
"Violin?" Ucap suara dari seberang, berat dan menekan. Vio langsung tahu siapa pemiliknya.
Vio melirik Sofia yang duduk sambil memeluk bantal plus pasang kuping. Vio sengaja meloundspeaker ponselnya.
"Ya?" Jawab Vio pendek.
"Akhirnya diangkat juga, udah ketiga kalinya loh, baru kamu angkat."
"Eh, iya sorry... tadi nanggung lagi bersih-bersih. Ini Damar?"
"Hmm, kirain lagi kumpul bareng temen. Iya, ini aku, Damar."
Violin melirik Sofia lagi.
"Jam segini nelfon, ada apa Mar?" Vio merilekskan bahunya, ia menyandarkan punggungnya ditembok.
"Lagi ngerasa ada yang ngomongin aja, tapi kamu lagi sendirian, kan? Masa ngomong sendiri. Hehehe... mungkin aku salah, sih."
Vio hampir tersedak ludahnya. Tiba-tiba bahunya menegang lagi.
"Eee... kamu masih dikantor?" Tanya Violin kikuk. Ia cepat cepat mengalihkan pembicaraan meski dadanya deg-degan.
Ia milih pertanyaan random, teringat dulu Dion jam segini masih sibuk di kantor. Apalagi kelihatannya mereka sama-sama workaholic.
"Aku didepan rumah kamu."
Violin melotot, kali ini dia benar-benar tersedak.
"Serius?" Tanyanya panik. Ia mencengkram lengan Sofia kuat-kuat. Sofia sampai meringis kesakitan.
"Hmm... dari sini, gorden kamu terlihat cantik, warna kuning dengan aksen bunga-bunga hitam kecil yang manis. Awas hati-hati, meskipun cantik tapi warnanya hitam. Bahaya, bisa buat ngumpet nyamuk." Terdengar Damar terkekeh kecil.
Violin melompat mendekati jendela, menyibak gorden sedikit buat ngintip keluar.
Terlihat Damar berdiri didepan mobil Jeep sambil dadah-dadah kearahnya.
Mati! Ketahuan kaaannn.... Vio mematikan sambungan telfon.
"Fiaaa... orangnya didepan doooonngg... Lo stand by ya, ntar kalau gue kenapa-napa langsung tolongin!" Violin panik, ia buru-buru ngacir ke walk in closet, mengganti lingerienya dengan baju yang sedikit lebih tertutup lalu ngacir ke depan.
Sofia geleng-geleng kepala, "minimal penutup matanya ditinggal woy!" jeritnya.
Violin mana dengar, ia bahkan keluar rumah pakai sandal bulu kesayangannya.
Didepan pintu, Vio mengatur nafas, mengatur ekspresi muka, mengatur senyum yang pas. Lalu perlahan membuka pintu. Duh, berasa mau ketemu Dajjal deh.
"Hai Mar." Sapa Vio.
Damar sedang memperhatikan sesuatu saat Vio datang, ia kemudian menoleh dan tersenyum.
Eh, sejak kapan lesung pipi ada dipipinya Damar ya? Perasaan tadi nggak ada.
Vio mencoba mengingat-ingat pertemuannya tadi siang dengan laki-laki ini.
Damar dihadapannya ini terlihat berbeda dengan yang tadi. Wajahnya lebih fresh dan ramah. Gayanya juga lebih santai dan friendly.
"Duduk Mar, atau mau masuk?" Tawar Vio basa-basi. Dalam hati sih berharap banget Damar jangan sampai masuk ke rumah. Ntar kalo ada apa-apa kan susah menghalaunya.
Damar melangkah menuju bangku, "disini aja. Aku cuma sebentar kok." ujarnya sambil duduk.
"Oke bentar aku ambil minum dulu, kamu mau apa? teh? kopi? sirup?"
"Wah, lengkap ya dirumah kamu? Berasa di restoran. Hehehe..."
"Basa basi doang sih ini, paling adanya air putih."
Damar terkekeh, ia menepuk bangku di sebelahnya.
"Duduklah, ada hal yang ingin aku sampaikan."
Deg... deg... deg...
Kata-kata Sofia terngiang di telinganya lagi.
Hati-hati Vio... Damar berbahaya... aku takut kamu kenapa-napa.
Sialan Sofia, tadi siang sebelum Papa bilang Damar ini gay, seratus persen ia masih berpikiran positif. Memandang pria ini dengan wajar. Lalu mulai curiga saat membaca artikel tadi. Ditambah informasi Sofia yang nggak jelas. Malah bikin Vio terkesan takut dengan pria ini.
Ia tidak bisa meraba jenis yang seperti apa Damar ini.
Ayolah Viooo... anggap aja dia Juno yang tiap hari mukanya nyebelin.
Perlahan Vio duduk, tapi bukan di bangku yang ditunjuk Damar, itu terlalu dekat. Ia memilih bangku dekat pintu, setidaknya kalau ada apa-apa bisa langsung masuk lalu kunci.
