
Juno merebahkan tubuh Lina yang masih terbungkus selimut hotel di kamarnya.
Bau maskulin khas pria langsung menggelitik hidung Lina.
Lina sudah sadar, hanya ia terlalu malu untuk membuka matanya. Mengingat Juno sudah melihat semua inti tubuhnya.
Juno berhasil masuk kedalam kamar hotel saat petugas membuka paksa dengan kunci cadangan.
Saat itu kondisi Lina setengah tel*njang. Bagian atas dan bawahnya terekspose jelas dan dalam keadaan pingsan.
Juno sigap berlari meraih selimut dan membungkusnya rapat.
Sofia yang memegang ponsel untuk merekam, refleks langsung menjerit, badannya tremor hebat. Ia masih trauma. Dalam bayangannya, Merry disiksa seperti dirinya dulu.
Apalagi Merry dalam keadaan seperti itu. Nafas Sofia terengah-engah, beruntung Violin segera datang dan mengurus Sofia.
Saat itu Juno yang sudah menahan seluruh amarahnya, langsung meninju muka Panji berkali-kali. Sampai darah tercecer dimana-mana. Petugas hotel dan security mencoba memisah mereka.
Lalu saat sudah tenang, Juno menyuruh semua orang keluar. Kecuali Lina, Panji dan Pamela.
Sejak masuk, Pam hanya diam. Tapi raut wajah kecewa nampak sangat jelas. Ia hanya berdiri dan melipat lengannya di depan dada. Pandangannya menusuk, menelanjangi Panji.
"Aku tidak akan biarkan orang sepertimu berkeliaran dengan bebas. Aku pastikan akan menuntutmu, ingat baik-baik yang terhormat bapak Panji Rumangkang!" Suara Juno pelan dan penuh ancaman.
Ia membetulkan selimut Lina lalu membopongnya.
Sesaat sebelum keluar, Juno menatap Pam, memberi kode apakah Pam butuh bantuannya.
Tapi Pam hanya mengangguk sedikit, tanda bahwa ia mampu mengurus Panji sendirian.
Dan Juno pun berlalu, ia membawa Lina pulang kerumahnya.
Dan disinilah mereka sekarang, dikamar Juno.
Ragu-ragu Lina membuka matanya. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah Juno. Menatapnya lembut dan dalam. Entah mengapa membuat Lina semakin bersalah. Ia seperti menghianati laki-laki ini.
"Apa Panji menyakitimu?" Kalimat pertama dari Juno.
Lina menggeleng pelan.
"Haruskah kita ke klinik untuk visum? Aku akan mengurus semuanya."
Lina menggeleng lagi, ia menggigit bibirnya. Lelehan air mata mulai turun dari sudut matanya.
"Maaf, aku terlambat." Juno menunduk. Ia tidak mampu menahan sesak di dadanya teringat bagaimana posisi Lina waktu ia menemukannya.
Setiap orang yang melihat pasti mengira yang tidak-tidak, begitu juga dengan Juno.
"Apa Mas Juno sekarang jijik melihatku?" ucap Lina lirih. Matanya semakin panas.
Juno hanya diam, lalu menggenggam tangan kanan Lina.
"Istirahatlah, aku akan keluar sebentar." Desis Juno pelan. Jujur saja pikirannya kalut.
Ia beranjak dari duduknya lalu berjalan menjauhi ranjang.
" Mas..." panggilan Lina menghentikan langkah Juno. " Maaf..." lanjutnya lagi.
Juno menghela nafas sebentar lalu berlalu meninggalkan Lina di dalam kamar sendirian.
*****
Di dalam kamar hotel bintang lima dengan nomor 0606.
Kamar ini masuk dalam tipe presidential suite room. Dengan fasilitas mewah dan mahal. Tentu kocek tidak masalah untuk orang sekelas Panji Rumangkang.
Didukung keamanan, kenyamanan dan jaminan privacy untuk penyewanya. Untuk menggerebek kamar ini saja harus melibatkan nama Atmanegara. Seseorang yang berpengaruh besar dalam roda perekonomian negara ini.
