retak dibeberapa bagian layarnya.
Telfon dari ibu lalu beberapa pesan beruntun dari beliau. Skip dulu, maaf ya Bu, Jeffry sedang galau, janji besok telfon balik pagi-pagi habis subuh.
Dari Ali, temannya di bengkel. Skip aja, nggak penting.
Bang Roni. Skip bangeeettt, yang ada pingin emosi nanggepin si Roni.
Beberapa nomor baru di log panggilan. Ah, ini sudah biasa, kalau nggak dari fans-fansnya pasti kang kredit panci. Eh, apa ibu masih ada tunggakan cicilan ya? Kok nggak ada ngomong?
Lalu pesan dari,
Raisha...
Belinda...
Anindita...
Desi...
Lusi...
Tamara...
Jessica...
Milla...
Mitha...
Luna...
Maya...
Farida...
Siska...
Raya...
Yomita...
Aulia...
Ayu...
Audy...
Indah...
Siti...
Neneng...
Nirmala...
Ika...
Riana...
Vivi...
Dinda...
Revinka...
Felisha...
Tari...
Starla...
Mayang...
Sari...
Poppy...
Murni...
Hanna...
Lolita...
Beuh, jempol Jeffry pegel. Skip semua.
Pesan dari Mpok Lela, intip dikit aja : Jupri elu makan lontong sayur ame es teh blom bayar ye. Utang lu nambah nih.
Mpok Lela ini yang punya warteg depan bengkel. Meski judulnya warteg alias warung Tegal tapi si Mpok asli Betawi dan nggak ada Tegal - tegalnya.
Iye Mpok, nunggu gajian ya. Jeffry mengetik balasan.
Secepat kilat udah ada balasan lagi dari si Mpok.
Kagak usah bayar kagak napa dah, buruan kawinin anak gue noh.
Et dah, anaknya ditukar tambah ama lontong sayur. Sadis emang si Mpok.
Scroll lagi tipis-tipis.
Lalu satu-satunya pesan yang menarik perhatiannya, dari TANTE SOFIA.
Memang ditulis dengan huruf kapital semua sesuai apa yanga ada di kontak Jeffry.
Jeffry membukanya dengan jari gemetar.
Sudah sampai mana Jeff?
1 panggilan tak terjawab dari TANTE SOFIA.
Jeffry? Sudah dirumah?
Deg deg deg deg...
Jeffry memegangi dadanya. Ada apa ini? Sekian banyak cewek single yang mengirim pesan, kenapa malah janda ini yang membuatnya berdebar?
Jeffry menahan nafas sambil mengetik pesan. Takut bau jigongnya ikutan kekirim.
Sudah di rumah Tan, lagi ngopi.
Pesan langsung centang biru, tak lama ponsel Jeffry berkedip-kedip tanda panggilan masuk.
Dada Jeffry tambah berdebar kencang, ia mengumpulkan kekuatan untuk menggeser layar ponsel, menjawab video call dari Sofia.
Tunggu...
Nyari angel yang bagus dulu, rapiin rambut dikit, duduk yang tenang. Swipe up tanda hijau, Jeffry nyengir kuda.
"Hai Tan..." Sapa Jeffry agak gugup.
"Hai, syukurlah, aku cemas kamu lama banget nggak online." Wajah cantik Sofia menghiasi layar ponsel sejuta umat milik Jeffry. Astaga, terhormat sekali ponsel buruk ini.
"Hehehe, bersih-bersih dulu nyampe rumah. Tante belum tidur?"
"Ini tinggal merem."
Dari layar ponsel tampak Sofia sedang rebahan di atas ranjang kamar. Memakai lingerie pink berbahan satin. Meski tertutup jubah warna senada, tetap saja tembus pandang.
Jeffry laki-laki dewasa yang cukup umur untuk tergoda. Apalagi saat Sofia menelungkupkan badannya.
Dadanya jelas terekspos terang-terangan di layar ponsel. Jeffry mati-matian menahan panas tubuhnya.
Sofia sendiri sepertinya tidak menyadari posisinya yang provokatif.
"Anu, Tan. Aku tidur duluan ya. Badan agak pegel-pegel nih." Alasan Jeffry yang terlalu dibuat-buat. Yah, demi kesejahteraan umat laaahhh...
Tut...
Kerena gugup, ia langsung menggeser tanda merah untuk mematikan sambungan tanpa salam dulu.
