Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Sudahi Saja



Dini hari pukul 01.23


Saat Sofia selesai mencuci piring bekas Atmanegara makan.


Orang tua itu masih saja duduk di kursi makan dengan mimik muka mode serius bak stupa.


Sofia sesekali melirik, bingung musti ngomong apa. Secara si bapak sejak mulai makan sampai detik ini masih diem-diem bae.


Wajahnya yang cuek bin lempeng malah bikin Sofia salting.


Mau ngajakin ngobrol, doi masih makan. Diem aja Sofia yang cengo.


Gila booo... nelen aer putih aja serasa sesak nih napas. Jarum jam aja berasa lama muternya.


Sofia me-lap tangannya dan bingung mau balik duduk atau langsung masuk kamar.


Sopan nggak sih kalau langsung tinggal aja?


Sialan Vio nggak keluar-keluar juga. Sofia merutuk dalam hati. Ia melirik pintu kamar Violin sebal.


"Nggak usah dipelototin, anak itu nggak bakal keluar." Suara Atmanegara, ia bergumam sambil memperhatikan ponselnya.


Sofia garuk-garuk kepala. Mau nggak mau ia duduk lagi.


"Om mau nginep sini atau balik ke rumah?" Sofia mencoba basa basi.


"Kamu ngusir saya?" sahut Atmanegara santai tapi nylekit.


"Eh, bukan gituuu..." Kaaann salah milih topik. Sofia merutuk kebodohannya.


Atmanegara melirik Sofia sekilas.


"Kamu duduk disini sampai saya pulang."


"Pulangnya jam berapa, Om?"


"Kamu beneran ngusir ya?"


"Hehehe..."


"Kapan terakhir kamu ketemu Antonio?"


Sofia langsung kicep saat nama ayahnya meluncur indah tanpa dosa dari mulut Atmanegara.


Matanya meredup, ia menunduk sedih.


"Sampai kapan sembunyi terus? Mereka pasti merindukanmu."


Sofia menggigit bibirnya.


Yak ampun, jam segini loh Pak, topiknya yang ringan aja napa? Sofi berasa pingin mengibarkan bendera putih jadinya.


"Urusan Daniel sudah 90 persen beres. Saya pastikan itu."


Hebatnya Atmanegara adalah ngomongin masalah berat gini berasa kek lagi makan kerupuk udang. Ringan banget tanpa beban. Seolah ini masalah yang tak seberapa baginya. Sekali jentik selesai.


Sofia menatap Atmanegara. Ini nggak semudah membalikkan telapak tangan baginya.


"Om..."


"Hmm?"


"Andai ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan anda..."


Atmanegara menatap Sofia. Ia memang tipe orang yang menerima segala bentuk balas budi akan kebaikan yang pernah ia lakukan.


Sebagai seorang pebisnis, ia nggak mau rugi.


Tapi tidak untuk saat ini. Suatu saat nanti entah kapan, ia memang akan butuh orang-orang macam Sofia ini.


Orang yang lebih dari berterima kasih padanya. Akan semua batuan Atmanegara.


Tapi tak bisa dipungkiri juga jika bantuan ini lebih banyak Antonio yang meminta. Mereka cukup dekat sebagai rekan bisnis dan hubungannya terjalin harmonis sampai saat ini.


Antonio mengandalkan nama besar Atmanegara.


Juga karena Sofia dan Pam adalah sahabat dekat Violin.


"Temui orang tuamu dan minta maaf."


"Itu saja." Lanjut Atmanegara lagi.


Bukannya Sofia nggak berani ketemu bapak ibunya, tapi dia sudah terlanjur nggak punya muka.


Ia malu.


Daniel, pria yang di belanya mati-matian. Bahkan rela membangkang dari orang tuanya ternyata hanya ba jing an breng sek. Persis seperti apa yang dulu bapak ibunya katakan.


Mungkin ini yang dinamakan karma.


Sofia menghela nafas.


"Ada yang lain nggak Om? Aku belum siap kalau harus bertemu mereka." Sofia mencoba bernegosiasi.


Atmanegara mengalihkan pandanganya dari layar ponsel, persis menatap langsung ke manik mata janda kembang di hadapannya ini.


"Kamu maunya apa?" desisnya dingin.


Buku kuduk Sofia langsung meremang.


***


"Kenapa kamu menghindar?" Rion menatap Pamela frustasi.


Mereka kini sedang duduk berhadapan di sebuah restoran jepang.


Di atas meja sudah lengkap dengan makanan yang mereka pesan. Lebih banyak Rion sih yang milih menu.


Pam diam saja. Ia beneran nggak selera makan. Dadanya sesak penuh kedongkolan.


"Aku mau berhenti. Mari kita hentikan semua ini." Susah payah Pam menekan suaranya biar nggak teriak kuat-kuat.


Meski mereka ada di dalam private room, tetap saja kalau teriak bakal kedengaran sampai luar.


"Kita tidak pernah mulai, bee. Apanya yang mau di hentikan?"


"Kedekatan kita, aku nggak suka hubungan seperti ini."


"Kita sama-sama tertarik, sama-sama membutuhkan. Salahnya dimana?"


"Salahnya adalah karena hatiku mulai egois. Aku menginginkan kamu lebih dari hubungan nggak jelas ini. Dan kamu jelas-jelas hanya menginginkan tubuhku. Aku nggak bisa. Tolong sudahi ini semua."


Pam mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang. Intinya ia butuh kejelasan, titik.


"Nggak, aku nggak mau. Aku nggak bisa. Please bee..." Pertama kalinya Rion memohon dihadapan wanita.


Rambutnya acak-acakan. Jalinan dasinya sudah tak karuan. Ia terlihat menyedihkan.


Pamela gemas. Apa susahnya ngomong, please stay. I'm already in love with you.


Dan Pam akan berlutut pasrah dihadapan pria arogan ini.


Beres.


Tapi Rion malah membuatnya semakin rumit.


"Aku nggak bisa berkomitmen, Pam. Tolong mengerti."


"Aku juga bukan wanita sampah yang bebas kamu tiduri semaunya. Aku ngerti kamu nggak bisa komitmen, makannya aku mau stop."


"Aku nggak mau..." ucap Rion keras kepala. Ia menginginkan Pam tapi tidak dengan sebuah komitmen.


"Terserah!" Keputusan Pam sudah bulat. Ia tak ingin berada di lingkaran setan ini terlalu lama.


Panji sudah cukup memberinya pelajaran dan ia tak mau lagi sakit untuk yang kesekian kalinya.


Pam meraih tasnya lalu beranjak pergi dengan anggun meninggalkan Rion.


Rion terpekur didepan meja. Matanya terpejam menahan amarah. Kedua tangannya mengepal erat. Lalu...


Praaaanngggg...


Pelanggan restoran saling bertatapan lalu memutar pandangan mencari asal suara gaduh itu. Mereka ingin tahu siapa orang gila yang baru saja membanting meja mahal itu.


****