
Sepulang Mahendra dari kantornya, Violin sama sekali gagal fokus. Semua pekerjaannya tidak ada yang beres. Pikirannya kacau. Juno sampai uring-uringan merevisi kerjaan bosnya.
"Violin! Yang fokus dong, urusan rumah tangga jangan dibawa ke pekerjaan!" Omel Juno. Ia jadi galak mirip Atmanegara kalau lagi ngomel.
"Dah, kamu mending pulang deh, Vi. Bikin onar tau ngaaakkk!?" pekik Juno sebal. Ia sudah lelah ngadepin Violin. Terakhir Juno terkapar di sofa dengan map di jidatnya.
Nadia masuk lalu mendekati Vio yang sedang memijit pelipisnya pelan.
"Bu, ada telpon dari bengkel, katanya mobil sudah beres, mau diantar atau diambil?" Ucap Nadia hati-hati, ia takut dimakan bosnya, kayaknya sih auranya lagi gelap banget.
"Aduuh Nad, ini masih siang loh. Lihat sikon dong kalau..." Tiba-tiba Violin ingat sesuatu.
"Tolong kamu share nomor telepon bengkel yang barusan, kesaya sekarang!"
Nadia mengangguk lalu ngibrit kembali ke mejanya. Dengan cepat mengetikan sesuatu di ponsel lalu mengirim ke nomor Vio.
Violin masuk ke walk in closet, ia menelpon nomor bengkel sebentar lalu berganti pakaian. Mencari-cari celana jeans, kaos, dan jaket. Melemparkan sepatu Jimmy Choo-nya dan meraih kets Adidas putih.
Ponsel dan dompet ia masukkan kedalam tas slempang kecil. Mengucir rambut dengan gaya ekor kuda lalu melangkah melewati Juno yang masih terpejam. Mungkin dia ketiduran, otaknya sudah over load.
"Semua urusan kasih ke Juno. Bilang saya ada urusan diluar."
"Baik Bu." Nadia mengangguk patuh.
Seiring dengan berlalunya Violin, Malik mencolek tangan Nadia.
"Apaseh colak colek? Sabun kali, ah!" Nadia melengos melihat tampang si Malik.
"Emak lu kemana tuh?"Jiwa ke-kepo-an Malik meronta-ronta melihat bosnya bolos siang hari bolong.
"Bukan urusan lo! Bu Vio owner, elu jongos. Suka-suka dia lah mau kemana. Kerjain tugas lo, nggak usah ngepoin orang!" Nadia merepet.
Malik jadi sebel melihat bibir Nadia yang keriting kalau lagi ngomel. Nggak bisa banget diajak ngegibah.
Sementara itu di pos security Jeffry udah nangkring diatas motornya dengan gagah. Lengkap dengan jaket kulit dan kacamata hitam. Mengundang ke-kepo-an Toni dan Andi.
"Haelaaahh... ni bocaaahh. Ngapain lu?" Andi mendekati Jeffry disusul Toni dibelakangnya.
"Jemput calon bini Pak." Sahut Jeffry dengan muka songong seperti biasanya.
"Tadi pagi masih calon pacar, siangan dikit dah calon bini aja." Toni terkekeh. Ia begitu terhibur dengan banyolan Jeffry.
"Nggak usah lama-lama Pak, biar cepet halal." jawab Jeffry asal. Asal jadi doa maksudnya.
"Hush, nggak usah buru-buru, Tong. Masih masa iddah ituu!"
"Tenang Pak, saya orangnya sabar kok tapi nggak tau nanti..." Pandangan mata Jeffry teralihkan dengan kemunculan Violin dari balik pintu kaca.
Janda itu berpakaian casual khas anak muda. Rambut ekor kudanya bergoyang kiri kanan mengikuti langkahnya. Tapi mukanya ditekuk nggak ada senyum-senyumnya sama sekali. Tapi kok imut ya di mata Jeffry? jadi tambah gemes deh. Secara otomatis mulutnya langsung bersiul mengagumi.
Toni dan Andi berjejer menyambut Violin, mereka menunduk dengan hormat.
Violin membalas dengan lambaian tangan, "Ck, saya bukan Atmanegara, jangan berlebihan begitu!" ujar Vio kepada dua security didepannya.
"Baik Bu." Jawab Toni dan Andi kompak. Tapi mereka tetap menunduk menghormati Violin. Gila aja, anak bos nih, makan apa mereka kalau berani seenak jidat.
"Hai..." Violin menyapa Jeffry. Tu anak mah udah cengar-cengir aja dari tadi. Seolah hidupnya lepas tanpa beban.
