Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Kamar 0606



Juno berjalan dengan langkah lebar-lebar menuju lobi hotel. Dia baru saja menghubungi Pamela untuk menyusulnya ke hotel ini.


Awalnya Pam hanya menganggap ini lelucon, ia bahkan menggoda Juno yang tiba-tiba mengajaknya bertemu di hotel.


Namun saat mendengar nama Panji, Pam langsung minta share lock di kirim ke ponselnya.


Beruntung jarak kantor pengacara Dr. Hotmarito Manalu, S.H., LL.M., M.Hum (Duh, panjang, pengacara kondang mah beda) tak begitu jauh.


Juno menunggu Pam di lobi dengan tidak sabar, ia mondar mandir bagai setrikaan.


Ia sudah berkoordinasi dengan pegawai hotel, awalnya menanyakan kamar yang ditempati Panji. Cukup mudah bagi Juno karena ia meminta tolong Violin dengan nama besar Atmanegara.


Maka segalanya menjadi mudah. Hufftt...


Ia sudah siap dengan ejekan Vio setelah ini, yang penting menyelamatkan Lina lebih dulu.


Sebentar kemudian Pam muncul dengan Sofia dibelakang.


Pam menuju kearah Juno, tangannya mencengkram kerah kemeja laki-laki itu.


"Jangan main-main, Juno! Apa maksudmu?" Pamela yang frontal tentu saja tidak peduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya.


Perlahan Juno menarik tangan Pam agar lepas dari kerahnya. Ia menghela nafas mengumpulkan kesabarannya.


"Bukan waktunya berdebat Pam, aku tidak bermaksud menyakitimu. Kupikir kamu harus melihat ini dengan mata kepalamu sendiri. Maafkan aku." Desis Juno. Ia sungguh tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Pam nanti.


Juno membawa Pam kedalam lift, diikuti Sofia, dua security, dua pegawai hotel dan managernya.


Sampai di kamar dengan nomor 0606, Juno menghela nafasnya lagi. Tangan kanannya menggenggam eret pergelangan tangan Pam. Nafas Pam sudah naik turun tak beraturan.


Sedang tangan kirinya mengepal kuat, mencoba menahan diri.


******


Merry meringkuk di ranjang. Ia begitu ketakutan saat melihat Panji didepan matanya. Refleks alarm otaknya mengirim sinyal bahaya.


"Hai, sayang." Kalimat pertama Panji yang membuat Merry meremang.


"Menjauh Bangs*t!" Desis Merry, tubuhnya lemah sekali. Untuk teriak saja ia kesusahan.


Perlahan ia mencoba beringsut, bergeser agak menjauh dari jangkauan Panji.


"Sial!" Umpat Merry. Kaki dan tangannya terikat, dia tidak bisa bergerak bebas.


"Aku tidak mengharapkan sambutan ini, sayangku." Kekeh Panji.


"Bersikaplah manis, aku akan memperlakukanmu dengan lembut." Bisik Panji, ia mendekatkan wajahnya begitu dekat di wajah Lina.


Lina yang lemah memilih memejamkan mata, ia muak melihat wajah Panji. Pria kurang ajar yang tidak tahu malu sama sekali.


"Wah, kau semakin cantik, sayang." Panji menelusuri garis wajah Lina dengan ujung jarinya. Ia menyusuri setiap inci wajah cantik itu.


Lina melengos, sebenarnya ia takut. Panji orang yang nekat, persis psikopat.


Tapi kali ini Lina bertekad, ia akan berjuang melawan ketakutannya, ia tidak akan membiarkan pelariannya selama ini sia-sia.


Ia lelah berlari hanya untuk menghindari iblis satu ini. Rela mengorbankan karirnya yang cemerlang sebagai chef, hanya untuk bersembunyi. Ia pikir profesi ART tidak ada dalam list pencarian Panji.


Tapi ternyata takdir ingin mereka bertemu lagi untuk menyelesaikan semuanya.


"Kau tahu saat pertama kali aku melihatmu, aku merasa sudah memilikimu." Panji mengecup pipi Lina.


"Lalu kau menolakku, bagaimana bisa? Kau menolakku, sayangku!?" ciuman Panji turun ke bibir ranum itu.


"Puiihh.." Lina meludahi wajah Panji.


Panji sedikit kaget, lalu tertawa terbahak-bahak. Ia meraih tisyu untuk membersihkan ludah Lina di wajahnya.


Lina sampai gemetar melihat tawa Panji. ia seperti melihat Joker di film Batman, tapi dalam wujud nyata didepan matanya. Wajah licik dan penuh dendam.


Panji mendekat lagi, ia menjambak pelan rambut Lina sampai wajahnya mendongak kearahnya.


"Aku sudah bilang, bersikaplah manis, aku akan memperlakukanmu bagai ratu. Tapi kau malah semakin kurang ajar. Jangan salahkan aku jika berbuat kasar." Desisnya tajam. Tatapan bengisnya berangsur meredup, kini berganti tatapan memuja.


"Kau begitu mengg*ir*hkan, sayang. Aku suka." Lanjut Panji. Kini ia menggelitik telinga Lina dengan ujung lidahnya.


Tubuh Lina menegang, sekuat tenaga ia menahannya. Dipejamkan lagi matanya, ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tetap sadar. Jangan sampai terlena, atau Panji akan memakannya lagi.