Pamela memutar tubuhnya menghampiri kursi terdekat dari ranjang Panji. Ranjang yang sama dengan yang Panji gunakan untuk mengerjai Lina.
Dengan gaya elegan, Pam menyilangkan kakinya, sengaja mengexpose pahanya yang mulus bak porselen.
Dari tempatnya duduk, Panji bisa melihat panty yang dipakai Pam berwarna merah berenda. Ia menelan ludah.
Pam menyulut sebatang rokok dengan Zippo lalu menghisapnya dalam-dalam. Ia kembali menatap wajah Panji yang sudah babak belur dihajar Juno.
"Kamu..." Desis Pam, dagunya terangkat memanggil Panji, seperti majikan memangil jongosnya.
"Sini kamu!" Jari telunjuk Pam memberi kode Panji untuk mendekat.
Panji mendengus kesal, Pam tau kelemahannya. Panji paling benci direndahkan. Dan sekarang wanita ini terang-terangan menginjak harga dirinya.
Panji meraih tisyu, me-lap sisa darah dihidungnya lalu berjalan mendekati Pam. Ia masih belum berpakaian, hanya menggunakan boxer putih.
Pam mengarahkan telunjuknya kebawah, menyuruh Panji berlutut didepannya.
Tatapan Panji protes tapi Pam acuh. Toh mau tak mau Panji menurut juga. Ia merasa perlu melakukannya kali ini.
"Seberapa besar nyalimu berani menghianati aku, hm!?" desis Pam, ia menghisap lagi rokok yang terselip di jari tangan kanannya dan sengaja membuang asapnya di depan wajah Panji.
Panji masih diam, jempol kaki Pam beralih ke mulut Panji. Ia mengusap bibir itu dengan lembut.
"Bagian tubuh mana saja yang kau cumbu dengan mulut ini? Cih, menjijikan!" Senyum Pam mengejek. Ia menampar pipi Panji dengan kakinya. Sampai kepala Panji menoleh kesamping.
Lalu mengarahkan kakinya ke dada Panji. Ia mengerjai dada itu dengan membelainya perlahan.
Panji mulai terangsang, bagian bawah tubuhnya menegang. Ia menangkap kaki mulus Pam.
"I'm so sorry..." Panji mengiba, matanya memohon kepada Pam.
"Cih, bahkan sekarang di mataku kau tak lebih dari seorang pria murahan." Ejek Pam, ia menendang dada Panji sampai terjengkang ke belakang, bibirnya miring meremehkan.
Saat Panji menyeimbangkan badanya mencoba berdiri, Pam sudah didepannya, berdiri dengan congkak memegang gesper hitam berlogo H.
Ia mengalungkan gesper itu ke leher Panji dan menguncinya. Tidak sampai mencekik, hanya sebatas kepala itu tidak bisa keluar begitu saja.
Pam menyeret Panji ke ranjang dan membantingnya. Dengan cekatan mengikat kedua tangan dan kaki Panji ke sisi-sisi ranjang dengan tali bekas mengikat Merry, sampai tubuh tinggi atletis itu terlentang pasrah.
Tidak ada perlawanan dari Panji, ia biarkan Pam berbuat sesukanya, jika ini membuat wanita itu memaafkannya.
Ia sudah kehilangan Lina dan tidak ingin kehilangan Pam juga. Apa ini yang dinamakan serakah?
Pam kembali dengan membawa gunting ditangannya. Muka Panji langsung pucat.
"P-Pa-Pam..." Desis Panji, ada nada ketakutan yang jelas dari suaranya.
Pam menyeringai, dengan lincah ia naik ke atas tubuh Panji.
"Kau ingat? Selama ini aku mengikuti semua kemauanmu. Semuanya!" Pam memainkan gunting di tangan kirinya, dan menjepit batang rokok di tangan kanannya.
"Kau berbuat semaumu dengan tubuhku. Kali ini aku akan berbuat semauku dengan tubuhmu."
