Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Mulai Galau



Sepanjang perjalanan pulang, trio jandes terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Vio masih dengan spekulasinya sendiri.


Sofia sibuk mikir bakal bikin tema apa di konten selanjutnya. Kemarin sih ada yang DM untuk endorse baju muslim. Mana gede lagi duitnya. Mayan bangeeettt...


Tapi...


Sofia mikir lagi. Gamis ya? Hmm...


Dan Pam yang sebentar sebentar melirik Violin.


Nggak biasanya Pam ragu menanyakan sesuatu. Hanya pertanyaannya kali ini mungkin saja di anggap konyol oleh Vio.


Bukan satu dua kali ia melihat Vio dan Rion berdua. Tapi dulu biasa aja, kenapa sekarang nyebelin sih?!


Jangan bilang ia sudah terjerat pesona Rion?


Secepat itu?


Eh, tapi kan Rion terlalu indah untuk diabaikan. Astaga!


Kenapa baru sekarang sih?


Kemarin kemana aja gue? Pam sebel sendiri.


"Ehem, ada yang salah di wajah gue?" Violin jengah juga dilirik Pam. Bukannya dia nggak tahu ya, nyoba aja berapa lama Pam tahan melotot terus.


Risih juga lama-lama.


"Ada! Gue sebel liat muka lo!" Pam cemberut. Ia menutup wajahnya pake bantal lalu tidur membelakangi Violin.


"Lah..."


Nggak jelas banget kan?


Oke, biarkan Pam larut dengan kegalauannya.


Vio pingin tidur.


***


Tepat seminggu, Juno dan Merry mengexplore Bali-Lombok berdua.


Eh nggak berdua juga sih, beberapa awak yatch dengan tugas masing-masing ikut mendampingi.


Ya jelas lah, gimana ceritanya bisa sampai Bali-Lombok tanpa mereka?


Masih di dalem negeri aja. Bali-Lombok cukup lah, toh tujuannya bulan madu, bukan piknik. Intinya kan dengan siapa, nggak penting kemananya.


Juno sering ke tempat ini, untuk kerja. Merry juga berapa kali ada undangan.


Bedanya kali ini mereka benar-benar quality time, bukan kerja, bukan juga piknik.


Piknik tuh explore tempat-tempat yang asyik.


Kalau honeymoon, explore tempat juga sih untuk pendalaman materi.


Halah!


Makin lengket? Jelas!


Makin sayang? Jelas!


Makin lincah? Tentu saja!


Mereka banyak mencoba gaya baru. Lebih banyak Juno sih yang kepo dengan gaya yang dilihatnya di film.


Apalagi saat di tengah lautan. Ini pengalaman baru bagi Merry dan Juno.


Gila ternyata se enak ini bercin ta di atas lautan dengan pemandangan langit biru, ditengah hamparan laut bebas.


Begitu greget dan menantang. Apalagi mereka bebas melakukannya dimana pun. Juno paling suka di balkon sih.


Beratapkan langit, ditemani bintang bintang, dan angin laut.


Yatch ini memang dirancang khusus untuk pasangan yang ingin bulan madu. Jadi awak yatch wajib tutup mata, tutup telinga, dan yang paling penting tutup mulut.


Boleh juga sih kapan-kapan agak jauhan dikit. Belum-belum otak Juno sudah sibuk merancang honeymoon selanjutnya.


Yang penting direncana aja dulu, masalah cutinya di ACC apa nggak urusan belakangan. Nunggu Violin khilaf dulu keknya sih.


Sore ini dirumah pengantin baru.


Bidadari hati Juno baru selesai mandi, mereka baru saja ehem lagi. Ini yang ke sekian kalinya, entah yang keberapa.


Merry cemberut. Wajahnya kelihatan capek luar dalem.


"Mas, pingin makan daging!" Rajuk Merry, ia butuh makan berat biar staminanya kembali lagi.


"Tinggal pencet, sayang." Jawab Juno sambil mengangkat ponselnya.


Stok kulkas kosong, mie instan juga nggak ada. Beginilah rumah kalau ditinggal tanpa ada asisten.


