Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Sukanya Beer



"Ingat pulang juga kamu." Sindir Atmanegara sambil menghisap rokoknya.


Ia sedang duduk santai di gazebo belakang rumahnya yang indah nun asri saat Rion datang dengan wajah kusut.


Menambah gatal mulut Atmanegara untuk nggak komentar.


"Dua hari minggat kok pulang pulang loyo? Gagal misi kamu?"


Rion duduk disamping bos-nya itu. Ia mencomot sepotong lumpia rebung yang terlihat masih panas dan menggoda iman.


"Pak, kopi dong." celetuk Rion menunjuk cangkir kopi di dekat Atmanegara.


"Nih..." Atmanegara menggeser cangkirnya.


"Yah, kosong."


"Ya kosong lah, bikin sendiri sana."


Rion meletakkan kembali cangkir diatas tatakannya.


"Wanita itu rumit, Rion. Ngerinya lagi, mereka nggak main logika tapi pake perasaan." Atmanegara menunjuk kepalanya lalu beralih kedadanya.


"Saya nggak peduli, Pak."


"Loh, ya harus peduli. Kamu pusing mikirin ini kan?"


"Cih, sok tau..."


"Apa sih yang saya nggak tahu?" Atmanegara memainkan asap rokoknya. "Saya kasih cuti cuma-cuma kok cuma diam di kamar hotel, ngapain kamu didalam?"


Rion bergidik ngeri, ini yang membuatnya sungkan dengan Atmanegara. Bahkan jika ia bersembunyi dilubang semut pun pasti Atmanegara menemukannya dengan mudah.


Apalagi menebak pikiran Rion, seolah kepalanya terlihat transparan dan mudah dibaca di mata Atmanegara.


Jadi berbohong pun percuma.


"Dia minta saya nikahi, Pak." curhat Rion akhirnya.


"Lho ya bagus, perempuan bener itu. Jangan cuma mau dicelap celup doang."


Rion melirik bosnya, "Bapak dipihak yang mana sih? Mojokin saya terus!" tanyanya sebal.


"Saya sih mana yang menguntungkan aja."


"Teteepp..." Cibir Rion.


"Apa susahnya coba? Tinggal pergi KUA, ijab qobul, sah, beres. Kenapa hal mudah begini kamu bikin rumit? Yang rumit malah nggak kamu pikirin."


"Aaarrrggghhh... nggak ngerti deh!" Rion mengerang jengkel.


"Semua yang kita lalui dengan orang yang tepat, akan terasa mudah. Kamu belum coba, kenapa sudah nyerah?"


"Pak mending saya disuruh berantem sama penjahat yakuja deh, daripada ngurusin ini."


"Kok jadi ke Yakuza? Yakuza cuma bikin rusuh, nggak bisa bikin enak."


"Dih, suka beneeerrr..."


"Hehehe... nikah itu enak Rion. Kamu menghemat uang jajan juga, mau minta tinggal buka."


"Minta apa pak?"


"Minta makan lah, kamu kan demen laper lihat begituan."


"Aaarrrggghhh..."


"Hai Om..." Tiba-tiba Violin nongol dari dalam rumah, ia menghampiri Rion dan Atmanegara.


"Hmm..."


Violin mengrenyitkan dahi mendengar jawaban Rion. Ia menatap bapaknya, meminta penjelasan.


"Rion lapar tuh." Tunjuk Atmanegara dengan dagunya.


"Oh, itu didalam masih banyak makanan loh. Om Rion makan aja."


"Hehehe... yang lapar bukan perutnya." lanjut Atmanegara.


"Apanya, Pa?"


"Coba tanya sendiri."


Rion melengos, sama aja curhat ke Atmanegara bukannya kasih solusi malah tambah runyam pikirannya.


Sebenernya nasehatnya sudah benar, hanya logika Rion yang menolak. Terkadang nasehat itu seperti jamu, pahit tapi menyehatkan. Sedangkan Rion sukanya beer, gimana dong?


"Tumben kamu disini, Vio?" tanya Rion mengalihkan pembicaraan.


"Lagi kangen rumah aja sih. Om Rion tumben mukanya lecek gitu? skincare nya abis ya?"


"Butuh healing kayaknya."


Violin terlihat tertarik. Ia merasa senasib dengan Rion, sedang di fase butuh banget healing.


