Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Drama Toilet Rusak



"Novaaa... ada yang kekunci di toilet rusak lantai dua!" Seru Wahyono, ia baru sibuk berkutat dengan mesin pengering saat tiba-tiba ponselnya berdering.


Awalnya ia abaikan, siapa juga yang telfon di jam-jam kantor begini. Namun saat dering ketiga, perasaannya mulai tak enak. Bulu kuduknya mulai meremang, seperti memperingatkan untuk segera mengangkat panggilan itu.


Nomor tidak dikenal berderet di layar.


"Halloo, Wahyo here. Can I help you?" Sapa Wahyo ceria seperti biasanya.


"Wahyo! Cek toilet lantai dua sayap barat! Sekarang!"


"Eehh, siape nih? Jangan berbuat huru hara ya, bisa saya laporkan anda!" Hardik Wahyo nggak kalah galak. Enak saja perintah orang semaunya, emang dia siapa? Huh!


"Telat lima menit, saya tahan gaji kamu lima bulan kedepan!"


"Heh, emang anda siapa berhak nahan gaji saya, hah? Profesor Jim?"


(Jimmy Lim - Direktur Marina Medika.red)


"Ooh, jadi kamu lebih takut sama Jimmy? Oke, biar Jimmy yang buka toiletnya kalau gitu!"


Klik.


Wahyono bengong, otaknya buffer. Siapa coba yang berani memerintah profesor Jimmy kalau bukan Pak Atma? Owner Marina Medika.


Mam-pus. Wahyo menepuk jidatnya. Buru-buru ia menghubungi balik nomer tadi.


Belum habis dering pertama, suara diseberang sudah menyapa telinga Wahyono.


"Hmm..."


"A-a-anu Pak, mohon maaf akan segera saya urus toiletnya. Mohon maaf sekali lagi Pak."


"Hmm..."


"Baik, saya matikan dulu, Pak. Semoga hari anda menyenangkan. Mariii..."


"..."


Klik.


Takut-takut Wahyo mematikan panggilannya. Ia berjalan dengan langkah lebar menuju toilet lantai dua.


"Tadi sudah kamu kasih tanda, kan?" Tanya Wahyono. Ia berharap Nova benar-benar sudah memasang tanda itu. Biar dia ada alasan pembelaan diri nanti.


"Sudah Pak, dua-duanya saya pasang kok." Wajah Nova ikut panik.


"Orang gila mana sih yang bisa-bisanya pakai toilet yang jelas-jelas ada warning nya?! Buta kali ya?" gerutu Nova.


Wahyono langsung berhenti, ia menempelkan jari telunjuknya di bibir Nova.


"Apa sih Pak? Bau terasi tauuu!" Nova cemberut. Tangan Wahyono jelas-jelas bau sambel terasi, masih nempel pula di ujung hidungnya.


Wahyono celingukan, "Jaga bicaramu. Ini orang penting. Owner sendiri yang telfon saya. Cepat sterilkan dulu tempatnya."


Nova langsung kicep.


Dengan sigap mereka berdua mengosongkan toilet lalu menguncinya dari dalam sebelum memulai aksi.


Wahyono mengeluarkan alat dari dalam box kecil. Wajahnya nampak serius, ia menempelkan telinganya di pintu.


"Ehem, siapapun di dalam, saya akan mencoba membuka pintunya. Mohon tetap tenang, jangan panik."


"Silahkan." jawab suara dari dalam.


Wahyono dan Nova saling lirik. Suara laki-laki terdengar tenang.


Butuh waktu lima belas menit Wahyono mengutak-atik pintu. Keringatnya mengalir membasahi baju seragam OB nya.


Jelas aja lama, yang begini bukan kerjaan Wahyono, kenapa pula jadi dia yang di telefon pak Atma coba?


"Pak, kerjain cepetan, nggak usah sambil mesem-mesem begitu." Nova be-te nungguin Wahyono nggak kelar-kelar. Ia mulai haus, masa iya minum air kran?


"Sini." Nova merebut alat dari tangan Wahyono, ia mulai nggak sabar. Nggak butuh tenaga dan waktu banyak, pintu toilet terbuka dengan mudah.


"Gampang gini dari tadi bapak ngapain?" Nova mendelik gemas. "Kalau nggak bisa ngomong, Pak. Tau gitu tak kerjain sendiri!"


