Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Harta, Tahta dan Cinta



Apa di dunia ini yang membuatmu bahagia?


Harta?


Tahta?


Atau cinta?


Tentu saja semuanya membuat bahagia, tergantung darimana asalnya hartamu, tahtamu dan cintamu itu.


Sesuatu yang diawali dengan usaha, hasilnya tidak akan pernah berkhianat. Begitu kata motivator.


Begitupun yang Atmanegara miliki saat ini. Hartanya, tahtanya semua ia miliki karena cintanya.


Maharani anak seorang rektor UGM, ibunya seorang guru SD, Rani yang nekat mencintai Atmanegara, seorang anak nelayan dari pinggiran kota Jogja.


Mereka bertemu di sebuah pantai, saat itu Atmanegara sedang membantu bapaknya menepikan perahu kayu di bibir pantai.


Berbondong-bondong dengan nelayan lain menghalau perahu ke daratan. Otot remajanya tersembul liat di lengan dan perutnya.


Tengah hari saat matahari sedang tinggi-tingginya, Atmanegara meneteng karung ikan untuk ditimbang di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Untuk di jual kepada para tengkulak yang sudah menunggu hasil ikan para nelayan.


Maharani terpesona pada pandangan pertama. Atmanegara yang sexy dengan kulit coklat kemerahan karena terbakar matahari begitu gagah di mata Rani.


Singkat cerita mereka berkenalan, menjalin cinta dan berujung penolakan dari pihak Rani, tentu saja.


Keluarga Rani yang sangat sensitif tentang pendidikan, menolak Atmanegara yang hanya lulusan STM (sekarang SMK). Mereka tidak mempermasalahkan dari mana asal Atmanegara, mau anak nelayan, miskin, asal berpendidikan.


Pendidikan adalah nomor satu, pendidikan bisa merubah nasib seseorang, juga bisa merubah pandangan orang. Begitu kata Pak rektor.


Uang darimana untuk kuliah? Untuk makan sehari-hari saja sulit. Dan lagi kapasitas otak Atmanegara tidak terlalu mendukung, ia bodoh secara teori. Sering tidur di kelas, bolos saat pelajaran, tapi nilainya tertinggi di praktek.


Bidang yang ia kuasai adalah lobi melobi, ia pandai negoisasi, unggul birokrasi dan sedikit licik tentu saja.


Namun Rani tidak perduli. Tidak berpendidikan tinggi bukan berarti bodoh, kan? Ia melihat potensi lain di diri Atmanegara. Jadi ia putuskan tetap menggenggam erat tangan kekasihnya.


Berbekal semangat, tekad dan uang tabungan Rani, mereka memulai usaha baru.


Jatuh bangun berdua. Suka duka, tangis dan tawa mereka lalui.


Sampai terbentuklah Marina Group yang kokoh tak tertandingi (semen kali ah).


Atmanegara memandang bangunan menjulang tinggi dihadapannya.


Bukti cintanya untuk Rani, Marina (Maharani Atmanegara). Lalu ia melirik wanita disampingnya, bukti cinta mereka berdua.


"Jadi bagaimana kakek bisa memberikan restunya? Seingatku Mama pernah bilang kalau kakek belum sempat melihat kalian sukses?" Violin mencecar bapaknya.


Mereka berjalan beriringan memasuki lobi. Hal yang jarang terjadi, bahkan hampir tidak pernah terlihat.


Hari ini mreka berangkat kerja dari rumah berdua, dalam satu mobil. Sampai Rion pun terheran-heran. Apa harus nunggu Ibu mati dulu baru akur? Kira-kira begitulah suara hati Rion.


Atmanegara meraih pinggang Violin agar lebih merapat di sampingnya. Vio agak terpekik saking kagetnya. Tapi ia kembali menguasai keadaan. Dia tetap berjalan melewati resepsionis dan masuk ke dalam lift direksi.


Muka Atmanegara lempeng, padahal sudah heboh satu gedung mengenai anak dan bapaknya, mereka biasa berdebat. Lalu ini terlihat bersahabat. Wah wah waaahhh...


"Kakek dan nenekmu menyerahkan Mama dengan sukarela." Bisik Atmanegara tepat setelah pintu lift tertutup.


Violin menoleh, "Papa main dukun?" tuduhnya.


"Ck, Papa mainnya saham bukan dukun."


"Lalu?" Cecar Vio.


"Mereka kecelakaan dan dalam kondisi kritis. Papa adalah orang pertama yang mereka cari."


"Untuk menitipkan Mama?"


"Begitulah, yang ku ingat kakekmu menggenggam tangan Papa dan Mama. Lalu menutup mata untuk selamanya.


"Kecelakaan itu bukan rekayasa Papa, kan?" Violin tetap curiga.


"Dulu Papa belum punya kuasa, Vio. Berfikir untuk mencelakai saja tidak pernah."


"Syukurlah..." Vio berucap lega.


"Apa segitu jahatnya Papa dimatamu? Hm?" Atmanegara tersenyum. Orang-orang sudah biasa menatapnya jahat.


Banyak juga bawahannya yang diam-diam menggunjing di belakangnya. Ia tidak begitu peduli tentang penilaian orang. Tau apa mereka tentang hidupnya?


Tapi ternyata begini rasanya saat darah dagingmu menilaimu buruk?