Panji semakin bergairah, kini jil*tannya turun ke leher Lina.


Dada Lina sudah terekspose, pandangan Panji semakin berkabut.


Panji ingat saat pertama kali mencicipi dada ini rasanya begitu manis. Ia menjadi semakin candu, ingin lagi, lagi dan lagi.


Kali ini ia menyesapnya dengan penuh penghayatan. Bagai kerinduan yang terobati, bagai dahaga yang terlaksana. Rasanya masih sama, manis dan memabukkan.


"Oh... Sayaaangg.." Panji mengerang, tangannya sudah bergerilya di p*ha Lina. Sekali hentakan ia merobek panty tipis itu.


Dengan gerakan tangan profesional Panji mengerjai inti tubuh Lina. Mulutnya masih asyik mengul*m puncak ranum itu.


Lina hampir menangis. Hatinya mengutuk sumpah serapan untuk b*Jing*n ini, tapi tubuhnya berkhianat, ia begitu terlena dengan sentuhan pria ini.


"Aaarrrgghhh..." lenguhan keluar dari mulut Lina, ia pelepasan. Tanpa bisa ditahan lagi cairan kenikmatan itu keluar dengan tidak tahu malunya.


Panji tersenyum senang, ia menjil*ti sisa-sisa cairan tubuh Lina yang menempel dijari-jarinya.


Ia mengangkat kaki Lina dan melebarnya, sampai kepalanya beralih diantara kedua paha Lina, ia menceca*pnya dengan rakus bagai bertahun-tahun tidak merasakan kenikmatan ini. Tidak akan ia biarkan cairan wangi itu terbuang begitu saja.


Panji bahkan tidak memberi jeda nafas untuk Lina. Lidahnya menari dengan lincah di belahan itu.


Lina menangis meraung-raung. Ia berteriak sekuat tenaga. Namun percuma, kamar ini kedap suara.


Panji menangkup wajah Lina.


"Sssttt... jangan menangis. Nikmatilah, sayangku." Bisik Panji lembut.


"Jangan lanjutkan, pliisss!" Mohon Lina dengan wajah penuh air mata.


"Tidak bisa, aku begitu merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu." sahut Panji.


"Jangan teriak ya, kamu hanya akan membuang tenagamu percuma. Nikmatilah, sayang. Ini tidak akan sakit."


Panji membuang kemejanya. Kini ia bertelanjang dada, hanya tersisa boxer putih di tubuhnya.


Lina berfikir cepat, ia harus mengulur waktu untuk memulihkan tenaganya, sambil memikirkan cara kabur dari cengkeraman ini.


"P-Pa-Panji..." Cicit Lina. Hampir saja lenguhan keluar dari mulutnya karena Panji sudah bermain lagi dibawah sana. Ia buru-buru menggigit lagi bibirnya.


Mendengar namanya disebut, Panji menghentikan aktivitasnya.


"Kau menikmatinya, hmm?" Bisik Panji.


"Tolong jangan begini, Pamela lebih cantik dan lebih baik daripada aku." Lina mencoba mengingatkan Panji tentang istrinya.


Sepertinya usaha Lina tidak sia-sia, terbukti begitu mendengar nama Pamela disebut, Panji menunduk dalam.


Ia seperti menahan sesuatu, lalu saat mendongak Lina melihat mata Panji berair.


"Tapi aku mencintaimu, Lina. Jangan menolakku lagi." Mohon Panji.


Baru kali ini Lina melihat mata itu melemah. Selama ini Panji terlihat begitu semangat dan bergairah, namun ternyata saat mendengar nama Pam, ia menjadi lemah.


"Terkadang cinta tidak harus memiliki, lebih baik dicintai daripada mencintai, kan? Apa yang kamu dapat saat mengejarku? Lalu bandingkan apa yang kamu dapat setelah mengejar Pamela?" Dengan hati-hati Lina merangkai kata-kata. Ia mencoba berkata halus, meski hati ingin menendang muka b*jingan ini.


"Panji, urusan hati tidak bisa dipaksakan. Kau mungkin saja bisa menculikku, kau bisa memeprk*saku, tapi kau tidak akan bahagia karena hatiku tidak memilihmu."


Kata-kata Lina semakin lembut. Kini ia tahu, jika dibalas kasar, Panji akan semakin beringas.


Pria ini 'gila', untuk menyadarkannya perlu menyentuh relung hatinya lebih dulu.


"Apa aku begitu tidak layak bersamamu?" Bisik Panji. Suaranya seperti tercekat, mungkin untuk mengeluarkan pertanyaan ini, ia menekan seluruh harga dirinya.


Lina menggeleng pelan, "tidak, aku yang tidak pantas bersamamu. Kau lebih layak bersama orang yang tepat, orang yang mencintaimu, menerimamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu."


"Kamu sudah menemukannya, jangan sia-siakan keberadaan Pamela disisimu."


Panji menggeser tubuhnya, ia duduk di ranjang disamping Lina. Dengan frustasi meraup mukanya dengan tangan.


"Pam... maafkan aku." Desis Panji.


Lalu suara pintu kamar hotel itu dibuka dari luar.


Panji tersentak kaget saat mendapati Pamela masuk dan menatap tajam kearahnya.


Sedangkan Lina menghela nafas lega, ia selamat kali ini. Kemudian sekelilingnya redup dan gelap, ia pingsan.