Sexy, Naughty, Bitchy Me

Sexy, Naughty, Bitchy Me
Butiran Debu Yang Sombong



Sementara menunggu apa yang akan terjadi kepada Violin satu Minggu kemudian, kita ikuti dulu kegiatan cowok ganteng setengah matang bernama Jeffry Mahesa.


Biarkan Violin istirahat sejenak sebelum streaming lagi ya gaes yaaa...


Oke, kita ke Jeffry.


Anak tunggalnya ibu Isabella dan anak bontotnya bapak Mahendra.


Rambut ikalnya masih gondrong, meski semenjak masuk kantor ia rapikan sedikit biar lebih fresh.


Pesonanya masih sama, sanggup membuat klepek-klepek hati cewek-cewek yang memandang.


Apalagi dikantor bapaknya banyak wanita. Catat ya WANITA. Wanita di pikirannya Jeffry bermakna cewek yang sudah matang. Yang Jeffry panggil dengan sebutan Tante.


Awalnya sebelum ada yang tahu siapa Jeffry ini. Saat itu, pemuda kiyut nan menawan ini sedang melenggang dibelakang Dion memasuki gedung kantor.


Ini kedua kalinya Jeffry menginjakkan kakinya disini. Yang pertama dengan suasana yang tidak mengenakkan. Dengan jiwa seorang Sun Go Khong, kejar-kejaran dengan security dan disaksikan semua orang yang sedang berada di lobi saat itu.


Dua orang pria yang terlihat kontras. Jika dibandingkan Dion yang mengenakan stelan formal rapi dan klimis, Jeffry cuma pakai celana jeans, sepatu kets dan jas semi formal yang dalamnya hanya kaos oblong polos biasa.


Dion tidak terlalu mempermasalahkan penampilan adiknya itu. Ini baru hari pertama Jeffry ia gandeng ke kantor. Soal penampilan bisa ia handle pelan-pelan.


Nanti saat jiwa kepemimpinannya muncul, maka soal penampilan pasti mengikuti.


Di lobi Jeffry menatap tajam security yang sudah ia tandai wajahnya waktu ia menerobos masuk gedung kantor ini.


Yang bener aja, kepalanya ditabok kenceng banget. Emaknya aja kagak pernah begitu. Lah ini bukan emak, bukan bapak, seenaknya main tabok. Untung kagak sampai gagar otak.


Sang security yang di name tagnya bernama Niko ini terlihat sedikit membungkukkan badan, agak sungkan. Ia sudah tahu siapa sebenarnya Jeffry ini. Mana mungkin bales melotot, kan?


Jeffry mengedarkan pandangannya, di meja resepsionis. Si Mbak Mbak saling berbisik entah apa yang dibicarakan yang jelas matanya mencuri-curi pandang ke arah Jeffry.


Maunya menegur Jeffry, tapi didepannya ada Pak Dion. Pasti Pak Dion yang bawa ni bocah gemes kesini, kan?


"Sebelah sana lift karyawan." Dion menunjuk lift sayap kanan.


"Yang ini lift direksi. Kamu bisa lewat sini kalau malas antri dan desak-desakan." Dion memencet tombol, lift terbuka dan mereka berdua masuk dengan tenang.


Jeffry menyandarkan punggungnya di tembok lift.


"Ini membosankan, lebih asyik yang desak-desakan, banyak temennya." Celetuk Jeffry.


Dion tersenyum, " kalau saat main di Mall, iya. Tapi kamu nggak akan bisa asyik kalau sudah dikejar waktu. Bagi kami, time is money, Jeff."


Jeffry membayangkannya hari-hari Dion, pasti sangat berat memikul ini semua. Wajar jika ia begitu bersemangat mengajar Jeffry.


Diam-diam Jeffry menegakkan badan, ia melirik bahu Dion dan mencoba berdiri seperti kakaknya itu. Astaga, berwibawa sekali. Ia mematut dirinya di tembok lift yang memantulkan bayangannya.


Tinggal melebarkan sedikit bahunya dan sedikit mengangkat dagu, Jeffry rasa ia bisa seperti Dion.


Dion tersenyum kecil melihat bayangan adiknya yang konyol ini.


"Mejamu disana." Tunjuk Dion di meja yang lebih kecil disamping meja kerja Dion yang besar, begitu mereka memasuki ruangan Dion.


Meski begitu, Jeffry rasa meja ini masih terlalu besar untuknya. Kursinya juga terlihat terlalu eksklusif.