"Eh, tadi susah loh, Va. Sumpah." Wahyono masih berkelit. Ia garuk-garuk kepalanya yang nggak gatel sama sekali.


Hampir saja Nova nge gas, saat sesosok laki-laki setengah baya yang masih gagah dan tampan keluar dari dalam toilet. Nova melongo.


"Bapak ngapain di toilet cewek?" Nova menyelidik curiga. Pandangannya menelisik dari ujung rambut hingga ujung sepatu kulit yang di kenakan pria ini.


"Maaf saya salah masuk sepertinya." Mahendra terkekeh. Wajahnya tampak sumringah, tidak mengindikasikan seseorang yang baru saja kekunci di toilet.


"Oh iya, terima kasih sudah membantu kami." Mahendra mengeluarkan lembaran merah dari dompetnya.


Nova langsung melotot, busyet banyak bener dah.


"Oh, maaf pak. Ini sudah tugas kami, silahkan bapak keluar biar kami perbaiki kembali." Wahyono menolak halus. Ia harus bersikap profesional, siapa tahu kan nanti bapak ini ngomong yang bagus-bagus tentangnya ke Atmanegara. Demi kelancaran karir ke-OB-annya.


Nova cemberut, nggak rela.


"Saya juga ikhlas loh, hitung-hitung tanda terima kasih saya untuk kalian." Mahendra kembali menyodorkan lembaran merah itu di depan Nova.


Sigap Nova menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia.


"Sekali lagi terima kasih, saya permisi. Ayo, sayang." Mahendra menoleh kebelakang, menunggu seseorang.


Nova melotot melihat siapa yang keluar dari dalam toilet. "Mbak Bella?!" Tanya Nova kaget.


Ngapain coba bapak ganteng ini berdua Mbak Bella di dalam toilet?


Dan maksudnya sayang tadi apa ya? Otak Nova buffer.


Yang dia tahu Mbak Bella itu kan janda. Apa itu mantan suaminya? Atau jangan-jangan pacarnya? Aaahhh, Nova jadi iri. Bahkan ia sendiri masih jomblo di 25 tahun umurnya ini.


Wahyono hanya diam saja, dia nyari aman. Walaupun dalam hatinya kepo juga, sama seperti Nova.


"Tak keluar dulu Yo, Va. Makasih loh." Bella berucap kikuk. Ia gugup, tidak menyangka Mahendra segamblang itu memangilnya sayang.


Nova malah bengong, sibuk dengan imajinasinya. Apalagi melihat Mahendra menggenggam tangan Bella dengan mesra. Meski Bella terlihat berusaha melepasnya, tapi tampak sekali wajah bahagia pria itu.


"Menurut bapak, itu pacarnya mbak Bella bukan?"


"Bukan! Kamu nggak lihat Bella nggak suka di gandeng-gandeng gitu?" Wahyono menjawab sengak.


"Yaa ini kan di tempat kerja, Pak. Mungkin Mbak Bellanya risihh. Eh, jangan-jangan mereka baru jadian? Yak ampun romantis bangeeettt..."


"Dandan klimis gitu ngajak jadian kok di toilet to, Va? Toilet rusak pula. Yang ada tuh di ajakin diner romantis kek, pake lilin, ditepi pantai, baru romantis."


"Iiihh, bapak kuno. Jaman sekarang jadian bisa di toilet rusak pak. Lebih dapet feel nya."


"Feel apa? Yang ada mambu! Jorok kamu!"


"Susah ngomong sama orang tua!" Nova mendengus sebel. Wahyono masih mengutak-atik pintu, sok tahu.


"Tapi mereka cocok banget dah. Yang laki ganteng, yang cewek cantik." Nova masih saja ngomongin Bella.


"Kamu nggak lihat, masih gantengan aku kemana-mana gini?!"


Nova melirik muka Wahyono, lalu turun ke perutnya yang buncit macam ibu hamil sembilan bulan, "pak, disana kaca gede banget loh. Silahkan dipake, ya! Nggak usah kebanyakan haluuuu..." Nova melenggang pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Lah, bener to? Orang ganteng mah di suruh ngaca tetep aja ganteng." Wahyono mengamati wajahnya di pantulan cermin toilet.


"Eehh... Bagi duitnya, Va!" Seru Wahyono, tiba-tiba teringat uang yang pria itu berikan untuk Nova.


"Kalau masalah duit aja cepet, tadi nolak. Sok-sokan sih." Cibir Nova langsung lari ninggalin Wahyono.


****