Jeffry gelisah, ia keluar masuk rumah menenangkan bagian bawah tubuhnya yang berani-beraninya memberontak. Ia berharap akan segera reda panas tubuhnya, tapi nihil.
Ia bukanya nggak tahu cara menurunkan si 'adik', tapi mengingat yang ia bayangkan adalah tubuh molek Sofia, kenapa jadi malu sendiri ya?
Ya kali si Tante ridho dijadikan bahan fantasi tak senonohnya. Bocah yang mungkin Sofia anggap masih ingusan. Padahal kalem-kalem gini Jeffry nonton blue film juga sekali dua kali. Ia bukannya biksu ya...
Kesekian kalinya Jeffry keluar lalu masuk rumah lagi.
Ia sampai pegal.
Disambarnya kopi yang sudah dingin lalu meneguknya dalam satu kali tegukan.
Ia mengunci pintu rumah lalu ngacir ke pos ronda. Takut banget pulang, takut banyak setan yang berlomba-lomba menggodanya.
Tolong Jeffry Ya Olooohhh...
***
"Mas, kok perasaanku nggak enak ya? Jeffry dari siang nggak balas pesanku. Ini dah online cuma di baca tok ki piye bocah iki?" (gimana anak ini?) Isabella mondar-mandir di dalam kamar.
Mahendra yang sedang membaca buku diatas kasur, diam-diam memperhatikan dari balik kaca mata bacanya.
Yang baru ia tahu dari wanita cantik yang kini menjadi istrinya ini adalah, Bella kalau sedang kesal, panik dan marah, keluar bahasa moyangnya.
Mahendra yang nggak begitu paham bahasa Jawa cuma mesam mesem aja. Marah model begitu bukannya takut malah gemes deh. Pingin meluk aja.
Beda cerita dengan Atmanegara yang juga hobi melestarikan bahasa moyangnya itu. Kalau si Atma yang ngomel bawaannya pingin nimpuk aja biar cepet kelar.
Mahendra menutup bukunya, ia menepuk-nepuk kasur disampingnya, menyuruh Bella duduk dekat dengan dirinya.
Meski mukanya sudah dilipat jadi sepuluh sampai kusut, Bella menurut juga. Ia menghempaskan pantatnya disamping Mahendra.
Mahendra mencoba menghubungi Jeffry.
Nihil, ponselnya nggak aktif.
Ia melirik jam dinding, pukul dua dini hari.
Dicarinya nomor seseorang yang kemungkinan ada bersama Jeffry pada jam-jam segini.
Dering kelima langsung nongol wajah Pak RT komplek rumah Bella yang dulu.
Bella mendekatkan wajahnya.
"Eh Bu Isa, ada yang bisa dibantu?" Sapa Pak RT ramah meski wajahnya terlihat kusut seperti baru bangun tidur juga kopiahnya masih menutupi sebagian wajahnya.
Pak RT membenahi sarungnya. Terlihat ia sedang berada di pos ronda.
"Anu Pak, maaf mengganggu. Apa Jeffry ikut ronda malam ini?"
"Jeffry?" Pak RT mengerutkan jidatnya lalu celingukan mencari sosok Jeffry.
Ia mengarahkan kameranya pada seseorang yang sedang meringkuk dipojokan pos ronda berselimutkan kain sarung cap anak gajah.
Jeffry tidur pulas sekali, mulutnya sampai mangap-mangap nggak sopan.
Bella bernafas lega, ia menatap suaminya penuh syukur.
Setelah basa-basi sebentar dengan si RT, Mahendra mematikan ponselnya.
"Anakmu sudah dewasa, jangan mengkhawatirkannya berlebihan." Ucap Mahendra sambil menyelimuti tubuh istrinya. Ia ikut rebahan disamping Bella.
"Wajar to Mas, Jeffry anakku. Mosok nggak boleh khawatir sama anaknya." Bella melengos membelakangi Mahendra.
"Bukan nggak boleh, hanya saja jangan berlebihan."
"Yang begitu dibilang berlebihan, terus aku kudu piye? Anak sedino nggak iso di hubungi kok ojo berlebihan, huh!" (aku harus gimana? Anak seharian nggak bisa dihubungi kok nggak boleh berlebihan, huh!)
Bella ngomel, ia menutup rapat tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
Mahendra menatap punggung Bella.
Yaelahh, salah lagi kan? Hmm...
***