Kapan terakhir kali Atmanegara berbicara intim dengan anaknya, ia sendiri lupa.


Lift berhenti di lantai 23, tempat Barbara Brand berkantor. Violin melangkahkan kakinya saat pintu terbuka. Atmanegara mengikuti dibelakang.


"Papa ngapain?" tanya Vio curiga. Ia paling tidak suka Papanya kepo tentang pekerjaannya.


"Mampir doang, dah buruan masuk. Nggak baik terlambat. Nanti jadi contoh jelek karyawan lainnya."


Violin cemberut. Ia berjalan sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Yak ampun, gemes banget sih. Mirip Maharani pas lagi ngambek." Batin Atmanegara. Ia berjalan lambat di belakang Violin.


"Cat kuku lo tumpah, kena berkas gueee. Beresiiiinnnn!!!"


Malik ngibrit tanpa toleh kanan kiri, Stiletto sepuluh centi-nya terdengar nyaring beradu dengan lantai granit.


Atmanegara mengrenyitkan dahinya, kantor ini sudah mirip pasar malam. Entah apa yang berlarian di depannya ini? Manusia, kah? Atau astral?


Kantor ini memang Violin design agar lebih homy. Karyawannya membutuhkan banyak inspirasi untuk pekerjaannya. Ia kurang suka tempat kerja formal yang terlihat membosankan.


Violin meringis didepan pintu ruang kerjanya. Siap-siap dah dengerin omelan. Fiiuuuhhh...


"Bu, Pak Juno ijin hari ini?" Sambutan pertama Nadia saat Vio duduk di kursi kerjanya.


Ia mengrenyit, Juno ijin lagi? Sudah berapa kali dalam sebulan ini ia keseringan ijin?


Vio mengutak-atik ponselnya. Ia mencoba video call Juno.


"Hmmm..." Gumaman suara Juno dari seberang. Mukanya terlihat tersiksa.


"Kesini sekarang atau ku pecat?"


"Elaaahh, sehari doang, Vi." Juno mengiba.


"Kamu pikir kerja sama mbahmu? Yang seharusnya berduka itu aku, bukan kamu? Ngapain ijin mendadak?" Violin mendelik galak. Intonasinya masih aman, hanya sedikit geraman. Mau teriak tapi Atmanegara sedang dalam mode memperhatikan. Banyak-banyak bersyukur dah elo Jun.


"Harus banget kelar urusan gue hari ini. Nggak bisa lagi di tunda. Gue takut kebablasan."


Violin langsung ngeh yang di maksud Juno.


"Bukannya udah kebablasan?"


"Iyaa, tapi nggak dikasih lagi."


"Syukurlah..." Gumam Vio. Sumpah pingin ngakak lihat muka Juno.


"Gue kasih setengah hari, habis itu balik kantor."


"Yaaahh, nanggung. Gue nggak minta libur bulan madu loh ini. Tau diri gue."


"Bagus deh."


"Vi... "


Atmanegara merebut ponsel Vio, lalu mengarahkan kamera ke wajahnya.


"Jam berapa Jun? Saya dan Vio kesana."


"Eeeh, B-bapak?" Juno kelabakan melihat wajah Atmanegara tiba-tiba nongol di layar ponselnya.


"Itu, anu... satu jam-an lagi Pak." Jawab Juno gugup.


"Oke, kamu share loc nya sekarang."


"Siap Pak."


Tuttt. Atmanegara mengembalikan ponsel Violin.


"Pa, aku ada kerjaan loh. Nggak ada Juno nggak ada yang handle." Violin protes, memang begitu adanya.


"Sini kamu." Atmanegara melambaikan tangannya memanggil Nadia.


"Saya, Pak?" Sahut Nadia. Ia celingukan tapi memang tak ada orang di dekatnya. Jadi memang ia yang di panggil.


Nadia mendekat takut-takut. Baru kali ini ia berhadapan langsung dengan sang legend. Mendadak tangannya keringat dingin. Angker banget auranya.


"Berikan job desk nya. Biar dia yang handle. Kamu keluar duit banyak buat gaji mereka, pinter dikit dong pakainya." Omel Atmanegara enteng. Ia seolah yakin akan kemampuan Nadia.


"S-sa-saya Bu?" Nadia gagap. Ini proyek besar dan Atmanegara menyuruh Nadia yang pegang. Gila!


"Dah sini, dia yang tanggung jawab." Vio mengedikkan dagunya menunjuk Atmanegara.


Sekitar sepuluh menit Vio berdiskusi dengan Nadia. Atmanegara menunggu dengan mengecek pergerakan IHSG di tabletnya.


"Pah..." Tau-tau Vio sudah mencangklong tas dipundak dan bersiap pergi. Atmanegara berdiri.


"Juno dikasih ati, ntar makin manja." gerutu Vio.


Atmanegara terkekeh, "anggap aja reward."


Sebelum meninggalkan ruangan Vio, Atmanegara menghampiri Nadia dan menepuk pundaknya.


"Kamu pasti bisa." Ucap Atmanegara yakin. Lalu berlalu pergi.


Efeknya?


Luar biasa. Hanya tiga kata 'kamu pasti bisa' dari mulut seorang Atmanegara langsung membuat Nadia optimis seribu persen.


Wah...


****