Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Cinderella



"Rion bre ng sek!"


"Dasar playboy! Nggak punya hati!"


"Buaya pip piiipp... Cowok piip piippp..."


"@#?!/)&$©{×§•√£°..."


Pamela menghentak-hentakan kakinya sebal. Ia berjalan ke arah parkiran menuju mobilnya sambil ngomel.


Sesekali berhenti sambil merepet panjang.


Tangan kirinya menenteng heels, sedang tangan kanannya sibuk mengaduk tas kecil yang tersampir di pundak, mencari kunci.


Ia kadung emosi, harga dirinya terkoyak. Atau mungkin karena perasaannya untuk Rion tak berbalas jadi ia kesal sendiri? Yang Pam tahu, saat ini dia hanya ingin marah.


Rion hanya menganggapnya pemuas nafsu. Padahal ia sudah baper sampai ke tulang-tulang.


"Si al aaann!!" Pam kembali mengumpat saat kuncinya tak kunjung ketemu.


Tiba-tiba jendela depan mobilnya terbuka, muncul wajah Rion yang menyebalkan.


Yak ampun, bagaimana bisa tiba-tiba orangnya sudah nangkring di depan kemudi sana?


"Masuklah." Suara berat Rion yang sexy. Pam membuang pandangannya.


"Keluar aku mau pulang sendiri."


"Aku hanya numpang sampai simpang depan."


"Mobilmu di sini, ngapain numpang sampai simpang?"


"Mobilku dirumah Pak Atma."


"Ya sudah sana ke Pak Atma!"


"Bapak sudah ada sopir."


"Cih, ini namanya pencurian. Ambil kunci orang diam-diam."


"Aku nggak ambil loh, coba cek di tas kamu."


"Jadi gimana ceritanya bisa sampai situ?"


"Aku punya duplikatnya."


Pam mendelik, "Ini termasuk tindakan kriminal!" Pekiknya frustasi.


"Aku cuma numpang, bee..." Rion tetap tenang seolah tindakannya benar dan tak ada yang perlu diributkan.


Pam melotot galak, "Buang panggilan itu. Aku nggak suka!"


Rion tersenyum, "Oke, masuklah dulu."


Meski dongkol Pam masuk juga kedalam mobil dan menghempaskan pantatnya ke jok penumpang samping kemudi.


Gila kakinya panas, sepanas hatinya.


Ia melipat lengannya di depan dada dan itu membuat dadanya meyembul manja dari balik kebaya kuningnya yang memang rendah.


Rion menelan saliva susah payah.


Hei Rion, dia belum telan jang dan kamu sudah kelimpungan. Bahkan sepuluh gadis bugil di depanmu pun belum mampu membangunkan senjata itu sebelum mereka menyentuhnya. Payah sekali kamu!


Rion merutuki otak ngeresnya.


Pam hanya diam, wajahnya benar-benar jutek.


Ia tahu Rion on fire melihat dadanya tadi. Kelihatan ujung telinga Rion yang memerah. Pam hafal sampai kedalam-dalamnya.


Sekalian saja ia sibakkan belahan rok batiknya sampai paha, biar mam pus sekalian.


Rion memejamkan mata, mengatur nafas sebentar lalu perlahan menjalankan mobil Pam menjauhi kediaman Mahendra.


****


"Ini beneran kita ngemper disitu?" Sofia memandang warung tenda didepannya ragu. Ia merapatkan jaket Jeffry yang sejak tadi dipakainya.


Jeffry takut Sofia kedinginan di jalan, karena hari sudah malam dan ia membonceng motor. Jadi ia kekeuh meminta Sofia memakai jaketnya.


Jeffry sendiri sudah terbiasa dengan udara malam yang sejuk ini.


Seumur hidup Sofia belum pernah makan di pinggir jalan seperti ini, lalu pemuda ini mengajaknya makan di tempat ini.


Jeffry mengunci motor lalu menggandeng tangan Sofia, menuju tikar lusuh yang tergelar di atas trotoar.


Ada beberapa pelanggan yang sudah menempati ujung lain. Jeffry memilih tempat disamping pasangan muda-mudi yang sedang makan karena di ujung lain ada empat bapak-bapak. Takutnya Sofia kurang nyaman.


"Duduk dulu, Tan. Aku pesan dulu ya." Jeffry beranjak memesan sebentar.


Sofia masih saja berdiri canggung. Ia bingung, benarkah tikar ini untuk duduk? kenapa lebih mirip onggokan sampah di matanya.


Warna tikar itu sudah pudar dan bercak kehitaman-hitaman dimana-mana.


Sofia meraba tengkuknya. Nggak enak juga kan minta makan di dalam mobil. Kelihatannya Jeffry sering makan di tempat seperti ini.