Pam mematikan ujung rokoknya diatas dada Panji. Biar Panji rasakan rasanya sakit di hianati, seperti bara yang menyulut kulit ini sampai melepuh. Meski akan sembuh, tapi bekasnya akan tetap ada.
Ini belum seberapa, Pam akan buat kesakitan yang lebih lagi. Ia loloskan gaunnya ke atas, menyisakan bra dan panty merah berendanya.
Dada Pam yang besar menyembul menggiurkan, juga tubuh sintalnya yang begitu menggoda. Ia berdiri diatas Panji dengan menggunakan hels dua belas centi-nya yang juga berwarna merah dan runcing.
Pam menggunakan gunting itu untuk memotong boxer Panji. Panji sudah merem pasrah, takut barangnya ikut digunting. Kemudian bernafas lega saat hanya boxernya yang lolos, bukan isinya.
Tubuh Panji sudah menegang sempurna, saat tadi hasratnya sempat tidak tersalurkan dengan Lina, membuat kepalanya sedikit nyut-nyutan.
Tubuh Pam meliuk-liuk diatas Panji, ia menari khas tarian striptis. Begitu s3xy dan menggoda. Ia merangkak diatas tubuh Panji. Menyentuh spot-spot sensitif pria itu.
Berkali-kali Panji mend3s4h, meski Pam bermain kasar dan meninggalkan cakaran dibeberapa titik tubuhnya.
Memang perih, namun entah mengapa nikm4tnya berkali-kali lipat saat foreplay biasanya.
"Sayaaangg... aku nggak tahaaann..." erang Panji. Kepalanya atas bawah semakin nyut-nyutan tak karuan.
Pam tidak bergeming, ia masih sibuk memainkan bagian bawah tubuh Panji.
"Ooouuhhh... plis masukan sekarang!" Jerit Panji, ia hampir frustasi. Sedang tubuhnya tidak bisa berbuat apa-apa. Pam mengikatnya dengan kencang.
Pam menyeringai, ia meraih benda yang selalu ia bawa dari dalam tasnya. Benda panjang, besar dan berotot. Pam menyebutnya 'Mr.Daddy'.
Ia menekan tombol vibrator, tepat didepan muka Panji.
"Akan kubiarkan kamu melihat wajahku saat klim4ks untuk terakhir kalinya. Agar selalu kau ingat saat mulai menj4m4h wanita lain, hanya wajah ini yang akan kau ingat seumur hidupmu. Itu sumpah dariku Panji!" Desis Pam sambil tersenyum devil, tapi matanya penuh dendam.
Ia mulai mer4ngs4ng dirinya sendiri, membelai titik-titik r4ngs4ng tubuhnya, lalu perlahan memasukan Mr.Daddy ke dalam tubuhnya.
Pam mengg3linjang di atas sofa panjang disamping tubuh Panji yang terikat. Wajahnya begitu s3xy saat menikmati getaran Mr.Daddy dibawah sana.
Ia merangkak mendekati Panji. Sengaja ia berada diatas Panji saat pelepasan. Panji menelan ludah.
Wajah Pam begitu menggoda, matanya terpejam dan bibirnya mendesis dengan elegan. Ia sedikit menggigit bibir bawahnya. Dan...
"Aaarrrgghhh..." Geram Pam, ia mencengkeram rambut Panji saat gelombang itu datang.
Nafas Panji ikut naik turun. Bagian bawah tubuhnya semakin menegang.
Pam memulihkan tenaganya sebentar, lalu mencabut Mr.Daddy dari tubuhnya.
"Kau bahkan kalah dengan Mr.Daddy, bangs4t!" Teriak Pam.
Ia membersihkan dirinya sebentar, berpakaian kemudian meninggalkan Panji yang masih terikat di ranjang dengan bagian bawah pria itu masih tegak berdiri.
Ia tidak menghiraukan teriakan Panji yang menggema didalam kamar.
*******
Like, vote, komennya ya men temen biar Mak othor makin semangat. Ma'aciwww 😘