Tadi siang wanita ini terlihat angkuh dan berwibawa, sekarang malah imut dan lucu. Lihat saja sandal bulu dan penutup mata yang nangkring di kepalanya itu.
"Sori Vio, mungkin ini terlalu larut untuk sebuah obrolan serius. Tapi aku cuma ada waktu malam ini, seminggu kedepan aku ada urusan ke Swiss. Oiya, sebelumnya kamu mau langsung saja atau pakai pengantar?"
Violin terkikik, "ini bukan laporan bulanan kan?" tanya Vio mencoba santai. Padahal bulu kuduknya merinding. Kenapa sih ini kok jadi hororr gini?
"Iya juga sih." Damar menegakkan punggungnya.
"Langsung saja Vio, aku mau menikah denganmu." Ucap Damar yakin. Pandangan matanya langsung menatap manik mata Vio.
"Apa kamu bersedia?" Lanjut Damar.
Violin buffer. Apa tadi katanya?
"Menikah?" Ulang Vio memastikan kalau yang didengarnya tadi benar kata itu bukanya pacaran atau berteman, tapi menikah!
Damar mengangguk.
"Tunggu, kamu waras kan?" Desis Vio agak shock. Ini terlalu nggak masuk akal. Bagaimana bisa ngajakin kawin? Ketemu saja baru sekali. Itu pun hanya dalam waktu setengah jam, bagaimana mungkin Damar mengajaknya menikah secepat itu?
"Aku menyukaimu." jelas Damar. Wajahnya beneran lempeng dan serius.
"Mar, aku bisa aja anggap kamu sinting lho ini."
"Terserah, aku hanya mengungkapkan keinginanku. Apa yang membuatmu berfikiran begitu?"
Violin memijit pelipisnya.
"Beri aku satu alasan yang masuk akal!" tanya Violin. Mungkin kalau bukan Damar, pria berpendidikan rekomendasi bapaknya, sudah Vio tendang dari sini.
"Kamu satu-satunya wanita yang nggak percaya aku seorang gay."
Violin agak terkejut, darimana Damar tahu ia ragu soal 'gay' itu?
"Aku baru tahu malah kalau kamu penganut LGBT."
Damar malah tersenyum tipis. "Aku yakin kamu sudah tahu soal itu."
Pede banget nih laki. Oke, anggap saja Damar bisa membaca pikiran Vio, jadi bohong pun percuma.
Violin memejamkan matanya sebentar sambil menghela nafas.
Mengungkit soal gay, takut menyinggung perasaan Damar. Ia percaya loh kalau aku nggak percaya dirinya penganut LGBT.
"Damar, aku percaya kamu pintar dan berpendidikan, tapi melamar seorang wanita bukan bengini caranya. Kita baru kenal, bisa saja berteman dulu, pacaran dulu, lalu baru menikah jika memang cocok."
"Aku nggak suka basa-basi." sahut Damar. Ia menyilangkan kakinya yang panjang. Tubuhnya sengaja condong ke Violin.
"Berteman? Pacaran? Itu bisa dilakukan setelah menikah. Malah lebih halal." argumen Damar ini yang pasti.
Loh loh, dia tahu halal haram loh. Yang dibilang orang gay ini.
"Kamu nggak sedang mencoba memanfaatkan aku kan?" Mendadak Vio curiga dirinya dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan Damar.
Damar terkekeh lagi, "Vio, Viooo... apa kamu berfikir aku bisa main-main dengan anak kesayangan Om Atma? Sekali kegores..." Damar menempelkan telunjuknya yang dibuat menyerupai pistol dipelipisnya.
"Dor! Psssttt... selesai semuanya. Aku tidak sebodoh itu. Jika aku sudah maju, berarti kamu memang wanita yang benar-benar aku inginkan selama ini."
Suara Damar... dingin dan menusuk, mirip mafia. Yang bener ini lamaran apa ancaman sih?
"Mending kamu pulang deh, tiba-tiba aku pusing." Vio beneran malas meladeni pria gila ini. Ia anggap Damar nggak waras.
"Oke..." Damar berdiri menghadap Violin. "Kalau itu maumu, kita bisa mulai dari berteman." Ia mengulurkan tangannya menjabat tangan Vio.
Agak ragu Vio menerimanya. Maksud hati biar Damar cepetan pergi dari sini.
Damar menyeringai.
"Tunggu seminggu lagi, aku pasti datang melamarmu dengan benar. Aku pulang ."
Damar melangkah menuju Jeepnya.
"Kita baru berteman loh." Protes Violin.
"Nggak masalah, bisa dipercepat." Sahut Damar sambil melompat ke kursi kemudi.
Violin berkacak pinggang, ia kehabisan kata-kata.
"Oiya, salam untuk teman-temanmu yang dibalik pintu itu, ya!"
***