Susah payah Sofia menempelkan pantat dan melipat kakinya, meniru Jeffry. Ia merapikan roknya agar menutupi paha.


"Santai aja Tan, tempatnya bersih kok."


"Kamu yakin?" Selidik Sofia, ia berbisik pelan, takut kedengaran yang punya warung.


"Buktinya aku masih hidup loh sampai sekarang. Hahaha..." kelakar Jeffry.


"Tadi di rumah banyak makanan enak loh, Jeff. Kamu nggak makan?"


"Lidahku asing sama makanan itu, makhlum orang kampung. Hehehe..."


"Hei, kamu anaknya Pak Hendra, loh!" ingat Sofia.


"Baru hari ini Tan, kemarin masih anaknya Bu Isa."


"Jangan begitu..." sela Sofia.


"Iya, aku paham kok." Jeffry tersenyum kecut.


"Hmmm, kamu sering kesini?" Tanya Sofia, ia tahu Jeffry lagi galau. Mungkin soal statusnya yang kini tak lagi sama. Tiba-tiba ia punya keluarga, seorang ayah, seorang kakak yang begitu hebat.


"Kalau kesini baru kali ini, tapi makan di warung tenda begini sih sering. Eh tunggu, jangan bilang Tante belum pernah makan di tempat seperti ini?" Jeffry menatap Sofia was-was.


Sofia menunduk tak enak.


"Yak ampuun Tante, sorry... sorry... Yok kita pindah."


Sofia menahan tangan Jeffry yang akan beranjak berdiri.


"It's okee, duduklah."


"Ini pengalaman baru untukku, kalau besok nggak sakit perut berarti aman. Hehehe..." Kelakar Sofia.


"Maaf ya Tan, lain kali kalau ada uang lebih kita makan di cafe. Jujur saat ini aku lagi bokek berat." Jeffry berbisik pelan di telinga Sofia.


Sofia terkikik merasa lucu, seorang anak konglomerat sekelas Pak Hendra mengaku nggak punya duit. Astaga...


"Biar nanti aku yang bayar..." Sofia menepuk pundak Jeffry menenangkan.


"Nggak, kan aku yang ngajakin Tante, jadi ini tanggung jawabku." Sahut Jeffry yakin.


Hati Sofia lagi-lagi menghangat.


Apa ini?


Seorang pemuda yang belum cukup matang saja tahu arti sebuah tanggung jawab di tengah kebokekannya.


Memalukan sekali jika mengingat Daniel si ke pa rat itu. Yang tanpa tahu malu menggerogotinya luar dalam. Dan bodohnya Sofia mau saja di bodohi.


Sofia terpekur. Perlahan ia melepas jaket Jeffry. Dinginnya angin malam langsung menyapa kulit halus Sofia.


"Eh, kamu suka balapan, Jeff?"


Jeffry menoleh, "Iya, kok tahu?"


"Ini jaket sponsor, kan? Nggak sembarangan loh yang punya jaket ini." Sofia menunjuk jaket yang di pegangnya.


"Lah, kok tahu lagi?"


"Aku ingat dulu temanku ada yang gila balapan sampai lupa segalanya. Sampai semua uangnya habis demi dapetin sponsor ini. Tapi sekarang orangnya dipenjara karena kasus KDRT." Pandangan Sofia menerawang.


"Sayang sekali..." gumam Jeffry.


"Hal seperti itu sebenarnya yang ikut andil menjadikan dunia balap itu gelap. Padahal asal punya skill dan tekun berlatih tanpa uang pun kita pasti bisa maju."


"Oh iya, kamu pake motor itu?" Sofia menunjuk motor matic yang dipakai Jeffry.


"Ya nggak lah Tan, ada motor bang Roni, yang punya bengkel tempatku kerja."


"Ooohh..." Sofia manggut-manggut.


"Besok kapan-kapan tak ajak pas latihan. Sssttt... tapi ini rahasia ya, jangan sampai ibu tahu."Jeffry menempelkan jarinya di depan bibir.


Sofia menyeringai, "Hati-hati Jeffry, aku sekarang pegang kartu AS mu yaaa. Hahaha...."


Jeffry garuk-garuk kepalanya yang nggak gatel sama sekali.


Beruntung makanan segera datang, Jeffry buru-buru mengalihkan pembicaraan sebelum di tanya lebih dalam soal balapan.


Profesi yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat. Jangan sampai ketahuan ibu.


"Kata temanku pecel lele disini enak loh Tan, cobain deh."


"Eh, iya. Ini cuci tangannya kemana Jeff? Sendok? garpu? Mana?" Sofia celingak-celinguk mencari sendok.


Astaga Jeffry lupa lagi ngajakin Cinderella.


***