
"Ehemm..." Atmanegara berdehem di depan pintu dengan tangan kanannya memegang handle.
Sontak kedua orang yang sedang terbakar gairah itu pun melepas pangutan satu sama lain.
Pam salah tingkah, ia membetulkan dress-nya, menutup kembali bagian dada yang hampir terekspos semua dan menurunkan bagian bawah sampai batas maksimal.
"Cepet banget ketahuan cenayang satu." Gumam Rion.
"Sejak kapan disitu, boss?" Ia melirik sebal ke arah boss-nya. Bener-bener nggak ada akhlak banget gangguin orang.
"Sejak Pam melepas kaos kamu, mungkin?" Atmanegara berkata enteng tanpa beban, seolah kedatangannya nggak merasa mengganggu privacy orang.
Rion berdecak, kalau sejak Pam melepas kaosnya sih berarti boss-nya juga lihat saat ia 'mengerjai' bagian bawah tubuh Pam. Berasa lihat live video kali ah.
"Bisa ketok dulu kaliiii..." protes Rion. Ia memakai kembali kaosnya. Untung bagian lainnya masih nempel dibadan.
"Sejak kapan masuk kamarmu harus permisi, hm?"
Rion garuk-garuk kepala yang nggak gatel sama sekali.
"Jadi ada perlu apa, boss? Tadi katanya boleh istirahat dulu?!"
"Tadinya sih butuh temen ngopi, tapi sepertinya yang di ajak lagi sibuk. Oke lanjutkan. Pesanku sih hati-hati, nggak ada peredam di kamar ini. Oh iya Pam, panty nya jangan sampai ketinggalan."
Atmanegara menutup kembali pintu kamar. Rion melirik sebal, ia dongkol setengah mati. Lagi nanggung gini adaaa aja ulah boss-nya.
"Aku balik ke kamar aja Bear." Pamit Pam. Sumpah ia malu banget, Atmanegara sempat-sempatnya mergokin panty yang nongkrong di kursi.
Saat Pam meraih tasnya di lantai dan buru-buru memasukkan panty ke dalam tas, Rion meraih lengan Pam dan menariknya sampai tubuh sintal itu mendarat sempurna di dada bidangnya.
"Nanggung banget loh, Bee..." Rion mengecup bibir Pam.
"Malu bangeeettt sumpah." Muka Pam sampai merah. Rion jadi nggak tega. Ia lalu mengusap wajah Pam, menyingkirkan anak rambut yang berantakan di dahinya.
"Tidurlah, besok masih ada waktu." Rion kembali mengecup pelipis Pamela lalu menggandengnya sampai pintu.
Buru-buru Pam balik ke kamar. Ia urung membeli baju ganti. Keburu nggak punya muka di depan pak Atma. Gimana kalau tiba-tiba papasan di depan? Taruh mana mukanya coba? Duuhh...
"Darimana lo? Pucet banget muka? Habis ketemu pocong?"
Violin baru kelar mandi saat Pam masuk kamar sembari memegang dadanya dengan dramatis.
"Yang ini kodamnya pocong, lebih serem." Jawab Pam asal. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Lemes parah bestiii...
"Emang pocong punya kodam?" Violin bergumam sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Pam pura-pura budeg, ia memejamkan matanya sambil menata detak jantungnya yang masih ruwet.
Violin meraih ponsel, mengecek pesan yang berderet. Satu pesan yang menarik perhatiannya.
Juno mengirimkan foto honeymoon bareng Merry. Berdua lagi nyengir lebar di atas Royal yatch milik Marina Group, terlihat amat sangat bahagia.
"Cih, tunggu aja lo, balik-balik gue kasih double job biar nggak sempet kencing sekalian." senyum devil Vio sambil mengetik balasan ke Juno.
Ia meletakkan kembali ponsel di atas nakas, melirik Sofia yang tepar di sofa dan Pam yang pura-pura merem di sampingnya.
Violin merapatkan selimut, ia hampir terlelap saat ponselnya kembali berdering. Oh, yak ampun ia lupa menonaktifkan ponselnya.
Vio acuh, paling sebentar lagi mati. Ini hampir jam 11 malam loh, ia kembali merem.
Tapi selanjutnya malah dering ponselnya makin menjadi jadi.
Bantal sofa melayang nimpuk pantat Violin. Kiriman siapa lagi kalau bukan Pam.
Violin mengerang pelan, lalu meraih ponselnya, "Ya?" jawabnya malas.
"Siapa?"
"..."
"Hah? Di depan mana?"
"..."
"Kamu di Jogja?"
"..."
"Eh, iya..."
Vio bergegas meraih sweater yang tersampir di gantungan lalu melesat keluar meninggalkan Pam yang bengong menatap kepergiannya.
"Nggak jelas." gumam Pam, ia masuk ke kamar mandi, akhirnya ia memilih berendam daripada pusing sendirian.
***
"Hai..." Vio menyapa Dion yang entahlah malam ini terlihat lebih lebih semriwing di mata Vio.
Perlahan Vio menuruni undakan yang ada di depan pintu yang di buat semacam anak tangga.
Dion tersenyum dan mengulurkan tangannya menyambut Violin. Tapi Vio mengacuhkannya, ia melewati lengan Dion dan berdiri di samping Dion sambil menyimpan kedua tangannya di saku sweater.
Dengan canggung Dion menarik kembali uluran tangannya. Sejenak ia lupa bahwa mereka bukan lagi suami istri.
Dulu saat Dion mengulurkan tangannya, Violin akan menyambut dengan pelukan. Sekarang Dion baru mengerti arti pelukan itu.
"Kamu ada kerjaan disini?" Vio duduk di lantai pendopo, ia menggantungkan kakinya, karena pendopo ini lumayan tinggi untuk duduk.
"Hmm, begitu lah." jawab Dion ambigu. Mau bilang sengaja nyusulin kamu tapi ia pikir ucapannya akan merusak mood Violin.
"Sori ganggu istirahatnya." Dion garuk-garuk kepala. Kenapa jadi canggung gini sih. Ia jadi mirip ABG lagi PDKT, garing abis.
"No problem. Lagian belum tidur juga." Violin tersenyum manis. Bo'ong kan jatohnya? Hmmm...
"Mau jalan-jalan sebentar? Rasanya lama banget nggak menghirup udara pantai. Aku rindu..."
Violin refleks menoleh mendengar kata rindu dari mulut Dion, eh tapi kan rindunya sama pantai, kenapa dada Vio yang berdebar sih?
Violin akhirnya menunduk sambil berjalan mengekor di belakang Dion. Ngumpetin mukanya yang tersipu. Seolah lupa kalau Dion pernah mencampakkannya.
"Ehem..."
Vio dan Dion menoleh kebelakang bersamaan, Atmanegara berdiri sambil menyesap rokoknya.
"Papa..." Sapa Dion.
"Hmm... kebetulan kamu disini. Saya butuh teman ngopi." ucap Atmanegara sambil berlalu pergi, artinya ia tidak ingin di bantah.
Dion melirik Violin.
"Aku tidur ya? Silahkan ke Papa." Violin menyentuh lengan Dion sebelum berlalu pergi.
Kenapa Papa selalu datang di saat yang nggak tepat, sih? Dion mengumpulkan kesabarannya, mau nggak mau ia nyusul Atmanegara juga.
****