Ia membelai kursi hitam itu lalu memutar-mutarnya.


"Mas ini bisa diganti kursi plastik aja nggak? Kalau kursi yang model begini mah yang ada bisa ketiduran pas kerja." Ujar Jeffry sambil melompat untuk test drive kursi barunya, njiirr pas banget dipantat.


Dion cuma tertawa menanggapi komentar Jeffry.


Lalu pintu ruang kerja Dion diketuk. Tiana masuk dengan beberapa staf dibelakangnya. Mereka berjejer menghadap Dion.


Dion melambaikan tangannya, meminta Jeffry mendekat.


"Oke teman-teman, perkenalkan ini adik saya, Jeffry. Dia karyawan baru disini. Tugasnya serabutan, kalian bisa minta tolong apa aja ke anak ini. Ia akan belajar apapun di kantor ini."


Karyawan Dion saling berpandangan.


"Serius Pak?" Tanya Cindy.


"Ya?"


"Disuruh bikin kopi, boleh?" sahut Bimo.


"Silahkan."


"Nganter berkas?" Ridho menambah kan.


"Boleh."


"Ngepel lantai?" Pertanyaan Virnie.


"Apa aja, apapun itu. Jika Jeffry di luar ruangan saya, kalian bebas menyuruhnya apa aja."


"Pak..." Tiana hendak protes, tapi tatapan Dion menghentikanmya.


"Mohon bimbingan kalian semua, Jeffry masih tahap belajar. Saya mohon kalian yang sudah senior memberikan pelajaran yang memudahkan proses belajar Jeffry. Silahkan kembali ke ruangan masing-masing. Terima kasih."


Tidak ada yang protes lagi, semua berbalik meninggalkan ruangan Dion.


"Mas, boleh ngopi?" Jeffry berbisik pelan.


"Duduk, kita mulai belajar."


Jeffry menguap lebar.


***


Obrolan pas istirahat siang di cafetaria kantor. Tempat yang pas untuk bertukar informasi, dalam kurung bergosip.


Ck, budaya kita banget nggak sih?


Eh, kita? elu aja kaliiii... Xixixi....


"Yang beneeerr neekk?"


"Sumpah. Anaknya cute abeesss..."


"Gantengan mana sama Pak Dion?"


"Ya jangan disamain dong, Pak Dion versi mateng, yang ini versi setengah mateng."


"Duileee... mangga kali aaaahh."


"Gue mah kurang suka yang setengah mateng, gila looo masih ada asem-asemnya gitu nggak seeehh?"


"Yang asem yang seger cuy!"


"Yang manis lebih menggigit. Janda udah asem, jangan dikasih yang asem lagi."


"Eh tapi kalau dilihat-lihat mirip Pak Hendra banget ga sih, si Jeffry ini?"


"Yup, gue setuju. Gue kaya lihat Pak Hendra versi muda. Pasti gantengnya sama gitu."


"Aaaa sumpah gue sendiri disini yang belom pernah lihat tuh bos kecil?"


"Sama, gue juga."


"Alah, ketemu juga nggak bakalan doi nyapa kite. Berasa penting amat kitenya. Kenal aja kagak!"


"Tapi kata si itu, humble banget orangnya."


"Truuss kenapa kalau humble? Nggak sadar posisi lo?"


"Yak ampuun, remahan kayak kita mah apa atuh."


"Hu'um, cuma butiran debu."


"Dih, sorry yee, kagak ada debu secantik gue."


"Cih, dasar butiran debu yang sombong lo!"


"Dih, mending sombong daripada kuper?"


"Pssstt... Orangnya masuk tuh."


Semua mata memandang kearah pintu masuk cafetaria, menunggu sosok itu muncul.


Dion nongol dengan tampang cool, disusul Jeffry. Sadar dirinya jadi objek pandangan semua mata, Jeffry nyengir lebar sambil melambaikan tangan keseluruh pengunjung cafetaria.


"Anjaaayy... bungkus buat guee." Pekik cewek di meja ujung.


"Jomblo first!" Seru yang lain.


"Jendes hadiiirrr..."


Suasana cafetaria jadi gaduh. Dion menyadari hal itu, langsung meletakkan nampan dan mengedarkan pandangan.


Semua mulut terdiam dan kembali tenang menikmati makanan masing-masing.


Jeffry masih tetap dadah-dadah.


***