
"Junoooo!!!" Suara menggelegar Violin langsung menyapa telinga Juno saat ia mengangkat panggilan video call-nya.
Juno berjalan menjauhi ranjang. Ia takut suara jelek Violin membangunkan Lina yang sedang tertidur pulas di dalam selimut hangatnya.
"Mana Merry?" Violin mencoba mencari Merry di layar ponselnya.
"Masih tidur." Juno menjawab pendek.
Violin berdecak, ia cukup tahu apa yang baru saja terjadi saat melihat bekas merah di dada Juno yang terlihat jelas di tubuh telanjangnya. Hanya terlihat boxer putihnya saja.
"Oiya Vi, per hari ini Merry resmi keluar dari pekerjaannya di rumah kamu." Ucap Juno sambil berjalan mengambil air minum.
"Nggak bisa gitu dooonggg, selama belum dapat 'Merry' yang baru, ia masih bekerja disini." Omel Vio.
"Aku carikan besok!" sahut Juno. Ia menegak minumannya.
"Masak iya kamu jadikan istriku pembantu?!" Gerutunya lagi.
"Udah main istri-istrian ajaaa..." Cibir Vio.
Juno mesem-mesem.
"Mana Merry, aku mau ngomong."
Juno mendelik galak, "dibilang masih tidur, bandel."
"Jangan diforsir, masih ada hari esok!"
"Ck... nggak usah mancing, ntar kepingin repooott."
"Cih, banyak jalan menuju puncak, sayang."
"Unfaedah banget, dah aku mau mandi."
"Hmm, bilang Merry, pintu rumahku terbuka lebar, kapanpun kamu telantarkan."
"Iy... Eh, apa?"
"Nggak, hahaha..."
Tuutt...
Juno menatap layar ponsel begitu Violin menutup sambungannya.
Ia tersenyum.
Bagaimanapun juga Juno bersyukur berkat Violin ia bisa bertemu Lina lagi.
Jadi sebagai bentuk terima kasihnya, ia menscrol nomor agen penyedia jasa asisten rumah tangga. Dengan cepat menyebutkan kriteria wanita yang di inginkan dan memintanya segera mengirim pekerja terbaiknya.
Beres.
Sekarang ia ingin mandi, badannya terasa lengket.
Oh iya, mungkin ia bisa memesan makanan online lebih dulu sebelum Lina bangun.
****
"Sssttt...Tan te."
Violin celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya. Ia baru saja mematikan panggilan ponselnya dan bersiap masuk kedalam saat sebelah mata Jeffry nongol di kotak celah pintu gerbang.
Violin membuka pintu samping.
Jeffry nyengir kuda, "Hai..." Sapanya ramah.
Violin balas tersenyum, "Hai..."
"Tante, mau narik uang jimpitan nih."
Violin mengrenyitkan dahi, "Sore hari begini?"
"Jimpit hati kamu." Jeffry mulai menggombal. Meski tahu Vio tak mungkin membalas cintanya, tapi tetep usaha nggak ada salahnya, ye kan? Hehehe...
"Ck, kamu ni anak kecil cinta-cintaan mulu, kerja yang bener." Cibir Vio. Ia melebarkan pintu menyuruh Jeffry masuk.
"Nggak usah Tan, buru-buru jemput ibu soalnya."
"Lah ngapain kesini kalo gitu?"
"Kangen soalnya. Sehari nggak lihat Tante berasa lowbatt nih hati." Jeffry memegangi dada kirinya dengan mimik dramatis.
"Lama-lama nggak kuat nih digombalin bocil." Violin mencubit pipi Jeffry gemes.
"Aduuuhhh, sakit Tan." Jeffry mengelus-elus pipi kanannya yang kena cubit.
"Drama deh." Kikik Violin.
"Oh, mau cubit sekalian?" Tangan Vio terulur bersiap mencubit.
"Bukaaann... Sekalian dicium maksudnya. Hehehe..."
"Maunyaaaa... Eh, kamu nggak kerja Jeff?"
"Dah pulang Tan, mandi dulu bentar, mana tau ketemu Tante gini kan dah nggak bau oli."
Violin mencibir, "gila, semua cewek pasti kamu gombalin gini ya?" tembak Vio.
"Eh, cuma ke Tante doang, sueeerrr." Jeffry mengacungkan tangannya, piss sambil cengengesan.
"Oiya, di kantor Tante ada lowongan kerja nggak?"
"Buat siapa?"
