Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Bagaimana Kalau Violin?



"Mbah, mau ikut nggak?" Violin menggandeng tangan Mbah Putri, menuntunnya keluar pekarangan rumah.


Sebelah tangan Mbah Putri meneteng ember kecil yang berisi skop kecil berwarna kuning yang sudah pudar warnanya. Ia berjalan menuju samping rumah, tempat menanam hasil bumi. Kali ini pohon cabai membentang luas di sana.


Petaninya seperti kompak menanam tanaman cabai. Sejauh mata memandang memang hanya cabai yang terlihat.


Dulu sebelum tahu tanah pasir bisa menjadi lahan pertanian, mata pencaharian pokok penduduk pesisir pantai selatan adalah nelayan.


Tanah pasir dibiarkan terbentang nganggur begitu saja, namun kini mereka juga berhasil mengembangkan pertanian di lahan pasir pantai ini.


Keberhasilan pertanian di lahan pasir pantai tentu tidak diraih begitu saja, banyak kendala yang harus dihadapi untuk mencapai keberhasilan. Adanya iklim yang sangat panas, sering terjadi badai garam, minim unsur hara, porositas lahan yang tinggi, dan pasir pantai yang telah terendam air garam selama jutaan tahun.


Di balik kendala ada juga keuntungannya, yaitu biaya sewa lahan yang murah, pengolahan dan penyiangan lahan yang murah, sinar matahari melimpah, dapat digunakan sepanjang tahun karena sistem irigasi dapat diatur, dan hama/penyakit yang relatif rendah.


Pagi hari selepas subuh biasanya penduduk sekitar pesisir pantai sudah mulai merawat tanamannya.


"Memangnya mau kemana to nduk?"


"Mau jalan-jalan ke pantai Mbah." Ucap Vio riang.


Mbah Putri malah terkekeh.


"Mbah wes bosen, kono ngajak konco-koncomu." Mbah Putri terlihat enggan, ia menolak ajakan Vio, malah asyik mengecer tanah berwarna coklat yang berbau aneh menurut Violin.


Vio cemberut, ia ngerti bahasa jawa kalau ada orang ngomong tapi tipe yang nggak bisa ngucapin kosa katanya.


"Nanti tak bantu naburin itu Mbah," tunjuk Vio yakin.


Mbah Putri tambah terkekeh lagi, "kamu tahu nggak ini apa?" tanya si Mbah sambil mengaduk-aduk embernya dengan tangan kosong.


"Tanah gembur kan?" jawab Vio yakin.


"Ini pupuk kandang, cah ayu. Hehehehe..."


Violin mundur dua langkah, "Eh, nggak jadi deh Mbah, aku ke sana dulu. Daaahh Mbah..."


Ia ngacir menjauh dari Mbah Putri, menghampiri Sofia dan Pamela yang sudah asyik Selfi dengan background pemandangan pantai pagi hari.


Entah kurang apa Atmanegara memfasilitasi kedua orang tuanya. Tetap saja di masa tuanya mereka masih memilih menyibukkan diri dengan bertani. Hanya bapaknya yang sudah tidak turun melaut lagi, terkendala usia.


Dibantu beberapa pekerja, Mbah Putri dan Mbah Kakung masih semangat diusianya yang sudah senja.


Mereka menolak pindah ke kota, juga menolak renovasi rumah yang ingin dibuat lebih modern.


"Jangan merusak kenangan, biarkan saja begitu sampai kami mati." Tolak bapaknya waktu itu, waktu awal-awal Atmanegara mulai berjaya.


Akhirnya Atmanegara hanya memoles ini itu biar lebih nyaman. Tetap saja rumah itu berubah, bapak dan ibu yang memang dari kalangan biasa merasa canggung tinggal di rumah yang disulap bak keraton.


"La dalah, ibu sampai nggak bisa tidur, takut ilang kursi kayu jati di depan itu."


"Sudah ada CCTV Bu."


"Eman duitmu le," kata ibunya saat Atmanegara datang mengecek hasil renovasi. Sayang uangmu, katanya.


"Jangan larang seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya Bu, itu hal yang wajar mengingat dulu untuk berteduh saja harus nyari daun lontar."


"Tidak melarang, hanya jangan berlebihan."


"Ibu tenang, aku tahu porsinya." Janji Atmanegara.


Sekarang mereka capek sendiri melarang anaknya itu. Mau pasang AC, renovasi taman, membeli lahan untuk investasi, suka-suka Atmanegara lah.


