Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Patah Lagi



Violin menatap Dion yang sedang meneguk air mineral dari botolnya.


Akad baru saja kelar. Pak Hendra terlihat terlalu lancar mengucap janjinya di hadapan Tuhan yang otomatis langsung di cibir Atmanegara.


Tamu-tamu sebagian sudah kembali pulang. Dion yang sepanjang acara nempel terus di dekat Violin membuat Vio jengah.


Ia mencari keberadaan Sofia dan Pam dan nggak ketemu-ketemu juga sampai saat ini. Rob juga nggak kelihatan batang hidungnya.


Akhirnya disinilah Vio, duduk di kursi taman samping rumah, dengan tetap ada Dion gentayangan di sekitarnya.


"Ada rencana apa di otakmu itu hei Pak Dion?"


Dion hampir tersedak. Ia mengelap air yang sedikit tumpah di ujung bibirnya.


"Melamarmu lagi, mungkin..." Jawab Dion asal. Ia kembali menutup botol minumnya.


Violin berdecak, "Jangan memungut sampah yang sudah kamu buang dengan benar di tong nya."


Dion mengerenyit, terlihat tak suka dengan kiasan Vio.


"Soal jackpot, apa itu Jeffry yang kamu maksud?"


Dion menyeringai.


"Cih, licik sekali." cibir Violin.


Ia menyandarkan punggungnya di kursi lalu bersedekap, keningnya mengrenyit.


Jujur Vio agak terkejut bahwa ibu barunya Dion ternyata tetangga rumahnya.


Sus Bell, suster Bella, Bu Isa, Isabella, yak ampuuuunnnn...


Pantas ia merasa tak asing dengan wajah Jeffry waktu dulu pertama bertemu dan ternyata jawabannya ini.


Violin menatap Mahendra dan Jeffry yang terlihat sedang berfoto dari jauh.


Memang benar Jeffry mirip sekali dengan pak Hendra. Mengapa Vio tak menyadarinya?


Sekarang saat berdekatan wajah mereka bak before dan after. Jeffry adalah Mahendra versi muda. Nggak perlu tes DNA, dengan sekali lihat orang pun akan tahu mereka bapak dan anak.


"Jeffry itu besar tanpa sosok ayah, meski penyayang tapi sifatnya keras dan susah di atur. Dia tidak akan mau mengikuti kemauanmu."


Dion menoleh mendengar argumen Violin.


"Aku cukup mengenal Jeffry." lanjut Vio lagi.


"Dia memang kelihatan masih labil, tapi seiring berjalannya waktu dia akan tahu bahwa hidup ini bukan hanya tentang main-main." Sahut Dion, ia terlihat yakin dengan ucapannya.


"Yah, mudah-mudahan analisamu benar." Vio meraih ponselnya yang berdering, lalu berjalan menjauh dari Dion.


Dion menggerutu sebal, "Terima telepon aja musti menjauh."


***


"Hai, Tante Sofia..."


Sofia mengrenyit saat namanya disebut. Ia melirik sekilas, astaga pemuda berambut gondrong menyapanya. Manis sekali...


Sofia mengrejap, "Jeffry? Ngapain disini?"


Jeffry menyeret bangku dan duduk di dekat Sofia.


"Sori ya Tan, tapi disini nggak ada yang ku kenal selain Tante." Bisik Jeffry pelan.


Sofia menutup game nya.


"Baru tahu loh kamu kerabatnya Pak Hendra."


Jeffry nyengir lalu garuk-garuk kepala, bingung ngejelasinnya.


"Oiya, kamu kesini sama siapa? kok nggak ada yang di kenal sih?"


"Sama ibu sih."


"Oya, mana?"


"Lagi di depan."


"Owh.." Sofia manggut-manggut. "Eh, akadnya udah kelar kan, ya? Duh belum kasih selamat ke Pak Hendra nih, yuk Jeff..."


Jeffry mengikuti langkah Sofia, karena ujung jasnya di tarik paksa wanita itu.


"Habis ini kita ke stand makanan yang itu ya, dari kemarin pingin banget makan abalone."


Sofia berbisik saat mengantri memberi selamat ke mempelai.


"Kalau belum abis sih, Tan. Tuh lihat aja antriannya." tunjuk Jeffry ke antrian panjang stand abalone.


"Duuh, iya..." keluh Sofia kecewa.


Jeffry menatap wajah cantik didepannya ini. Meski minim riasan, Sofia terlihat segar dengan bibir peach. Rambut blondenya tergerai dengan kedua sisi yang terjalin dan dihiasi jepit bunga berwarna putih.


Benar-benar kecantikan khas Noni-noni.


Sofia sampai terkikik, "sini biar nggak ketinggalan." Ia mengapit lengan Jeffry tanpa canggung.


"Duh, romantis bangeeettt. Kalian cocok banget loh, yang satu cantik, yang satu ganteng. Mirip saya dan suami saya dulu. Hihihi..."


Tiba-tiba ibu-ibu sosialita berbadan tambun dengan sanggul bak ibu negara menghampiri Jeffry dan Sofia, mereka saling melirik.


"Dulu suami saya juga sweet banget, tapi sekarang..."


Muka si ibu berubah sedih.