"Kita liburan yuk Om."


Atmanegara langsung melotot.


"Jangan ngajakin Rion aneh-aneh, Vio. Dia banyak kerjaan."


"Ayolah, Paaa... Papa boleh ikutan loh." Violin meluncurkan rayuan mautnya.


"Nggak asik ngintilin bocah galau. Sana pergi, tapi cuma untuk hari ini, titik." Atmanegara ngeloyor pergi.


Violin melongo, "Etdah, nggak mau rugi banget tuh aki-aki." gerutu Vio.


"Papa belum punya cucu, jadi masih bapack-bapack, belum aki-aki." Seru Atmanegara dari dalam rumah.


"Nyaut aja sih kupingnya, heran."


"Yuk ah, Om."


"Emang mau kemana?"


"Ke Mall yuk."


"Itu mah healing nya kamu."


"Ke Spa?"


Rion menggeleng, "sama aja."


"Om tau tempat yang asyik nggak?"


"Hmm... ke Bromo?"


"Bromonya lagi panas Om, kemarin kan kebakaran gara-gara prewedding yang viral itu."


"Ke Dieng?"


"Kita bukan sejoli lho ya, ingat? Udara Dieng kan mendukung banget buat romantis sama pasangan."


"Ck, ya udah pergi sendiri nih." Rion beranjak dari duduknya. Ia mencomot lumpia satu lagi, memasukkan cabe rawit di kedua sisi lumpia dan menggigitnya sambil jalan.


"Ke Dieng, Om?" cecar Violin.


"Ke tempat healing sesungguhnya." Jawab Rion asal.


"Ikuuuuuttt..."


***


Violin mengedarkan pandangannya, bete banget sumpah. Tahu gini mending diem di rumah. Hampir dua jam Vio cuma mlongo ngelihatin Rion berantem. Meski cuma olahraga, tapi kan bonyok juga kalau kena.


Ini jelas healing ala Rion.


Diatas Ring tinju, main pukul sana, pukul sini.


Hufff...


Sofia kapan balik sih?


Pam juga, kemana anak itu?


Violin rindu kedua sahabatnya.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, nama Pamela muncul dilayar. Panjang umur nih anak. Violin mengarahkan kamera didepan wajah lalu menggeser tanda hijau.


"Lo dimana?" Semprot Pam langsung saat wajahnya nongol dilayar.


Vio hapal background nya, dapur rumah Vio.


"Sofia nggak ada, elo juga. Pada kemana sih?" Belum juga dijawab, Pam sudah nyerocos panjang.


"Elo yang dari mana? Gilak lo, dua hari nggak pulang. Kemana lo?" semprot Violin balik.


"Lo pulang deh Vi, gue butuh curhat nih."


"Nggak bisa, gue numpang orang soalnya."


"Ojol kan banyak, Viooo..."


"Nggak ah, enakan numpang."


Pamela memanjangkan lehernya, "dimana sih lo?"


"Gue di GOR nya Marina Group."


"Gue susul ya..."


"Boleh, bentar gue..."


"Ayo Vi, mampir makan bentar ya."


Violin kaget, baru aja celingukan nyari, eh orangnya dah nongol aja dibelakang.


Rion nampak fresh habis mandi. Mukanya bersih tanpa goresan sedikitpun. Gila, padahal dua orang tadi babak belur di hajarnya.


"Eh, Om bentar..." Violin kembali fokus ke ponselnya.


"Gue langsung pulang nih, tunggu nemenin Om Rion makan bentar ya. Lo nitip apa?"


Hening.


Pamela fokus menatap Rion.


Violin menoleh kebelakang, Rion juga sedang menatap ponselnya.


"Nggak jadi Vi."


Tuutt!


Pamela mematikan sambungan video call nya sepihak.


Violin terdiam, ia heran, nggak biasanya Pam ngambek. Ini kenapa sih? Tadi kan cuma bilang 'Gue langsung pulang nih, tunggu nemenin Om Rion makan bentar ya. Lo nitip apa?'


Salahnya dimana?


Vio beralih menatap Rion penuh selidik. Pam diam saat Rion muncul di sini, mencurigakan.


Mimik muka laki-laki ini terlihat biasa aja. Tapi Vio tetap curiga.


"Om hutang penjelasan ya!"


Rion mengangkat bahunya.


***