Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Hilang



"Waahh... gue nggak ngebayangin, gimana reaksi petugas housekeeping saat besoknya membersihkan kamar itu. Gue harap sih lakik ye." Gumam Sofia.


Pamela mengebulkan asap rokoknya ke udara, "gue harap malah cewek, biar malu sekalian. Kecuali urat malunya dah putus sih."


"So... apa planning lo selanjutnya?" Tanya Violin.


"Jelas bakal gue lempar gugatan cerai ke muka si br3ngs3k itu." Sahut Pam. Mulutnya pedes tapi wajahnya santai banget. Sofia sampai iri, gimana bisa Pam menceritakan kebejatan suaminya tanpa ekspresi.


Mungkin kalau Sofia atau Violin sudah nangis berdarah-darah sampai berhari-hari. Sampai puas, sampai nggak ada lagi air mata yang tersisa.


Tapi setiap orang pasti punya cara sendiri untuk menyikapi masalahnya kan?


"Guys, ini bukan kutukan, kan?" Desis Sofia lirih.


"Maksud lo?" Tanya Vio. Ia refleks menghentikan kegiatannya.


"Masak iya bertiga jendes?!" Pekik Sofia. Ia mengipasi kedua tangan didepan mukanya.


"Beneran gank jendes, dooong!" lanjut Sofia lagi.


"Ck, nggak usah mikir ribet deh. Hidup cuma sekali, milih tuh yang buat kita bahagia. Yang nyakitin buang pada tempatnya." Sahut Pam santai. Ia meraih gelas airnya dan menegak hingga tandas.


"Lagian janda jaman sekarang bukan lagi aib." Lanjut Pam.


"Pam, lo nggak dendam sama Merry kan?" Selidik Vio. Sedikit banyak ia sudah menceritakan garis besarnya apa yang terjadi antara Merry dan Juno.


Violin tau Pam pasti paham mana yang salah dan mana yang benar. Atau mana yang pelaku dan mana korbannya.


Pam tidak menjawab, ia hanya tersenyum sinis sambil membuang asap rokok ke udara.


"Oiya, ngomong-ngomong Merry gimana, Vi? Jadi nginep di rumah Juno apa gimana?" Sofia menatap Violin.


"Bentar gue cek ke Juno."


Violin mencoba menelpon Juno tapi tidak diangkat. Ia mencoba sekali lagi. Pada dering ke tiga Juno menjawab panggilannya.


"Lina ada di rumahmu kan, Vi?" Tembak Juno.


"Et dah, belum juga ngomong, dah nerocos aja!" Sahut Violin.


"Jawab dulu!" Sentak Juno. Ia dalam keadaan kalut kali ini.


"Justru aku telfon kamu buat nanyain, Merry eh Lina, aduuuhhh Merry ajalah ribet. Dirumah kamu atau kamu antar pulang kesini?" Cerocos Violin.


"Ini aku lagi nyari!" Teriak Juno frustasi.


"Maksudnya?" Nada Violin menyelidik.


Juno menghela nafas, "Lina nggak ada di rumahku, dia pamit pergi dan aku baru ingat kalau dia nggak bawa apa-apa, tas, ponsel, dompet semua ada di dalam mobilku."


"Lalu sekarang?"


"Aku lagi muter-muter ini nyariin Lina. Ya Tuhan..." Desis Juno. Suaranya terdengar panik.


"Gila kamu?! Ini hampir tengah malam!" Pekik Violin. "Kenapa juga kamu kasih pergi sendirian, Junet!?" Violin meradang. Sampai Sofia dan Pam menajamkan pendengarannya.


"Cari sampai dapat, awas sampai terjadi apa-apa lagi dengan Merry!" Ancam Violin galak. Ia mematikan ponselnya.


Pam dan Sofia menatap Violin penuh tanya. Sedang Violin bergegas menghubungi seseorang.


*****


"Aaawww... pelan-pelan Bu, sakit banget! Sssshhhh...." Merry meringis menahan nyeri di kakinya. Saat ini Bu Isa, ibunya Jeffry sedang menggurut kakinya yang terkilir menggunakan minyak gosok.


"Sek yo Nduk, sebentar lagi enak ini, tahan sek sebentar." Jawab Bu Isa. Tangannya lincah meluruskan otot-otot kaki Merry.


"Dicepetin dong Bu, kasihan Mbak Merrynya itu lho hampir pingsan nahan sakit." Jeffry ikut ngilu melihat Merry yang terlihat kesakitan.


"Wes diem, Ibu baru konsentrasi ini lho!" Sahut Bu Isa.


"Bu, Mbak Merry sampai nangis gitu." Tunjuk Jeffry.


Bu Isa menoleh menatap Merry yang menangis tergugu. Wajahnya penuh dengan air mata. Spontan Bu Isa memeluk Merry.


Tapi tangisan Merry malah semakin keras. Meski awalnya agak bingung, namun akhirnya Bu Isa membiarkan Merry tetap menangis di pelukannya.


Seperti seorang anak yang sedang mengadu kepada ibunya. Seperti seorang anak yang menumpahkan segala lara yang sudah susah payah dipendamnya bertahun-tahun lamanya. Sampai ia tak kuat lagi menanggungnya sendirian.


