Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Nakal Yang Berkelas



Aku tunggu di samping paviliun.


Pesan dari Rion. Pam menggeser layar ponselnya kebawah, pesan itu terbaca tapi tidak ia buka. Ia mendengus kasar.


Sumpah dari kemarin moodnya hancur, uring-uringan nggak jelas. Violin ngomelin mangkok bekas Indomie pun Pam ngikut.


"Gue bikin konten, viral kali ya. Sumpah besti gue gila semua." Sofia satu-satunya yang waras cuma bisa geleng-geleng kepala. Mending tidur dah, daripada ikutan gelo.


Aku nggak masalah nyamperin kamu kesana. Atau mau making love sekalian di meja depan kamu itu? Kelihatannya cukup kuat. Kayu jati kan?


Dari Rion lagi, frontal sekali. Pam mendengus, ia melirik Sofia. Kelihatannya masih asyik nge game.


Acara sebentar lagi mulai, anak buah Dion sudah di sebar di berbagai titik pengamanan.


Mau apa Rion sebenarnya? Disini atau di samping paviliun tetap akan ada yang lihat.


"Sofia..."


Sofia dan Pam menoleh ke sumber suara. Astaga Pam hampir pingsan. Rion beneran kesini dong. Wajahnya mulai panik. Meski yang di panggil Sofia tapi dada Pam yang bergemuruh.


Ini beneran making love diatas meja nih?


"Eh Om? Ada yang bisa dibantu?" sahut Sofia, ia hanya melirik sebentar kemudian melanjutkan game-nya.


Rion tersenyum penuh arti ke Pamela.


"Boleh pinjam Pam sebentar? Aku butuh pendapatnya tentang sesuatu."


Sofia mengrenyit, agak heran.


"Ku lihat selera fashion Pam cukup bagus, Ibu kelihatannya kurang pede dengan kebayanya." sahut Rion cepat, solah menjawab keheranan Sofia.


"Oh, oke." angguk Sofia akhirnya, biar cepet.


Lagian alasan Rion cukup masuk akal. Meski Sofia agak curiga, jadi apa ibu barunya Dion yah kira-kira di tangan Pam?


Mungkin kebaya panjangnya di buat lengan buntung dengan bagian dada V yang rendah sampai isinya mau lari keluar.


Sofia terkikik lalu kembali fokus ke gamenya, ia hampir naik level, kali ini jangan sampai gagal atau harus ngulang lagi dari awal.


Pam mengekor di belakang Rion. Agak menjaga jarak biar nggak ada yang curiga.


Mereka menyusuri belakang tangga menuju sisi utara bagian rumah ini. Meski masuk bagian depan, tapi bagian rumah ini yang paling sepi saat ini


Mungkin karena posisinya seperti tak terlihat.


Rion membuka salah satu pintu lalu masuk. Sedang Pam masih melirik kanan kiri, memastikan tak ada yang melihat mereka.


Rion masih menunggu, tangannya menahan daun pintu, menunggu Pam.


Ragu-ragu Pam masuk juga. Rion menutup pintu itu lalu menguncinya.


Kamar ini tidak terlalu besar. Terlihat jarang ditempati dan terkesan dingin.


Pam duduk di ranjang dengan menyilangkan kaki, membuat kain batik panjangnya menyingkap belahan sampai sebatas paha, mempertontonkan kaki jenjangnya yang menantang.


Rion melirik sekilas, begitu banyak wanita yang rela membuka kaki untuknya, telan jang, bahkan mende sah di atasnya.


Tapi wanita di depannya ini berbeda. Ia menarik Rion dengan caranya.


Wanita 'nakal' yang berkelas.


Bagaimana bisa Rion terjerat pesonanya?


Berkali-kali Rion meyakinkan bahwa ia tidak sedang halu. Tapi nyatanya setelah malam panjang yang ia habiskan bersama Pam waktu itu, ia selalu menyebut nama Pamela saat mencapai puncak dengan teman wanitanya.


Bagi wanita itu tidak masalah asal ia bisa tidur dengan Rion, tapi ini masalah untuk Rion.


"Baby, siapa Pam?" Tanya salah satu teman wanitanya saat mereka sedang threesome.


Saat itu Rion tanpa sadar mendesahkan nama Pam di akhir permainannya.