"Terserah yang penting daging." Merry melingkarkan lengannya di leher Juno lalu duduk di pangkuannya.


"Jangan mulai dong, Yang!" erang Juno. Sumpah tubuh bagian bawahnya langsung bereaksi menyapa sangkarnya.


"Mulai apa? Kan cuma gini doang?" Merry mengeratkan pelukannya. Sengaja juga sedikit menggoyangkan pinggul.


"Ya tapi sana dulu, aku nggak bisa konsen ngetik nih."


Merry bodo amat, ia malah sengaja menggoda Juno.


Juno menangkap pinggul istrinya dan mencium leher Merry sampai merah.


"Jangan salahkan kalau minta lagi, ya!" ancam Juno.


"Emang kamu nggak capek ya?" ujar Merry heran. Perasaan dia sudah hampir pingsan, Juno masih aja on fire hanya dengan sekali pegang.


Cuma lihat Merry nunduk ngambil barang jatuh aja Juno sudah nggak tahan.


"Enggak lah, kan enak."


Cih!


"Habis ini kamu nggak boleh keluar pakai pakaian sexy..." Juno menangkap dada lalu pantat Merry.


"... Semua punyaku, nggak boleh ada yang lihat." lanjutnya tegas.


"Nggak harus pake hijab kan?"


"Hmm... yang penting tertutup. Percuma pakai hijab kalau pan tat masih kelihatan." Juno memukul pan tat Merry pelan. Pingin dicubit aja sebenernya tapi takut marah, ntar malam digigit aja lah. Hehehe...


"Di usahakan ya sayang." Merry mengecup rahang Juno yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.


Ia paling suka jambang Juno. Bikin gelisah (geli geli basah). Geliga (geli geli gatel). Gelombang (Geli geli Bambang). Hehehe... maksa.


Yang jelas jambang ini menambah tegas wajah timur tengah suaminya ini.


"Besok aku sudah masuk kerja, kalau bosan di rumah..."


"Aku boleh ke rumah Mbak Vio kan, mas?" potong Merry cepat.


"Nggak masalah, asal jangan minta ijin kerja. Aku nggak akan kasih!"


Merry tersenyum kecut. Memang ia ada niat masih ingin kerja lagi. Nunggu sementara dulu sambil pelan pelan merayu Juno.


Ia juga masih trauma kalau harus kerja di restoran lagi, banyak laki-laki macam Panji di luar sana.


Tapi jadi ART juga bukan impiannya. Bisa-bisanya Juno ngamuk kalau ia bilang pingin kerja di rumah Vio lagi.


Belum apa-apa dah di ultimatum aja.


Juno menyentil jidat Merry.


"Awas sampai kepikiran."


Merry meringis memegangi jidatnya.


"Kalau aku bosan?" protes Merry sambil memainkan bulu dada Juno. Astaga banyak sekali bulu di tubuh suaminya ini.


"Makannya kita usaha terus bikin temen buat kamu."


"Bukan bikin temen judulnya, bikin anak!"


"Kan biar kamu nggak kesepian dirumah pas aku kerja."


Merry diam.


Ia masih ingin menikmati kehidupan barunya sebagai seorang istri. Mengurus suami, mengurus rumah.


Bukan ia enggan punya anak, tapi haruskah cepat-cepat seperti keinginan Juno?


Jujur ia belum sepenuhnya puas dengan dunia kerja. Gejolak jiwa mudanya masih menuntut kepuasan itu.


Tidak ada larangan kan untuk wanita yang sudah menikah untuk bekerja? Tergantung ridho suaminya aja.


Sentuhan lembut di punggung Merry menyadarkan lamunannya.


Juno seolah tahu kegalauan Merry. Soal anak, setiap Juno menyinggung perihal ini, istrinya terlihat kurang respect.


"Pelan-pelan saja, kita nikmati dulu." Bisiknya ditelinga Merry.


Juno memeluk Merry, mereka sama-sama terdiam. Hanyut dengan pikiran masing-masing.


***