"Buat aku sih, hehehe. Di bengkel nggak tentu gajinya. Kalau rame ya lumayan, kalau sepi ya nggak dapet apa-apa. Pinginnya sih nyari kerja lainnya yang gaji tetap. Kasihan ibu kalau harus kerja terus." Curhat Jeffry.
Violin tertegun, ia sedikit terpesona dengan kasih sayang Jeffry untuk ibunya.
Jeffry yang tumbuh tanpa ayah dan Bu Isa yang seorang single fighter. Mereka dari keluarga sederhana, tetapi kehangatan itu terasa nyata. Kasih antara ibu dan anaknya, pun sebaliknya.
Tiba-tiba Violin kangen Mama.
"Tan? Tante?!" panggilan Jeffry menyadarkan lamunan Violin, ia tergagap.
"Eh, sorry." Vio linglung. Lalu sejurus kemudian ia tampak berfikir.
"Sementara ini sih belum ada. Tapi coba nanti aku kabarin kalau ada info lain ya. Kamu kirim lamaran dan CV ke email ku dulu. Aku bantu nyari. Nanti tak share lewat WA alamat email nya."
"Waahh, makasih banyak ya Tan." Mata Jeffry berbinar semangat.
"Iyaaaa... Dah sana, katanya mau jemput ibu." Vio mengibaskan tangannya mengusir Jeffry.
"Oh iya, lupa. Duluan ya Tan. Daaahh..." Pamit Jeffry, sekilas melambaikan tangan ke arah Vio.
"Iya, hati-hati dijalan." Vio membalas lambaian tangan Jeffry.
Violin terpekur di kursi malasnya sambil memegang ponsel. Ia nampak bimbang.
Sepeninggal Jeffry tadi ia jadi galau. Tiba-tiba kangen banget sama Mama. Sedang apa yah Mama sekarang? Apakah wanita tua itu kesepian? Ah, tapi kan temen-temen sosialitanya banyak. Mungkin saat ini mereka sedang di Swiss.
Kemarin waktu melihat Mama di restoran, wanita itu tampak lebih kurus. Juga make up-nya terasa lebih cetar. Entahlah, Vio merasa Mamanya berbeda.
Juga ia belum tahu pasti penyakit apa yang menggerogoti tubuh Mamanya.
Aah, Mama. Akankah Papa mendampingi Mama disaat seperti ini? Atau malah sibuk kesana-kemari menimbun cuan?
Dimana pria tua itu saat ini?
Hufftt...
Vio kembali menimang ponselnya di tangan. Ragu akan menghubungi Mamanya atau tidak.
Ia menscrol nomor Mamanya. Lalu dengan ragu-ragu menekan tombol hijau. Terdengar dering dari seberang. Violin deg-degan. Ya Tuhan, ia hanya menelfon Mamanya, tapi kenapa rasanya jantungnya berdegup lebih kencang seperti menghubungi nomor polisi?
Sejauh ini kah hubungannya dengan orang tuanya? Atau ia hanya takut diabaikan lagi?
Dering ke lima. Violin ingin menutup sambungannya saat tiba-tiba terdengar suara Maharani dari seberang.
"Halo Nak, Violin. Ini beneran kamu kan?" Suara Mamanya terdengar lemah. Namun getaran bahagia terasa merasuk di hati Violin.
"Mama..." Bisik Vio. Matanya memanas. Tiba-tiba ia ingin menangis mendengar suara Mama.
"Pulanglah, Mama kangen banget." Suara Maharani melemah, terasa hampir tak terdengar karena begitu kecil.
Violin menggigit bibir bawahnya, "Mama sehat?" Tanya Vio kemudian.
Lalu terdengar suara panik memanggil nama Mamanya. Itu suara Atmanegara.
"Halo, Ma? Mama?" Violin ikut bingung. Suara Mamanya sudah tak terdengar lagi. Berganti suara-suara pekikan dan tangisan.
"Ehem, Mama sedang diperiksa Robert." Suara Om Rion diseberang.
"Ada apa ini, Om? Apa yang terjadi?" Violin mondar-mandir panik. Mendadak ia gugup dan takut.
"Tidak apa-apa. Di depan rumahmu ada sopir yang menunggu. Om tunggu secepatnya. Sekarang ya, Vi."
Suara Rion terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi kenapa hati Vio mengatakan lain?
Dengan gugup ia berjalan menuju kamar, mengganti bajunya dengan cepat, meraih tas lalu berlari keluar rumah.
****