"Paamm, jangan terlalu ke selatan, bahaya! Ombaknya gede!" Teriak Violin. Pam memberi tanda OKE dengan jarinya. Ia cukup paham ganasnya ombak ini.


"Boleh nggak sih pakai bikini aja?" Pam mulai ribet dengan dress-nya yang naik turun kena angin.


Sofia melotot, "nggak usah macem-macem deh, yang ada malah ditelanjangi sekalian sama pak Atma."


"Aaww... mau dong telan Jang. Hahaha..."


"Lihat deh, nelayan siap-siap turun tuh." Sofia menunjuk kerumunan orang-orang yang kompak mendorong perahu kayu mendekati bibir pantai.


Mereka berlari kecil mendekatinya.


Violin asyik dengan kameranya, kali ini ia membidik seorang anak kecil yang melambaikan tangan melepas ayahnya pergi turun ke laut mencari ikan.


Matanya begitu berbinar, ia terlihat senang masih bisa mengantarkan sang ayah hari ini, tanpa tahu apa yang akan terjadi di tengah lautan sana.


sejenak Vio tertegun, kata Mbahnya dulu hidup mereka juga tergantung dari hasil laut. Bahkan bapaknya sudah ikut melaut sejak SMP. Menjualnya di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) lalu hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari.


Pantas jika sekarang Atmanegara begitu jeli mengelola uang dan waktu. Orang susah yang merangkak perlahan, dari nol sampai di titik ini, bukan perkara mudah. Banyak yang dikorbankan, waktu, tenaga, pikiran.


Dan kegigihan adalah kuncinya. Jika kamu menyerah hari ini, selamanya tidak akan pernah sampai dititik ini.


Lalu Vio melihat dirinya yang sudah lahir dengan sendok emas di mulutnya. Ia tidak melihat bagaimana dulu Atmanegara mendorong perahu kayu menuju tengah laut mencari ikan, seperti bocah itu.


Atmanegara memberikan pendidikan tinggi yang tidak semua anak bisa mendapatkannya. Meski kasih sayang kadang tidak bisa ia penuhi, tapi kebutuhan Vio selalu terjamin.


Sebenarnya itu hal yang wajar mengingat sejak SMP Atmanegara sudah mandiri, banting tulang demi agar tetap bisa berangkat sekolah esok harinya. Ia ingin Violin juga berjuang, bukan hanya jadi anak manja yang hanya bisa sembunyi di bawah ketiak orang tuannya.


Violin memejamkan matanya, ia merasa kasih sayang bapaknya lebih terasa akhir-akhir ini. Agak posesif memang, tapi mungkin itulah bentuk kepedulian Atmanegara.


Sedang di bawah pohon cemara, agak jauh dari para janda, dua orang pria asyik melamun dengan pikiran masing-masing.


Rion cukup kaget mendapati keberadaan Dion pagi ini. Tapi akhirnya mereka memutuskan joging bareng menyusuri pinggir pantai.


"Kamu buat ribet hidupmu sendiri." Sinis Rion, matanya masih asyik memandangi tiga wanita itu, entah fokus ke yang mana.


Dion enggan menjawab, ia hanya meringis, ia tahu ia pasti terlihat bodoh di mata Rion.


"Pada akhirnya memang nggak bisa sendiri." Gumam Dion.


Rion menyeringai, "Kenapa tidak?" ia yang penganut faham liberal merasa Dion hanya kurang menikmati kesendiriannya.


"Justru lebih tenang begini. Bebas yang tidak terikat, kamu bisa milih apapun yang kau suka. Apapun yang ingin kamu lakukan, apapun itu."


Dion memiringkan kepalanya, "Faham kita beda, Om."


"Yah, tidak ada salahnya mencoba faham lain." Rion beranjak berdiri, ia menyingkirkan pasir yang nempel di celana trainingnya.


"Om nggak bakal paham kalau belum jatuh cinta."


"Cih, cinta? Bikin ribet aja." gerutu Rion.


"Oya?" Dion mengangkat alisnya, ia mengekor Rion berjalan kembali ke rumah Atmanegara.


"Lalu siapa diantara Pam dan Sofia?" Selidik Dion kepo. Ia menyeringai menatap wajah Rion yang tetap lempeng tanpa expresi. Seolah pertanyaan Dion seperti dengungan lalat yang lewat didepan wajah Rion, nggak penting.


"Bagaimana kalau Violin?"


Eh?


Dion langsung deg degan.


****