Bu Isa tau tangis Merry bukan karena menahan kakinya yang sakit, tangis seperti ini ia pernah mengalaminya. Duluuu sekali saat ia masih seumuran Merry, mungkin. Hatinya seperti ikut merasakan sakitnya Merry saat ini. Ia mengetatkan lagi pelukannya.


Merry yang bu Isa kenal baru-baru ini sebagai asisten tetangganya yang baru, saat ini ada di rumahnya. Ia memeluk anak ini.


Wanita yang jadi idola baru di kompleks ini. Selain ramah dan murah senyum, Merry juga aktif ke pengajian dan sering senam bareng ibu-ibu kompleks.


Jujur saja Bu Isa senang memandang Merry. Seolah jika dekat dengannya, semua beban sirna. Dimana ada tawa dan keceriaan, disitu pasti ada Merry. Tapi malam ini, ada apa dengan Merry?


Wanita ini tampak berbeda, seolah ada beban yang teramat berat di pundaknya.


Apakah selama ini ia memendam kepahitan hidupnya sendiri? Bagaimana bisa sepandai itu ia menyembunyikan laranya?


Mengapa melihat Merry, Bu Isa seperti melihat dirinya sendiri?


Perlahan Jeffry meletakkan segelas teh hangat di meja samping ibunya. Wanita setengah baya itu menunggu Merry agak tenang. Ia mengelus punggung Merry.


"Minum dulu Nduk." Bu Isa menyodorkan air teh itu, Merry menerimanya. Ia menangkup gelas itu dengan kedua tangannya.


Perlahan Merry meminumnya. Sedikit-sedikit sampai tak terasa tinggal setengah gelas. Ia mulai agak tenang. Berulang kali menghirup nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


Lalu terdengar bunyi aneh dari dalam perutnya. Merry sampai malu karena Bu Isa dan Jeffry langsung menatapnya. Gimana nggak demo nih cacing? Seharian nggak di kasih makan.


"Kamu lapar to Nduk? Wes ayok makan dulu, habis itu minum obat langsung istirahat." Ajak bu Isa.


Merry menahan tangan Bu Isa, "Maaf merepotkan Bu." Ucapnya tak enak hati.


"Ck, kamu ini ngomong apa? Anggap aku ini ibumu. Ndak usah sungkan." Sahut Bu Isa.


Terdengar cibiran Jeffry sambil ngeloyor pergi, "maunyaaa..."


"Hei, mau kemana? Ini Mbak Merrynya di papah dulu ayo ke meja makan." Bu Isa menarik kupluk hoodie Jeffry.


Merry tersentuh saat Bu Isa dengan sabar mengambilkannya nasi dan lauk, juga Jeffry yang menuang air putih kedalam gelasnya. Meski jahil, Jeffry selalu menurut apa kata ibunya.


Jeffry suka sekali menggoda ibunya dengan hal-hal kecil, kayak ngumpetin sendok sampai Bu Isa pikir ia lupa belum ngambil, atau menuang sayur banyak-banyak ke piring ibunya, bahkan tanpa sungkan mencium pipi Bu Isa. Hati Merry menghangat.


"Setelah ini biar ibu dan Jeffry antar pulang ya nduk, biar kamu bisa langsung istirahat. Ibu lihat sepertinya kamu capek banget." Ucap Bu Isa sambil menyodorkan pain killer. Merry menerimanya dan langsung meminum obat itu.


"Dengarkan ibu," Ucap Bu Isa sambil memegang tangan Merry dan menatap kedalam matanya.


"Jangan dipendam sendirian, kamu nggak akan kuat Nduk. Berbagilah, meski tidak membuat masalahmu selesai tapi setidaknya hatimu sedikit ringan." Lanjut Bu Isa.


Mata Merry memanas lagi, tapi kali ini ia tersenyum.


"Terima kasih, Bu."


Lalu terdengar suara pintu depan diketuk dengan tidak sabar.


Bu Isa dan Jeffry saling pandang, "jam berapa ini kok ada tamu, le?"


Jeffry mengedikkan bahunya, "mungkin petugas ronda minta jimpitan, Bu." Jawab Jeffry asal. Ia bergegas membukakan pintu.


Seorang pria tampan berwajah timur tengah lengkap dengan jambang dan kumisnya berdiri didepan pintu rumah Jeffry. Ia tidak mengenalnya. Pria ini terlihat gusar.


"Sorry bro..." Hanya itu yang terucap dari bibir pria itu sebelum nyelonong masuk ke dalam rumah Jeffry begitu saja. Spontan Jeffry meraih sapu disamping pintu.


Pria ini seperti mencari sesuatu, ia berjalan dengan langkah lebar menuju dapur rumah Jeffry.


Entah mengapa instingnya mengatakan saat ini orang yang dicarinya ada di dapur.


Dan benar saja, ia menemukannya disana, sedang mencoba berdiri dibantu Bu Isa.


Bergegas ia menghampiri Merry dan memeluknya, erat sekali.


*****