Sofia menyenggol perut Jeffry.


"Aaah... ibu sudah nyobain batagor sebelah sana belum? Wah, itu enak banget Bu. Bumbu kacangnya berasa banget. Atau seblak coet ala mamang rapael yang di stand sebelahnya, beuuhh pedesnya nampol, wangi cikurnya segerr pisan euy."


"Aduuuhhh, sampai ngiler loh ini." Muka si ibu berubah ceria mendengar nama-nama makanan kesukaannya keluar dari mulut gantengnya Jeffry.


Buru-buru ia ngacir setelah mencubit gemas pipi Jeffry.


Sofia cekikikan disampingnya.


"Luwes banget sih kamu." Puji Sofia sambil mencubit gemas pipi Jeffry, menirukan si ibu barusan.


"Sudah biasa jadi pawang emak-emak soalnya." Kilah Jeffry, ia menegakkan badannya dan bersiap memberi selamat ke kedua mempelai.


"Toblas bocaaahh... dicari dari tadi nggak tahunya malah ikutan ngantri disini. Ngapaiiiinn..."


"Aku lagi nemenin bidadari, Bu. Hehehe..." Jeffry melirik Sofia.


Sofia tercenung, ia diam memperhatikan pengantin wanita dan Jeffry bergantian.


Ibu?


Benarkah wanita di depannya ini, yang di rias sedemikian cantiknya itu adalah Bu Isa? Mereka seperti orang yang berbeda. Tapi suara cempreng itu, fiks no debat, sudah pasti milik ibunya Jeffry.


Sofia menyalami Mahendra dan Bu Isa, sedikit cipika-cipiki, ucapan selamat dan doa lalu akan beranjak pergi saat lengannya ditahan Jeffry dengan sengaja.


Ia agak tersentak tapi tetap diam menunggu Jeffry disampingnya. Tangan Jeffry berpindah menggengam tangan Sofia.


Hati Sofia menghangat. Entahlah, pertama kalinya setelah tragedi rumah tangganya yang miris itu, kini tangannya merasakan lagi genggaman hangat tangan laki-laki.


Meski umurnya dan Jeffry terpaut lumayan jauh, tapi tetap saja pemuda ini adalah seorang pria.


Jeffry cukup manis dan Sofia merasa anak ini bukan ancaman. Ia bisa ngobrol dan bergurau dengan lepas bak kakak dan adik. Ia nyaman tanpa perasaan was-was yang selama ini muncul saat berhadapan dengan pria asing.


"Ck, nggak usah kebanyakan gombal, sini poto dulu."


Bu Isa memaksa Jeffry dan Sofia berdiri disisinya. Meski bingung toh Sofia nyengir juga saat kang foto menyuruhnya senyuuummmm....


****


"Aaahh, akhirnya dapat juga..." Sofia menatap olahan kerang didepannya. Rela ngantri panjang demi mendapatkan makanan ini.


"Segitunya, Tan. Lebih enak beli, kan? Nggak perlu ngantri." Jeffry menyodorkan sekotak tisyu. Sofia mengambil dua lembar untuk menyeka keringat di pelipisnya.


Ia menopang kepalanya sambil mengamati Sofia, Jeffry yakin wanita cantik ini lebih dari mampu membeli sekarung besar abalone tanpa perlu repot mengantri.


"Kata orang, sesuatu yang di peroleh dengan perjuangan rasanya akan lebih nikmat." Sahut Sofia sambil menyuapkan satu daging kerang ke dalam mulutnya.


Jeffry tersenyum menatap Sofia merem, mencoba meresapi rasa makanan itu.


"Ini enak banget, gilak! Teksturnya kenyal tapi renyah, rasa asin yang beda ditambah manis gurih kayak mentega. Hmmm..." Sofia mencomot lagi daging abalone dan mengunyahnya dengan riang.


"Beneran nggak kaleng-kaleng..." lanjutnya lagi.


Jeffry ikut tersenyum mendengar ocehan Sofia, bak master chef dengan segala komentarnya.


Tapi tiba-tiba wajahnya muram saat ujung matanya menangkap Dion dan Violin duduk berdua di ujung taman. Ia menunduk memperhatikan ujung sneaker nya.


Benar kata ibu, seharusnya ia sesekali melihat infotainment biar tahu siapa istri pengusaha sukses Dion Mahendra itu.


Sekarang untuk bermimpi saja ia sudah tak punya nyali. Meski Dion dan Vio sudah berpisah tapi sekarang ia dan Dion adalah saudara.


Ibu juga pasti nggak akan suka seandainya ia tetap maju.


Dan lagi sepertinya Dion masih mencintai Vio. Begitu juga sebaliknya. Meski Vio terlihat lebih menjaga jarak dengan pria itu. Tapi pandangan matanya tetap nggak bisa bohong.


Bagaimana bisa takdir mempermainkannya selucu ini?


Jeffry menghela nafas.


"Cobain Jeff, aaa..."


Sofia menyodorkan ujung sumpitnya yang berisi daging kerang abalone di depan mulut Jeffry.


Meski sedikit terkejut tapi Jeffry memakannya juga. Sambil mengunyah, pandangannya menerawang menatap Sofia.


"Tante, mau ikut ke suatu tempat?"


*****