Entah mengapa begitu Nadia menyebut nama bengkel, yang pertama muncul dibenak Vio adalah Jeffry si tengil. Tawanya, senyumnya, banyolannya.
Dan lagi benar kata Juno, ia harus healing. Ini penting sekali sebab pikirannya kacau. Ia butuh rehat sejenak.
Sepertinya orang yang tepat adalah Jeffry. Dia terlihat menyenangkan.
Dan lagi Violin ingin menikmati angin segar dengan naik motor. Fixs jadilah Jeffry si berondong yang nongol disini.
Disaksikan dua security dan CCTV hidup dan mati. Elaaahh... banyak banget mata yang ngintipin dari jendela gedung. Mereka terpekik saat dengan pandangan penuh cinta Jeffry memakaikan helm di kepala Violin.
"OMG... OMG... OMG... gosipnya beneran doongg!"
"Ah, gila ini mah, dah depresi berat kali tuh jendes, milihnya yang kinyis-kinyis gitu! Banting stir bangeeettt!"
"Ati-ati lo, bisa jadi itu tuan muda yang lagi nyamar. Liat aja tampangnya!"
"Cih, kebanyakan baca novel online lo! Haluuu!"
"Lo liat dooong, pakai dipeluk lagi pinggangnya!"
"Heh, Bambang! Ya kali mau pegangan dengkul. Naek motor ini lho!"
"Tasnya Vio dong, channel limited edition cuma ada enam di dunia. Harganya aja bisa buat beli tiga apartemen."
Oke, kita tinggalin sejenak gibah onlin di gedung punya owner yang ngasih mereka makan, tapi yang di-julid-in anaknya yang ngasih mereka makan. Nah loh...
Memang selucu itu dunia ini. Bagus di-julid-in, jelek di keplokin. Tapi saat butuh ngemis-ngemis macam anj**g.
(Bukan curhatan othor lho yaa)
Skip.
"Kita mau kemana, Tan?" pekik Jeffry ke Vio yang nemplok dibelakang punggungnya. Jeffry yang nyuruh sih, alasannya mau dibawa ngebut. Tapi tetep jalan 40 km/jam. Modus doang isi kepalanya mah.
"Terserah kamu, yang penting aku terhibur!" balas Vio tak kalah kenceng.
Duh, dilema kan nih. Jawabannya itu lho, yang penting terhibur. Kan Jeffry jadi konotasi buruk. Maksudnya terhibur kan yang penting Vio seneng kan?
Ehem, ke hotel aja kali yak. Secara tu dada ngetuk-ngetuk punggung mulu dari tadi. Kan jadi pingin diremes.
Jeffry bukannya biksu ya, walaupun masih anak kemarin sore, tapi yang namanya laki di adepin ikan teri apalagi dikasih sambal terasi, cocol timun plus kemangi. Hmmm...
Eh, auto digampar ibu kalau ketahuan. Jadi jangan sampai ketahuan nih?
Aduuuhhh, kenapa jadi banyak setan di kepala Jeffry sih. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir setan.
"Are you oke, Jeff?" Tanya Vio, ia takut Jeffry ayan ditengah jalan kan repot urusannya.
"Oke Tan!" sahut Jeffry. Ia mencoba fokus dan membuat rencana.
Violin termasuk wanita independen. Ia pekerja keras walaupun bapaknya kaya tujuh tanjakan, tujuh tikungan, tujuh perosotan. Intinya duitnya nggak akan habis sampai mati.
Jeffry ingat pertama kalinya mereka bertemu, Vio nampak seneng banget waktu bonceng motor nyari bensin eceran. Pertama kali juga Jeffry terpesona dengan senyumannya. Mungkin yang tidak Violin punya hanya waktu untuk melepas penat.
Eh tunggu, Jeffry mendapatkan ide.
"Pegangan erat, Tan! Mau gas pol nih." ucap Jeffry. Ia mengelus sedikit tangan Vio yang melingkar di perutnya. Mayan ih sambil menyelam ngelus tangan, dicicil dulu nggak papa.
"Dari tadi ngomongnya ngebut, sampai pegal nih pantat, larinya segini-gini aja! Kamu ngerjain saya ya?!" Vio berteriak dikuping Jeffry.
"Yang ini beneran, let's gooo..." Jeffry tancap gas.
"Aaaaaaa... aku terbang Jeeeffff..." Bukanya pegangan, Violin malah merentangkan tangannya dengan girang. Untung jalanan sepi.
Jeffry senyum-senyum aja, ia bahagia melihat tawa lepas Violin.
Kali ini Jeffry beneran ngebut, ia ingin membawa Tante Vio nya ke suatu tempat. Jeffry yakin Vio pasti suka.