"Eh, apa aku menyebut nama itu?" Ucapnya ganti bertanya.


Kedua wanita itu mengrenyit. Mereka yang membuat puas, malah Pam yang di ingat Rion.


Sekarang Rion seperti orang gila, setiap malam ketika mengingat Pam ia langsung on fire.


Ini masalahnya. Ia butuh Pamela, otaknya atas bawah butuh Pam.


Rion berjalan mendekati Pam, mendongakkan wajah cantik itu dan melu mat bibir Pam dengan kasar. Satu tangannya meremas dada kiri Pamela dengan gemas. Nafasnya memburu, seluruh badannya panas.


Rion membeku. Satu tamparan dari Pam mendarat mulus di pipi kiri Rion.


Pam meringis menahan denyut di telapak tangannya. Sekuat tenaga ia menampar Rion, malah tangannya sendiri yang sakit, sedang yang ditampar tak bergeming sedikitpun.


Sialan!


Rion menatap Pam penuh pertanyaan.


"Aku bukan jal4ng, bang sat!" geram Pam. Matanya memerah menahan sakit hati dan amarah.


Pam merasa direndahkan saat Rion hanya mengingatnya saat butuh pelepasan.


"Aku tidak mengatakan itu." Sanggah Rion. Ia menyeret kursi plastik yang kebetulan ada di situ, dan duduk menyilang kali agak jauh dari Pamela.


"Dari awal hubungan kita tidak ada komitmen. Hanya aku butuh kamu, juga sebaliknya." Jelas Rion santai.


Jleb!


Sakit, tapi ucapan Rion benar. Otak Pam mulai bekerja.


Kenapa hubungan tanpa status ini membuatnya baper?


Bukankah memang dari awal tidak ada komitmen. Rion bebas tidur dengan siapa saja, begitu juga Pam.


Sepertinya juga tidak ada ketertarikan lainnya selain se xs di mata Rion. Hati Pam perih. Sekuat tenaga ia menelisik jikalau ada setitik cinta di mata Rion, tapi nihil.


Tidak ada cinta, hanya nafsu.


Pam berdiri, sekuat tenaga agar kakinya tak limbung menahan tubuhnya.


Ia janda on process. Panji mengkhianatinya, dan kini ia terjerat di permainannya sendiri. Permainan yang menyenangkan, ia tak ingin berhenti. Tapi nyatanya ini hanya permainan. Ia harus berhenti atau akan lelah sendiri.


Ia menatap Rion dengan sendu, lalu berjalan gontai menuju daun pintu. Tak seharusnya ini terjadi.


"Bee?" panggil Rion, ia masih bingung dengan sikap Pam.


Tanpa menoleh Pam menutup kembali pintu itu.


***


"Jeffry?" Violin menatap heran anak muda didepannya saat ini.


Jeffry nyengir nggak jelas menyapa Vio. Wajahnya yang tengil tampak lebih tegas karena rambut gondrongnnya agak sedikit rapi dari biasanya.


Juga jas semi formal menambah kesan macho. Meski masih pakai celana jeans robek di lututnya, tapi Jeffry tampak jelas berbeda.


"Tante ngapain?"


"Kamu sendiri ngapain?" Bukannya menjawab, Violin malah balik bertanya.


Wajar dong, ini rumah mantan mertuanya, lalu ada Jeffry juga. Kok bisa? Jadi selama ini mereka saling kenal?


"Nganterin ibu."


"Loh Bu Isa disini juga? Kondangan maksudnya? Mana?" Violin memanjang lehernya mencari Bu Isa.


"Itu..." Jeffry menunjuk ke arah pengantin wanita.


Violin menoleh, menatap dua MUA yang masih sibuk mendandani pengantin. Lalu mengrenyit. Mereka masih terlihat muda, seumuran Vio mungkin. Jadi yang mana Bu Isa?


Violin memiringkan kepalanya, nggak mungkin si pengantin, kan?


Violin memang belum melihat dari dekat wajah si pengantin. Di pantulan cermin juga wanita itu terlihat lebih cantik daripada Bu Isa yang ia kenal.


Tapi tunggu...


Violin berjalan perlahan mendekati pengantin wanita.


Senyum itu senyum Bu Isa.


Astaga.


"Ibu? Bu Isa?"


Wanita itu menoleh.


"Neng Vio?"


***